Perihal Roy Saputra

Tanggal 14 September 1980, seorang pria menikahi seorang wanita. Setelah melewati model pacaran orang dulu pada umumnya -nonton film Yati Octavia di Megaria, weekend ke Lido Sukabumi rame-rame sama tetangga, dan ngegombal pake lagu Panbers kala senja di gereja tua- akhirnya mereka menikah juga.

Tanggal 26 September tahun berikutnya, seorang anak cowo lahir dan pria tersebut menamainya Devi. Setelah terjadi debat yang cukup panjang tentang bahwasanya nama Devi itu agak gimana gitu untuk cowo, akhirnya si pria mengganti nama anak tersebut menjadi Yoppy.

Cukup lama Yoppy menjadi anak tunggal. Sampai di tahun keempat, Yoppy mendapat adik. Tanggal 13 September 1985, si wanita hamil besar dan siap melahirkan adik bagi Yoppy. Seharusnya, sekitar jam 11 malam si adik keluar dari perut si wanita. Tapi menurut si wanita, 13 itu angka sial dan alangkah baiknya jika bisa lahir di tanggal yang sama dengan pernikahannya. Dengan gigih, si wanita menahan keluarnya si adik meski sudah mules luar biasa. Akhirnya tepat jam setengah 1 pagi, di tanggal 14 September, si adik brojol juga. Andai jaman itu sudah ada Twitter, mungkin si adik akan ngetwit touchdown dan check in di foursquare.

Si adik kemudian tumbuh besar, dalam arti sesungguhnya. Saat kelas 5 SD ia sudah memiliki berat badan 50 kg dengan tinggi tak sampai 150 cm. Perawakannya jadi mirip anak beruang. Tapi mukjizat terjadi saat ia menginjak bangku SMP, yang mana segera diomeli gurunya. Bangku kok diinjak-injak? Ga sopan.

Saat SMP berat badannya tetap 50 kg tapi badannya meninggi signifikan. Ini keajaiban alam, ia mempercayainya. Dengan berat 50 kg dan tinggi lebih dari 170 cm, ia terlihat kurus menjurus malnutrisi. Namun semua itu dapat ia atasi dengan berolahraga yang giat, seperti main game basket di dingdong dekat rumahnya.

Si adik melewati usia labil dengan lancar. Sempat dicap sebagai anak dengan IQ tertinggi se-Jakarta Pusat, namun nasib si adik ga sehebat anak dengan IQ tertinggi dari kotamadya lainnya. Ia lebih suka di rumah, bercengkrama dengan orang tua dan kakaknya.

Keluarga nomor satu baginya. Ia lebih memilih kuliah di UI saat ada kesempatan untuk belajar di Singapura. Bahkan saat bekerja pun, posisi penempatan selalu menjadi pertimbangan utamanya. Karena baginya, prestasi setumpuk apapun tak kan membuatnya bahagia tanpa ada orang terdekat untuk diceritakan tentang prestasi yang setumpuk itu. Cerita yang ingin ia bagikan saat makan semeja dengan keluarga.

Hari ini tanggal 14 September. Si adik ulang tahun. Ia berterima kasih kepada Tuhan atas segala kesempatan yang telah diberikan, untuk orang-orang baik yang ditempatkan di sekitarnya, dan atas kesehatan serta umur panjang yang masih dipercayakan. Harapan di ulang tahunnya sendiri tak pernah berubah dari beberapa tahun yang lalu:

Punya imajinasi seperti anak 10 tahun
Keberanian seperti pemuda 20 tahun
Kedewasaan seperti pria 30 tahun. 

*tiup lilin*

Amin.

PS: Kalau minta traktiran, mending minta ke orang tuanya. Traktiran anniversary pernikahan. Nyehehe.

Advertisements

Tagged: ,

2 thoughts on “Perihal Roy Saputra

  1. myaharyono September 14, 2012 at 15:48 Reply

    Met Ultah Roy. Sukses terus dengan karir, buku, dan sepikannya!

  2. Berny_Romeo September 16, 2012 at 02:02 Reply

    Met ultah roy..
    Moga panjang semua muanya deh..
    Hehehehe..
    Tp bkn panjang tangan yah..
    Jgn berhenti berkarya untuk nusa dan bangsa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: