Juli 2015!

 

Ga banyak hal-hal outstanding dalam hidup gua di bulan Juni kemarin. Perputaran polemiknya masih seputar persiapan pernikahan, kerjaan, dan usaha sampingan. Otak masih penuh sama vendor-vendor mana aja yang mesti di-follow up, deadline mana aja yang harus dikerja duluan, atau calon klien mana yang kudu ditemuin buat pitching.

Hidup sehari-hari udah mumet sama hal-hal di atas tadi, sampai seperti ga ada ruang lagi untuk hal spektakuler terjadi dalam hidup gua. Ya ga mesti se-spektakuler ketiban komet atau ketemu Gaban sih. Tapi letupan-letupan kecil kayak weekend getaway rasanya akan menyenangkan.

Atau mungkin, hal ini terjadi karena gua sendiri yang ga ngasih ruangan itu? Hmmm, bisa jadi sih. Karena belakangan ini, gua memang lagi nyari yang stabil, yang tenang, yang tentram, setidaknya sampai hari pernikahan gua datang. Pergolakan hanya akan menimbulkan resiko besar, dan saat ini, gua sama sekali ga berani untuk mengambil resiko itu.

Kalopun ada yang berbeda di bulan Juni adalah rentetan acara buka bersama, acara stand up yang udah gua review, atau film-film box office yang lagi merangsek naik ke layar bioskop Indonesia. Minions salah satunya, yang figure mainannya tersebar luas dan digilai banyak orang.

Jadi gua cerita apa dong di bulan Juli ini? Continue reading

Surat Terbuka Untuk Si Pacar

Dear pacar,

Kamu inget ga, waktu kita masih awal-awal nyiapin resepsi nikah? Aku seneng banget kalo ternyata kita punya prinsip yang sama. Yaitu, daripada bermegah-megah di gedung dan makanan saat resepsi, lebih baik ngeluarin budget sedikit lebih besar untuk foto prewedding. Karena foto prewedding itu barangnya buat kita, bisa disimpan untuk selamanya. Sementara gedung hanya berlangsung 2 jam, dan makanan cuma bakal jadi feses pada akhirnya.

Selain prinsip, ternyata kita juga punya ide foto prewedding yang mirip. Kamu pernah liat satu konsep di nikahan orang lain, sementara aku kecetus ide ini setelah boker sejam di WC. Iya, aku rada sembelit waktu itu. Sekarang sih udah mendingan, udah sering makan sayur yang banyak seratnya. Brokoli, daun selada, sampai daun touch me aku makan semua. Sekarang pup aku lancar lho. Ga percaya? Kapan-kapan mampir ya.

Anyway, sampai mana tadi?

Oiya. Ide. Setelah perundingan yang sangat kilat, kita sepakat untuk mengeksekusi ide ini. Sebuah ide yang sepertinya belum banyak dilakukan di Indonesia. Sebuah konsep yang kayaknya bakal memorable buat kita dan orang-orang yang ngeliat. Foto prewedding dengan tema film.

Terus kamu inget ga, waktu kita lagi ngebahas lebih jauh soal konsep film ini? Awalnya kita mau bikin foto yang sama persis dengan poster-poster film. Kita akan bergaya bak dua tokoh pemeran utama yang biasa terpampang di bingkai now playing atau coming soon. Lalu foto-foto itu akan dipajang di selasar menjelang pintu masuk ruang resepsi. Menjadikan nikahan kita seperti teater bioskop yang sedang memutar banyak film.

Kita lalu sepakat hanya akan memilih film yang keliatannya do-able buat dieksekusi. Maka film kayak Jurassic World harus kita coret dari daftar. Meski muka aku mirip Stegosaurus dan sering pake kaos T-Rex, kayaknya masih banyak film lain yang lebih layak untuk dijadikan ide foto prewedding. Film Ada Apa dengan Cinta pun sepertinya ga do-able. Karena satu-satunya kesamaan antara aku dengan Nicholas hanyalah nama belakang kami berdua.

Nah, kamu inget ga, kenapa akhirnya ide poster film ini ga jadi dieksekusi? Karena ternyata ga gampang ya nyari vendor yang sesuai dengan harapan kita. Bolak-balik ke prewedding expo tapi selalu pulang dengan tangan kosong. Rata-rata mereka menghitung harga berdasarkan jumlah pakaian yang diganti. Ide poster film jadi ga ramah sama kantong, karena jika kita mau bikin 8 poster film, vendor akan men-charge dengan biaya 8 kali ganti wardrobe. Dan itu sama sekali ga murah.

Akhirnya kita ngalah. Konsepnya tetap film, namun angle-nya bukan poster lagi. Melainkan adegan-adegan dalam sebuah film. Kita hanya akan pilih dua film yang maknanya cocok sama nikahan, lalu beberapa adegannya dijabarin dalam bentuk foto.

Sekarang pertanyaannya adalah, film apa yang harus dipilih?

Continue reading

Simfoni

Foto ini diambil saat gua dan teman-teman kuliah sedang melangsungkan semacam malam perpisahan, sekitar pertengahan tahun 2007, saat kami masih kurus dan cicilan rumah belum menjadi masalah.

kuliah

Ga bisa dipungkiri, kuliah dan tugas adalah dua hal yang ga bisa dipisahkan. Ngejar deadline tugas jadi aktivitas mayoritas bagi mahasiswa macam gua waktu itu. Bergadang sampai pagi lalu langsung berangkat kuliah tanpa tidur, jadi sebuah kegiatan yang terlihat lumrah dilakukan secara biologis.

Tapi tugaslah yang ternyata mampu mengakselerasi keakraban gua dan teman-teman kuliah. Rasa senasib dan sepenanggungan menjadi katalis bagi kedekatan kami. Kebutuhan untuk bercerita dan berkeluh kesah, menjadikan teman satu-satunya telinga yang mampu mengerti. Pengen sih cerita ke orang tua, tapi rasanya sulit untuk menceritakan betapa beratnya tugas kuliah Total Quality Management itu tanpa diberondong oleh ekspersi “Hah?”

Meski tugas bertumpuk, kami bukanlah segerombolan mahasiswa kutu buku yang kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang. Kami lebih cocok disebut kumbang-kumbang. Kuliah ngambang, kuliah ngambang. Ngambang entah ke mana sepulang kuliah.

Ada banyak cerita menarik ketika kami memutuskan untuk ngambang setelah suatu kelas dinyatakan selesai atau saat ga ada kuliah sama sekali. Namun salah satu cerita favorit gua adalah ketika kami nonton di mall baru yang berada lumayan jauh dari kost-an. Sebuah cerita yang berawal dari ajakan iseng untuk nonton Shrek.

“Eh, makan terus nonton yuk? Ke mall Margonda aja,” ajak gua ke teman-teman kuliah yang kebetulan lagi berkumpul di kost-an Akbar.

Akbar, sambil masih mengenakan sarung dan kaos oblong, menanggapi, “Yuk. Boleh, boleh. Mau nonton apa?”

“Hmm,” gua mengingat-ingat film apa yang sedang tayang minggu itu, “Gimana kalo nonton Shrek?”

“Hah?” Akbar terlihat kaget, “Nonton SEKS? Di mana? DI MANA?”

“…”

Akhirnya, tanpa membahas lebih lanjut kenapa Akbar bisa salah mendengar sejauh itu, gua, Akbar dan beberapa teman lainnya berangkat ke sebuah town square di kawasan jalan Margonda. Mall itu terbilang baru sehingga kami penasaran dan pengen nyobain ke sana. Berbekal uang beberapa puluh ribu, kamu pun berangkat dengan naik angkutan umum.

Sebelum nonton, kami mau makan di food court di mall yang sama. Karena masih terhitung baru, mall itu masih sepi, begitupun dengan food court-nya. Yang kamu ga tau, makan di food court kala sepi adalah sebuah adegan yang mirip cerita horor. Kalo sepi, pegawai setiap counter makanan di food court jadi… SANGAT BERINGAS.
Continue reading

Review Happinest Jakarta

Foto ini diambil di Balai Sarbini hari Sabtu lalu, ketika stand up special #HAPPINEST_JKT dari Ernest Prakasa dinyatakan selesai, sekitar pukul setengah sebelas malam.

Sebagai pemerhati karya Ernest, ketika selesai menonton stand up special-nya tahun ini, gua langsung membandingkannya dengan stand up special Ernest tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, begitu keluar dari ruangan, gua akan bertanya pada diri sendiri, apa acara kali ini lebih bagus dari tahun lalu?

Tapi setidaknya, stand up special Ernest selalu memberikan sensasi yang sama buat gua: penasaran sama performa opener-nya. Di Merem Melek ada Ge Pamungkas yang kemudian ditampuk sebagai juara 1 Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV season 2. Waktu Oriental Bandit, ada Barry Lim yang bikin gua ngakak sampe mukul-mukul bangku. Lalu saat Illucinati, ada Arie Keriting, yang meski ga selucu harapan gua, tetap bisa membuka acara dengan apik. Terus gimana dengan opener kali ini?

Namun jauh sebelum penampilan opener, Ernest udah mengejutkan penonton dengan sang pembawa doa: Soleh Solihun. Dengan rentetan kata semoga, Soleh berhasil mengocok perut penonton mulai di menit pertama. Semoga acaranya lancar, semoga manajemen Ernest kebanjiran job, semoga yang dateng sama gebetannya bisa jadian, dan yang paling epic, semoga yang suka pake sendal Crocs segera sadar bahwa sendal itu udah mahal, jelek lagi.

Selesai dengan doa yang diamini sambil tertawa, opener acara belum masuk juga. Karena kali ini, duo Ge Pamungkas dan Arie Keriting mendapat tongkat estafet dari Soleh untuk membuat rahang penonton pegal. Hanya melalui suara, keduanya membacakan peraturan selama acara berlangsung dengan setengah informatif, setengahnya lagi antara ngaco dan absurd.

“Selama acara berlangsung, dilarang merekam pertunjukan. Apalagi merekam penonton. Apalagi merekam penonton yang sedang merekam pertunjukan.”

“Bagi yang datang terlambat, hanya boleh masuk saat jeda acara. Ini aturan aneh ya, gimana caranya coba yang telat bisa tau aturan ini? Kan mereka telat?”

Geblek.

Akhirnya, di menit kesekian, empat opener masuk bergantian. Tiga opener pertama: Sakdiyah Ma’ruf, Chevrina Anayang, dan Sacha Stevenson, berhasil membuat empuk penonton. Dari tiga perempuan tersebut, menurut gua, Chevrina yang tampil paling menawan. Dengan bit-bit harsh but truth, Chevrina bagai petasan banting yang mengagetkan. Pepatah kecil-kecil cabe rawit pas banget disematkan untuknya malam itu. Sebuah penampilan yang membuat gua kepikiran, “Kalo Chevrina bikin stand up special bareng pacarnya, Kamga, kayaknya sih bakal super seru nih.”

Lalu muncullah Ardit Erwandha, si opener tetap Happinest tour. Dengan wajah bak pemain sinetron, Ardit tampil sangat tenang untuk ukuran komika dengan jam terbang yang belum terlalu lama. Bit Duo Serigala dilempar dengan santai tanpa terkesan vulgar. Penampilan Ardit malam itu mengingatkan gua akan Ernest di awal kariernya sebagai komika. Santai dan seperti effortless saat melemparkan punchline.

Rentetan pembuka ini membuat penonton sangat empuk. Soleh, Ge, Arie, dan empat opener tadi udah berhasil membuat rahang gua pegel, padahal sang pengisi acara utamanya sendiri belum muncul ke atas panggung. Lalu gimana dengan penampilan Ernest malam itu?

Continue reading

Juni 2015!

Gile, ga kerasa udah masuk ke penghujung semester pertama tahun 2015. Gimana pencapaian kita sejauh ini? Apa resolusi udah kecoret setengahnya atau malah masih jauh dari ekspektasi?

Bagi gua dan si pacar sendiri, persiapan pernikahan kami udah sampe setengahnya lebih. Vendor-vendor udah kepilih semua dan sekarang hanya tinggal memantau pelaksanaan dan hasil akhirnya. Semoga sesuai harapan dan ga mengecewakan deh. Bantu doa ya, teman-teman!

Salah satu milestone persiapan gua dan si pacar adalah kami baru aja menyelesaikan foto prewedding beberapa minggu lalu di Bandung. Kenapa di Bandung? Kebetulan vendor yang kami percayakan berdomisili di Bandung dan sepertinya mereka tau tempat-tempat keren di Bandung yang belum banyak dipakai untuk foto prewedding.

Kebetulannya lagi, calon vendor souvenir kami juga ada di Bandung. Jadi sekalian deh kami survey ke sana, sehari sebelum prewedding. Ibarat pepatah, guru kencing berdiri, dua tiga pulau terlampaui.

Dan karena kami anti-mainstream, kami foto prewedding-nya 2 kali. Bukan, bukan, yang satu lagi bukan di mini studio yang buat foto produk atau aksesoris. Selain yang di Bandung, kami prewedding lagi di daerah kota tua Jakarta. Yang kedua ini adalah hadiah dari kuis yang pernah gua ceritain di postingan ini.

Kedua vendor ini sama uniknya dengan konsep yang berbeda-beda. Yang satu lebih light dan fun, sementara yang satunya lebih sophisticated. Detail ceritanya kayaknya sih bakal diposting si pacar di blognya sarahpuspita.com, sementara gua akan bercerita dari sisi yang lain. Tungguin keduanya ya! Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 536 other followers