Mas-nya Pakai Apa?

Sebuah cerita singkat tentang cinta, harta, karya, dan rasa. Enjoy.

Tapi kudapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku di sini

Pengamen di perempatan Menteng begitu bersemangat menyanyikan sepenggal lagu dari band yang entah apa namanya sekarang. Gue mengangkat tangan dari dalam mobil, tanda bahwa tak ada uang kecil untuknya sore itu. Permainan gitarnya berhenti. Ia berlalu dengan wajah yang ditekuk.

“Kok kamu gak kasih pengamen itu uang?” tanyanya dari kursi sebelah dengan nada manja.

“Kalau dia dikasih, nanti teman-temannya pada datang. Lagipula sebentar lagi hijau kok nih,” Sedetik kemudian, lampu berubah warna, “Tuh kan.”

“Eh, kita mau ke mana sih?”

“Lho? Tadi kan kamu bilang mau ke Epicentrum. Gak jadi?”

“Hmmm…,” Dia memilin-milin ujung rambutnya yang menjuntai di bahu, “Gak jadi deh.”

Gue menghela nafas, “Jadi kamu mau ke mana sekarang?”

“Aku kok tiba-tiba pengen makan soto ya?”

“Makan? Lagi? Kita kan baru makan kaya toast di Sabang. Kamu juga masih ada take away-nya tuh di kursi belakang.”

“Aku mau soto. Soto!” rengeknya sambil memajukan bibir.

Ck. Dasar cewek rese. Andai saja cicilan mobil gue sudah beres, andai saja ini beberapa bulan lagi, pasti gue sudah marah-marah. Kalau perlu, gue tinggalin dia di jalan. Jadi orang kok plintat-plintut. Disangkanya nyetir mobil itu gak cape kali. Mana mau makannya spesifik begini lagi. Soto? Soto mana ya?

“Aku mau soto. Soto yang enak!”

Gue melepas pedal gas sedikit dan menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengingat di mana ada soto yang sesuai dengan permintaan cewek rese ini. Yang enak. Hmm, yang lebih mahal banyak. Tapi yang enak?

“Oh!” pekik gue tiba-tiba, “Aku inget. Di sebrang Pasar Festival, di belakang gedung perkantoran situ, ada satu watung soto Kudus yang enak banget.”

“Nama tempatnya apa?”

“Seinget aku sih mereka gak pasang papan nama. Hanya ada tulisan Soto Kudus. Eh, warungnya  sederhana lho. Kecil. Gak pake AC. Kamu gak apa-apa?”

“Gak apa-apa. Yang penting enak kan?”

“Tenang. Sotonya sih enak banget.”

Lalu gue mulai bercerita tentang bagaimana cara mereka menyajikan. Soto yang berisi suwiran ayam, toge, dan irisan kol itu dituang ke dalam mangkok kecil yang hanya berdiameter sekitar 10 centimeter. Jika kita memesan ‘campur’, maka nasi putihnya akan dicelupkan ke dalam mangkuk yang sama. Membuat nasinya mengepul panas dan meresap kuah yang gurih.

“Wah, kayaknya enak ya! Nanti aku mau tuh yang dicampur gitu!” katanya dengan antusias.

Gue mengangguk, “Emang enak. Makanya aku sering makan di sana.”

“Oh ya? Sama siapa?” Mampus.

Selain sumo petarung dan banci perempatan, pertanyaannya barusan masuk dalam kategori hal-hal yang sebaiknya gue hindari. Jadi, sebaiknya ya memang gue alihkan saja pertanyaan tadi.

“Buat temen makan sotonya, mereka juga jual macem-macem. Ada sate kerang, perkedel, tahu bacem… eh, ini kita sudah sampai.”

Gue memasukkan mobil ke spasi yang kosong. Rem tangan ditarik. Jendela gue turunkan untuk melihat posisi parkir. Miring. Ah, bodo deh. Gue dan Yanti turun dari mobil dan segera menuju warung Soto Kudus. Dengan heels 7 centi, tas Gucci paling kini, ia berjalan bak pragawati. Gue biarkan dia berjalan beberapa langkah di depan. Pemandangan dari belakang sini sayang untuk dilewatkan.

Entah apa dan bagaimana, hubungan gue dan Yanti terjadi begitu saja. Berawal dari sebuah pesta dan berlanjut ke kondominium lantai 25. Pertanyaan ‘punya korek?’ ternyata berakibat panjang dan berujung di sapaan ‘sudah pagi nih’. Mulanya hanya satu malam, tapi kemudian jadi dua, tiga, dan entah sudah malam keberapa sekarang. Seprei yang kusut jadi saksi betapa liarnya kita. Tapi ya… begitu saja. Tanpa rasa, tanpa emosi. Hanya demi rupiah dan beberapa potong baju Zara yang tergantung di bagian new arrivals.

Mungkin benar yang pengamen Menteng nyanyikan tadi. Gue pakai topeng. Gue ini palsu. Gue bermuka dua. Tapi persetan apa kata orang. Yang jelas, saat ini gue happy. Sama Yanti, Jessica, Gwen, atau Ratna. Ya, meski semua itu gak pakai ha…

“Ji! Aji!” Lamunan gue buyar. Suara Yanti terdengar nyaring saat ia sudah berada tepat di depan meja pelayanan, “Ini mesennya gimana?”

Gue bergegas menyusul Yanti, “Dua ya, Bu. Campur.”

“Ok, Mas,” jawab si Ibu dengan logat Jawa yang kental, “Mbak-nya mau tambah apa? Perkedel? Tahu bacem? Ampela?”

“Aku mau perkedel deh, Bu.”

“Mas-nya mau pakai apa? Pakai hati?”

Gue tersenyum tipis, “Gak, Bu. Gak pakai hati.”

Jakarta, 31 Juli 2012
23:38 WIB
Ditemani teh di atas meja dan lagu Peterpan di telinga

* gambar diambil dari sini. terima kasih.

Advertisements

One thought on “Mas-nya Pakai Apa?

  1. arievrahman August 1, 2012 at 16:25 Reply

    Touche!

    Bagus ini Roy, bungkus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: