Aaaaa!

Kata orang, waktu harus bisa digunakan dengan baik. Kata orang, setiap detiknya begitu berharga dan harus dimanfaatkan dengan optimal. Kasian ya waktu, sering dimanfaatkan. Maka ga heran, kalau waktu sering meninggalkan kita.

Dan demi waktu yang terus berlari, gue pun duduk di sini. Di atas kursi yang akan membawa gue melayang puluhan meter di atas tanah. Demi sebuah pengalaman dalam hidup. Demi sebuah cerita untuk anak cucu.

“Sudah siap?” kata operator via speaker-speaker di sekeliling wahana.

Dalam hati ingin bilang “belum” dan kalau bisa ingin makan pecel dulu satu porsi. Tapi pengaman sudah terkunci. Sendal sudah dilepas. Pantat sudah melekat. Tinggal menunggu waktu peluncuran.

Inilah yang seru –tapi juga rese– dari wahana ini. Kita ga akan pernah tau kapan kita akan lepas landas.

Kita hanya bisa menunggu.

Menunggu operator untuk menekan tombol. Seakan-akan kita adalah astronot pengebor dalam film Armagedon. Kita sedang menanti waktu peluncuran menuju meteorit yang akan menabrak bumi.

Well, mungkin itu terlalu keren. Kita lebih mirip abege yang sedang digantung cinta oleh pasangannya. Penuh harap tapi tanpa kejelasan. Sialnya, kali ini gue beneran digantung. Kaki ga menginjak tanah, menendang-nendang udara, seakan itu berarti banyak.

Jantung berdetak lebih kencang. Semua cairan terproduksi lebih banyak dari biasanya. Darah terpompa lebih kuat. Keringat mengucur lebih deras. Air seni ingin keluar lebih sering. Sperma ga ikutan, lagi ga enak badan katanya.

Semua perasaan campur aduk. Takut, gelisah, khawatir, dan perasaan-perasaan lain yang mirip ketika kita akan menyatakan cinta pada anak tentara.

Takut ga selamat, khawatir ga mendarat, gelisah karena belum tobat.

Sesekali gue melihat ke atas, ke pucuk dari wahana ini. Ke tempat dimana kursi yang gue dudukin ini seharusnya berhenti. Semoga berhenti. Berhenti kan, Mas Operator? Kan? Karena jika ga berhenti, hanya Tuhan yang tau gue akan mendarat dimana. Timbuktu mungkin?

Untungnya matahari sudah bersinar malu-malu. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Penantian lepas landas pun ga terganggu dengan terik dan bau keringat dari orang berbulu rimbun di sebelah gue.

Oh, hello, meet my friend: waxing!

Anyway, wahana ini terdiri dari dua menara. Dan baru saja, menara sebelah gue sudah diterbangkan oleh operator. Teriakan-teriakan langsung membahana, di sini-sana.

“Kyaaaaaaaaa!” Entah takut, atau di atas sana dia melihat boyband Korea.

“Mamaaaaa!” teriak seorang pria, yang dengan kontrasnya, berbadan besar dan berkumis melintir setebal golok.

“Lalalala! Yeyeyeye!” That yell sounds so familiar….

Sementara, menara kami masih menunggu.

Jantung gue makin berdegup, coba menerka kapan gue akan diluncurkan.Mencoba santai, mata gue tertuju pada kursi menara sebelah yang mulai terayun-ay….

“Aaaaaaaaaaaa!” teriak gue dengan kencang ketika kursi menara ini akhirnya melesat ke udara.

Sial. Operator memencet tombol ketika gue lengah. Sayup-sayup terdengar suaranya dari balik speaker, “Mana suaranya?”

Semua pun dengan kompak teriak, “Aaaaa!”

Ini adalah kali pertama wahana ini dibuka. Kali pertama gue duduk di atas kursi yang melesat vertikal, puluhan meter tingginya. Hysteria. Begitu manajemen Dunia Fantasi menamakan wahana ini. Sepakat, Pak. Wahana ini berhasil membuat mayoritas penumpangnya berteriak histeris.

“Aaaaaaa!”

“Mana suaranya?”

“Aaaaaaaaa!”

“Mana suaranya?”

“AAAAAAAAAAAA!”

Hysteria

Sekali lagi dia bilang ‘mana suaranya’, maka akan susah sekali membedakan dia dengan vokalis band yang sedang manggung off air.

Ketika sampai di titik teratas, kursi dihentikan. Mendadak. Pundak menabrak batas pengaman. Seruan ‘aduh’ terdengar pelan dari kursi-kursi sebelah. Yang berpasangan, meremas tangan sebelahnya. Yang jomblo, meremas wajah mupengnya.

Di tempat setinggi ini, kita dipaksa untuk melakukan hal yang tadi sudah dilakukan di bawah.

Menunggu.

Menunggu kapan kursi akan dilepas, jatuh dari ketinggian yang membuat Tom Cruise dan Ki Joko Bodo terlihat sama saja dari sini.

Gue takut ketinggian. Tapi gue juga meyakini bahwa selain rasa takut, ketinggian juga menawarkan hal yang lain. Panorama.

Panorama dari pucuk menara ini keren banget. Laut bergerak tenang. Langit sore berwarna jingga. Di ujung cakrawala, mereka bercumbu, membentuk satu garis lurus dengan perpaduan warna yang ga santai. Keren banget.

Matahari sudah sedikit condong ke laut, menyinarkan warna jingga ke aspal yang sedikit berpasir. Sebuah pemandangan yang mirip dengan opening scene film Baywatch. Hanya saja ga ada David Hasselhoff yang berlari dengan celana pendek SD.

Di atas sini hening. Menambah syahdunya panorama yang tersaji di mata orang-orang yang sedang menunggu untuk dijatuhkan.

Kita ga akan pernah tau kemana waktu akan berlari membawa kita pergi. Tapi ketika waktu diam dan mengharuskan kita menunggu, terkadang ia mengajak kita untuk menikmati sesuatu. Seakan-akan, waktu berkata, “Tuh kan.”

Coret-coretan tangan Tuhan yang ada di depan mata gue ini benar-benar wajib untuk dinikmati. Atau, kalau boleh meminjam istilah Syahrini, panorama ini cetar membahana.

Sambil menikmati, kaki gue kembali berayun-ayun. Kali ini di ketinggian yang berkali-kali lipat dari ayunan kaki yang terakhir. Gue masih menunggu.

Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kencang lewat mulut, cukup berhasil untuk membuat rasa khawatir akan ketinggian sedikit berkurang. Tarik, hembus, tarik, hembus, tarik, hem…

Masih inget kan kenapa gue bilang wahana ini rese? Tiba-tiba saja kursi yang gue dudukin ini, melesat turun dengan kecepatan yang membuat semua penumpang teriak lebih kencang dari saat naik.

“AAAAAAAA!”

“WAAAAAAAA!”

Kaget. Tenggorokan pun dieksploitasi. Rahang dibuka selebar mungkin. Mata ingin terpejam, tapi rasanya sayang melewatkan apa yang bisa dilihat dari kursi yang sedang meluncur turun ini. Memejamkan mata hanya akan membuat dirimu ditertawakan oleh waktu.

Semua berlomba-lomba teriak. Beberapa ada yang berkata kasar berwujud binatang. Tapi ga semua kasar kok.

“Tapir Koreaaaaaa!”

Yang jadi pertanyaan gue adalah, emang ada gitu tapir di Korea? Sipit kah matanya? Trendikah corak kulitnya? Jika berkumpul 5-6 orang, bernyanyi sambil joget kah mereka?

Semua pertanyaan itu buyar ketika kursi ini sampai di titik semula. Tapi hanya untuk sementara, karena kursi kembali diangkat sedikit, lalu diturunkan lagi. Bergoyang naik turun. Isi perut seakan dikocok. Jika makan obat batuk namun lupa mengocoknya, naiklah wahana ini. Problem solved.

Gue kembali menunggu. Kali ini, gue menunggu wahana ini untuk berhenti. Orang-orang tertawa melihat ekspresi kami ketika kursi naik turun. Ada yang masih menjerit, ada yang sudah mulai bosan, atau malah ada yang sedang prospek MLM ke kursi sebelahnya.

“Bos, mau jadi downline ga, Bos? Bos?”

Mereka menyaksikan ekspresi kami. Sebaliknya, gue juga sedang menonton ekspresi mereka. Para penonton yang seperti menertawakan namun juga memberi salut kepada kami yang baru saja dilesatkan puluhan meter. Memberi apresiasi atas keberanian untuk sedikit pengalaman hidup.

Setelah kocokan yang kesekian, akhirnya kursi gue berhenti. Dengan cepat gue membuka pengaman, memakai sendal untuk turun, dan mengklaim diri sebagai salah satu dari orang-orang yang pertama kali naik Hysteria. Ini akan gue simpan, sebagai cerita untuk anak cucu.

Di luar, seorang teman sudah menanti. Ia menunggu cerita gue.

“Gimana rasanya?” tanyanya penasaran.

“Hm, kasi tau ga ya…”

“…”

“Kenapa lo ga naik sendiri aja?”

“Takut ah,” kata dia. Gue hanya membalasnya dengan senyuman untuk menyudahi sesi obrolan sore itu.

Kata orang, waktu harus dimanfaatkan dengan baik karena ia terus berlari. Ia tak kan menunggu. Percaya deh. Ia akan terus berlari sambil menertawakan orang-orang yang memejamkan mata melewatkan kesempatan.

Sayangnya, beberapa orang terlalu takut untuk berlomba lari dengan sang waktu.

Ambillah setiap kesempatan baik yang waktu berikan. Jatuh cintalah pada waktu yang tepat. Bongkarlah rutinitas harian. Naiklah ke wahana paling ekstrim. Pergilah ke pantai terjauh Cobalah makanan today’s special dari tempat yang belum pernah didatangi. Berkeliling dunialah.

Because life is for those who dare to take chances.

Jadi, tunggu apa lagi?

Sebuah tulisan yang dibuat untuk kumpulan cerita tentang ‘menunggu’ yang digagas oleh Adyta Dhea Purbaya sekitar akhir tahun lalu.

Gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Advertisements

Tagged: , ,

2 thoughts on “Aaaaa!

  1. Etta November 25, 2012 at 20:47 Reply

    postingan ini bikin hati gw tergerak untuk belajar kalkulus…. entah kenapa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: