Kurang Lengkap

Beberapa bulan belakangan ini, di linimasa gua lagi ada banyak kuis yang berhadiah traveling gratisan. Dari kuis nge-blog, fotografi, bahkan modal ngetwit 140 karakter bisa membuat kita bisa menikmati hadiah jalan-jalan secara cuma-cuma.

Ada beberapa kuis yang mengharuskan si pemenang pergi sendiri, ada juga yang berhadiah 2 tiket untuk 1 pemenang. Gua pribadi memutuskan untuk ga pernah ikutan lagi kuis yang berhadiah pergi sendiri. Jika ditanya apa alasannya, maka gua akan menjawab dengan cerita seperti ini.

Akhir tahun 2013 lalu, gua ada rejeki lebih untuk bisa traveling ke Jepang, bareng Tirta dan Siti. Sebelum berangkat, gua udah nanya dulu sama Gelaph yang pernah ke Korea di bulan yang sama. Gua beranggapan bahwa Korea sama Jepang mirip-mirip lah ya. Jadi referensi Gelaph masih valid dan relevan.

“Di sana dingin ga, Laph?” tanya gua.

“Hmmm… Mayan lah. Delapan belas derajat. Sejuk-sejuk doang palingan,” jawab Gelaph dengan santainya.

Berbekal informasi itulah, gua packing keperluan perjalanan gua selama 7 malam di Jepang. Gua hanya membawa kaos-kaos biasa, 2 celana jeans, 1 buah jaket yang ga begitu tebal, tanpa syal ataupun sarung tangan.

Singkat cerita, gua pun berangkat ke Jepang di awal bulan November. Ga lama setelah pesawat mendarat, pintu terbuka, tangga tersedia, dan penumpang berbaris di isle untuk segera turun. Ketika kaki gua menginjak platform tangga pertama, Tirta manggil gua.

“Roy, kemaren si Gelaph bilangnya apa soal suhu?”

“Delapan belas derajat, Ta. Sejuk-sejuk doang.”

“Coba deh tuh lu sentuh pegangan tangganya.”

Tanpa mikir panjang, gua pegang pinggiran tangga yang terbuat dari besi. Anjir. DINGIN!

Ujung-ujung jari gua langsung kebas sedikit. Buru-buru gua memasukkan tangan ke dalam kantong jaket untuk mencari kehangatan. Gua menghembus-hembuskan napas, coba membuat asap karbondioksida di udara. Sejuk-sejuk doang? Dengkulmu!

Tapi gua masih yakin bisa mengatasi cuaca dingin ini hanya bermodal jaket yang gua bawa. Begitu pun dengan Tirta. Sebagai traveler kere, kami jelas ga menganggarkan untuk beli sarung tangan selama di Jepang. Biarkan kobaran semangat yang menghangatkan kami dari dalam (cailah). Kami harus survive!

Namun apa daya, kami akhirnya tumbang juga. Makin hari, tangan makin kebas dan lengket bener sama kantong jaket. Di malam ketiga, di kota Hiroshima, gua dan Tirta memutuskan untuk merogoh kocek demi bisa membeli sarung tangan. Untungnya waktu itu gua nginep di daerah Honduri, pusat kota-nya Hiroshima, jadi gampang kalo mau belanja-belanja, termasuk belanja pakaian hangat.

Sialnya, setelah jalan beberapa jam, gua dan Tirta belum nemuin sarung tangan dengan harga terjangkau. Di saat gua mulai berpikir untuk melilit tangan dengan celana dalam, tiba-tiba Tirta menunjuk ke sebuah toko yang sepertinya menyediakan barang-barang dengan harga terjangkau.

“Ini bagus nih, Roy,” usul Tirta, menunjuk ke sebuah sarung tangan.

“Duh, 2,000 yen, Ta. Dua ratus ribu rupiah lebih. Sayang ah. Bakal jarang banget dipakenya kok. Mau gua pake ke mana lagi coba? Sukabumi?”

Continue reading

Perihal Pilpres

kata sarah

Akhir-akhir ini, timeline twitter gue didominasi oleh dua hal. Yang pertama, ekstrak kulit manggis, dan yang kedua, pilpres dan quick / real count. Untuk yang kedua, ada tiga jenis manusia, yaitu, yang peduli, yang apatis, dan yang nyinyir.

Yang peduli, biasanya paling getol nge-tweet dengan hashtag #KawalKPU, nyebarin berita seputar penghitungan surat suara, sampe informasi mengenai aplikasi atau website yang memungkinkan untuk berpartisipasi dan ambil bagian. Yang apatis, sibuk nge-tweet quotes, humble brag, atau memberitakan kabar gembira tentang ekstrak kulit manggis. Yang nyinyir… tentu aja nyinyirin yang peduli, yang apatis, bahkan yang bahas esktrak kulit manggis. Orang lain berpartisipasi dalam demokrasi salah, cuek bebek juga salah. Udah gitu, bikin pusing, mau di-block nanti drama, nggak di-block juga ganggu. Serba salah.

Anyway, kembali lagi ke Pilpres.

Gue sendiri ikut menghitung hari menuju turunnya THR pengumuman resmi dari KPU. Karena sejumlah lembaga yang mengadakan quick count nggak berakhir dengan satu kesimpulan, lepas dari kredibilitas dan keberpihakannya. Yang biasanya percaya kalo quick count udah pasti bener, akhirnya terpaksa menunda kesimpulan karena kedua calon presiden kita sama-sama mendeklarasikan kemenangan. Pusing.

Tadinya gue pikir, keriaan pilpres di Twitter akan berakhir di tanggal 9 Juli 2014. Tapi sepertinya gue salah. It wasn’t over yet.

Tapi yang bikin gue seneng adalah, gue menyaksikan banyaknya masyarakat yang bersemangat untuk ikut ambil bagian dalam pemilihan umum ini. Lintas lapisan, suku, bahkan agama.

Partisipasi itu udah sangat nampak dari saat kampanye, hari H nyoblos, sampe inisiatif melakukan pengawalan terhadap surat suara untuk mendeteksi kecurangan yang mungkin timbul. Nggak sekedar cuap-cuap, they also give what they can give. Entah itu berupa uang, tenaga, edukasi, waktu, ide, dan sebagainya, lepas dari siapa capres pilihan mereka.

Antusiasme ini, tentu saja membuat sebuncah rasa bangga terbersit. Siapa bilang anak muda Indonesia nggak peduli nasib negri? Siapa bilang anak muda Indonesia nggak berpartisipasi dalam demokrasi? Di pilpres ini, banyak yang telah membuktikan kalo tuduhan tersebut nggak bener. Kami peduli, dan hal itu diwujudkan dalam banyak tindakan nyata dan konkrit. Gimana nggak bangga, coba?

Tapi sepertinya sisi mata uang, begitu pula dengan pemilu. Di tengah hingar binger pilpres tahun ini, banyak juga hal-hal yang bikin gue sedih. Continue reading

Wawancaur: The Novelist

Belakangan ini, linimasa ramai membicarakan satu novel Indonesia yang mengangkat genre keluarga ini: Sabtu Bersama Bapak.

Novel ini bercerita tentang sepasang adik-kakak yang riweuh menghadapi tantangan hidup dengan bantuan video dari almarhum bapaknya. Ada 2 cerita besar dalam buku ini, yaitu tentang Cakra yang giat mencari pasangan hidup, dan tentang Satya yang sibuk menyusun kembali rumah tangganya.

Gua pribadi lebih suka cerita Cakra karena lebih “novel” dan ada dinamikanya, daripada kisah Satya yang berupa potongan-potongan cerita sehingga lebih mirip buku psikologi populer tentang parenting dan rumah tangga. Meski ga sekomedi Jomblo atau Gege Mengejar Cinta, sang penulis tetap bisa menghibur, namun kali ini dengan cara yang berbeda dan lebih dewasa.

Overall, Sabtu Bersama Bapak adalah novel tentang keluarga yang hangat dan mampu menyentuh hati pembacanya.

Apa sih yang membuat penulis ingin menulis novel dengan tema keluarga? Lalu gimana keluh kesahnya menjadi penulis selama 10 tahun ini? Temukan jawabannya di wawancaur gua bersama sang novelis: Adhitya Mulya. Yep, that Adhitya Mulya.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Adhit benar-benar dilakukan via email. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar merupakan cover dari novel Sabtu Bersama Bapak. Terima kasih.

sabtu-bersama-bapak

Halo Dhit. Kenapa lu ngangkat tema keluarga di novel Sabtu Bersama Bapak? Tema yang kayaknya ga banyak diangkat untuk jadi tema novel di Indonesia.

Penulis akan selalu bercerita sesuatu yang:
(a) Mereka paham benar tentang topik yang akan diangkat, baik dari riset mau pun pengalaman.
(b) Dekat di hati atau kehidupan mereka.
(c) Sesuatu yang mereka sedang gelisahkan.

Setelah 10 tahun menulis, gue menjadi seorang bapak. Itu yang menjadi keseharian gue sekarang. Jadi, gue angkat tema keluarga karena memang sebuah fase yang gue sedang jalani saat ini.

I see. Apa alasan lu menulis novel ini, Dhit?

Gue memutuskan untuk bercerita tentang suami-istri, orang tua-anak, karena gue banyak gak setuju dengan pakem-pakem yang ada di masyarakat sekarang. Empat contoh kasus utama adalah:

(1) Anak sulung harus selalu mengalah.
(2) Definisi siap lahir batin sebelum menikah.
(3) Banyaknya pasangan suami istri yang saling menyembunyikan gaji.
(4) Anak yang gak mau sekolah kalo gak pake mobil.

Gue sering mendapati 4 hal ini dan lumayan mengganggu gue. Jadi, intinya sih, cerita dalam buku ini adalah my offering to society untuk memandang beberapa hal dari kacamata yang berbeda.

Ada cerita menarik selama menulis novel ini?

Tadinya gue berniat mengemas buku ini dalam bentuk non-fiksi. Draft-nya sudah jadi dan sudah selesai diedit. Continue reading

53 Hal yang Jangan Dilakukan Ketika Sedang Berpuasa

1. Makan nasi uduk.

2. Pake nambah.

3. Ga pake bayar.

4. Telat sahur. Seharusnya saat Imsak, ini malah saatnya berbuka puasa.

5. Tidur siang dengan istri atau suami. Padahal masih jomblo.

6. Bergunjing.

7. Mengisi waktu dengan menonton siaran berita tentang pemilihan presiden. Lalu percaya kepada hasil Quick Count. Karena seharusnya, percaya hanya kepada Tuhan.

8. Kecuali, Quick Count yang cerdas dan terpercaya. Seperti Quick Count Gie.

kwik_kian_gie

9. Lho, guys? Mau ke mana? Ini list-nya masih panjang nih. Guys? Buru-buru amat. Guys?

10. Berjudi. Teeet!

11. Mandi di bawah pancuran. Dengan mulut ke atas dan terbuka. Lalu dengan sengaja, menelan air.

12. Bangun tidur, sikat gigi, lalu dengan sengaja, menelan odol.

13. Putus dari mantan, menangis, lalu dengan sengaja, menelan kenyataan pahit.

14. Memakan kulit buah manggis.

15. Atau ekstraknya. Continue reading

Setuju dengan Prabowo

Setelah membaca sekilas visi misi kedua pasangan capres, menyimak kegiatan kampanye keduanya, dan menonton debat capres beberapa kali, akhirnya gua menetapkan pilihan, siapa yang akan gua coblos pada pemilihan presiden tahun ini.

Dengan penuh kesadaran dan tanpa tekanan dari pihak manapun, gua memutuskan untuk setuju dengan Prabowo. Setuju dengan apa yang beliau lakukan pada foto di bawah ini.

prabowo salam dua jari

Gua sepakat dengan beliau untuk mengangkat tangan dan melakukan salam dua jari. Karena pada pemilihan presiden tanggal 9 Juli besok, gua akan memilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi – JK) sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2014 – 2019.

Alasan gua hanya satu. Bukan, bukan karena soal kasus HAM yang masih mengganjal kubu nomor satu. Atau karena anak sang calon wakil presiden yang masih bisa kuliah di London setelah menabrak anak orang sampai tewas. Tapi lebih karena banyak orang-orang baik dan kompeten yang siap membantu pasangan Jokowi – JK jika mereka dipercaya untuk jadi pemimpin negeri ini.

Siapa pun presidennya, dia pasti membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah yang kompleks di Indonesia. Ga mungkin satu orang bisa memperbaiki semuanya sendirian. Ga mungkin daya segelintir orang bisa mendobrak masalah-masalah dalam sekejap saja. Semua perlu sumber daya yang besar dan kompeten.

Karena itu lah gua mendukung Jokowi – JK. Karena ada orang-orang baik dan kompeten di belakang pasangan nomor 2 tersebut.

Gua ingin Menteri Pendidikan diisi oleh Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina, orang yang telah membuktikan kompetensi dirinya di bidang pendidikan melalui program Indonesia Mengajar. Bukan oleh orang partai yang di beberapa kesempatan terlihat ga santun dalam berkampanye.

Gua ingin kursi Menteri Komunikasi dan Informasi diduduki oleh Surya Paloh, orang yang telah lama bergelut di industri media massa. Bukan oleh orang yang malah nanya, “kalo internet cepat memangnya buat apa, tuips yang budiman?”

Gua ingin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dijabat oleh Kurtubi, seorang akademisi dan pengamat dunia minyak dan gas yang selama ini kritis terhadap kebijakan migas pemerintah. Bukan oleh orang yang mendapat jatah pos menteri hanya karena koalisi, tanpa mengerti betul tentang sumber daya alam dan energi.

Gua ingin jabatan Menteri Pekerjaan Umum diberikan ke Tri Rismaharini, orang yang luar biasa membangun kota Surabaya dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup. Bukan oleh orang yang nerima kerjaan apa aja, asal ada untungnya buat mereka.

Gua ingin posisi Menteri Koordinator Perekonomian dipegang oleh Faisal Basri, seorang ekonom berpengalaman yang memiliki integritas. Bukan oleh orang yang pernah atau sedang terlibat kasus pengemplangan pajak.

Tapi yang terutama,
Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 340 other followers