Crossroads

Persimpangan.

Setiap traveler pasti pernah menemuinya di dalam sebuah perjalanan. Kadang bingung, kadang bertanya sekitar, kadang tanpa ragu mengambil langkah ke belokan tertentu. Yang biasa gua lakukan adalah membuka peta, mengingat kembali ke mana tujuan gua mula-mula.

Saat ini, bertepatan dengan 6 bulan setelah Trave(love)ing rilis, gua sedang berada di persimpangan jalan.

Where do we go after Trave(love)ing?

Seperti halnya Doroymon, Trave(love)ing selalu punya tempat tersendiri buat gua karena ini berdasarkan pengalaman nyata. Ini jurnal pribadi yang dikemas sedemikian rupa sehingga semangatnya bisa sampai dengan baik ke teman-teman semua.

Ah, iya. Semangat.

Akhirnya, di sebuah sore ketika Jakarta hujan, gua melakukan yang biasa gua lakukan ketika dihadapkan dengan sebuah persimpangan.

Membuka peta dan bertanya “Apa sih semangat mula-mula yang ingin gua tuju?”

Dari balik jendela, saat rintik hujan berlomba turun, dan di kilatan petir yang kesekian, gua teringat. Bahwa semangat awal Trave(love)ing adalah mengajak semua yang patah hati untuk berangkat. Beranjak dari posisi terpuruk mereka. Agar mereka tersadar bahwa masih banyak orang patah hati di luar sana, jadi jangan berkecil hati dan merasa sendiri. Jika kami berempat saja akhirnya bisa move on, kenapa kamu ga bisa?

Ikuti cara move on kami jika memang harus. Pergi ke gedung tertinggi dunia, mengejar kuil fajar, bermain arum jeram, atau menyaksikan tim sepakbola kesayangan. Atau ambil saja hikmahnya. Bahwa move on bisa terjadi di mana saja. Mungkin di Dubai, Bangkok, Bali, Kuala Lumpur… atau bisa saja di kamar kost-mu. Di saat tangan mendekap bantal, saat itu lah kamu bisa bulat memutuskan,

“Aku sudah melupakanmu”

Gua ingin merasakan kembali semangat itu. Semangat berbagi pengalaman pribadi yang dibungkus ke dalam sebuah catatan perjalanan. Diawali dengan ngobrol dengan teman-teman penulis Trave(love)ing, rekan-rekan diskusi, para pembaca awal, dan melakukan puasa selama 4… jam setiap harinya (lah?), akhirnya gua membuat keputusan.

Sebuah keputusan yang berjudul Trave(love)ing 2.

Iya, gua dan teman-teman akan membuat jilid kedua dari Trave(love)ing.

Awalnya sempat bingung, kira-kira bosan ga ya kalo yang nulis kami berempat lagi. Setelah diskusi santai namun berbobot; akhirnya gua, Dendi, Mia, dan Grahita memutuskan bahwa semuanya harus serba baru. Termasuk penulis-penulisnya. Sama seperti saat buku pertama di mana mayoritas penulisnya melakukan debut di sini, Trave(love)ing 2 akan jadi ajang debut beberapa penulis baru yang berbakat.

Gua bertugas mencari bibit-bibit baru itu dan mensupervisi selama proses penulisan Trave(love)ing 2 nantinya. Doakan saja agar nantinya semua berjalan lancar dan dapat diterbitkan lagi oleh Gradien.

I can tell you that it’s going to be fun. Super fun.

Selain line up penulis baru, tema dan kota destinasinya pun pasti akan baru.

Nah, kamu ada usul? Kira-kira kota mana ya yang bisa bikin pembaca ngiler?

* Gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Advertisements

Tagged: ,

8 thoughts on “Crossroads

  1. Acen November 26, 2012 at 16:22 Reply

    Halo, mau numpang ngasi ide. Mehehe. Karena gw melabelkan diri gw adalah seorang pendaki (meskipun gw hepi juga jalan kemanapun), apa bisa di trave(love)ing 2 ini mengunjungi gunung. Sebut saja Rinjani. Siapa yang gak ngiler bisa ngeliat Segara Anakan Rinjani? Gunung Baru Rinjani? Plus air terjun dan segala pantai, laut, pulau yang ada di sekitarnya. The famous Gilis, misalnya. Bule aja ngiler. Hehe.

    @acentris ^^

    • roy saputra November 26, 2012 at 16:25 Reply

      Wuoo, ide yang sangat menarik! Anak alam banget. Thank you ya! :D

  2. Widiasti November 26, 2012 at 16:36 Reply

    Ka Roy, karena visi awalnya adalah tentang hati patah kaki melangkah, berarti trave(love)ing 2 masih harus tentang patah hati ya ? destinasinya sih mungkin di sekita indonesia juga biar sekalian promosi indonesia, siapa tau bule-bule pada baca buku ini dan buku ini bisa di terjemahin ke berbagai bahasa negara. aamiin. Atau mungkin destinasinya daerah-daerah eropa sana yang katanya romantis-romantis. *bukalapaknunggutrave(love)ing2

    • roy saputra November 26, 2012 at 16:44 Reply

      karena ingin serba baru, yang kedua kayaknya bukan tentang patah hati lagi. tapi usul daerah lokal ditampung. amin, mudah-mudahan bisa kayak Agnes Monica. go international! (‘-‘)9

      thank you ya!

  3. maretha November 29, 2012 at 16:14 Reply

    Waw,, mau ganti tema? Ketemu jodoh pas travelling gitu?
    Destinasi di sepitaran Indonesia tetep harus ada, Bang. Mengingat kita harus cinta dengan negeri sendiri. Ditambahi destinasi luar negeri bikin makin menarik.
    Moga-moga bisa ikutan nyumbang tulisan di trave(love)ing 2. Amin x))
    Salam kenal, Bang Roy.

  4. Bruno November 30, 2012 at 04:46 Reply

    I like the picture :) Although, I didn’t understand a single word :)

    • roy saputra November 30, 2012 at 09:01 Reply

      Thank you. It’s not mine though. There’s a link at the end of my post to refer it to the original pic :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: