Have Fun

Depok, beberapa bulan yang lalu.

“Mari kita sambut… band angkatan 2003!”

Lalu majulah kita berempat: gua (cajon), Sakai (vokal), Yosua (bass), dan Surip (gitar). Bukan, itu bukan Mbah Surip yang tak-gendong-ke-mana-mana. Emang namanya aja gitu. Dulu dia ngakunya pernah punya band bernama Empati dan udah rilis album di mana-mana. Coba menjadi teman yang baik, pergilah gua ke sebuah toko CD dan bertanya,

“Mbak, ada Empati?”

“Maaf, Mas. Di sini ga jual pulsa.”

…nasib ya nasib.

Di Depok malam itu, lagi ada acara pelepasan sarjana baru. Semacam prom night namun ini versi sederhananya. Ga ada gaun atau jas. Hanya ada mahasiswa-mahasiswa berkaos lusuh dan panggung untuk bermusik.

Panggungnya terbilang cukup megah untuk ukuran acara swasembada anak Teknik UI. Terbiasa dengan panggung untuk nanggap artis dangdut ibukota, gua agak kaget waktu ngeliat panggung sekelas festival musik. Alat musiknya pun lengkap. Tapi malam itu kita sepakat untuk tampil beda dengan membawakan lagu-lagu secara akustik.

Begitu sampai di atas panggung, Sakai langsung membuka dengan perkenalan. Kenapa perlu dikenalkan? Karena ini adalah acara angkatan 2008. Itu artinya berselisih 5 tahun dengan kita.  Yang artinya lagi mereka ga kenal kita secara akademis.

Kita orang asing malam itu.

Untuk penampilan malam ini, gua dan 3 orang teman itu udah latian. Berapa kali? Ya cukup sekali dong ah. Bukan karena jago, tapi karena lupa aja tanggal manggungnya. Dikiranya masih minggu depannya lagi, eh taunya udah mesti naik malam itu juga. Keren ya? Memang, kadang keren ama bego itu beda tipis.

Rencananya, kita bakal bawain 4 set lagu. Selesai perkenalan oleh Sakai, kita langsung masuk ke set lagu pertama. Kenapa disebut set lagu? Karena ada selipan lagu lain di antaranya. Set pertama adalah lagu Adera yang berjudul Lebih Indah.

Dan kau hadir mengubah segalanya, menjadi lebih indah
Kau bawah cintaku setinggi angkasa membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu, selama-lamanya. Kaulah yang terakhir untukku

Dan langsung disambung dengan:

Since you came into my life, I need you so bad, I need you so bad, I need you so so so bad.
Hey I just met you and this is crazy, but here’s my number so call me maybe

Yup, itu Call Me Maybe-nya Carly Rae Jensen! Sontak, penonton tergelak dan tepuk tangan terdengar riuh rendah. Gua, Yosua, dan Surip sempet saling liat-liatan, ketawa, dan geleng-geleng. Transisi antar lagunya ngaco banget. Lah wong baru latian sekali!

Selesai dengan set pertama, kita langsung lanjut ke set kedua. Kali ini penonton pasti sudah berekspektasi bahwa akan ada selipan lagu setema, atau liriknya berkaitan. Tapi kita ada rencana lain.

Set kedua dimulai dengan lagu Viva La Vida-nya Coldplay. Selesai chorus 1, masuk reft, masih belom ada tanda-tanda transisi lagu. Sampai Sakai mulai ber-ooo seperti halnya Chris Martin di lagu itu.

O wowo wowooo… O wowo wowooo…

Tiba-tiba disambung dengan… ooo-nya Iwak Peyek!

O wowowo o wowowo… Iwak peyek, iwak peyek sego tiwul…

Kebayang ga? Kebayang? Ga ya? Ga? Ya udah lah ya. Lanjut!

Kali ini penonton ga cuma terkekeh, tapi suara tawa setengah ngakak terdengar lumayan jelas dari atas panggung. Kali ini gua, Yosua, dan Surip saling liat-liatan, ketawa, dan ngangguk-ngangguk. Transisinya bersih, Bos!

Di-set ketiga kita ga lagi menyelipkan lagu lain. Sepotong lagi Ya Aku (J Rocks) dibawakan dengan versi (sok) bosanova dengan kemampuan tukang cassava alias tukang singkong. Tujuannya sih untuk meredakan urat sebelum kita masuk ke lagu terakhir. Karena lagu terakhir ada ceritanya sendiri.

Lagu terakhir ini adalah sebuah lagu yang sudah kita mainkan sejak tahun 2007. Di setiap acara Teknik Industri UI, lagu ini pasti kita bawakan sebagai penutup dan udah menjadi ciri band angkatan 2003. Saking menjadi ciri, pernah sekali acara kita ga bawain lagu ini, akhirnya malah ditanyain, “Kok tumben?”

Lagu itu berjudul Jadikan Aku yang Kedua (Astrid). Di tahun kelimanya, lagu itu kembali berkumandang. Baru masuk intronya aja, orang-orang udah pada ketawa dan memutuskan untuk maju dan berjoget. Kenapa ketawa? Karena kemampuan bandnya sekelas kemampuan bernyanyi Giant.

Kita berempat turun panggung dengan iringan tepuk tangan dan gelak tawa perut sendiri. Penampilan tadi adalah bukti bahwa ngaconya kita tetap konsisten dari tahun 2007. Bahwa jumlah manggung tidak berbanding lurus dengan perbaikan. Bahwa kita tak begitu peduli dengan tepuk tangan penonton.

Ternyata yang kita cari dalam bermusik itu adalah kesenangan di antara kita.

Kita tidak mencari penonton. Tidak mencari animo. Kita orang asing malam itu.

Kita hanya ingin bersenang-senang.

Dance like nobody watching, sing like nobody listening, twit like nobody following.

Have fun.

:D

Advertisements

Tagged: ,

4 thoughts on “Have Fun

  1. Kevin Anggara November 19, 2013 at 21:50 Reply

    Quote terakhirnya keren dan nampol :))

  2. acentris November 21, 2013 at 12:55 Reply

    Postingan ini nih yang bikin gue ngefans sama lu bang :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: