#GakSmartBanget Comedy Night

Hari Rabu malam kemarin, setelah berhasil menerjang kemacetan dan hujan deras di selatan Jakarta, gua dan pacar berkesempatan untuk nonton sebuah stand up show, #GakSmartBanget Comedy Night, yang dipersembahkan oleh Holiday Inn Express, bekerja sama dengan komunitas Stand Up Comedy Jakarta Pusat.

Stand up show ini merupakan bagian dari kampanye #GakSmartBanget yang beberapa minggu terakhir wara-wiri di lini masa. Dari 6 komika yang diplot untuk tampil malam itu, 3 di antaranya bener-bener baru buat gua. Berbekal rasa penasaran dan perut yang sedikit lapar, datanglah gua ke restoran Eatology, tempat berlangsungnya acara.

Setelah kenyang dengan makanan yang disajikan (pastanya enak banget lho, by the way), gua dan pacar langsung bergegas ke area acara. Sekitar pukul setengah 8, acara dimulai dengan bincang santai bareng narasumber Ibu Noeke Dewi Kusuma, Area DOSM dari Holiday Inn Express.

Holiday Inn Express sendiri adalah hotel masa kini yang sesuai bagi wisatawan yang berorientasi pada value. Hotel menengah (bukan hotel budget) dengan harga terjangkau namun memberikan kualitas layanan yang jauh di atas rata-rata. Salah dua layanan yang beda banget sama hotel sekelas lainnya adalah sarapan yang bisa di-grab and go sama fleksibilitas dalam memilih jenis bantal dalam kamar.

Buat pelancong dengan itinerary padat macam gua, sarapan model grab and go ini jelas membantu banget. Kalo lagi traveling, gua jarang berlama-lama di dalam hotel. Dengan sarapan yang diperbolehkan untuk dibawa pergi ini jelas sangat pas buat gua yang sangat memperhatikan waktu. Bener-bener cara yang smart.

Gara-gara acara semalam, gua jadi tau kalo ternyata jaringan Holiday Inn Express ini udah menggurita. Total udah ada 2,300 hotel di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, Holiday Inn Express udah hadir di beberapa kota besar dengan lokasi yang strategis. Intinya, Holiday Inn Express adalah pilihan yang ‘wow smart banget’ deh saat berpergian .

Selesai dengan bincang santai bersama perwakilan Holiday Inn Express, acara berlanjut ke #GakSmartBanget Comedy Night yang dibuka oleh Panca Atis.

Continue reading

Review Big Hero 6

What makes a hero a hero?

Setiap kali nonton film superhero, gua selalu melemparkan pertanyaan yang sama ke kepala. Apa yang membuat seorang pahlawan itu pahlawan? Apa karena mutasi gennya, kemampuannya untuk terbang, atau baju super canggihnya?

Dan setelah beberapa film superhero, akhirnya gua menemukan jawaban gamblangnya di film yang gua tonton hari Rabu kemarin bareng si pacar: Big Hero 6.

big hero 6

Sebelum memulai reviewnya, gua ingin menginformasikan bahwa kalian ga perlu nonton Big Hero 1 sampai 5 dulu untuk ngerti Big Hero 6… guys? Mau ke mana, guys? Ini reviewnya baru mulai lho. Guys?

Anyway,

Big Hero 6 bercerita tentang kehidupan sepasang kakak adik yang tinggal di kota San Fransokyo, gabungan antara San Fransisco dan Tokyo. Diceritakan mereka tinggal di masa yang udah sangat maju dan modern, di mana melihat robot gendut wara-wiri di tengah jalan bukan suatu yang asing lagi bagi orang-orang di jaman itu.

Sang kakak, Tadashi, adalah anak kuliahan yang lempeng dan baik. Sementara adiknya, Hiro, diceritakan sebagai abege jenius, namun skeptis dengan dunia akademis. Sampai suatu hari, berkat kunjungan ke laboratorium universitas tempat Tadashi kuliah, sang kakak berhasil meyakinkan Hiro bahwa kuliah ga semembosankan yang dia kira selama ini. Dan di sinilah ceritanya bergulir.
Continue reading

Apa yang Akan Gua Katakan pada Rangga Jika Gua Menjadi Cinta

Sebagian besar orang di Indonesia pasti punya kenangan tersendiri sama film “Ada Apa dengan Cinta?” (AADC).

Mungkin nonton film ini jadi ajang kencan pertama bareng gebetan waktu SMP dulu, atau ada yang first kiss di bioskop waktu pacaran masa SMA, atau ada yang udah kuliah dan merasa rindu sama dinamika cinta masa muda gara-gara nonton film ini.

Dan minggu lalu, sebagian besar orang di atas tadi diajak bernostalgia oleh sebuah aplikasi messenger yang dengan briliannya membuat iklan pendek dengan tema AADC. Mereka merilis sebuah mini drama yang viralnya masih terasa sampai minggu ini. “Ada Apa dengan Cinta 2014″

Buat yang belom sempet nonton, ini dia mini drama “Ada Apa dengan Cinta 2014″.

Setelah menonton mini drama AADC, sontak pikiran gua menerawang ke masa SMA. Memori-memori gita cinta dan liarnya masa SMA terbang sekelibat di dalam pikiran, terutama saat petikan gitar lagu Bimbang melatari adegan Rangga dan Cinta.

That’s the thing about memories. Sometime, all they need is one tiny note to release themselves in your head and screw your day.

Dan sepertinya hal itu juga yang coba diangkat sama mini drama ini. Cukup jatuhnya buku puisi “Aku” untuk membuat Rangga kocar-kacir diacak kenangan. Cukup satu kata “Cinta?” untuk membuat Cinta susah tidur, ga enak makan, dan bimbang luar biasa.

Kenangan memang brengsek.

Tapi kali ini, gua ga akan bahas tentang kenangan lebih jauh lagi. Biarkan si brengsek itu mengambil panggung di blog orang lain karena kali ini gua ingin menulis tentang hal lain.

Gua hanya ingin menerka-nerka, apa jadinya jika gua yang jadi Cinta? Apa jadinya jika gebetan maut yang 12 tahun ga ada kabar, tiba-tiba ngehubungin gua lagi? Apa jadinya jika seseorang yang udah mati-matian gua lupain, kembali menyapa?

Mungkin, jika gua jadi Cinta, ini yang akan gua katakan pada Rangga.

4:00 AM Rangga: Cinta?

4:05 AM Cinta: Ya?

4:07 AM Rangga: Saya akan ke Jakarta besok, selama 2 hari. Bisa ketemu?

4:18 AM Cinta: Maaf, ini siapa ya?

4:22 AM Rangga: Ini saya. Rangga. Yang kriwil-kriwil. Yang pernah kamu kejar-kejar di bandara gara-gara saya mau ke New York. Yang pernah ke Kwitang bareng buat nyari buku puisi. Kamu ingat?

4:25 AM Cinta: Mas kayaknya salah orang deh.

4:27 AM Rangga: Lho, kamu bukan Cinta yang mirip Dian Sastro itu?

4:30 AM Cinta: Bukan, Mas.

4:32 AM Rangga: Lalu kamu siapa?

4:33 AM Cinta: Saya Cinta. Cintami Atmanegara.

4:50 AM Rangga just left the chat room.

5:00 AM Rangga: Cinta?

Continue reading

Dua Tangkup Cinta

Tik tok. Tik tok. Tik tok.

Lampu sen sebelah kiri berkedap-kedip. Sesekali gue memberi lampu dim, melempar kode ke tukang parkir yang sedang berdiri agak jauh. Sambil setengah berlari, ia melambai-lambaikan tangannya, menunjukkan slot kosong, tidak jauh dari posisi gue sekarang.

Suara klakson terdengar riuh di belakang. Para warga Jakarta yang terkenal tidak sabaran itu mulai menunjukkan jati dirinya. Maklum, sih, Jalan Sabang ini memang sempit untuk ukuran jalan tujuan wisata. Apalagi ini hari Sabtu. Sudah banyak rentetan mobil yang ingin bermain di Jalan Sabang atau sekadar ingin lewat.

“Cerewet,” ujar gue sambil memasukkan mobil ke spasi yang tukang parkir tadi tunjukkan. Rem tangan gue tarik. Jendela gue turunkan untuk melihat posisi parkir. Miring. Ah, bodo deh. Gue sudah tak sabar untuk masuk dan makan. Perut ini manja, minta diisi cemilan ringan sedari tadi.

Tempat yang gue tuju adalah sebuah kedai kopi. Cukup ramai karena pemiliknya itu seorang pembaca berita di salah satu televisi swasta dan, kebetulan juga, seorang selebriti Twitter. Kedai ini ramai dibahas di timeline, maka tak heran banyak orang penasaran dan ingin mencoba. Gue salah satunya. Berawal dari penasaran, kini jadi pengunjung rutin karena satu alasan.

Bukan, bukan karena kopinya. Tapi, karena setangkup roti panggang berisi selai srikaya. Kaya toast. Begitu kedai ini menamainya di buku menu.

Krincing!

Suara lonceng kecil berbunyi setiap pintu kedai itu terbuka. Mata gue langsung menyisir isi kedai, mencari kursi kosong. Ah, itu ada satu. Gue langsung menuju ke sana dan menaruh pantat di sofa merah, meja paling pojok.

“Mau pesan apa, Mas Aji?” tanya pelayan yang langsung mendekat ke arah meja gue. Dia hafal nama setiap pelanggan yang sering kemari.

“Kayak yang biasa,” jawab gue singkat.

“Satu kaya toast dan soda botolan?”

“Iya.”

Si Mbak tersenyum seraya mengambil menu dari atas meja. Mata gue kembali menyisir isi kedai. Sebetulnya tempat ini cenderung kecil. Hanya berukuran 3 x 7 meter. Pemiliknya mengakali dengan memasang cermin di satu sisi kedai dengan sofa merah yang membujur panjang di bawahnya. Sedang di sisi satunya ada kursi dan meja kayu kecil untuk ukuran 2 orang.

“Ini kaya toast-nya, Mas Aji,” seru pelayan sambil meletakkan piring dengan kaya toast pesanan gue di atasnya. Yummy.

kaya toast

Kaya toast ini sebetulnya sederhana. Hanya dua lembar roti tawar yang menjepit selai srikaya di tengah, lalu dipanggang. Namun yang membuat gue terus-menerus kembali ke sini adalah rotinya. Roti yang mereka pakai lebih tebal dari roti biasa. Tingkat kematangan rotinya pun pas. Tidak terlalu cepat diangkat sehingga tetap garing, namun juga tidak terlalu gosong sehingga tidak pahit. Pokoknya pas. Itu terbukti dari suara yang terdengar ketika roti digigit.

Kress!

Hm… ini enak. Enak banget.

Ketika gue menarik gigitan, selai srikaya langsung membuncah keluar dari bagian tengah kaya toast. Hampir saja menetes dan jatuh, sebelum gue sigap menjilat dan mengigit lagi.

Kress!

Hm… Do I have to repeat myself?

Saking enaknya, gue tak ingin buru-buru menghabiskan. I know, roti panggang akan lebih enak selagi panas. Tapi, gue benar-benar tak ingin menghabiskan dengan segera. Rasanya terlalu cepat menghabiskan roti itu akan menjadi sebuah kesalahan yang akan gue sesali nantinya. Gue pun mengeluarkan laptop dari dalam tas. Ada beberapa tulisan yang harus diselesaikan. Kedai ini sudah seperti kuil buat gue. Suasananya pas-aja-gitu untuk mengalirkan ide-ide binal yang tak bisa keluar di tempat lain. Di sini hening… hm, biasanya, sih. Tapi, sore itu, hening sedang tidak menjadi tuan rumah.

“Jujurlah padaku!” teriak seorang yang persis duduk di meja sebelah. Continue reading

November 2014!

Ga terasa, sekarang udah bulan November 2014 aja. Itu artinya, udah nyaris 2 tahun gua main tema-temaan gini di saputraroy.com.

Bagi yang belum tau, blog gua punya tema bulanan yang jadi benang merah postingan utama di bulan tersebut. Misalnya tema bulan ini tentang cinta, maka akan ada 2-4 postingan utama yang bercerita seputar cinta dan keluh kesahnya. Buat yang ketinggalan, kalian bisa liat rekap tema bulanan yang pernah gua angkat di halaman Edisi Bulanan.

Dan seperti yang gua bilang di atas, ga kerasa udah hamper 2 tahun blog ini punya tema setiap bulannya. Semua bermula di bulan Desember tahun 2012. Waktu itu, gua lagi mikirin apa yang bisa membuat blog gua berbeda dibanding blog lainnya. Di hari entah yang ke berapa, tercetuslah ide ini. Blog gua akan jadi blog personal pertama di Indonesia yang menganut konsep e-magazine: ada tema dan cover bulanannya.

Gara-gara ditemain gini, hasrat gua untuk menulis makin tinggi. Ide-ide di kepala yang tadinya acak, jadi tersusun rapih karena dipagari oleh tema bulanan. Kadang, gua seperti ditantang untuk menulis dengan batasan-batasan tema yang malah membuat gua semakin terpacu. Sebagai bonusnya, penghasilan tambahan yang dihasilkan blog ini juga sedikit banyak melecut gua untuk terus menulis.

Tapi dua bulan terakhir ini, konsistensi menulis gua teruji oleh kondisi kesehatan yang lagi drop. Udah 2 bulan terakhir ini badan gua lagi ga bisa diajak kompromi, sampai-sampai gua harus bed rest dan ga masuk kantor beberapa hari.

Alhasil, bulan kemarin gua hanya publish 5 postingan, rekor jumlah postingan tersedikit dalam sebulan sejak gua main tema-temaan di blog ini. Rencana gua buat nulis tentang cerita berobat, konser musik, dan perjalanan ke kuil jadi buyar semua gara-gara kesehatan gua ini. Bahkan gua gagal menyajikan postingan akhir bulan yang biasa gua publish untuk menutup tema bulanan.

Semoga bulan-bulan ke depan kesehatan gua udah kembali seperti semula dan bisa menulis lagi dengan rutin di sini. Doakan saya ya. Saya pasti bisa. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 397 other followers