Agustus 2015!

Oh my God.

Udah masuk bulan ke-8 tahun 2015! Ga kerasa banget ga sih? Apa cuma perasaan gua atau emang tahun ini berjalan super cepat?

Bulan Juli kemarin jadi bulan yang cukup menyenangkan buat gua, karena ada libur yang lumayan panjang di tengah kerjaan yang belakangan ini non-stop menghimpit. Libur 6 hari gua pergunakan untuk jalan-jalan bareng si pacar dan keluarganya ke Safari, Puncak. Ini adalah kali ketiga gua ikut si pacar di tradisi liburan tahunannya selama 4 hari 3 malam.

Empat hari itu gua pergunakan sebanyak-banyaknya untuk istirahat. Kerjaan yang banyak bikin tidur gua jadi ga teratur dan udara Puncak seperti memberi gua kesempatan untuk membalas dendam kurang tidur selama ini. Alhasil sepulang dari sana, badan dan otak gua bisa lumayan lebih segar.

Yang berbeda, libur Lebaran kali ini gua ga pergi jauh-jauh bareng keluarga gua. Itu karena dana yang ada lagi diprioritaskan untuk persiapan pernikahan gua dan si pacar akhir tahun ini. Jadi ya, ga banyak cerita traveling yang bisa gua ceritain di bulan ini.

Jadi, bulan ini gua cerita apa ya?
Continue reading

Menunggu di Rumah

Dulu, gua ini anak yang bandel. Iya, iya, meski sekarang gua terlihat kalem, baik, serta rajin membantu ibu, gua ini dulunya bandel banget.

By the way, sebelum jauh melangkah, gua ingin menyamakan persepsi dulu. Definisi bandel dalam cerita ini adalah yang susah dibilangin dan ga pernah mau nurut gitu. Yang kalo dibilang A, malah ngelakuin Z. Bukan yang nangkring di gudang sekolah sambil ngerokok dan ngobat teler gitu. Oke? Kita lanjut ceritanya ya.

Dari kelas 2-3 SD, gua udah ga dijemput lagi sama orang rumah ketika pulang sekolah. Gua selalu pulang sendiri, naik angkot bareng temen yang kebetulan rumahnya ga begitu jauh dari rumah gua. Aturan nyokap cuma satu ketika gua pulang sendiri: pulang sekolah harus langsung pulang. Tapi ya namanya anak bandel yang kekinian, masa iya pulang sekolah langsung ke rumah?

Kesemptan ini gua gunakan untuk mampir-mampir dulu ke rumah temen sepulang sekolah. Kalo lagi bersemangat, gua bisa mampir ke beberapa rumah temen sekaligus dengan berjalan kaki. Gua jadi terlihat seperti petugas sensus yang kelebihan hormon waktu itu.

Begitu pun dengan masa SMP. Gua jarang langsung pulang ke rumah karena biasanya nangkring dulu entah di mana. Bisa di department store kecil deket sekolah, main bola di lapangan sekolah lain, atau mampir dulu ke rumah temen.

Namun masa terbandel dalam hidup gua itu bisa dibilang saat gua menginjak bangku SMA. Terbandel karena di saat itulah gua pulang malem bahkan sampai pagi, hampir setiap hari.

Ketika weekday, gua pulang malem gara-gara nangkring di warnet buat maen Counter Strike, sebuah game online yang lagi happening banget saat itu. Pulang sekolah jam 3an, langsung rame-rame menuju warnet.

Kadang warnet yang deket sekolah, ga jarang ke warnet yang rada jauh ke utara Jakarta. Kebetulan, salah satu temen gua ada yang tajir banget dan kalo ke sekolah suka nyetir Alphard. Jadilah kita semua masuk ke satu mobil dan terlihat kayak anak SMA yang mau darmawisata ke sebuah warnet.

Si temen tajir ini juga yang suka bayarin kita main. Makanya, gua jadi suka lupa waktu dan pulang sampe malem. Gimana ga lupa waktu, lah wong gratis.
Continue reading

Bersama Keluarga

Meski ga berpuasa, bulan Ramadhan tahun ini gua beberapa kali ikutan acara buka puasa bersama (bukber). Patut dicatat, selama bulan puasa ini, gua hanya ikutan bukber, ga ikutan sahur on the road. Karena menurut gua, daripada sahur on the road, lebih penting sahur on time ga sih?

Well, anyway…

Ada beberapa bukber yang gua ikutin di tahun ini. Bukber bareng teman-teman ghibah social media, bukber bareng temen-temen kantor, dan yang paling rutin, bukber bareng teman-teman semasa kuliah.

Bukber bareng temen-temen kuliah kali ini adalah tahun ke-13 kami melakukan bukber. Yang pertama terjadi saat kami baru mengemban title sebagai mahasiswa, pada tahun 2003. Tapi waktu itu, gua ga ikut. Lebih tepatnya, gua males untuk ngikut.

Gua datang dari SMA yang dasar ajarannya adalah agama Kristen. Mayoritas teman gua pun beragama Kristen. Jadi waktu SMA, gua termasuk golongan mayoritas. Ketika dunia luar mengeluh tentang diskriminasi minoritas, gua merasa tenang-tenang aja dalam tempurung SMA gua itu.

Waktu itu, gua sama sekali ga tau apa-apa tentang puasa. Mengapa harus ada sahur, kenapa buka puasa harus bersama-sama, dan untuk apa berlapar-lapar puasa. Bimbo, mana Bimbo…

Berdasarkan fakta-fakta itulah, gua ga merasakan sesuatu yang berbeda di bulan puasa. Bagi gua, bulan Ramadhan hanya satu dari bulan-bulan lainnya. Cuma bulan yang biasa. Ga ada yang istimewa atau yang ditunggu-tunggu.

Maka, ketika diajak bukber di tahun pertama kuliah, gua males buat ikutan.

Ketimbang ikut bukber, gua memutuskan untuk pulang ke rumah atau berdiam di kost. Daripada kumpul-kumpul untuk sebuah ibadah yang ga gua anut, gua memilih untuk beristirahat lebih lama atau nonton iklan sirup di televisi. Berbagai alasan pun gua lempar untuk nolak ajakan bukber.

“Roy, bukber yuk!”

“Duh, lagi diare nih.”

“Roy, dateng ga ke bukber?”

“Duh, lagi nanggung ngerjain tugas nih.”

“Roy, kok belum berangkat ke bukber?”

“Duh, lagi diare sambil ngerjain tugas nih.”

Sounds legit. Continue reading

Tentang Kuliah Teknik Tenaga Listrik Yang Absurd Itu

Sebagai mahasiswa fakultas Teknik, gua banyak dibekali dengan mata kuliah yang erat hubungannya dengan sains. Ada Fisika Panas, dan Fisika Gelombang Optik. Ada Mekanika Teknik, dan ada Teknik Tenaga Listrik. Ada tempe goreng, ada ayam goreng, semua yang digoreng… asik, asik, asik.

Sampai mana tadi? Oiya, mata kuliah sains. Dari banyak mata kuliah sains itu, ada satu kelas yang dosennya ga bakal gua lupa. Nama mata kuliah itu Teknik Tenaga Listrik.

Sebelum mulai kelas pertama, udah ada kabar yang beredar kalo dosen yang ngajar itu seorang ibu-ibu, galak, dan pernah kerja sebagai menteri. Kabarnya lagi, banyak senior-senior di kampus yang ngulang mata kuliah ini karena faktor dosennya. Entah kabar ini datang dari mana, yang jelas gua dan teman-teman kuliah lainnya setengah percaya.

“Namanya sih kayak nama menteri,” kata seorang teman.

“Ah, yakin? Menteri apa mantri beranak nih?”

“Huss! Huss! Dosennya dateng tuh.”

Dosen yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Gua tegang menanti. Seperti apa ya rupanya? Apa dia segalak yang digosipin? Kalo marah, apa dia mecahin genteng pake jidat? Atau malah makan beling? Sesadis apa sih dia?

Bayangan ibu itu mulai tampak jelas dari balik jendela. Tangannya membuka pintu, dan terlihatlah wajahnya. Ia ternyata bukan seorang menteri, atau mantan menteri. Ia seorang ibu paruh baya, mengenakan jilbab rabbani, berwajah lugu, dan bermata sayu. Ia lebih mirip ibu-ibu kebanyakan yang sering tampil di acara masak Rudi Choirudin.

“Ya, Ibu-ibu, sekarang masukkan ipar rese ke dalam air mendidih.”

Ibu itu terus berjalan melintas di depan kelas, menuju meja dosen. Setelah itu, ia langsung menulis beberapa bahan di papan tulis. Sepuluh menit pertama, gua masih konsen ngedengerin bahan yang Ibu itu jelasin. Setengah jam berikutnya, gua mulai ngantuk dan menguap dengan brutalnya. Satu jam berikutnya, gua hampir terjatuh dari kursi saking ngantuknya. Gawat. Semua itu karena si Ibu ngajarin kami bagai anak TK!

“Jadi begini ya, anak-anak…”

Nadanya datar, tanpa emosi. Satu jam pertama ia hanya menulis materi kuliah, tanpa interaksi sama sekali dengan mahasiswanya. Materinya pun sebetulnya bisa dibaca di modul atau buku. Dia juga ga galak sama sekali. Beda banget sama kabar yang beredar selama ini. Gua sampe heran, kok gosipnya banyak senior yang gagal mata kuliah ini? Hoax nih, jangan-jangan.

Continue reading

Juli 2015!

Ga banyak hal-hal outstanding dalam hidup gua di bulan Juni kemarin. Perputaran polemiknya masih seputar persiapan pernikahan, kerjaan, dan usaha sampingan. Otak masih penuh sama vendor-vendor mana aja yang mesti di-follow up, deadline mana aja yang harus dikerjain duluan, atau calon klien mana yang kudu ditemuin buat pitching.

Hidup sehari-hari udah mumet sama hal-hal tadi, sampai seperti ga ada ruang lagi untuk hal spektakuler terjadi dalam hidup gua. Ya ga mesti se-spektakuler ketiban komet atau ketemu Gaban sih. Tapi letupan-letupan kecil kayak weekend getaway rasanya akan menyenangkan.

Atau mungkin, hal ini terjadi karena gua sendiri yang ga ngasih ruangan itu? Hmmm, bisa jadi sih. Karena belakangan ini, gua memang lagi nyari yang stabil, yang tenang, yang tentram, setidaknya sampai hari pernikahan gua datang. Pergolakan hanya akan menimbulkan resiko besar, dan saat ini, gua sama sekali ga berani untuk mengambil resiko itu.

Kalopun ada yang berbeda di bulan Juni adalah rentetan acara buka bersama, acara stand up yang udah gua review, atau film-film box office yang lagi merangsek naik ke layar bioskop Indonesia. Minions salah satunya, yang figure mainannya tersebar luas dan digilai banyak orang.

Jadi gua cerita apa dong di bulan Juli ini?

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 547 other followers