Setan Indonesia Royal Deathmatch: A Prequel

Ada yang masih inget postingan ini?

Nah, postingan kali ini adalah prequel, atau kisah sebelum, dari cerita yang itu. Tanpa banyak basa-basi, mari kita sambit saja cerita yang berikut ini. Mari.

Karena cintanya yang besar terhadap dunia film, seorang sutradara lulusan Geologi ingin membuat film terobosan agar bisa menjadi hiburan bagi para penonton Indonesia. Kini, ia sibuk merancang sebuah naskah film yang dia yakini akan meledak di pasaran. Ia mendapatkan ide ketika sedang duduk di pinggir pantai di saat hujan… lalu tersambar kilat.

Ribuan volt telah membuat otaknya menjadi encer, lunak, dan kreatif. Ia, yang sebelumnya tidak bisa menulis, tiba-tiba bisa menulis cerita untuk filmnya sendiri dan sangat yakin ini akan meledak. Para pemain papan atas yang ia telah kontrak, membuatnya semakin yakin film ini akan meledak. Dan jika semua rencana di atas gagal, sang Sutradara telah membuat rencana cadangan untuk meledakkan acara ini. Sebuah rencana yang bernama kardus petasan.

Setelah segelas kopi jahe dan sengatan volt membuat jidat Sutradara terbuka lebar, ia akhirnya berhasil menyelesaikan draft skenario filmnya. Sebuah skenario dengan tema yang lagi happening saat ini di Indonesia: Horor.

Meski di Indonesia sering menyisipkan adegan panas menjurus mesum pada film horor, Sutradara berprinsip tidak akan menggunakan siasat yang sama. Masih jelas dalam ingatannya ketika ia menyutradarai film Susuk Kuntilanak, dimana si Kuntilanak kalah bersaing dengan artis berbadan seksi. Kuntilanak stress dan hampir saja merobek kain kafan di bagian dada, sampai Sutradara segera melarang tindakan ini. Sutradara minta Kuntilanak untuk istighfar dan mengingatkan bahwa film ini berjudul Susuk Kuntilanak, bukan Susu Kuntilanak.

Skenario itu pun selesai. Tugas berat berikutnya telah menanti. Sutradara harus mencari produser yang cukup gila untuk mau membiayai film ini.

Produser 1

“Setan Indonesia Royal Deathmatch?! Apa pula ini?!” 

BRAK!

Produser membanting draft skenario film yang ditulis 8 hari 8 malam dengan dukungan kopi jahe itu. Sutradara memungut draft yang jatuh dan mengembalikannya ke hadapan produser.

“Mana ada yang mau nonton film ini?” tanya produser dengan intonasi naik.

BRAK!

Si Sutradara kembali memungut, “Tapi ini bagus, Pak! Bagus! Percaya deh!”

“Dengkulmu bagus?! Mana ada yang mau nonton setan-setan berantem?!”

BRAK!

Hampir saja si Sutradara memberi piring cantik kepada produser, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghapus keringat dari jidat, dan kembali, memungut. Ia masih belum menyerah.

“Tapi ini beda, Pak. Berantemnya… sampai… mati.” Sutradara sengaja memberi jeda untuk memberi kesan dramatis, namun gagal. Itu karena melihat setan berkelahi sampai mati bukanlah sesuatu yang cerdas sebab para setan tersebut… sudah mati dari sananya.

Dahi produser berdenyut kencang. Semakin kencang setelah melihat deretan artis yang akan dipakai sebagai pemeran film tersebut.

Pemain:

Pocong
Kuntilanak
Suster Ngesot
Setan Budeg
Hantu Jamu Gendong
Iblis Pempek

Produser geleng-geleng melihat nama yang terakhir, “Iblis Pempek? What the…

BRAK!

“Ini keren, Pak! Setan baru! Belum pernah ada sebelumnya. Dia mati tragis, Pak. Dia mati karena inflasi yang terlalu tinggi dan harga bahan baku terus meningkat. Lalu di dalam tekanan ekonomi yang hebat, ia mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan yang…

“Singkatnya?”

“Gantung diri pake gesper, Pak.”

Produser menepuk jidat dengan keras. Setelah nyaris menggampar Sutradara dengan yellow pages, akhirnya ia mengusir si Sutradara keluar dari ruangannya tanpa banyak memberi penjelasan.

Tapi si Sutradara belum menyerah. Ia bertekad akan berkeliling dari pintu ke pintu, menjajakan skenario andalannya ini ke semua produser yang ia kenal.

Produser 2

BRAK!

Sutradara berinisiatif keluar dari ruangan produser setelah terjadi kegiatan banting-skenario-ke-lantai-dan-memungut-kembali lebih dari sepuluh kali. Awalnya, si Sutradara mengira ini adalah salah satu dari gerakan senam lantai yang sedang digemari para produser. Sutradara akhirnya sadar bahwa kegiatan itu tidak ada sangkut pautnya dengan senam lantai setelah si Produser mulai mengancam untuk melemparnya dengan gayung.

Produser 3

Sutradara masuk ke dalam ruangan produser, duduk, menjelaskan skenario, bangkit dari kursi, lari sambil menghindari sambitan pulpen, kertas 1 rim, dan alat tulis kantor lainnya dari produser.

Produser 4

“Bagaimana, Pak? Mau memproduseri?” tanya Sutradara sambil tersenyum hiperbolis.

“Hmm, sebetulnya, draft skenario kamu ini sudah masuk milis produser dan menjadi bahan lelucon di sana.”

Produser 5

Produser menatap dalam-dalam mata si Sutradara dan, “MHUAHAHAHA!”

“Pak?” Sutradara salah tingkah, “Hm. Pak?”

“Maaf, maaf,” kata si Produser sambil menyeka air mata akibat tawa yang begitu kencang, “Tapi saya tidak menyangka bahwa kamu akan datang ke saya dan menawarkan… MHUAHAHAHA!”

Sutradara pamit diam-diam.

Produser 6

Sutradara sangat yakin dengan produser yang keenam ini. Yang ia dengar dari sutradara lain, produser ini adalah orang yang sangat baik. Ia tidak akan sampai hati untuk menolak naskahnya yang penuh dengan setan dan makhluk musrik lainnya ini.

Setelah mengumpulkan rasa percaya diri yang sudah berceceran, Sutradara masuk ruangan produser dengan semangat yang menjulang.

“Selamat siang, Pak!” sapa si Sutradara dengan lantang.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Dan tiba-tiba saja, si Sutradara tidak tega menawarkan skenarionya ke produser ini.

Produser 7

“Setan Indonesia Royal Deathmatch? Hmm.”

Produser ketujuh membuka percakapan dengan kalimat yang sama seperti produser pertama, hanya saja beda intonasi dan tanpa kegiatan membanting skenario ke lantai. Sutradara melihat ini sebagai pertanda baik.

“Coba you ceritakan, di halaman mana ada adegan panasnya?” tanya si Produser dengan logat yang sangat khas. Semacam logat penjaga toko kain Pasar Baru.

Sutarada berpikir sejenak, “Coba halaman 158, Pak.”

“158 ya? Hmmm…”

“Di situ ada adegan di mana Pocong sedang menggotong kompor…”

“Lho, lho. Bukan panas begitu maksud I. You tau lah… ‘panas’,” jelas si Produser dengan kedua jari menggestur tanda kutip di udara.

“Panas?” Sutradara mengikuti gestur tanda kutip si Produser, “Kita ga adegan kayak gitu, Pak.”

“Jadi, tidak ada pemeran film porno luar negri-nya? Tidak ada adegan dimana dengan kasualnya, si artis porno ini mandi dan keramas tengah malam hanya untuk diganggu oleh setan? Tidak ada?” tanya si Produser, mengonfirmasi.

“Tidak ada, Pak.”

“Betul tidak ada?”

“Betul, Pak.”

Are you sure?”

“Pak, yang nulis kan saya.” Sutradara mulai garuk-garuk.

“Hmm, lalu nilai jual film you ini apa? Kalau horor biasa saja tidak laku lah. I ini pedagang. Kalau mau jualan, I jual barang yang laku lah.”

Sutradara mulai berdiri dari kursinya. Ia mulai jengah dengan pertanyaan si Produser yang mengusik idealisme-nya, “Tapi film saya ini bersih dari gitu-gituan, Pak. Itu prinsip saya!”

“Ya sudah, kalau begitu I tidak mau danai you punya film,” balas si Produser, santai.

“Baiklah. Kalau gitu, saya pamit.” Sutradara bangkit dari kursinya, beranjak keluar, sambil membawa idealismenya yang menumpuk.

Meski sudah ditolak tujuh produser, wajah Sutradara tidak menunjukkan kekhawatiran sedikit pun. Tekad dan keyakinannya yang begitu kuat, tidak akan bisa dihancurkan oleh tujuh tolakan sekalipun. Belum jauh melangkah, Sutradara mendapat telpon dari calon pemeran utama filmnya. Pocong.

“Bos, gimana? Dapet ga dananya?” tanya Pocong, harap-harap cemas.

“Tenang, Cong.”

“Dapet?”

“Kagak. Kita patungan aja lah. Seorang gope.”

PS: Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankan. Semoga ibadahnya lancar dan tidak terganggu oleh setan-setan di atas. Amin.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

4 thoughts on “Setan Indonesia Royal Deathmatch: A Prequel

  1. diana bochiel July 26, 2012 at 21:35 Reply

    *lap keringet* panjang juga postingannya…
    jadi intinya itu film jadi apa ga? -_-

    • roy saputra July 26, 2012 at 22:05 Reply

      klik tombol link di kata ‘ini’ pada kalimat paling atas. itu sekuelnya :D

  2. Nuning Nune July 27, 2012 at 05:01 Reply

    Pengalaman pribadi yah kakak? Hahahahaaa..

  3. Raka July 28, 2012 at 15:17 Reply

    BRAK!

    *banting keyboard dan mouse. Postingan macam apa ini??!!

    Hahaha… Bagussss.I like it, Roy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: