Maju Lu Kalo Berani!

Semalem (17/10), bus yang membawa gua pulang terhadang tawuran. Saat itu, bus melintas di jalan Dipenogoro, Salemba, yang memang langganan tawuran dua kampus. YAI dan UKI.

Awalnya, gua lagi duduk-duduk santai sambil dengerin lagu, sampai bapak-bapak di sebelah gua berdiri sambil ngeliat keluar jendela. Gua kira si bapak cuma pengen liat ini sudah sampe mana dan khawatir dia kelewatan. Tapi kok ya ga duduk-duduk lagi? Sempat mengendus ketiak sendiri, sebelum akhirnya gua memikirkan sebuah teori lain. Bahwa mungkin aja si Bapak ini insecure. Ga percaya si supir bakal berhenti di spot favoritnya.

“Pir, kok ga berhenti di spot biasa? Kamu udah lupa ya?”

“Tolong pahami. Aku sudah bukan yang dulu lagi.”

Tapi semua imajinasi dalam kepala terpatahkan saat gua melihat ke balik jendela. Di luar sana tampak belasan remaja sedang menyalurkan hormon adrenalin mereka dalam kegiatan yang salah.

Mereka lagi tawuran.

Batu-batu seliweran di udara. Pecahan beling cerai berai di aspal jalanan. Orang-orang mengenakan helm meski mereka ga naik motor, padahal mereka juga bukan Power Rangers. Beberapa anak muda menenteng bambu sepanjang 2 meter di saat mereka harusnya menenteng buku atau modul kuliah. Jalan Salemba jadi arena tarung. Lampu-lampu jalan memayungi dua kubu yang berperang entah demi apa.

Suasana chaos.

Suasana intens.

Suasana runyam.

Layaknya tawuran pada umumnya, dua kubu berdiri agak jauh. Hanya saling berani melempar benda dari jarak yang agak aman. Bus yang gua tumpangi baru saja berhasil melewati kubu yang berdiri di sebelah selatan. Itu pun si bus sampai jalan mepet-mepet trotoar, padahal si trotoar udah punya pacar. Masih aja dipepet terus.

Sekarang pe er si bus tinggal satu. Kubu yang berdiri di sebelah utara. Ada beberapa orang yang berdiri menghadang bus. Entah apa maunya. Mungkin ia mau menagih ongkos nonton, karena posisi bus gua sekarang udah kayak tribun VIP.

Bus jadi tertahan beberapa menit. Situasi masih ga terkendali. Belum ada petugas keamanan yang tampak siaga di sekitar TKP. Hanya ada remaja awal dua puluhan yang sedang berupaya mempersingkat hidupnya.

Batu-batu masih berterbangan di udara, dilempar oleh kubu lawan dan berharap dapat menghantam kepala sang musuh. Persis kayak burung yang sedang marah-marah dan terbang melintas demi bisa menghancurkan si babi hijau. Iya, pemandangan tawuran itu mirip games Angry Birds. Dua kubu yang tawuran itu pun mirip dengan tokoh-tokoh Angry Birds. Yang satu marah-marah, yang satu kayak babi. Padahal kita semua tau, ga ada yang menang di Angry Birds. Kandang si babi hancur dan ia meletus mati. Burung pun akhirnya mati konyol setelah sempat terguling-guling ga berdaya.

Ini hanya pertarungan sia-sia.

Beberapa batu terbang nyasar menubruk kaca jendela. Penumpang wanita mulai berteriak sambil menunduk di balik kursi. Penumpang pria sibuk menonton tawuran dengan seksama. Kaca jendela jadi seperti TV 42 inch yang menayangkan siaran langsung berita ala TvTwo. Bedanya, di sini ga ada reporter yang menanyakan, “Bagaimana perasaan Anda?” pada korban tawuran.

Teriakan-teriakan membawa nama binatang terdengar sayup-sayup. Harapan-harapan bernafaskan sakaratul maut juga mengudara. Tapi sejauh ini gua belum mendengar satu teriakan khas yang pasti terucap di setiap ajang tawuran.

“Maju lu kalo berani!”

Ah akhirnya. Teriakan itu datang dari seorang pria yang memakai helm dan memegang batu di tangan. Sebuah ironi karena ia sendiri meneriakkan kalimat itu sambil melempar batu lalu berlari mundur.

Supir bus gua menginjak-injak pedal gas secara acak. Berharap bunyi knalpot yang meraung dapat menakut-nakuti penghadang jalan. Akhirnya bus gua dikasih lewat oleh pemuda yang membawa bambu panjang… yang membuat gua berpikir, “Gimana cara dia bawa bambu ke kampus tanpa ketauan ya? Apa dia ikut ekskul lembar lembing kah? Atau dia punya bisnis klub striptease portable?”

Lupakan sejenak soal bambu. Bus gua akhirnya berhasil melewati jalan Dipenogoro dan belok ke arah Kramat Raya. Para penumpang menghembuskan napas lega. Sebagian lewat hidung, sebagian lewat pantat. Di sepanjang perjalanan sisa, ada satu hal yang tiba-tiba kepikiran di kepala.

Maju lu kalo berani?

Sepertinya ada yang salah dengan teriakan khas tawuran itu. Karena menurut gua, bukan yang maju di tawuran yang layak disebut berani. Mereka yang mundur, menolak untuk ikut tawuran, dan memilih untuk belajar dengan giat itu lah para pemberani sesungguhnya.

Karena seberani-beraninya para pemburu adrenalin, lebih berani mereka yang mau menjalani hidup ini dengan penuh tanggung jawab.

Begitu dong kalo berani.

Advertisements

Tagged: , , ,

4 thoughts on “Maju Lu Kalo Berani!

  1. Diana bochiel October 18, 2012 at 09:53 Reply

    Hmmm belom kapok2 udah ada yg mati juga, trs menang mana bang semalem? Yang bawa Bambu runcing hahaa niat abis..

    • roy saputra October 18, 2012 at 09:58 Reply

      siapapun yang menang, pada dasarnya mereka kalah.

  2. stevinesterlita March 22, 2013 at 15:35 Reply

    I love your story ><. Awesome!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: