Jempolku Sayang, Jempolku Malang

Selalu ada kejadian nyeleneh tiap gua traveling. Gua pernah naik angkot bareng orang gila di Filipina, hampir berantem sama nenek-nenek yang mau judi di Singapura, lalu tanpa sengaja ngeliat adegan mesra 5 orang gay beretnis India di dalam kereta di Malaysia. Selalu ada pengalaman absurd. Ga terkecuali saat gua jalan-jalan ke Kyoto, Jepang, awal November kemarin.

Sore itu, gua baru balik ke hostel dan memperhatikan wajah yang udah beberapa hari ga kena sentuhan cukuran. Kumis tumbuh bak ilalang dengan tingkat kelebatan yang berbeda di kedua ujungnya. Kumis gua jadi mirip kumis lele dan tiap ngaca gua jadi pengen nge-pecel muka sendiri. Biar gantengan dikit, gua memutuskan untuk beli cukuran di resepsionis hostel malam itu juga.

“How much is the razor?” tanya gua.

“100 yen.”

“11 ribu? Buat cukuran sekali pake? Buset,” kata gua, dalam hati. Pengen rasanya gua tawar, tapi karena ini di Jepang, gua bingung gimana caranya bilang “kurang goceng lagi dah”. Dengan sedikit kurang ridho, gua akhirnya merogoh uang 100 yen. Setelah mendapat cukurannya, gua menuju wastafel terdekat untuk mengeksekusi sesi cukur kumis. Tanpa ba bi bu, gua langsung menempelkan cukuran ke atas bibir.

Eh, tapi kok ga kepotong?

“Oh, ternyata ada plastik penutup yang melapisi mata cukuran,” kata gua dalam hati sambil dengan santai coba membuka penutup plastiknya, “Eh, kok susah?”

Tutup plastiknya gua coba angkat dari bawah, tapi ga bisa. Dorong ke kanan kiri, juga ga bisa. Analisa gua, kayaknya ada plastik pengganjal di bagian bawah sehingga harus ditekan pakai tenaga agar bisa terbuka. Tanpa pikir panjang lagi, gua menekan plastik ke arah atas lebih kencang lagi. Tapi masih ga kebuka. Gua tekan lebih keras lagi. Masih ga kebuka. Gua tekan lebih ker…

PRAK!

Plastiknya kebuka. Tapi memakan korban. JEMPOL TANGAN KIRI GUA BERDARAH!

Jempol gua kena pisau cukur. Dan ini bukan cuma kegores, tapi jempol gua terpotong cukup dalam. Pisau cukurnya tajem banget. Ini yang ngasah ahli samurai apa gimana sih? Cuma kesabet sekali, lukanya sampe dalem. Darahnya terus ngucur, ga mau berhenti. Dalam hitungan detik, wastafel di hostel udah kayak di film-film horor. Arus darahnya bercucuran di sekeliling wastafel, melarut bersama air ke lobang pembuangan. Horor.

Apa gua berhenti nyukur? Ya ga dong. Sayang 100 yen-nya. Udah beli ga pake nawar masa ga dipake? Mubazir. Dengan muka meringis, gua mencukur kumis sampe bersih.

Meski darahnya lumayan banyak, gua tetep positive thinking. Paling ditempelin hansaplast gitu juga udah berhenti dan sembuh. Maka baliklah gua ke resepsionis yang tadi dan minta hansaplast. Apakah cerita berhenti sampai di sini? Oh, tentu tidak. Hansaplast tadi ga berhasil menghentikan darahnya. Masih ngucur!

Gua mulai panik. Gua takut mati kehabisan darah. Ya masa gua mati gara-gara keabisan darah kena pisau cukur? Bisa malu nanti kalo ditanya di akhirat.

“Kamu yang dadanya bolong, mati kenapa?” tanya malaikat.
“Saya mati kehabisan darah. Karena tertembak saat perang.”
“Kamu patriotik sekali. Sana, masuk surga.”
“Makasih, Om.”

“Kamu yang tangannya buntung, mati kenapa?”
“Saya mati kehabisan darah. Karena terbacok saat melawan maling.”
“Kamu membanggakan. Sana, masuk surga.”
“Makasih, Om.”

“Nah, kalo kamu mati kenapa? Kayaknya ga kenapa-kenapa. Badan masih utuh gitu.”
“Kehabisan darah juga, Om.”
“Ketembak? Kebacok?”
“Bukan, Om.”
“Terus?”
“Jempol kecukur, Om.”
“JANGAN BECANDA. AKHIRAT PENUH. SANA, HIDUP LAGI!”

Daripada malu ditolak akhirat, gua coba berhentiin darahnya sekali lagi. Bilas berkali-kali, tapi darahnya masih mengalir dengan deras. Tekan keras-keras pake tisu juga sama aja hasilnya. Ide liar pun mulai tumbuh dalam kepala. Gimana kalo jempol gua dililit softex? Terserah lah yang bersayap atau ga, tapi daya serap softex sepertinya lebih bagus ketimbang hansaplast. Eh, tapi ini kan kejadiannya udah malam Jadi apa gua mesti pake softex yang model malam hari? Yang lebih panjang di bagian belakang? Terus apa gua bakal PMS? INI KOK JADI NGELANTUR?!

Anywaaay,

Sebelum ide softex ini semakin liar, gua terpikir sebuah ide lain yang lebih netral dan berbudaya. Dengan buru-buru, gua ngehubungin Tirta dan Siti dan minta mereka untuk menemui gua di lobby hostel. Lalu sambil menunggu kedatangan mereka, gua bertanya ke resepsionis kembali.

“Is there any clinic around here?”

Iya, gua mau ke klinik. Gua cuma mau jempol gua dibalut dalam damai. Dililit oleh materi yang sepantasnya dan oleh tenaga profesional. Tapi ide ini juga ga berjalan lancar. Kata si mbak resepsionis, di sekitar sana ga ada klinik. Adanya rumah sakit. Gua pun mengiyakan dan si mbak resepsionis menggambar peta dari hostel ke rumah sakit.

Singkat cerita, gua, Tirta, dan Siti udah sampe di rumah sakit.

Sialnya, berbeda dengan resepsionis hostel, petugas rumah sakit di sini ga bisa bahasa Inggris. Mereka cuma bisa bahasa Jepang dan satu-satunya bahasa Jepang yang gua tau adalah aishiteru, yang artinya “aku sayang kamu”. Pengen bilang aishiteru ke petugas rumah sakitnya tapi kita kan baru kenal. Akhirnya gua dan doi cuma bisa kode-kodean pake bahasa Tarzan. Dia sesekali ngomong pake bahasa Inggris seadanya, gua pake bahasa Jepang seasalnya.

Setelah ngasih tau apa yang gua mau, dia ngasih gua beberapa form untuk diisi. Ada dua kertas yang harus gua lengkapi. Pertama, form data diri. Nama, umur, warga negara, hobi, cita-cita, dan kata mutiara. Yang kedua, form dengan gambar badan manusia. Gua diminta melingkari bagian tubuh yang sakit. Mengikuti instruksi, gua pun melingkari bagian tubuh gua yang luka. Di ujung jempol sebelah kiri. Kertas segede gaban, yang dilingkerin cuma jempol. Mubazir.

Setelah gua kembalikan dua form tadi, si petugas masukin database gua ke komputer dengan cekatan. Sesekali, ia telpon sana-sini. Sibuk banget deh. Tapi tiba-tiba gua teringat satu kendala, “Ini berapa ya biayanya?”

Sebelum si petugas beraksi lebih jauh dan lebih sibuk lagi, gua menanyakan sebuah pertanyaan sakti, “Mbak, ini kira-kira berapa ya biayanya? Soalnya saya ga bawa duit banyak.”

Mukanya kaget. Mungkin baru kali ini dia ketemu turis kere dengan jembol kecukur kayak gua. Dengan muka datar, si petugas cuma bilang oke terus kembali ketak-ketik dan telpon sana-sini. Sementara gua memilih untuk duduk sambil menunggu prakiraan biaya membungkus jempol gua ini.

Setelah menunggu 5 menit, gua dipanggil kembali sama si petugas. Ini dia the moment of truth. Berapa biaya untuk membungkus jempol gua yang malang ini?

Ketika gua udah sampai di depan mejanya, si petugas menulis dua gambar dan beberapa kata dalam bahasa Jepang ga jauh di sebelahnya. Sepertinya ada dua pilihan harga. Atas dan bawah. Mungkin yang satu a la carte, yang satu plus minum sama kentang.

“Yang ini,” tunjuknya ke bagian atas, “Ga pake jahit.”

“Ooo,” jawab gua sambil manggut-manggut, “Berapa?”

Dia lalu menulis sebuah angka di sebelahnya, “5,000 yen.”

“500 RIBU? AISHITERU? INI MAH AI SI ANYING!”

Untuk menjaga hubungan bilateral Indonesia dan Jepang, gua pun hanya meneriakkan kalimat di atas hanya dalam hati. Jangan sampai hubungan kedua negara ini terputus gara-gara seorang turis berkata kasar di rumah sakit. Jika sampai terputus, nanti apa kabarnya supply bokep Jepang ke Indonesia?

Gua hanya bisa menelan ludah pelan-pelan. Gile, ongkos ngebungkusnya mahal bener. Gua beli cukuran aja pengen nawar, ini lagi ngebungkus jempol sampe 500 ribu. Dibungkusnya pake kain sutra apa gimana sih ini? Kok bisa mahal gitu? Pilihan pertama jelas ga bakal gua ambil. Tapi untungnya, ada pilihan kedua di kertas yang dia coret tadi. Gua masih optimis.

“Kalo yang ini?” tanya gua sambil menunjuk pilihan yang di bawah.

“Yang ini pakai jahit,” dia kembali menulis sebuah angka, “13,000 yen.”

“AI SI ANYING! 1.3 JUTA KALO DIJAIT! INI SEKALIAN DIPAYET APA GIMANA SIK?! MAHAL BENER!”

Ngejait jempol aja 1.3 juta. Dengan duit segitu, gua bisa jait taplak mejanya Dumbledore di film Harry Potter. Udah gitu, Dumbledore-nya masih bisa gua ongkosin pulang naik taksi, Silver Bird pula. Biaya ngebungkusnya mahal bener, Nyet. Dibungkus 500 ribu, dijahit 1.3 juta. Ga ada yang lebih murah lagi apa nih? Jempol gua ditiup-tiup aja sampe kering juga ga apa-apa deh.

Tapi ya udah, karena gua ga ada duit segitu, apa mau dikata. Dengan lempengnya, gua bilang, “Sori, Mbak. Gua ga bawa duit banyak. Jadi gua cancel ya. Kthxbye.”

Dengan tanpa dosa, gua melengos berjalan keluar dari rumah sakit dengan latar si petugas repot ketak-ketik komputer lagi. Kayaknya sih doi ngapusin database gua yang udah terlanjur kesimpen. Gua-nya mah stay cool banget. Jalan terus tanpa sekalipun nengok belakang. Udah kayak tokoh utama di film-film yang jalan ngebelakangin mobil kebakar terus meledak-ledak. Sades.

“Terus jempol lu gimana, Roy?” tanya Tirta begitu kita keluar dari rumah sakit.

“Udah mendingan nih. Abis denger biaya ngebungkusnya 1.3 juta, tiba-tiba aja jempol gua udah mendingan. Jempol gua prihatin kayaknya ama gua. Pengertian banget.”

Sepulang dari rumah sakit, gua mampir ke apotek dan nyari plester ukuran jumbo. Dengan keahlian bungkus paket JNE, jempol gua bisa terlilit dengan lumayan. Akhirnya, gua bisa menikmati malam ini dengan damai dan tanpa pengalaman aneh-aneh lagi.

jempol berdarah

Selesai dengan urusan jempol berdarah ini, gua kembali ke kamar. Merebahkan badan dan coba ngeluarin smartphone dari kantong.

BLETAK!

Smartphone gua jatuh ke lantai dan layarnya mati. Hadeh. Aisianying.

“Comedy is tragedy plus time.” ― Carol Burnett

About these ads

Tagged: , , , , , , , , ,

27 thoughts on “Jempolku Sayang, Jempolku Malang

  1. dodo December 27, 2013 at 12:38 Reply

    Haha… Rusuh bgt… Harusnya dr awal lo bersyukur dpt cukuran 100 yen.. Dah murah kali tuh.. Hehehe….
    Joke di akhiratnya keren!!!

  2. Jomblo Idealis (@MiftID) December 27, 2013 at 13:24 Reply

    Pecah, ngakak bantal…

  3. Rido Arbain December 27, 2013 at 13:42 Reply

    Bisa nih bikin serial Hidayah di TV, judulnya “Jempol Berdarah Menjelang Ajal… Smartphone” :))

  4. Gugumgumii December 27, 2013 at 14:05 Reply

    HUAHUAHAUAHAHAHAUAHA
    *lempar softek*

  5. Kevin Anggara December 27, 2013 at 14:34 Reply

    Akhirat penuh, jangan becanda, sana hidup lagi :)))

    Gue malah waktu itu pernah kepotong di bagian jari manis, pake pisau. Lumayan dalem dan sakit lagi. Semenjak saat itu, gue nggak berani megang benda2 tajam kayak pisau, gunting dan semacamnya.

    • Gerry December 27, 2013 at 14:46 Reply

      Kenapa gak kepikiran sama iklan *lupa*, yang
      Nyot nyot dikenyot nyot, dijamin cepet berenti tuh darahnya.

      • Roy Saputra December 27, 2013 at 15:01 Reply

        hahah, itu juga udah gua kenyot dikit. tetep ga berhenti darahnya :))

    • Roy Saputra December 27, 2013 at 15:01 Reply

      bah, traumanya dalem juga ya *pukpuk*

  6. Dessy December 27, 2013 at 14:44 Reply

    Ini cerita awalnya bikin gemeter karena ngebayangin darah, tapi guyonnya itu loooh nggak nahan bikin ngakak.
    “INI SEKALIAN DIPAYET APA GIMANA SIK?!” juara! x))

    • Roy Saputra December 27, 2013 at 15:02 Reply

      hahahaha. sekalian dibordir sama disablon juga! XD

  7. Andre December 27, 2013 at 17:37 Reply

    Haha nasibmu royyy… Aturan pake softek aja..daya lembutnya itu lohh haha

  8. Lynn December 27, 2013 at 23:11 Reply

    bahahaha dari diceritain di twitter aja gue udah ngakak =))

    terus, plester jumbonya berapa harganya? =))

    • Roy Saputra December 28, 2013 at 08:37 Reply

      plesternya sekitar 300-an yen kalo ga salah. cuma 30ribu-an! XD

  9. gusmang December 27, 2013 at 23:41 Reply

    Aisianying! Ngakak. MUAHAHAHAAHAHA. Ini udah jam setengah satu pagi!!! :)))

  10. chandra December 29, 2013 at 09:38 Reply

    nghahahaha jempolnya shock ampe berenti beadarah

  11. Dwi Kresnoadii December 29, 2013 at 19:18 Reply

    Hahaha. ai si anying. :)))

  12. maembie December 30, 2013 at 04:16 Reply

    Bg, Harga softek disana gak mahal emangnya?
    Haha
    Anying anying, komedi adalah tragedi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 379 other followers

%d bloggers like this: