Kantoi

Semalam I call you, you tak answer

Lagu jenaka dari Zee Avi ini mengantar perjalanan gua ke Kuala Lumpur Jumat kemarin yang juga bertepatan dengan hari ulang tahun gua. Siang itu, gua sedang duduk di dalam bus menuju bandara sambil membalas ucapan selamat yang masuk. Rekan, teman, dan sahabat banyak yang mengucapkan lewat mention twitter, meski ga jarang juga yang via Whatsapp. Hanya ada satu ucapan yang masuk via SMS.

Ucapan itu datang dari dia.

Iya, dia yang menjadi penyebab gua melancong ke Kuala Lumpur kurang lebih setahun lalu. Dia yang mendorong gua pergi menonton Liverpool dengan impulsifnya. Dia yang menjadi sumber cerita di Trave(love)ing. Dia yang telah membuang gua agar cinta barunya mendapat ruang.

Berbarengan dengan tibanya bus di bandara, gua matikan handphone itu. Waktu sudah sangat mepet. Gua lalu melakukan rutinitas traveling di bandara. Check in, imigrasi, boarding, dan take off. Dua jam kemudian gua sampai di ibukota negara tetangga dengan rasa letih yang luar biasa. SMS tadi? Bentar deh, gua mau jalan-jalan dulu!

Jalan-jalan ke Kuala Lumpur kali ini bukan untuk move on seperti tahun lalu. Gua berangkat sama rekan-rekan kantor dalam rangka employee gathering. 80% dari peserta acara ini adalah ibu-ibu, 19% bapak-bapak, 1%-nya itu gua. Iya, nasib bener jadi yang paling muda di kantor.

Malam pertama kita habiskan di sekitaran Sungai Weng. Sempet jajan-jajan di area pasar malam, sebelum akhirnya beberapa dari kita memutuskan untuk nongkrong di sebuah café sambil mengisap sisha. Di sana juga ada home band yang penampilannya lumayan ciamik. Mereka selang-seling memainkan lagu internasional dengan lagu lokal yang entah apa judulnya. Jadilah ekspresi gua malam itu seperti ini:

I’m on a payphone…” Sing along.

“…” Bengong.

Nevermind I’ll find someone like youuuu…

“Ehm… Ini lagu UKS apa Search nih?”

Hey, I just met you and this is crazy!

“Wah, langitnya bagus ya.”

Tepat jam 12 malam, kita kembali ke hotel. Karena konon katanya, jadwal besok akan sangat padat dan bakal melelahkan.

Hari kedua dimulai dengan perjalanan yang seperti napak tilas move on gua tahun lalu. Tujuan pertama adalah Batu Cave, tempat di mana gua sempat naik 272 anak tangga agar tau seperti apa kekuatan niat untuk move on itu. Kita ga lama di sini karena cuma dikasih waktu 30 menit buat foto-foto. Ga mungkin naik sampe ke atas karena pesertanya udah banyak yang kena asem urat. Selesai sesi narsis, kita langsung cabut ke Genting Highland.

Di Genting, ada casino yang memperbolehkan lu untuk menggandakan uang yang dibawa secara legal. Sayangnya, bahkan uang untuk dipertaruhkan pun gua ga bawa. Jadinya gua cuma keliling-keliling nontonin oma-oma main kartu. Iya, kebanyakan yang main di sana itu lansia-lansia yang kayaknya sih kelebihan uang dan waktu. Selesai dari Genting Highland, kita langsung turun sedikit ke kuil yang entah apa namanya. Tapi bagus banget. Banyak spot menarik untuk berfoto.

Dari sana lanjut ke menara kembar Petronas. Tempat di mana setahun yang lalu, gua berdiri menatap langit, mencari wadah jernih bagi mata agar bisa berpikir tentang kenapa gua lama banget buat move on. Di sana kita foto-foto lagi. And I had a chance to take the (almost) sunset.

Malamnya kita main ke jalan Petaling, Chinatown. Makan malam dan belanja sana-sini. Ibu-ibu itu sih yang belanja, gua mah kagak. Lalu balik ke hotel dan gua memutuskan untuk istirahat. Ibu-ibu itu sih kagak, gua doang yang tiduran. Eits, bukannya gua kalah hebat sama ibu-ibu itu. Cuma malam itu sandal gua lagi dipinjem, jadi kagak bisa ke mana-mana. Beneran deh. Coba kalo ada sandal, begh… pasti gua lagi sibuk nyari orang yang mau minjem sandal biar gua ada alasan.

Besoknya, kita balik ke Jakarta dengan penerbangan jam setengah 11 siang. Belum begitu puas sih, tapi Senin-nya kita udah harus ngantor semua. Setelah melakukan rutinitas traveling di bandara lagi, akhirnya kita semua boarding dan siap untuk take off. Satu jam kemudian, di atas pesawat, di tengah turbulensi dan tingkat kebosanan yang lumayan tinggi, gua memasang earphone ke telinga dan mendengarkan sebuah lagu. Lagu yang mengantar gua datang kemarin.

Semalam I call you, you tak answer

Lirik pertama membawa lamunan gua terbang ke sebuah malam saat gua dan dia baru saja putus. Sebuah malam di mana gua ingin menangkap basah dia dengan cinta barunya. Sebuah malam pembuktian. Malam di mana akhirnya mobil gua menabrak trotoar dengan kencang.

Malam di mana mobil gua sempat berjalan hanya dengan dua roda selama dua menit yang bisa saja membuat mobil terguling dan terlindas patas yang berjarak sangat dekat di belakang. Malam di mana setelah mobil ringsek, gua bolak balik nelpon dia karena saat dua menit itu, hanya wajahnya yang gua ingat.

I had to call her.

Namun seperti yang Zee Avi bilang di lagu Kantoi, dia tak answer my call. Satu kali pun tak answer.

Gua menelpon dia setidaknya 30 menit sekali selama 4 jam. Tak ada satu pun yang membuahkan hasil. Mulai dari nada gantung sampai masuk ke mailbox. Gua juga mengirim beberapa SMS. Mulai dari memberi tau bahwa gua kenapa-kenapa, sampai gua bertanya khawatir takutnya dia yang kenapa-kenapa karena tak menjawab telpon.

She was not answering. She was ignoring.

Besok paginya setelah kecelakaan itu, ia menelpon. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Lo ngapain sih nelpon gue berkali-kali?”

Tapi ya sudah lah ya. It was over, anyway.

Sesampainya di Soekarno Hatta, gua menyalakan handphone. Ingin mengirim SMS ke orang rumah, mengabari bahwa anaknya yang sehat ini sudah sampai dengan selamat. Mata gua tertumbuk pada sebuah SMS paling atas. SMS ucapan ulang tahun darinya. Sebuah pesan yang mengesankan tidak pernah terjadi apa-apa. Semua baik-baik saja. Bahwa keputusannya untuk membuang serta meniadakan keberadaan gua hanyalah sebuah kejadian biasa yang akan terlupakan ditelan waktu.

Di bandara Soekarno Hatta, gua hanya bisa tersenyum. Mengambil satu tarikan nafas sebelum akhirnya gua menekan satu tombol pada menu pesan singkat.

Delete all messages in the chat?

Yes

Bukannya tidak bisa memaafkan, gua hanya tidak bisa melupakan.

Advertisements

Tagged: , ,

5 thoughts on “Kantoi

  1. Eliysha S. September 17, 2012 at 21:41 Reply

    First of all… I seriously did not know that last Fri was your birthday. HAPPY BIRTHDAY, SODARA. It seems that you had a fun time and I’m glad to hear that.

    And that song of Zee Avi is particularly lovely karena lirik kampret nya. I remember that time last year whem you wrecked your car, and I just wanna tell you how proud I am of how far you’ve come.

    Happy birthday. And I hope you’ll find someone that will answer your call.

    • roy saputra September 18, 2012 at 08:13 Reply

      i love your last sentence. thank you, sodari! :D

  2. Prasty September 23, 2012 at 12:27 Reply

    Happy b’day Roy..

    You’ve through bitter part, hope this so-called-travel brings you to the better part of the whole journey..

    Sometimes we need a little travel, on this so-called-journey named life.

    See you in another intersection, hopefully it’s the happy one.. hehehe :)

  3. yoanna September 24, 2012 at 15:51 Reply

    i’m glad that you’ve moved on :)

  4. Rizki Darmawan Listiono October 9, 2016 at 05:02 Reply

    Tulisan ini obat untuk gue, obat untuk rasa sakit yg gue rasain setiap kali kenangan bersama mantan yang menemukan cinta barunya saat masih bersama lewat di ingatan. Termasuk tulisan lo di buku Trave(love)ing bang… Terimakasih buat tulisannya bang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: