#1DayInBangkok: Patpong!

Beberapa minggu lalu, gua berkesempatan untuk traveling ke Bangkok dalam rangka outing kantor. Sampai Bangkok di Jumat siang dan pulang ke Jakarta Minggu pagi. Itu artinya gua hanya punya waktu bersih 1 hari di sana. Travelingnya agak wara-wiri dan melelahkan karena ya durasinya cuman 1 hari tapi mau ke mana-mana. Untuk kali ini, gua pengen cerita tentang satu tempat di Bangkok yang sangat khas.

Tempat itu bernama: Patpong!

patpong

Gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Patpong adalah sebuah red district area, di mana seks dan prostisusi dijajakan secara terbuka. Banyak bar dan club yang terang-terangan mempertontonkan kemolekan badan wanita… meski kadang ga tau juga ini wanita beneran atau jadi-jadian. Ini Bangkok, Bung!

Nama Patpong sendiri berasal dari nama keluarga asal Cina yang memiliki sebagian besar property di sana. Mungkin dulunya si engko cina ini punya perusahaan konstruksi bernama Patpong Sedayu Grup dan mulai berekspansi. Lalu setiap hari Minggu ada enci-enci cina masuk tivi yang bilang, “Senin harga naik! …haiya.”

Untuk mencapai Patpong, gua naik taksi bareng 3 rekan kantor. Setelah menyebutkan bahwa tujuan kita adalah Patpong, supir taksi langsung menawarkan beberapa macam club yang ia tau dengan bahasa setengah Inggris, setengah lagi entah apa.

“Wat du yu wan? Masaj hah? Masaj?” tanya si supir menawarkan pijat, sepertinya. Gua dan 3 orang rekan geleng-geleng sambil senyum.

Si supir lalu menunjuk sebuah club di pinggir jalan, “Oferder, yu ken masaj…”

Kita masih mendengarkan.

…shower…

Wah, ada features baru nih? Abis mijet bisa mandi gitu?

…and then…

Kita menyimak.

“…BUM BUM!” kata si supir sambil memperagakan gerakan anonoh dengan kedua tangannya. Kita berempat sontak ngakak. Nanti kalo gua udah punya anak dan lagi main ke Dufan, akan terjadi sebuah momen seperti ini.

“Pa, aku mau main,” tanya anak gua nantinya.

“Main apa?”

“Bum bum car!”

“Waduh, Nak! Pake pijet dan shower dulu ga?”

The driver has given Bum Bum a different new meaning!

Di sepanjang perjalanan menuju Patpong kata bum bum terus berulang dan ditanggapi dengan tawa yang sama dari kita berempat… sampai akhirnya bosen sendiri.

Bum bum there!

Kita cuman diem. Si supir jadi bingung kenapa kita diem.

Sir, bum bum, sir?

Kita masih diem. Terus si supir malah ngoceh-ngoceh dalam bahasa Thai yang mungkin bisa gua artikan seperti ini: Kok kamu tiba-tiba mendingin gini? Kenapa? Jujur sama aku! Coba aku cek Direct Message Twitter kamu! Sini, aku mau liat! Apa, ga boleh? Ih, kapok deh pacaran sama anak Twitter!

Drama, drama, drama.

Sesampainya di Patpong, kita berempat langsung menuju ke sebuah jalan yang katanya menjadi pusat area Patpong. Di tengah-tengah dari jalan itu ada stand berjualan macem-macem. Mulai dari dompet, tas, kaos, sampai oleh-oleh kecil. Sementara di pinggir-pinggir berjejer bar dan club dengan pintu yang sedikit terbuka. Dari luar, bisa gua liat ada panggung tempat para wanita meliuk-liukkan badan di sebilah tiang.

Sebetulnya, kalo diliat-liat ini area yang cocok untuk hiburan keluarga. Kepuasan berbelanja istri dan kepuasan mata suami dapat dipenuhi di satu tempat. Semua kebutuhan jadi satu. Praktis! Ini pasti mahakarya Agung Sedayu Grup deh! Pasti!

Di depan setiap bar, ada mas-mas yang suka ngejegat kita dan bilang, “Sore, Kak. Ada waktunya? 2 menit aja kok. Kita ga jualan”… eh bukan deng. Mas-mas tadi nawarin sebuah pertunjukkan yang bernama Ping Pong Show dengan bahasa setengah Inggris, setengah lagi entah apa.

“Ping pong cho?” Begitu tanya si Mas-mas.

Karena penasaran, gua pun bertanya balik, “What is that? Ping Pong Show?

“Yes yes. Ping pong cho. Ping pong …” tangannya membentuk bola seukuran bola ping pong lalu di arahkan ke selangkangannya dan kemudian, “Cho!” …digoyang-goyang!

FAK.

Kalo dari gerakannya, gua mengartikan bahwa akan ada 2 wanita yang main pingpong menggunakan alat genitalnya. Horor. Super horror! Bagi gua, fungsi alat genital wanita itu ya untuk kegiatan penetrasi, fertilisasi, dan reproduksi. Udah lah jangan dibuat macem-macem.

Setau gua, selain ping pong cho ada lagi yang namanya Tiger Show di Thailand. Di Tiger Show ini, alat genital perempuan dipergunakan untuk atraksi yang lebih variatif. Bisa ngerokok, buka tutup bir, dan main panahan. Buset! Gua pake tangan aja kagak bisa tuh yang namanya panahan. Lah ini… Buset deh buset.

Apalagi buat ngerokok dan buka botol bir. Kebayang ga kalo ada 2-3 alat genital melakukan kedua atraksi itu bareng-bareng? Itu udah kayak 2-3 orang brewokan lagi ngobrol di seven eleven dengan botol bir di tangan! Horor!

Dengan sopan gua menolak. Tapi sialnya, di sepanjang jalan itu banyak banget mas-mas yang nawarin pingpong cho. Mas-mas yang nawarin ping pong cho udah kayak polisi tidur di jalanan padat penduduk Jakarta. Ada di setiap 2 meter!

Saking capeknya nolak, di kepala gua sampe muncul beberapa ide bagaimana menolak ping pong cho. Nah ini beberapa di antaranya:

1.

“Ping pong cho?”

“Maaf saya lebih suka Muhadkly Acho.”

2.

“Ping pong cho?”

“Kalo sepak takraw cho, ada?

3.

“Ping pong cho?”

“Saya tidak ada waktu untuk ping pong cho. Kamu punya mimpi?”

4.

“Ping pong cho?”

*pura-pura mati*

Fak lah pokoknya. Fak.

Jam udah menunjukkan pukul 12 malam. Gua dan beberapa teman udah tepar dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Kunjungan kenegaraan ke Patpong ini sungguh membuka mata dan menyentil hati gua sejenak.

Sudah seyogyanya gua kurangi waktu untuk mengeluh. Jangan benci hari Senin yang terlampau padat akan meeting atau janji dengan klien. Karena masih ada orang-orang di luar sana yang bekerja tanpa tau ini hari apa.

Sudah selayaknya gua untuk terus bersyukur karena hanya otak gua yang tereksploitasi 5 hari dalam seminggu. Dan orang di luar sana patut bersyukur bahwa gua ga perlu mempertontonkan pinggang dan paha dalam bekerja. Atau malah mempergunakan alat genital gua untuk melakukan atraksi. Entah atraksi apa. Lompat galah, mungkin.

Di ujung jalan, saat kaki sudah menginjak batas jalan Patpong, ada 1 mas-mas yang kembali menghampiri.

“Ping pong cho?”

Kita sudah malas menanggapi sampai si mas-mas melanjutkan, “…this is different. You can masaj, shower…

Ah, we all know how this sentence gonna end, don’t we?

…and then…

“BUM BUM!”

Advertisements

Tagged: , , , ,

4 thoughts on “#1DayInBangkok: Patpong!

  1. fadhian luswandani (@fadhianfafa) November 14, 2012 at 11:55 Reply

    kunjungan selanjutnya, #PingPongCho wajib dicoba. jadi kita tau, berapa banyak bola ping pong yang bisa dimainin setiap wanita yang ada di sana. haha :))

  2. chienov November 19, 2012 at 14:04 Reply

    “The driver has given Bum Bum a different new meaning!”

    Mau ngomong gini sama pacar kelak –> I want to Bum Bum you!

  3. stevinesterlita March 22, 2013 at 14:30 Reply

    Terimakasih untuk kesimpulannya :D
    Yes, i’m blessed. Gbu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: