Kancut: Sebuah Prolog

Sedikit nostalgia ke tahun 2008. Saat itu, saat sedang menganggur dan penuh ketidakjelasan selepas lulus kuliah, gua mengajukan ke penerbit sebuah naskah berjudul “Kancut”.

Ya, ya, lu ga salah baca kok. Judulnya emang “Kancut”.

Tulisan di bawah ini merupakan prolog yang menjadi awal mula dari segala kegaduhan yang terjadi di dalam naskah tersebut. Sebuah naskah yang akhirnya terbit menjadi novel dengan judul “The Maling of Kolor”.

Tulisan ini pula yang menjadi awal mula dari kegiatan gua menulis dan merilis buku. Sebuah kegiatan yang gua tinggalkan di sepanjang tahun 2014 kemarin.

Enjoy.

club

“DASAR ASU!”

Teriakan dari seorang ibu bersanggul menggema di antara bunyi dentuman musik disko yang sedang diputar di sebuah club ternama ibukota.

“Aku sudah tau semua kelakuan busukmu dengan wanita murahan ini!” tuding si ibu ke arah seorang lelaki dan wanita penggoda yang ada di sebelahnya. Sayangnya, si lelaki terlalu mabuk, sehingga menjawab, “Maafkan akuuu, menduakan cintamuuu…”

“Kamu juga! Dasar perempuan murahan! Sing edan! Jangan ngerebut suami orang dong!” Kali ini si ibu bersanggul memfokuskan tudingannya kepada si wanita penggoda.

“Cih! Siapa yang ngerebut suami orang? Suami lo sendiri yang ngebet sama gue tuh. Makanya kalo punya suami dijagain dong,” elak si wanita penggoda, santai.

“Ngebet-ngebet. Wong aku tau kamu tuh pakai pelet!” teriak si ibu bersanggul penuh nafsu, “Makanya suamiku lari sama kamu. Ya toh? Dasar perempuan sundal!”

“Begh, salah. Gue asli Padang. Bukan Sunda.”

“Sundal, bloon.”

“Oo, kirain Sunda.” Si wanita penggoda mesem-mesem.

“Kamu ngaku saja kalau kamu bener pake pelet! Ya toh? Aku ini sudah selidiki kamu! Jadi, sudah jangan menghindar lagi! Bisanya main pelet!”

Kesal dituduh main pelet, si wanita penggoda mengambil ancang-ancang dan,

PLAK!

“Nduk iki berani-beraninya nampar aku?! Tidak tau apa kalo aku ini masih keturunan darah biru dari kerajaan Semarang yang merupakan ibukota Jawa Tengah?!”

“So?”

“Ya… gak apa-apa sih. Nambah wawasan saja.” Continue reading

Cheers

Jumat malam kemarin, gua ketemuan dengan Dendi, Tirta, dan Vinsen. Bagi yang belum kenal mereka, mari gua perkenalkan sejenak.

Dendi adalah seorang pria yang pernah patah hati hebat, dan gara-gara kegalauan itu, gua dan dia sempat berkolaborasi dalam sebuah novel berbau catatan perjalanan. Tirta adalah seorang blogger yang pernah lari 10K membajak Jakarta, dan tulisannya tentang itu sempat viral di dunia maya. Sementara Vinsen adalah… anak gembala. Selalu riang serta gembira.

Perkenalan gua dengan mereka bermula di novel Trave(love)ing. Gua kenal Dendi, Dendi kenal Mia, Mia kenal Gelaph, Gelaph kenal Vinsen, dan Vinsen kenal Tirta. Kalo ini MLM, maka dapat dipastikan gua udah di level Zamrud Khatulistiwa dan dijadikan sari tauladan bagi member-member baru.

Kami semua akhirnya bertemu di sebuah buka puasa bersama di tahun 2012. Sejak saat itu, kelompok ini menjadi dekat. Kami jadi rutin buka puasa bersama setiap tahun, atau sekadar kumpul-kumpul iseng yang biasanya diakhiri dengan karaoke bersama.

Di luar kelompok besar itu, sesekali kami, cowok-cowok berempat ini, suka ngumpul dan berbincang sepulang kerja. Boys night out, begitu bahasa kerennya.

Biasanya, boys night out ini terjadi jika salah satu dari kami ada yang mau bercerita perihal kehidupan asmaranya. Kami biasa saling memberikan pendapat dari sudut pandang yang berbeda. Toh kami semua pernah jatuh cinta, patah hati, atau terjebak dalam kisah cinta yang salah.

Glenn Fredly would love to join this group. He would be so inspired!

Jumat kemarin adalah edisi kesekian dari kumpul-kumpul lelaki ini. Namun kali ini terjadi bukan karena ada yang baru patah hati. Melainkan ada agenda khusus. Kami ingin mengadakan kumpul-kumpul terakhir sebelum salah satu dari kami pergi dari Indonesia. Iya, Tirta mau melanjutkan studi ke Aberdeen, Skotlandia.

Sekitar jam setengah delapan malam, setelah dengan gegap gempita menyelesaikan lemburan, gua berangkat ke daerah SCBD. Awalnya kami janjian di Beer Garden. Tapi mengingat gua belum makan malam, jadi gua mengusulkan untuk mengubah tempat janjian ke sebuah restoran yang masih di bilangan SCBD dan ga kalah asik dari Beer Garden. Restoran Padang Sederhana.

Usulan ini disambut baik oleh yang lain. Maka jadilah kami nongkrong di restoran Padang Sederhana. Jika biasanya kami ngobrol berteman beberapa botol bir dan cemilan ringan, kali ini berganti menjadi empat gelas teh hangat dan sepiring sayur nangka. Jika biasanya kami berbincang dilatari musik-musik terkini, kini berganti menjadi suara dubbing film seri India di televisi. Jika biasanya, “Mas, birnya satu”, kini berganti menjadi, “Udaaa! Tunjangnya tambo cie!”

Things change.

Sambil makan, kami saling bertukar kabar dan cerita. Gua bercerita tentang persiapan pernikahan, Dendi tentang pengalamannya menjadi ayah, Vinsen tentang pekerjaan dan rencananya mengurangi gaya hidup ga sehatnya, serta Tirta yang 2 hari lagi akan berangkat ke Aberdeen selama satu tahun.

Di momen itu gua tersadar bahwa… sekarang kami beda.

Continue reading

Kaleidoskop 2014

Januari

Tahun 2014 diawali dengan berita baik untuk kita semua, yakni sadarnya Nia Daniati!

Bukan, bukan sadar dari pingsan atau karena diguna-guna. Nia (cailah, akrab bener manggilnya) akhirnya menggugat cerai suaminya sang pengacara kontroversial, Farhat Abbas, setelah menjalani 12 tahun bahtera rumah tangga.

Diberitakan, Nia menggugat cerai Farhat karena kelakuan Farhat yang suka nikah siri. Setelah berkali-kali nyaris memutuskan pisah, akhirnya Nia melayangkan gugatan cerai juga di awal tahun 2014. Alhamdulilah.

Februari

Seorang game developer asal Vietnam, Dong Nguyen, menggebrak dunia maya dengan game paling fenomenal sepanjang tahun 2014: Flappy Bird!

Game Flappy Bird bisa membuat orang begitu ketagihan dan emosional pada saat yang bersamaan. Padahal game-nya sederhana. Hanya meminta pemainnya untuk mengantarkan si burung berbibir tebal untuk melewati pipa-pipa hijau. Udah, cuma gitu doang. Ga ada kenaikan tingkat kesulitan atau karakter baru di tiap level-nya. Tapi entah kenapa, Flappy Bird bener-bener bikin nagih. Mungkin ada MSG-nya.

Maret

Kabar duka di akhir kuartal pertama 2014. Pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 diberitakan hilang. Sampai hari ini, bangkai pesawatnya pun belum ketemu. Ada banyak teori-teori yang bersliweran, mulai dari terorisme, alien, sampai perbuatan intelijen, yang sempat membuat waswas para pelancong dalam menggunakan maskapai penerbangan.

Terlepas dari semua teori, harapannya sih semoga segera ditemukan kejelasan agar keluarga yang ditinggalkan bisa mendapat kepastian. Amin.

April

Tahun demokrasi Indonesia dimulai di bulan ini. Pemilihan umum legislatif dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014. Hasilnya, seperti dugaan para pengamat politik, PDI Perjuangan memenangkan pemilu legislatif meski ga semutlak prediksi.

Yang menjadi catatan gua, dibanding pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu kali ini minim spanduk-spanduk lucu dari para caleg. Mungkin yang ikutan kali ini udah banyak yang berulang sehingga udah ga melakukan kesalahan yang sama. Atau mungkin ada yang udah baca postingan ini dan ini, jadi mereka pada kapok.

Tapi yang jelas, gara-gara sedikitnya spanduk lucu, gua jadi kekurangan bahan ngeblog pas pemilu legislatif kemarin. Huff.

Mei

Tiada tahun tanpa kemunculan lagu dangdut yang fenomenal. Setelah Bang Toyib, SMS, Kucing Garong dan Alamat Palsu, tahun 2014 giliran “Sakitnya Tuh Di Sini” yang menggebrak industri musik Indonesia.

Lagu one hit wonder ini mengantar sang pendendang, Cita Citata ke puncak popularitas… sedaaap, kalimat barusan udah mirip narasi Silet belom tuh?

Cita Citata jadi naik pamor dan kebanjiran job. Tiap job-nya ngapain? Ya nyanyi sakitnya-tuh-di-sini-di-dalam-hatiku lah. Mau ngapain lagi coba? Debus makan gerobak? Lah wong ngetopnya karena itu.

Juni

Panasnya musim politik Indonesia dimulai di bulan Juni ketika dua pasangan calon presiden mengambil nomor urut di kantor KPU. Pasangan Prabowo – Hatta Rajasa mendapat nomor urut 1, sementara pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla memperoleh nomor urut 2. Continue reading

Januari 2015!

Happy new year!

Selamat tahun baru buat teman-teman pembaca saputraroy.com. Semoga terus diberi kesehatan dan kesempatan agar semua cita-cita dan rencana baiknya dapat terwujud di tahun 2015 ini.

Sebelum memulai postingan tema bulan, melalui postingan ini, gua ingin mengucapkan turut berduka cita yang sebesar-besarnya untuk keluarga para penumpang dan awak pesawat Air Asia nomor penerbangan QZ 8501. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Amin.

Oke, balik lagi ke postingan awal bulan. Jadi, tahun 2014 udah berakhir, lalu apa kabar resolusinya?

Gua sendiri ada satu resolusi yang belum tercapai di tahun 2014 kemarin, yakni hidup lebih sehat, termasuk di dalamnya sering berolahraga. Gara-gara ngejalanin resolusi yang itu setengah-setengah, imbasnya 3-4 bulan terakhir tahun kemarin, gua sering bed rest dan salah satu kegiatan yang gua telantarkan adalah nge-blog.

Kalo dibanding tahun 2013, jumlah postingan di blog ini menurun cukup banyak. Selain karena memang gua rencanakan demikian, kondisi kesehatan dan kesibukan kantor jadi dua alasan utama kenapa jumlah postingannya berkurang. Semoga dengan resolusi hidup lebih sehat, di tahun 2015 ini gua bisa kembali prima dan lanjut terus menulis di sini.

Di tahun 2015 ini sendiri ada dua hal yang gua nanti-nantikan. Pertama, rampungnya apartemen yang akan menjadi tempat tinggal gua dan si pacar setelah kami menikah nanti. Ukurannya ga besar, hanya 49 meter persegi, tapi cukuplah untuk tempat tinggal kami di awal pernikahan. Gua dan si pacar udah ga sabar mau ngedekor istana kecil kami ini biar nyaman dan betah untuk ditinggalin.

Yang kedua,

Continue reading

She Said Yes

Hari Sabtu itu tampak seperti Sabtu-Sabtu biasanya. Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi ketika gua sedang bersiap untuk menjemput si pacar di rumahnya. Mandi, cukuran, sikat gigi, sarapan, dan tentu aja, pake celana. Semua berjalan seperti biasa. Hanya ada satu pembeda yang membuat Sabtu pagi itu terasa lebih menegangkan buat gua. Gua membawa sebuah cincin.

Bukan, bukan, gua bukan bertujuan untuk membawa cincin itu ke Mordor lalu membuangnya ke lahar panas. Tapi gua bermaksud untuk memberikan cincin itu ke si pacar.

Iya, gua mau melamar si pacar.

Sebagai catatan, si pacar sama sekali ga tau hal ini. Jadi ini sebuah kejutan kecil yang mudah-mudahan menyenangkan buat dia. Semoga, saat gua memberikan cincin ini dan menanyakan apakah ia mau menemani gua sampai akhir hayat, jawabannya bukan “Saya sih yes, tapi ga tau deh gimana Mas Dhani” atau malah “Bisa jadi! Bisa jadi!”

Gua udah menyiapkan rencana lamaran ini selama beberapa bulan. Persiapannya agak lama karena rencananya terus berubah-ubah. Awalnya gua ingin memakai social media, namun setelah gua pikir-pikir, biarlah prosesi lamaran ini tetap menjadi privasi kami berdua. Lalu sempat berencana untuk mengajaknya menikah di tengah makan malam yang indah sambil diiringi musik klasik. Tapi lagi-lagi, rencana itu gua batalkan dengan alasan paling umum ketika suatu hal gagal dilaksanakan. Karena “satu dan lain hal”.

Selain karena rencana yang berubah-ubah, alasan kedua kenapa persiapannya makan waktu agak lama adalah karena cincinnya harus gua pesan khusus. Ukuran lingkar jari si pacar sangat kecil, sehingga cincinnya ga bisa gua beli jadi. Harus pesan. Kecilnya lingkar jari si pacar ini pun membuat gua beberapa kali mendapat tatapan curiga dari toko cincin.

“Mas, ukuran cincinnya mau berapa?” tanya si penjaga toko.

“Empat, Pak.”

“Empat? Empat itu buat anak-anak lho. Ini buat hadiah ulang tahun keponakannya ya?”

Tadinya gua mau jawab kalo gua mau ngegaul ke Mordor bareng Legolas dan kuda gua udah nunggu di depan. Tapi demi hubungan baik, maka gua menjawab, “Bukan, Pak. Buat lamaran.”

Dan detik itu juga, gua mendapat tatapan penuh tuduhan bahwa gua ini om-om pedofil.

Selain soal ukuran, cincin ini juga sengaja gua pesan khusus agar sesuai dengan cincin impian yang tanpa sadar pernah si pacar ceritakan di salah satu kencan kami.

Si pacar mau cincin yang sederhana. Lingkar bulat sempurna dengan satu mata sebagai mahkotanya. Ga mau yang terlalu bling-bling atau bermata banyak. Cukup satu.

Setelah memasukkan cincin ke dalam kantong celana, gua bercermin sekali lagi sebelum berangkat. Gua menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat untuk menurunkan kadar grogi yang membuncah dalam dada.

“Haaaah!”

Dada yang sesak melentur sedikit. Kini gua udah siap. Dengan mengenakan kaos dan celana jeans, gua pun berangkat ke rumah si pacar.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 433 other followers