September 2014!

Ga terasa tahun 2014 tinggal 4 bulan lagi.

Ada begitu banyak momen penting yang pastinya gua dan lu semua laluin di sepanjang tahun ini. Ada hari baik, buruk, atau malah, hari yang biasa-biasa aja. Gua pribadi sangat menanti-nantikan datangnya bulan September ini, karena ada beberapa hari baik yang akan terjadi bagi gua.

Yang pertama, adalah hari ulang tahun gua yang akan jatuh di tanggal 14 besok. Ulang tahun kali ini adalah ulang tahun kedua sebelum gua melepas status lajang dan menjadi mulai menyandang status menikah di KTP. Semoga ada cerita-cerita seru yang bisa dibagi di blog ini tentang ulang tahun gua.

Selain itu, di bulan September ini gua juga bakal merilis ulang Toko Bahagia, online shop yang memiliki spesialisasi kaos-kaos dengan kutipan bahagia atau celotehan jenaka. Kalo ga ada halangan, tanggal 9 September ini Toko Bahagia akan menunjukkan wajah barunya.

Bakal ada design dengan konsep yang fresh dan berbeda sama Toko Bahagia edisi sebelumnya. Karena kali ini, gua bekerja sama dengan beberapa graphic designer yang udah berpengalaman. Semoga bisa menghasilkan design yang bikin kalian ngebet beli kaos-kaosnya.

Sama seperti Toko Bahagia edisi lama, gua juga tetap bekerja sama dengan beberapa kontributor kenamaan di dunia maya. Kutipan-kutipan yang wara-wiri di akun Twitter atau blog favorit kalian mungkin aja bakal tercetak di kaos Toko Bahagia.

Untuk edisi bulan perdananya, bakal ada 9 design baru yang bakal siap terpampang di situs terbarunya. Kayak gimana designnya? Apa situs barunya? Tungguin ya, tanggal 9 bulan 9.

Nah, sambil nunggu re-launch Toko Bahagia, kalian bisa follow dulu akun Twitter dan Instagram-nya di @tokobahagiaID.

Continue reading

Perjalanan yang Mengubah Hidup

“Ke Filipina? Ngapain?”

Itu adalah pertanyaan yang selalu saya dapat dari mereka yang bertanya ke mana saya saat liburan Natal akhir tahun 2012 lalu. Pertanyaan ini akan selalu saya jawab dengan, “Mencari cinta.”

Setelah mendengar jawaban saya, yang bertanya biasanya memasang muka datar, berhasrat ingin bersandar ke tembok, atau bahkan terkekeh geli karena mengira saya sedang bercanda. Tanpa bermaksud menjadi Arjuna, namun nyatanya, sepulang dari sana, saya memang menemukan cinta saya.

Semua bermula ketika saya sedang pusing dengan urusan kantor beberapa bulan sebelumnya. Tiba-tiba saja, saya iseng mengajak Tirta untuk jalan-jalan. Rencana awalnya, saya ingin mengajak Tirta traveling naik kereta membelah pulau Jawa. Dari stasiun ke stasiun, dari kabupaten ke kabupaten. Perjalanan akhir tahun yang tidak terburu-buru. Liburan dengan tujuan bermalas-malasan. Santai.

Namun manusia boleh berencana, akhirnya Tirta juga yang menentukan.

Tirta bilang AirAsia sedang ada promo ke beberapa destinasi wisata. Mendengar hal itu, rencana saya untuk membelah pulau Jawa dengan naik kereta pun goyah. Karena promo AirAsia terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.

Siang itu, Tirta mengajukan Boracay sebagai tujuan liburan akhir tahun kami. Awalnya saya mengira Boracay ada di kelurahan Arjasari, kecamatan Cicalengka, kabupaten Bandung, sebelum akhirnya Tirta menambahkan, “Lu coba cari tiket ke Clark deh.”

“Clark?” tanya saya, “Kent?”

“Bukan. Clark, Filipina!”

Maka perjalanan naik kereta membelah Jawa pun berubah menjadi penerbangan ke Filipina. Bermodal tiket promo dengan harga yang sangat terjangkau dari AirAsia, kami pun berangkat di tanggal 24 Desember, tepat 1 hari sebelum Natal.

Harga tiket yang ramah di kantong ternyata tidak menghalangi AirAsia memberikan pelayanan terbaik. Tepat tengah malam, saat pesawat sedang terbang menuju Clark, pilot dan para awak kabin mengucapkan selamat Natal kepada seluruh penumpang. Dengan mengenakan topi Santa Claus, pramugari dan pramugara membagi-bagikan sekotak kue kering yang dipita merah-hijau. Menjadikan penerbangan kali ini sungguh berbeda di mata saya.

Beberapa jam kemudian, kami sampai di bandara internasional Diosdado Macapagal, Clark. Untuk menuju Boracay, kami masih harus naik pesawat ke Kalibo, kota dengan bandar udara terdekat dari destinasi utama kami itu. Asiknya, AirAsia memiliki jaringan penerbangan yang cukup banyak di Filipina. Jadi lagi-lagi, saya menggunakan AirAsia untuk penerbangan dari Clark ke Kalibo, yang tiketnya sudah saya beli secara online di Jakarta.

AirAsia

Sorenya, saya dan Tirta akhirnya sampai di Boracay, sebuah pulau yang bisa dibilang seperti Bali-nya Filipina. Pasir putih membentang di sepanjang mata memandang. Laut biru nan jernih mengisi penuh sampai ke ujung cakrawala. Riuh rendah suara dengan berbagai bahasa menjadi soundtrack saat kaki saya dan belasan turis lainnya menginjakkan kaki di pasir basah Boracay.

Semilir aroma laut menjadi adrenalin tersendiri bagi badan saya yang sudah merasa lelah. Daun pohon kelapa yang melambai tertiup angin seperti memanggil saya untuk segera bersenang-senang. Namun matahari turun cukup cepat hari itu. Saya dan Tirta memutuskan untuk istirahat agar tenaga kembali terisi penuh untuk aktivitas esok hari.

Namun, cuaca berkehendak lain.
Continue reading

Be Your Own Kind of Beautiful

kata sarah

Sejak suka nonton America’s Next Top Model, gue jadi punya ketertarikan khusus sama dunia fashion dan make up. Dari reality show itu, gue tau kenapa kedua hal terebut disebut sahabat wanita. Karena mereka ajaib dan instan!

Misalnya gue cebol. Tapi berkat heels, tadaaa, nambah deh 10 cm. Gak usah pake capek-capek renang atau main basket. Contoh lain, hidung gue pesek. Tapi berkat teknik shading, selamat datang hidung mancung! Dagh, operasi plastik!

Berbekal alasan kepingin tambah cakep, gue mulai ngoleksi alat make up. Kebetulan, pas kuliah, gue nyambi jadi agen Oriflame. Akhirnya gue jadi jualan sambil sesekali beli sendiri. Video tutorial di youtube dan website yang isinya pengetahuan tentang make up pun gue lahap tuntas.

Di saat yang sama, high heels juga jadi jantung hati gue. Gue yang pendek, lagi terpesona banget sama teknologi peninggi badan yang cantik ini. Maka mulailah gue berburu macam-macam heels, mulai dari stiletto sampe wedges, item polos sampe pink gonjreng, bahkan yang heels-nya 5 cm sampe 14 cm. Yes, 14 cm! I had one, dan pernah kecengklak pas make!

Tapi berhubung yang terjangkau oleh gaji dan kantong cuman yang biasa, gue gak punya barang-barang bermerek. Sepatu, ya yang biasa aja. Yang penting sreg di hati kaki. Hal yang sama berlaku untuk make up, baju, dan tas. Bisa aja sih beli yang branded. Tapi kudu puasa dua bulan. Terus matik.

Makanya, gue mengerutkan kening waktu Roy ngusulin untuk bikin fashion & beauty blog. Yang gue pikir adalah, fashion blog gimana? Wong baju di lemari isinya produk factory outlet smua. Boro-boro Burberry, Zara aja jarang! Alat make up pun sama. Isi make up case gue didominasi sama produk drug store. Boro-boro Chanel, merek-merek Sephora aja udah susah nyarinya.

“Nah, justru itu!” kata Roy, mengagetkan gue.

Justru itu gimana? Emang jadi fashionista murah? Baju-baju bermerk itu emang harganya lima puluh ribuan? Belom tas, sepatu, aksesoris. Dan yang paling penting, apa gue punya selera fashion yang bisa pas buat semua? Suka kan bukan berarti jago. Mana badan kerempeng bener. Ukuran sepatu juga masih golongan KIDS. Sedih.

Jadilah ide Roy saat itu gue anggep gila. Tanpa memberi kesempatan yang bersangkutan untuk menjelaskan lebih lanjut, gue putuskan fashion and beauty blog gak mungkin dan gak akan pernah dieksekusi sampe kapanpun.

Untungnya, lakiku itu pantang menyerah.

Waktu gue lagi jualan brush, aksesoris, dan tas di Sarah’s Shop, dia tiba-tiba ngusulin untuk nge-review dan modelin semua produk itu di sebuah blog khusus. Fashion & beauty blog. Langsunglah gue tolak mentah-mentah. Ngana gila ya? Kalo gue yang modelin dan nge-review mah alamat tambah kagak laku! Yang ada senep liat muka yang jualan.

Tapi Roy menyakinkan gue untuk nyoba. Kalo gagal yaudah, toh bikin blognya khrates. Nothing to lose, kok. Tugasnya tinggal foto-foto aja, dan kami punya banyak waktu luang pas weekend. Saat gue masih terlihat gamang, dia nyentil lagi, “Kamu tuh cantik dan punya potensii. We never know if we never try.”

BEKLAH! Berhubung dibilang cantik sama Roy, let’s give it a try! Continue reading

Review Guardian of the Galaxy

Sebagai kelas menengah ngehe yang taat, yang harus nonton film terbaru di tanggal rilisnya, maka gua dan pacar menyempatkan diri untuk nonton film terbaru Rabu malam kemarin: Guardian of the Galaxy.

guardians

Bukan, bukan. Guardian of The Galaxy bukan cerita tentang mas-mas penjaga counter smartphone Samsung.

Tapi film keluaran Marvel Studios ini bercerita tentang 5 orang… atau lebih tepatnya, 5 makhluk asing yang punya kepentingan berbeda-beda, namun harus terjebak dalam satu perjalanan yang sama. Di awal cerita, mereka semua berebut satu orb yang ternyata menyimpan sebuah benda yang diinginkan seluruh jagad raya. Namun karena kepepet dan demi menyelamatkan diri, perjalanan mereka berubah menjadi sebuah petualangan menumpas satu penjahat yang sama; Ronan, yang konon katanya super dahsyat maha jaya.

Kelima makhluk asing ini berasal dari 5 jagad raya yang berbeda. Peter Quill atau Star-Lord, seorang manusia yang berasal dari bumi. Lalu Gamora, perempuan tangguh berkulit hijau dari spesies Zen Whoberi. Rocket Racoon, musang ahli senapan yang berasal dari Halfworld, dan juga Groot, flora colossus, pohon besar nan kuat yang jadi tandem dari Rocket Racoon. Dan terakhir, ada Drex the Destroyer.

Mereka berlima bukan hanya menampilkan wajah dan fisik yang beda-beda, tapi juga memiliki karakter yang variatif dan saling melengkapi. Peter Quill, sang tokoh utama, diceritakan sebagai orang yang careless dan egois, namun di satu sisi, tengil dan berjiwa pemimpin.

Begitu juga dengan Gamora, Rocket, Groot, dan Drex. Dengan karakter dan tujuan mereka yang awalnya berbeda, menjadikan film ini seru, lucu, dan rame. Kontrasnya karakter mereka muncul di salah satu adegan favorit gua di film ini. Yaitu ketika Peter Quill mengajak keempat anggota sisanya untuk berjuang melawan Ronan. Debat-debat dengan dasar argumen yang konyol, sampai kalimat-kalimat keren yang menggugah hati, seliweran di adegan ini. Sebuah scene yang bukan hanya lucu, tapi juga inspiring. A memorable scene.

Karakternya semakin oke karena didukung casting-nya yang pas. Chris Pratt dan Zoe Saldana klop buat meranin Peter Quill dan Gamora. Sementara Bradley Cooper juga cocok buat ngisi suara Racoon yang kadang sok pinter. Menurut gua, yang kurang pas hanya Dave Bautista yang meranin Drex. Meski secara fisik udah cocok, namun di beberapa adegan terlihat kalo dialognya kaku banget. Mungkin ini adalah kali pertama si pegulat WWE jadi tokoh yang dapet sorotan, setelah sebelumnya di Riddick dan The Man with The Iron Fist kebagian peran yang ga banyak dialognya.

Sementara Vin Diesel yang mengisi suara Groot adalah salah satu contoh bentuk kemubaziran yang hakiki. Karena di sepanjang film, Groot hanya punya 4 kosakata, yakni “I”, “am”, “Groot” dan “UORGH!”. Iya, dialognya cuma begitu. Cuma “I am Groot” dengan intonasi yang beda-beda. Gitu doang mah ga perlu Vin Diesel keleus. Kalo perlu aktor dengan suara berat dan serak-serak, Toro Margen juga bisa.

“I am Groot. Uka ukaaa!”

Anywaaay, Continue reading

47 Lomba yang Jangan Diadakan Saat 17 Agustusan di Kelurahan

1. Balap karung, tapi karungnya karung matic.

2. Panjat pinang. Memanjat gadis lalu meminangnya. Harusnya dipinang dulu, baru dipanjat. Gitu bukan, sodara-sodara?

3. Makan kerupuk. Kerupuk kulit. Kulit bekas. Bekas sunat. Iuh.

4. Kuis “Who Wants to be a Millionaire?”. Kas karang taruna ama iuran warga kagak bakalan cukup.

5. Karaoke. Pake lagu di iklan odol. Itu lho yang joget-joget di atas gedung. Yang musiknya amburegul emeseyu bahrelway bahrelway.

6. Joget sambil bawa balon. Diiringi lagu di iklan odol. Itu lho yang joget-joget di atas gedung. Yang musiknya… ah sudah lah.

7. Petak umpet. Yang jaga di kelurahan Johar Baru, ngumpetnya di Timbuktu, kabupaten Afrika Barat, kecamatan Cicalengka.

8. Make up-in orang lain dengan mata tertutup. Lebih lengkapnya, mata batin yang tertutup. Disuruh make up, malah ngebunuh. Jangan ya. Plis.

9. Makan kerupuk. Pake nasi. Sama sayur oyong.

10. Sambil angkat kaki dan bilang, “Tambo cie!”

11. Tarik tambang. Tambangnya tambang batu bara.

12. Atau tambang pamungkas.

bambang pamungkas

13. Guys, ini list-nya masih panjang lho. Aku bisa berubah kok. Plis.

14. Balap karung, tapi nge-drift.

15. Bakiak berjamaah, tapi nge-drift.

16. Makan kerupuk, tapi nge-drift. Halah.

17. Balap lari. Lari-lari di pikiranmu. Eaaa.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 362 other followers