Apa-apa yang Tidak Diceritakan di antara Halaman 251 dan 252 pada Novel Trave(love)ing

DISCLAIMER: Postingan ini akan lebih nikmat untuk dipahami bila kamu sudah membaca novelnya. Jika belum, bisa juga sih. So, let’s move on, shall we?

 —

Beberapa saat sepulang dari nonton Liverpool, gua jadian dengan seorang wanita yang gua kenal di bandara LCCT, Kuala Lumpur. Waktu itu, ia lagi transit di KL untuk melanjutkan perjalanan ke Ho Ci Minh, Vietnam. One thing led to another, sampai akhirnya gua memutuskan untuk menyatakan perasaan ke dia dan kita pacaran. Kejadian ini membawa gua ke sebuah kesimpulan.

Things happen for a reason.

Kalo gua ga memutuskan untuk nonton Liverpool, mungkin gua ga akan ketemu dia di bandara. Kalo gua ga ketemu dia di bandara, gua ga akan berani kenalan, and so on, and so on, and so on. Pesan ini lah yang tadinya ingin gua bagi melalui sebuah buku berkedok catatan perjalanan.

Semangatnya sudah baik, pesannya sudah pas, plot sudah jadi, ending sudah tau, tapi sepertinya ga menarik kalo hanya menceritakan perjalanan satu orang. Apalagi traveling gua kemarin hanya makan waktu yang sangat singkat sehingga sepertinya ga akan mampu memenuhi kuota halaman. Sempat terpikir untuk memeti-eskan cerita ini dan nantinya akan dikumpulkan bersama catatan perjalanan ke negara lain yang memang gua cita-citakan dari dulu. Tapi kok rasanya terlalu lama ya. Momentum dan mood menulisnya bisa keburu hilang. Gua cukup bingung waktu itu.

Sampai sebuah notifikasi Facebook muncul di smartphone gua.

Gua di-tag oleh Mia Haryono ke sebuah catatan perjalanan yang ia posting di notes Facebook. Hal ini mengingatkan gua pada notes Facebook lainnya, yang gue juga pernah di-tag di dalamnya. Sebuah catatan milik Dendi Riandi.

Mia Haryono pergi untuk mengobati hati. Dendi Riandi melancong demi sepotong hati. Gua pergi lalu pulang menemukan hati yang baru. 3 catatan perjalanan, 3 traveler, 3 pergumulan hati. Ini baru menarik. Bagai Farah Quinn, gua pun bilang, “This is tits!” …eh, maksud gua, “This is it!”

Malam itu juga, gua langsung menghubungi Mia dan Dendi, mengajak mereka untuk membukukan catatan perjalanan yang mereka bagi di Facebook. Tapi ga afdol rasanya kalo ga mengajak teman Twitter kami satu lagi. Grahita Primasari.

Obrolan malam itu berlanjut ke sebuah kedai kopi di Jakarta Pusat beberapa hari kemudian. Dendi, Mia, dan Grahita masing-masing memesan segelas kopi. Gua sendiri hanya memesan secangkir teh hangat. Kopi masih menjadi musuh gua malam itu. Cukup kafein pada teh yang menghangatkan gua dari… well, kalimat selanjutnya bisa kamu temukan di halaman 252 dari buku Trave(love)ing yang covernya warna pink.

Anyway, kisah cinta gua dengan si dia, yang menjadi semangat awal buku ini, justru berakhir ketika project menulis masih di fase awal. Sama seperti halnya saat jadian, one thing led to another, sampai akhirnya kita memutuskan untuk menyudahinya. Ya, ironis memang. Meski begitu, gua masih memegang teguh kesimpulan yang kemarin.

Bad things happen for a good reason.

Kalo gua ga pacaran sama dia, mungkin gua ga akan kepikiran untuk membukukan catatan perjalanan. Kalo gua ga kepikiran buat buku, gua ga akan mengajak Mia, Dendi, dan Grahita. Kalo gua ga ngajak mereka, ga akan pernah ada Trave(love)ing, and so on, and so on, and so on. Pesan ini lah yang ingin gua sampaikan lewat postingan ini.

Karena sepahit-pahitnya patah hati, itu pasti manis alasannya. Seburuk-buruknya suatu kondisi, itu pasti baik hikmahnya. Dan sekelam-kelamnya sebuah masa, itu pasti dalam rencana-Nya.

Sebagai penutup, gua ingin bilang, terutama untuk yang sedang patah hati: selamat ber-traveloveing. Karena daripada sakit hati diam-diam, lebih baik sakit hati jalan-jalan.

Ya kan?

PS: Belum sempet baca tapi masih penasaran sama Trave(love)ing? Bisa kamu gali lebih dalam di sini, sana, situ, dan di mari.

* gambar diambil dari sini. terima kasih

Advertisements

Tagged: ,

One thought on “Apa-apa yang Tidak Diceritakan di antara Halaman 251 dan 252 pada Novel Trave(love)ing

  1. diana bochiel July 11, 2012 at 10:29 Reply

    gw belom kelar baca traveloveing, masih stuck dtengah2 halaman di buat galau di partnya mba mya -_- dan menuju galau di part bang roy.

    oh jd lu sempet dapet pacar bang? hemm..
    ga ada yg kebetulan di dunia ini, kyknya emang udah takdir traveloveing hadir, bukan juga karena nya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: