Agustus 2014!

Halo, teman-teman pembaca.

Sebelum memulai postingan tema bulan Agustus, gua mewakili segenap redaksi saputraroy.com mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H bagi teman-teman yang merayakan. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Nah, sekarang balik ke pembahasan tema bulan Agustus 2014.

Bulan Agustus identik dengan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 nanti. Oleh karena itu (cailah), di bulan ini gua akan banyak membahas tema kemerdekaan. Kemerdekaan di sini bukan hanya berarti kebebasan Indonesia dari para penjajah, tapi juga makna kebebasan secara umum.

Salah satunya, gua akan berbagi beberapa cerita tentang upaya-upaya gua dalam membebaskan diri dari jeratan kerja delapan pagi sampai lima sore, lewat berwirausaha. Continue reading

Kurang Lengkap

Beberapa bulan belakangan ini, di linimasa gua lagi ada banyak kuis yang berhadiah traveling gratisan. Dari kuis nge-blog, fotografi, bahkan modal ngetwit 140 karakter bisa membuat kita meraih hadiah jalan-jalan ke luar negeri atau kota secara cuma-cuma.

Ada beberapa kuis yang mengharuskan si pemenang pergi sendiri, dan ada juga yang berhadiah 2 tiket untuk 1 pemenang. Satu-dua kali gua berpartisipasi juga, namun sejak 2014, gua memilih untuk ga ikutan lagi kuis yang berhadiah traveling gratisan sendirian. Jika ditanya apa alasannya, maka gua akan menjawab dengan cerita seperti ini.

Akhir tahun 2013 lalu, gua ada rejeki lebih untuk bisa traveling ke Jepang, bareng Tirta dan Siti. Sebelum berangkat, gua udah nanya dulu sama Gelaph yang pernah ke Korea di bulan yang sama. Gua beranggapan bahwa Korea sama Jepang mirip-mirip lah ya. Jadi referensi Gelaph masih valid dan relevan.

“Di sana dingin ga, Laph?” tanya gua.

“Hmmm… Mayan lah. Delapan belas derajat. Sejuk-sejuk doang palingan,” jawab Gelaph dengan santainya.

Berbekal informasi itulah, gua packing keperluan perjalanan gua selama 7 malam di Jepang. Gua hanya membawa beberapa kaos, 2 celana jeans, 1 buah jaket yang ga begitu tebal, tanpa syal ataupun sarung tangan.

Singkat cerita, gua pun berangkat ke Jepang di awal bulan November. Ga lama setelah pesawat mendarat, pintu terbuka, tangga tersedia, dan penumpang berbaris di isle untuk segera turun. Ketika kaki gua menginjak platform tangga pertama, Tirta manggil gua.

“Roy, kemaren si Gelaph bilangnya apa soal suhu?”

“Delapan belas derajat, Ta. Sejuk-sejuk doang.”

“Coba deh tuh lu sentuh pegangan tangganya.”

Tanpa mikir panjang, gua pegang pinggiran tangga yang terbuat dari besi. Anjir. DINGIN!

“Mamam tuh sejuk!” tawa Tirta.

Ujung-ujung jari gua langsung kebas sedikit. Buru-buru gua memasukkan tangan ke dalam kantong jaket untuk mencari kehangatan. Gua menghembus-hembuskan napas, coba membuat asap karbondioksida di udara. Sejuk-sejuk doang? Dengkulmu!

Tapi gua masih yakin bisa mengatasi cuaca dingin ini hanya bermodal jaket yang gua bawa. Begitu pun dengan Tirta. Sebagai traveler kere, kami jelas ga menganggarkan untuk beli sarung tangan selama di Jepang. Biarkan kobaran semangat yang menghangatkan kami dari dalam (cailah). Kami harus survive!

Namun apa daya, kami akhirnya tumbang juga. Makin hari, tangan makin kebas dan lengket bener sama kantong jaket. Di malam ketiga, di kota Hiroshima, gua dan Tirta memutuskan untuk merogoh kocek demi bisa membeli sarung tangan. Untungnya waktu itu gua nginep di daerah Honduri, pusat kota-nya Hiroshima, jadi gampang kalo mau beli-beli sesuatu, termasuk belanja pakaian hangat.

Sialnya, setelah jalan beberapa jam, gua dan Tirta belum nemuin sarung tangan dengan harga terjangkau. Di saat gua mulai berpikir untuk melilit tangan dengan celana dalam, tiba-tiba Tirta menunjuk ke sebuah toko yang sepertinya menyediakan barang-barang dengan harga murah.

“Ini bagus nih, Roy,” usul Tirta, menunjuk ke sebuah sarung tangan.

“Duh, 2,000 yen, Ta. Dua ratus ribu rupiah lebih. Sayang ah. Setelah dari Jepang, bakal jarang banget dipakenya. Mau gua pake ke mana lagi coba? Sukabumi?”

Continue reading

Perihal Pilpres

kata sarah

Akhir-akhir ini, timeline twitter gue didominasi oleh dua hal. Yang pertama, ekstrak kulit manggis, dan yang kedua, pilpres dan quick / real count. Untuk yang kedua, ada tiga jenis manusia, yaitu, yang peduli, yang apatis, dan yang nyinyir.

Yang peduli, biasanya paling getol nge-tweet dengan hashtag #KawalKPU, nyebarin berita seputar penghitungan surat suara, sampe informasi mengenai aplikasi atau website yang memungkinkan untuk berpartisipasi dan ambil bagian. Yang apatis, sibuk nge-tweet quotes, humble brag, atau memberitakan kabar gembira tentang ekstrak kulit manggis. Yang nyinyir… tentu aja nyinyirin yang peduli, yang apatis, bahkan yang bahas esktrak kulit manggis. Orang lain berpartisipasi dalam demokrasi salah, cuek bebek juga salah. Udah gitu, bikin pusing, mau di-block nanti drama, nggak di-block juga ganggu. Serba salah.

Anyway, kembali lagi ke Pilpres.

Gue sendiri ikut menghitung hari menuju turunnya THR pengumuman resmi dari KPU. Karena sejumlah lembaga yang mengadakan quick count nggak berakhir dengan satu kesimpulan, lepas dari kredibilitas dan keberpihakannya. Yang biasanya percaya kalo quick count udah pasti bener, akhirnya terpaksa menunda kesimpulan karena kedua calon presiden kita sama-sama mendeklarasikan kemenangan. Pusing.

Tadinya gue pikir, keriaan pilpres di Twitter akan berakhir di tanggal 9 Juli 2014. Tapi sepertinya gue salah. It wasn’t over yet.

Tapi yang bikin gue seneng adalah, gue menyaksikan banyaknya masyarakat yang bersemangat untuk ikut ambil bagian dalam pemilihan umum ini. Lintas lapisan, suku, bahkan agama.

Partisipasi itu udah sangat nampak dari saat kampanye, hari H nyoblos, sampe inisiatif melakukan pengawalan terhadap surat suara untuk mendeteksi kecurangan yang mungkin timbul. Nggak sekedar cuap-cuap, they also give what they can give. Entah itu berupa uang, tenaga, edukasi, waktu, ide, dan sebagainya, lepas dari siapa capres pilihan mereka.

Antusiasme ini, tentu saja membuat sebuncah rasa bangga terbersit. Siapa bilang anak muda Indonesia nggak peduli nasib negri? Siapa bilang anak muda Indonesia nggak berpartisipasi dalam demokrasi? Di pilpres ini, banyak yang telah membuktikan kalo tuduhan tersebut nggak bener. Kami peduli, dan hal itu diwujudkan dalam banyak tindakan nyata dan konkrit. Gimana nggak bangga, coba?

Tapi sepertinya sisi mata uang, begitu pula dengan pemilu. Di tengah hingar binger pilpres tahun ini, banyak juga hal-hal yang bikin gue sedih. Continue reading

53 Hal yang Jangan Dilakukan Ketika Sedang Berpuasa

1. Makan nasi uduk.

2. Pake nambah.

3. Ga pake bayar.

4. Telat sahur. Seharusnya saat Imsak, ini malah saatnya berbuka puasa.

5. Tidur siang dengan istri atau suami. Padahal masih jomblo.

6. Bergunjing.

7. Mengisi waktu dengan menonton siaran berita tentang pemilihan presiden. Lalu percaya kepada hasil Quick Count. Karena seharusnya, percaya hanya kepada Tuhan.

8. Kecuali, Quick Count yang cerdas dan terpercaya. Seperti Quick Count Gie.

kwik_kian_gie

9. Lho, guys? Mau ke mana? Ini list-nya masih panjang nih. Guys? Buru-buru amat. Guys?

10. Berjudi. Teeet!

11. Mandi di bawah pancuran. Dengan mulut ke atas dan terbuka. Lalu dengan sengaja, menelan air.

12. Bangun tidur, sikat gigi, lalu dengan sengaja, menelan odol.

13. Putus dari mantan, menangis, lalu dengan sengaja, menelan kenyataan pahit.

14. Memakan kulit buah manggis.

15. Atau ekstraknya. Continue reading

Setuju dengan Prabowo

Setelah membaca sekilas visi misi kedua pasangan capres, menyimak kegiatan kampanye keduanya, dan menonton debat capres beberapa kali, akhirnya gua menetapkan pilihan, siapa yang akan gua coblos pada pemilihan presiden tahun ini.

Dengan penuh kesadaran dan tanpa tekanan dari pihak manapun, gua memutuskan untuk setuju dengan Prabowo. Setuju dengan apa yang beliau lakukan pada foto di bawah ini.

prabowo salam dua jari

Gua sepakat dengan beliau untuk mengangkat tangan dan melakukan salam dua jari. Karena pada pemilihan presiden tanggal 9 Juli besok, gua akan memilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi – JK) sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2014 – 2019.

Alasan gua hanya satu. Bukan, bukan karena soal kasus HAM yang masih mengganjal kubu nomor satu. Atau karena anak sang calon wakil presiden yang masih bisa kuliah di London setelah menabrak anak orang sampai tewas. Tapi lebih karena banyak orang-orang baik dan kompeten yang siap membantu pasangan Jokowi – JK jika mereka dipercaya untuk jadi pemimpin negeri ini.

Siapa pun presidennya, dia pasti membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah yang kompleks di Indonesia. Ga mungkin satu orang bisa memperbaiki semuanya sendirian. Ga mungkin daya segelintir orang bisa mendobrak masalah-masalah dalam sekejap saja. Semua perlu sumber daya yang besar dan kompeten.

Karena itu lah gua mendukung Jokowi – JK. Karena ada orang-orang baik dan kompeten di belakang pasangan nomor 2 tersebut.

Gua ingin Menteri Pendidikan diisi oleh Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina, orang yang telah membuktikan kompetensi dirinya di bidang pendidikan melalui program Indonesia Mengajar. Bukan oleh orang partai yang di beberapa kesempatan terlihat ga santun dalam berkampanye.

Gua ingin kursi Menteri Komunikasi dan Informasi diduduki oleh Surya Paloh, orang yang telah lama bergelut di industri media massa. Bukan oleh orang yang malah nanya, “kalo internet cepat memangnya buat apa, tuips yang budiman?”

Gua ingin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dijabat oleh Kurtubi, seorang akademisi dan pengamat dunia minyak dan gas yang selama ini kritis terhadap kebijakan migas pemerintah. Bukan oleh orang yang mendapat jatah pos menteri hanya karena koalisi, tanpa mengerti betul tentang sumber daya alam dan energi.

Gua ingin jabatan Menteri Pekerjaan Umum diberikan ke Tri Rismaharini, orang yang luar biasa membangun kota Surabaya dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup. Bukan oleh orang yang nerima kerjaan apa aja, asal ada untungnya buat mereka.

Gua ingin posisi Menteri Koordinator Perekonomian dipegang oleh Faisal Basri, seorang ekonom berpengalaman yang memiliki integritas. Bukan oleh orang yang pernah atau sedang terlibat kasus pengemplangan pajak.

Tapi yang terutama,
Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 343 other followers