Sebuah Catatan Kecil tentang Hidup Hari Ini

Ini adalah sebuah postingan lama di notes facebook. Tepatnya gua menulis ini pada tanggal 6 Juni tahun 2009. Entah kenapa, sudah 2 hari kepikiran dan akhirnya gua naikkan juga di blog.

Sebuah catatan kecil tentang hidup hari ini. Here we go.

I have a confession to make…

… that i’m obsessed with my death. Tapi bukan berarti saya ingin mati besok. Bukan, bukan. Saya masih ingin hidup. Saya cinta dengan hidup saya.

Tapi, saya terobsesi dengan kapan saya akan mati.

Harus saya akui saya pernah ingin mati muda. Sehingga saya tidak perlu menangisi kepergian orang-orang yang pergi mendahului. Saya ingin berdiri di antrian paling depan. Masuk ke pelataran paling awal. Saya sempat ingin mati muda. Tapi… saya belum nikah. Jadi, ya, ntar dulu kali ya.

Saya juga terobsesi dengan di mana saya akan mati.

Sangat berharap kalau nanti saya akan mati di pelukan orang yang saya sayangi di tengah turunnya hujan. Petir menyambar-nyambar, dan di sela suaranya, saya akan berbisik lirih, “Saya sayang kalian.” Menghembuskan nafas terakhir, lalu mati. Bollywood sekali memang, tapi biarlah. Ini kan kematian saya.

Dan yang terutama, saya sangat terobsesi dengan bagaimana saya akan mati.

Selalu membayangkan kalau saya adalah seorang rocker dan mati kehabisan tenaga di saat konser terakhir. Meneriakkan bait terakhir, tersungkur lemas, lalu mati. Bagaimana para penonton akan meneriakkan nama saya dan pulang mendapatkan sebuah momen tuk dikenang.

“Roy Saputra mati dengan elegan dan memorable.”

Atau bisa juga, saya mati tertubruk mobil sedot tinja lalu masuk headline koran Lampu Kuning.

Anyway,

Semua itu membawa saya kepada kesimpulan ini:

Saya ingin nikah sebelum mati.
Saya ingin punya orang yang sayangi sehingga mereka akan memeluk erat saya ketika mati.
Saya ingin jadi orang yang elegan dan memorable.

Dan untuk kesimpulan-kesimpulan itulah, saya hidup hari ini.

* Gambar diambil dari sini. Terima kasih

Advertisements

Tagged: ,

4 thoughts on “Sebuah Catatan Kecil tentang Hidup Hari Ini

  1. bluerhey September 27, 2012 at 23:31 Reply

    DAMN.
    Ini berasa tamparan buat gua. Gua gak pernah sampai sedalam itu memikirkan kehidupan dan kematian. Mungkin karena umur gua yang masih cukup muda, masih labil, tapi bukan ababil. Gua selalu mikir mati (suicide) itu menyelesaikan segala masalah, tapi kalau dipikir ulang, bukan menyelesaikan, tapi melarikan diri dari masalah. Bukankah setelah mati kita akan menghadapi sesuatu yang lain lagi? *sorry OOT*

    seriously, I’m totally agree with your conclusion.

  2. vachzar September 28, 2012 at 13:56 Reply

    amsyoonng, saya juga kepikiran itu…
    every young man problem deh kayaknya XDD

  3. stevinesterlita March 23, 2013 at 20:27 Reply

    Dititik ini pun kau sudah elegan dan memorable kak roy ^^,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: