3 Alasan untuk Nomor 3

DISCLAIMER:

Postingan ini merupakan pandangan gua secara pribadi. Boleh didebat, boleh didukung, boleh dikitik-kitik, ditoel-toel juga boleh. Gua ga diminta, diarahkan, apalagi dibayar oleh siapapun untuk menulis postingan berikut.

Besok (Kamis, 20 September 2012), rakyat Jakarta akan mencoblos untuk memilih Gubernur DKI periode 2012 – 2017. Pada 11 Juli 2012, kita telah melakukan pencoblosan putaran pertama yang mendorong Joko Widodo (atau yang akrab dipanggil Jokowi) serta Fauzi Bowo (atau yang akrab dipanggil Foke) maju ke putaran kedua sebagai pemilik suara terbanyak.

Gua sendiri mencoblos Jokowi pada putaran pertama dan akan memilihnya kembali pada putaran kedua besok. Ada 3 alasan kenapa gua memilih pasangan nomor urut 3 ini.

Alasan pertama.

Sudah cukup rasanya gua dipimpin oleh seorang yang arogan dan tidak simpatik. Gua masih inget waktu awal-awal kepemimpinan Foke. Saat ada isu mengenai sampah di Jakarta, ia diwawancara oleh salah satu televisi swasta, dan jawabannya hari itu, “Kalo soal sampah, jangan tanya saya. Tanya dinas terkait.”

Ga hanya sekali. Tapi saat ada kebakaran di suatu daerah, jawabannya juga sama. Jangan tanya dia, tapi tanya saja kepada dinas terkait. Lah, dia ini Gubernur apa makelar sih? Kok cuman bisa ngenal-ngenalin doang?

Waktu banjir besar tahun 2010, lagi-lagi Foke membuat ulah. Banjir yang membuat seorang teman pulang dari Sudirman ke Senayan dalam waktu lebih dari 6 jam, banjir yang melumpuhkan sebagian besar jalanan kota Jakarta, banjir yang saking hebatnya sampai memakan 1 korban jiwa, hanya ia katakan sebagai genangan air. Genangan air? WTF! Genangan air Godzilla apa gimana nih? Lalu, kalo banjir itu genangan air, terus macet itu apa? Genangan mobil?

Bener-bener ga simpatik.

Alasan kedua.

Jokowi sudah terbukti memimpin dengan baik di kota Solo dengan beberapa program yang juga sudah teruji berhasil di sana. I know, Solo kota yang lebih kecil dari ibukota, namun kenapa sih ga kita kasih kesempatan?

Jika tahun 2007 kita memberi kesempatan pada seorang yang melabel dirinya sendiri sebagai ahli, kenapa ga kita kasih kesempatan kepada walikota yang begitu dielu-elukan warganya?

Jika 2007 kita memberi kesempatan pada orang yang menjanjikan busway 15 koridor dan MRT -yang sampai saat ini baru balihonya yang muncul-, kenapa kita ga memberi kesempatan pada walikota yang sudah menyediakan trem bagi warga Solo?

Jika tahun 2007 kita memberi kesempatan pada seorang yang berjanji memberikan pengobatan gratis dengan metode surat keterangan miskin dari lurah, kenapa ga kita kasih kesempatan kepada walikota yang berhasil membuat mekanisme lebih simple seperti kartu sehat bertahap?

Kenapa ga?

Alasan ketiga; dan yang terutama bagi gua.

Orang yang menjadi pasangan Jokowi adalah Basuki Tjahja Purnama atau yang biasa dikenal dengan nama Ahok. Gua sempat membaca tentang Ahok di sebuah buku yang berjudul Merubah Indonesia. Buku yang bercerita tentang masa kecil Ahok dan pikiran-pikirannya yang tajam selama menjabat sebagai Bupati Belitung Timur. Ya namanya juga buku. Bisa aja ini pesanan atau gimana. Tapi semua itu terkonfirmasi saat gua melihat kredibilitasnya beberapa kali di televisi dan puncaknya saat debat calon gubernur kemarin.

Setelah performance JK di debat capres 2009, baru kali ini otak kiri gua kembali merasakan orgasme sampai puncak. Jawaban Ahok terkait mekanisme pengobatan gratis membuka pandangan. Bahwa sesungguhnya jangan mengunci parameter orang miskin seperti apa, tapi kunci saja tujuan akhirnya. Jika orang mau dirawat di kelas 3, maka gratiskan saja. Toh ga kan ada orang kaya yang rela berbagi kamar mandi demi kesehatannya sendiri.

Jawaban-jawaban politisnya pun luwes. Saat Nara (calon wakil gubernur Foke) menyerangnya dengan isu etnis, ia membalas dengan mengatakan Nara juga sipit seperti dirinya. Nara belum menyerah. Ia kembali melempar isu ketidaksetiaan Ahok kepada kota yang dipimpinnya sampai harus pindah ke Jakarta. Dengan cerdas Ahok memberikan analogi tim sepakbola. Bahwa transfer antar pemain itu biasa apabila pemain tersebut memang handal dan dibutuhkan. Dan ditambah lagi punchline alasan ia pindah, karena ga ada yang becus ngurus Jakarta.

Gua suka gayanya Ahok.

Jadi itu lah 3 alasan bagi gua untuk datang ke TPS besok dan mencoblos nomor 3; Jokowi dan Basuki. Demi perubahan, demi perbaikan, dan demi Jakarta Baru.

Ayo Jakarta. Saatnya memilih.

PS: Yuk gunakan hak pilih kalian bagi yang sudah mempunyai hak untuk memilih. Kalaupun ingin golput, tetap datang ke TPS ya, rusak kertas suaranya, agar ga dimanfaatkan oleh oknum-oknum.

Advertisements

Tagged: , , , , ,

4 thoughts on “3 Alasan untuk Nomor 3

  1. pamelanov September 19, 2012 at 19:59 Reply

    gue inget beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum pilgub DKI tahun ini dimulai, gue pernah baca thread kaskus yang dibuat oleh seorang kaskuser yang udah tau sepak terjang jokowi. waktu itu jokowi bukan sosok populer, gue juga gatau waktu itu pak jokowi itu siapa. setelah baca thread itu, gue tergugah, menurut gue berdasarkan tweet2nya triomacan yang blg jokowi itu hanya pencitraan belaka, gak mungkin ah dia udah dicintai kaskuser dari semenjak gue SMP, saat gak ada yang peduli sama dia kecuali warga solo yang memang tau sepak terjangnya. gue jg sempet mimpi mungkinkah orang spt jokowi bs jd gubernur atau bahkan presiden. makanya waktu kesempatan itu akhirnya muncul, gue dukung bagnet 100% :”)

    • roy saputra September 19, 2012 at 21:22 Reply

      mimpi lu sekarang jadi mimpi kita semua, paams. dan besok adalah momen menjadikan mimpi itu jadi kenyataan.

  2. arievrahman September 19, 2012 at 20:08 Reply

    Mengubah, bukan merubah. Mengecap, bukan mencecap. Haiyaaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: