Big Applause for The Big Guy

Kalian pasti pernah kan suka sama sebuah lagu yang baru intro-nya diputer aja rasanya udah cocok banget? Gue sering. Salah satunya dengan lagu Made My Day-nya Dwika Putra.

Pertama kali denger lagu ini dari tautan soundcloud yang ditwit oleh salah seorang teman. And that was it. Gua tau gua bakal suka sama lagu ini sejak dari petikan di intronya.

Aransemennya akustik. Hanya petikan gitar kopong mengiringi suara Dwika yang cukup halus, tipis, dan jernih untuk ukuran pria sebesar dirinya. Tapi justru simple-nya aransemen lah yang bikin gua pengen dengerin berulang-ulang.

Tipikal lagu yang bisa lu maenin saat: lagi nelpon gebetan, bingung mau ngobrolin apa, di kamar ada gitar, lalu lu berkata, “Eh, tau lagu Made My Day? Apa? Ga tau? Mau gue nyanyiin?”. Iya, that kind of song. Simple, yet sweet kind of song. And hey, karena ini akustik dengan sebuah gitar, lu bisa nyanyiin ini di mana aja, buat siapa aja. Semacam lagu modus. Keren kan?

Dwika sendiri dikenal sebagai orang yang pandai bermain rhyme lewat akun Twitternya. Jadi, jangan heran kalo di lagu ini banyak ditemukan kata yang berbunyi serupa atau berima satu sama lainnya. Lirik lagunya sederhana, namun karena permainan rhyme ini lah yang membuat gua penasaran dengan kata apa yang bakal Dwika pakai sebagai teman kata sebelumnya. Menarik.

Intinya, gua suka lagu Made My Day.

Berbekal itu lah, saat Dwika mengumumkan sedang menjual album perdananya, gua bertekad untuk membeli satu. Setelah melakukan order yang mudah, sebuah paket sampai di rumah selang beberapa hari.

 

Voila!

Tale of a Name berisi 8 lagu yang semuanya disajikan dalam lirik bahasa Inggris dan format akustik. Sebuah gitar kopong dan sehelai pita suara Dwika bakal menemani pendengarnya di sepanjang 8 lagu. Membosankan? Ga tuh.

Di lagu Everlasting Valentine misalnya. Gua mencium aroma lagu country dari cara Dwika memenggal lirik dan genjrengan gitarnya.  Lewat Mr. Right, Dwika mengingatkan gua akan The Moffats di album pertama. Mr. Lady yang bernuansa sedikit funk menjadikannya sebagai lagu kedua favorit gua di album ini setelah Made My Day.

Hand to Hand, Untold Goodbye, One More Night, dan Nevermind menjadi nomor ballad yang mampu mengantar kita untuk mengiris nadi atau menenggak obat nyamuk. Nada-nada minornya bisa membuat gua yang lagi ceria jadi agak-agak gimana gitu. Kalau kata Aurel, gua jadi unmood.

Kalaupun gua boleh memberi masukan, ada beberapa lagu yang sebetulnya lebih asik jika dimainkan dalam format full band atau minimal dengan bass akustik dan cajon. Karena itu lah gua sangat menunggu album Dwika berikutnya yang mungkin bisa hadir dengan aransemen lebih variatif. Atau mungkin selembar suara alto perempuan bisa hadir sebagai pedamping.

Ada satu hal yang gua garisbawahi dari album Tale of a Name. Dwika merilis album secara indie di tengah mudahnya download gratis dan maraknya pembajakan. Di era ketika lebih banyak orang memilih untuk meng-cover lagu yang sudah ngetop, Dwika stand out dengan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Untuk melakukan semua itu dibutuhkan kematangan, keuletan, dan yang terutama, keberanian.

And I think we should give him a big applause for that.

A very big one.

Advertisements

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: