Februari 2016!

Februari. Bulan kedua di tahun yang baru.

Semangat masih kenceng dong? Resolusi masih on track juga dong? Kartu keanggotan gym masih mengkilat dong? Program diet masih lancar dong?

Karena biasanya di bulan kedua, mulai timbul godaan macem-macem yang bisa mengganggu pencapaian resolusi. Yang pengen kurus, ajakan makan temen kantor memprovokasi kita untuk melambaikan tangan ke kamera. Yang pengen nabung, promo maskapai penerbangan mendorong kita untuk impulsif membeli tiket. Pokoknya, ada aja godaannya.

Nah, di bulan ini gua mau ngebahas soal godaan-godaan yang bisa mengganggu prioritas kita. Tapi bukan gangguan yang berarti buruk, melainkan gangguan baik yang bisa mengusik kita dari rutinitas yang kadang menjenuhkan.

Bahasa kerennya, a quick getaway.

Quick getaway tiap orang beda-beda. Ada yang memutuskan untuk traveling ke luar negeri pas lagi mumet, namun ada yang lebih suka menyendiri di rumah dan menikmati me time saat mau melumerkan ketegangan di kepala.

Gua pribadi sebetulnya lebih suka traveling kalo ada waktu untuk kabur dari rutinitas. Suasana yang benar-benar baru bisa bikin otak fresh. Bulan madu gua ke Jepang kemarin pun terjadi saat pekerjaan di kantor lagi memuncak. Bukannya disengaja, tapi emang kebetulan pas aja momentumnya. Bisa dibilang #Japaneymoon kemarin itu jadi a quick getaway buat gua.

Namun kalo keuangan lagi ga memungkinkan, gua juga suka cuti 1 hari untuk diem aja di rumah. Baca buku, maraton nonton DVD, atau bermalas-malasan aja. Dan demi mendukung program pemerintah, gua menghemat air dengan ga mandi seharian.

Atau seperti Sabtu kemarin (30 Januari 2016), saat gua dan Sarah memutuskan untuk menyaksikan sebuah pertunjukan drama musikal yang berjudul Rentak Harmoni di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Continue reading

Perjalanan Bertemu Conan

Selain menerka warna langit, salah satu kebiasaan gua yang belum hilang sejak SMP adalah membaca komik Detektif Conan. Menebak pelaku dan bagaimana trik pada setiap kasusnya selalu jadi kegiatan yang super menarik sejak gua SMP, sampai hari ini.

Gua masih inget cerita jilid pertama dari komik Detektif Conan. Ada satu adegan di mana Shinichi bisa tau seorang perempuan itu atlit senam hanya karena tangannya yang kapalan. Hal itu sungguh memukau buat gua yang baru tumbuh jakun.

Caranya berhipotesa itulah yang bikin gua makin rutin baca detektif Conan. Ga ada satupun jilid yang gua lewatin. Awalnya cuma minjem kanan-kiri, lalu belakangan beli sendiri. Sejak rutin baca detektif Conan, gua semakin terinspirasi dan mulai suka berhipotesa berdasarkan pengamatan mata.

“Bob,” panggil gua ke Bobi, temen SMP gua, “Lu liat deh si Tina.”

“Kenapa si Tina?” tanya Bobi penasaran.

“Tiap hari pulang jalan kaki… pasti ibunya pelacur!”

“Astaghfirullah…”

Setelah kejadian itu, gua tau kalo Conan itu pinter, kalo gua mah sotoy.

By the way, bagi yang belum familiar dengan detektif Conan, ijinkan gua bercerita sedikit demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Detektif Conan adalah komik Jepang yang menceritakan tentang kehidupan seorang detektif cilik bernama Conan. Ia sebenarnya adalah Shinichi Kudo yang diracun oleh Organisasi Jubah Hitam. Tapi bukannya mati, ia malah menciut menjadi anak-anak. Komik ini ditulis dan digambar oleh seorang jenius bernama Aoyama Gosho.

Seperti halnya Doraemon untuk Fujiko F. Fujio, maka begitulah detektif Conan bagi Aoyama Gosho. Meski juga membuat Yaiba dan 3rd base, Conan adalah karya yang membuat nama Aoyama disegani di dunia permangaan Jepang, bahkan internasional.

Gua suka banget sama Conan. Gua juga kagum banget sama Aoyama Gosho. Dua hal itulah yang membawa gua ke Tottori, sebuah kota yang 7 jam perjalanan jauhnya dari Tokyo. Continue reading

Fenomena Ojek Online

Orang Indonesia itu latahan. Latah akan fenomena.

Dulu, waktu fenomena donat meledak, semua orang rame-rame makan donat. Brand donat pun beranak pinak hampir di semua mall di Indonesia. Kalo bisa makan nasi pake donat, mungkin rame-rame bakal makan nasi pake donat.

Pas kamera DSLR mewabah, fotografer dadakan jadi profesi kebanyakan orang. Saat sepeda fixie lagi happening, jalanan tumpah ruah sama begituan. Ga ngerti pun ga apa-apa, yang penting jangan sampai ketinggalan.

Lalu, fenomena apa yang melatahi orang Indonesia di tahun 2015?

Menurut gua, jawabannya adalah aplikasi transportasi online. Semua aplikasi, baik yang buatan lokal maupun ekspansi dari luar negeri, rame-rame memenuhi layar smartphone warga Indonesia, khususnya kota Jakarta.

Nyegat taksi ga perlu lagi berdiri pinggir jalan sambil goyangin telunjuk, tapi cukup geser-geser jempol di aplikasi juga udah bisa. Sekarang nyetopin taksi udah kayak maen Candy Crush.

Namun menurut gua, primadona dari trend aplikasi transportasi online adalah ojek. Di tengah kemacetan Jakarta, kendaraan roda doa terlalu seksi untuk dilewatkan. Makanya, begitu ada satu-dua aplikasi ojek online yang sukses, banyak aplikasi tandingan yang muncul di Google Play dan Apps Store. Mulai dari ojek yang pake argo kayak taksi, ojek yang bisa pilih driver, sampai ojek khusus wanita. Kalo dibiarkan semakin lama, mungkin akan muncul ojek yang bisa jadi joki ujian masuk pegawai negeri.

gojek

Sekarang, hampir semua pekerja kelas menengah minimal pernah pake ojek online. Demand yang surplus, berimbas pada supply yang harus ditambah. Cerita driver ojek yang bisa membawa pulang uang 10 juta setiap bulannya bak lampu terang bagi laron-laron pencari uang. Karyawan swasta, polisi, manajer, bahkan dokter rela meninggalkan pekerjaan lamanya demi bisa mengenakan jaket hijau di jalanan.

Salah satu cerita yang pernah gua dapat, ada satu pilot maskapai kenamaan memutuskan untuk resign biar bisa jadi driver ojek. Gua langsung kebayang, di salah satu perjalanan bersama si penumpang, si mantan pilot itu tetap melakukan kebiasaan lamanya di penerbangan.

“Mbak,” panggil si abang ojek.

“Ya, Bang?”

“Sebentar lagi kita akan sampai di tujuan.”

“Lalu?” tanya si mbak penumpang.

“Mohon dapat menegakkan sandaran, melipat meja ke posisi semula, dan membuka jendela.”

“…” Continue reading

Review Ngenest Movie

Salah satu yang ramai dibicarakan jelang tutup tahun 2015 adalah film Ngenest, sebuah film yang diangkat dari trilogi personal literature karya komika papan atas Indonesia: Ernest Prakasa.

ngenest

Film Ngenest bercerita tentang kehidupan Ernest Prakasa dari TK sampai dewasa. Kehidupan Ernest kecil dan Ernest remaja yang diwarnai pem-bully-an, menjadi faktor penting dalam semua keputusan yang Ernest dewasa buat. Dua keputusan penting yang coba diangkat oleh film ini adalah memilih pasangan dan punya anak.

Secara garis besar, film ini seperti terbagi menjadi 2 babak besar. Babak pertama adalah kisah tentang Ernest remaja, yang diperankan dengan apik oleh seleb-Youtube: Kevin Anggara. Ditemani oleh sahabat karibnya, Patrick remaja (Brandon Salim), kita dibawa menyusuri pengalaman-pengalaman pahit Ernest akibat di-bully oleh teman-teman sekolahnya karena perbedaan ras.

Sementara babak kedua adalah cerita Ernest dewasa. Di bagian ini, kita disajikan perjalanan Ernest bertemu dengan Meira, menikah (juga dengan Meira), dan berumah tangga (masih dengan Meira). Eits, jangan bilang gua spoiler. Karena fakta-fakta tadi bisa kalian temukan juga kok di trailer filmnya.

Waktu ngeliat trailer-nya, gua emang sempat bingung. Ketika alur cerita dan kemungkinan ending-nya udah dijembrengin di trailer, apa lagi yang harus kita harapkan dari filmnya? Apa kita hanya diminta untuk menikmati proses berceritanya yang luar biasa, atau akan ada plot twist yang memutar balik alur cerita dengan fenomenal?

Namun ternyata, Ngenest bisa memberikan gua lebih dari 2 hal di atas. Karena ada satu premis lagi yang coba diangkat dari film ini, yang menurut gua, believable dan bisa relate ke banyak orang.

Tapi mari abaikan keinginan gua untuk membocorkan premis terakhir itu. Selain karena belom ridho diarak massa, gua lebih ingin membahas film ini dari sisi yang lain. Sisi komedinya, misalnya.

Continue reading

Januari 2016!

Happy New Year 2016!

Semoga di tahun yang baru ini, semua harapan dan cita-cita dapat terkabulkan. Mulai dari resolusi yang baru, sampai ke resolusi yang limpahan dari tahun 2015, yang dicita-citakan sejak tahun 2014, yang disebut mulai tahun 2013. Amin!

Ga kerasa, tahun 2015 udah berlalu. Gimana resolusi tahun lalu? Yang kepingin kurusan, apa timbangan udah bergeser ke kiri? Yang mau sekolah lagi, apa udah diterima beasiswanya? Yang berencana nikah, udah booking gedung apa malah diputusin?

Buat gua pribadi, tahun kemarin itu berjalan super cepat. Perasaan baru kemarin ngelamar si pacar, eh tau-tau udah resepsi nikahan aja. Perasaan baru kemarin ngalamin boker canggih di Haneda, eh tau-tau udah bulan madu ke Jepang lagi.

Time did not fly. It took ojek gendong sama The Flash.

Sekarang kita udah di hari pertama tahun yang baru. Saatnya memulai segala sesuatunya dengan fresh. Ibarat ngisi bensin, kita mulai lagi dari nol. Untuk itu, lewat postingan awal tahun ini, gua beserta segenap jajaran pengurus saputraroy.com ingin memohon maaf apabila ada postingan yang kurang berkenan atau menyinggung teman-teman sekalian.

Dan ga berasa, udah 3 tahun gua ngejalanin blog dengan tema yang sama setiap bulannya. Ternyata menulis dengan cara begini menyenangkan juga. Jadi di tahun 2016 ini, gua masih akan ngeblog dengan cara yang sama, dengan semangat yang sama. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 581 other followers