#JalanJalanKemiskinan: Belitung!

Sejak tahun 2009, gue dan beberapa teman kuliah lainnya sering traveling bareng. Kita menyebutnya Jalan-jalan kemiskinan. Kenapa? Karena low budget banget-nget-nget. Setiap kali mau jalan, pertimbangan tempat tinggalnya itu antara tidur di rumah temen, gelar tiker di bandara, atau telentang aja gitu di mesjid. Iya, se-low budget itu.

Ga terkecuali perjalanan kita di akhir tahun 2011 kemarin. Tujuan kita waktu itu adalah Belitung. Sebagai anak Teknik yang terstruktur, 2 minggu sebelum berangkat, kita ngumpul. Rencananya sih mau ngomongin gimana-gimananya. Hotelnya, mobilnya, dan lain-lain. 3 jam ngumpul membuahkan hasil yang sangat fantastis:

  1. Bawa tasnya 1 saja
  2. Bawa uang maksimal 1 juta
  3. Sisanya diomongin lagi aja lah setelah nyampe

Entah kita ngobrol apa aja selama 3 jam. Yang jelas poin nomor 3 membuktikan bahwa meeting tadi ga efektif!

Hari H. Naik pesawat paling pagi. Salah satu teman kita, Audi, datang dengan membawa 2 tas. Patah sudah poin nomor 1. Makin terlihat tidak efektif lah meeting waktu itu. Hadeh.

Informasi yang gua dapet, di sana itu banyak angkot. Untuk menghemat budget, kita berencana untuk ngangkot selama di sana. Pesawat mendarat, keluar bandara, dan hal pertama yang kita temukan di luar adalah… SEPI ABIS.

Ga ada angkot. Sebiji pun ga ada.

Di tengah kebingungan itu, seorang agen travel menghampiri kita. Ali, namanya.

“Dek, mau ke mana, Dek? Mau sewa mobil?”

Karena ga ada pilihan lain, maka Ali lah solusi kita waktu itu. Ali lalu bertanya mau di antar ke hotel mana. Kita geleng-geleng, karena memang belum booking. Ali ikut geleng-geleng, bingung kok nekad belum booking. Kita lalu menjelaskan mau hotel yang seperti apa. Yang dekat pantai, bersih, tapi murah banget. Ali makin geleng-geleng.

Akhirnya Ali mengantarkan kita ke sebuah hostel. Di perjalanan, Ali mengisi bensin dan berpesan bahwa di Belitung pom bensin itu jarang. Hanya ada 3 SPBU resmi di kota. Kita mencatat baik informasi itu… sambil membuka 9gag.

Belitung, seperti yang kalian tau, mempunyai objek wisata berupa pantai dengan batu-batu besar. Gua ga akan bercerita banyak tentang betapa indah dan eksotisnya pantai-pantai di Belitung. Sudah banyak, atau bahkan terlalu banyak yang membahas itu. Mari kita fokuskan perhatian ke hari ke-3 dari Jalan-jalan Kemiskinan edisi Belitung.

Di hari ketiga, kita memutuskan untuk membelah pulau Belitung. Dengan tujuan SD Gantong, sekolah Laskar Pelangi, kita berangkat. Dari Belitung barat menuju Belitung timur. Sesuai petunjuk Ali sebelumnya, sebelum jalan kita isi bensin dulu. Mobil masuk ke area pom bensin.

“Mau isi berapa nih?” tanya Audi si supir.

Semua lalu rogoh-rogoh kantong, dan berhasillah dikumpulkan sejumlah uang. Dengan gigih, Audi berkata ke penjaga pom bensin, “Pak, isi dua.”

“…ratus ribu?”

“…liter.”

Dengan modal bensin 2 liter plus sisa hari sebelumnya, kita belah pulau Belitung. Sampai di SD Gantong, foto-foto, lalu memutuskan untuk pergi ke pantai Burung Mandi.

Sesampainya di pantai Burung Mandi, ada satu hal yang begitu mencolok. Hal yang membedakan antara pantai di Belitung barat dan timur. Di pantai Burung Mandi banyak banget alay. Mas-mas berkaos hitam ketat dengan gambar-gambar yang ditujukan untuk menakut-nakuti, bercelana ketat, dan berambut lepek.

Gua sempat mencari-cari di mana panggung Dahsyatnya. Ya atau minimal Inbox lah. Tapi ternyata ga ada. Ternyata alay dikembang biakkan secara alami di sini! Oh tidak!

Setelah menghabiskan sore dengan minum kelapa muda di pinggir pantai (yang merupakan makan malam kita hari itu), kita kembali ke Belitung barat. Di tengah jalan, saat matahari hendak terbenam, kita menemukan ini.

Kombinasi warna oranye, biru, dan putihnya keren banget. Gradasi dan perpaduan saat ketiga warna berdekatan bikin mata ga mau lepas. Sunsetnya ga santai. FYI, untuk mengambil momen sunset ini, kita berhenti di sebuah pangkalan udara ga terpakai… dan menemukan pasangan mesum lagi indehoy ga jauh dari tempat kita moto. Asoy.

Selepas dari sunset, kita mengalami satu masalah. Bensin tiris dan kita lagi entah di mana. Sepanjang mata memandang itu banyak pohon-pohon dan bekas tambang. Dag dig dug juga sampai akhirnya kita berhasil menemukan rumah warga yang menjual bensin eceran. Karena non resmi, maka si Bapak menjual dengan harga 6000 seliter. Gapapa deh. Kita tetep bersorak sorai, sampai si Bapak penjual bertanya, “Mau isi berapa?”

Kita kembali rogoh-rogoh kantong dan berhasil mengumpulkan uang sebanyak 12,000.

“2 liter,” kata Audi lantang.

“Hm, biasanya ya, Dek, ini biasanya sih… MOBIL ITU ISINYA PAKE SKALA DIRIGEN!”

Sambil geleng-geleng, si Bapak tetep nuangin bensin. Dia sampai harus nyari di mana selang buat nuang yang ecer literan. Huehehehe. Kita keren ya? Udah tiris aja masih isinya recehan gitu. Huehehe.

Singkat cerita, kita berhasil sampai dengan selamat di Belitung barat dan kembali ke hostel sambil menertawakan betapa susahnya uang keluar dari kantong meski keadaan mendesak. Betapa bodoh dan perhitungannya kita. Betapa perjalanan dengan survival mode ternyata lebih menyenangkan dan menyisakan banyak kisah kocak.

Betapa kita tetap akan traveling dengan gaya seperti ini.

Karena jalan-jalan kemiskinan ini, ternyata kaya akan cerita.

Sampai jumpa di cerita yang berbeda, dengan jalan-jalan kemiskinan yang sama.

Ciao!

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: