Wawancaur: Trave(love)ing

Masih terkait dengan post sebelumnya dan dalam rangka menunggu hasil pencarian bibit-bibit baru penulis Trave(love)ing 2, maka gua akan mewawancarai para penulis Trav(love)ing jilid pertama. Karena wawancaranya awur-awuran, maka kita sebut aja prosesi ini dengan nama wawancaur. Gua di sini akan berperan sebagai wartawan dari majalah papan atas, sebut saja majalah Populor. Sementara Dendi, Grahita, dan Mia akan berperan sebagai dirinya sendiri.

Proses wawancaur ini benar-benar dilakukan via grup WhatsApp. Saat wawancaur ini dilakukan, Roy (R) sedang menunggu macet terurai seperti yang dijanjikan Foke dahulu kala, Dendi (D) masih di kantor bekerja bersama setan nona Belanda, Grahita (G) lagi di perjalanan pulang bertemu kucing-kucing peliharannya, dan Mia (M) sedang makan bersama ehem-ehem. Untuk mempermudah ngata-ngatain Mia ke depannya, kita sebut saja ehem-ehem itu sebagai koper.

Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar di bawah diambil dari sini. Terima kasih, Dani.

traveloveing

R: Hai, hai. Kita langsung mulai aja ya wawancaur-nya. Cerita dikit dong, gimana awal mula Trave(love)ing ini?

G: Awalnya kita berempat suka main #rhyme di Twitter. Thanks to that hashtag, kita jadi kenal satu sama lain. Terus suatu hari, Mia ngepost semacam note perjalanannya ke Dubai. Dendi jauh hari sebelumnya pernah membuat kisah The Nekad Traveler. Berawal dari sanalah, Roy kayaknya tiba-tiba kerasukan arwah ide. Dia menghubungi kami bertiga dan… voila! Jadi deh.

R: Oh jadi ini berawal dari main Twitter ya. Selain mempertemukan kalian, peran Twitter apa lagi di buku Trave(love)ing ini?

D: Peran Twitter besar banget, karena kami berempat itu #TwitterOD. Semua promosi kebanyakan dilakuin lewat Twitter.

M: Berperan banget terutama untuk mengakrabkan kami berempat.

R: Kembali ke Trave(love)ing. Tokohnya kan menggunakan nama-nama asli tuh. Apakah ceritanya asli juga?

D: Kami lebih sreg menyebutnya novel yang inspired by true story. Karena untuk kepentingan buku, ga semuanya benar-benar terjadi. Ya karena ini memang bukan personal literature.

G: Mia, mana Mia…

R: Bedanya antara based on sama inspired by apa sih?

M: Gue lagi makan sama salah satu tokoh di buku Trave(love)ing. Maaf ya.

D: Bedanya kalo based on itu bener-bener kejadian kemudian diceritakan ulang dengan sangat persis. Kalo inspired by cerita yang terjadi bisa saja agak berbeda dengan yang ditulis tapi tanpa mengurangi esensi ceritanya. Ini sih in my sotoy opinion.

R: Apa kalian ga merasa risih menceritakan pengalaman pribadi ke publik?

G: Awalnya sih cuek-cuek aja, tapi lama-lama risih juga kalo orang-orang mulai kepo ini itu.

D: Gue sih lebih risih kalo disuruh pake rok mini di pinggir jalan.

M: Asik-asik aja.

R: Memang pembaca pada kepo? Bagian yang mana?

G: Nah kan, yang nanya aja kepo. Hahaha!

R: Oh iya ya. Saya aja kepo.

D: Kalo gue dikepoin soal kelanjutan kisah gue dan Riani (salah satu tokoh di dalam buku).

M: Mr. Kopi, Mr. Kopi!

R: Selain dikepoin, apa sih impact ke pribadi kalian setelah menulis Trave(love)ing?

M: Saya berantem.

R: Singkat, padat, jelas. Ga bisa panjangin dikit gitu jawabannya?

M: Hahaha. Lagi makan.

G: Impact-nya jadi makin rajin nulis dan nambah banyak temen!

D: Efeknya makin banyak temen, khususnya yang sama-sama hobi nulis.

M: Eh, gue ga bisa lanjut nih. Maaf ya. Mau nonton dulu.

D: Ngerti, Mi, ngerti. Mau nonton sama koper.

R: Ya sudah, kita biarkan Mia nonton dengan koper. Lanjut. Trave(love)ing adalah novel perdana kalian. Apa aja sih suka duka nulis novel perdana?

D: Dukanya itu belum terbiasa dengan time management buat nulis. Jadi harus pinter-pinter bagi waktu antara kerjaan dan deadline. Terus ga yakin juga gimana tanggapan pasar nantinya. Kalo sukanya ya akhirnya bisa bikin buku walaupun rame-rame.

G: Sukanya tentu karena excited banget ini novel perdana. Suatu hal yang ga kepikiran sih sebenernya untuk jadi penulis. Dukanya apa ya? Hmmm. Belum terbiasa menulis dengan rapih sih kayaknya. Diksi juga masih terbatas. Dan sama kayak Dendi, deadline juga jadi salah satu hambatan. Soalnya lagi sibuk-sibuknya tuh pas nyiapin Trave(love)ing.

D: Nambah lagi. Dukanya, nulis lagi patah hati itu berat. Apalagi harus menulis ulang kisah yang ingin kita lupa.

M: Oh, ingin lupa, Den?

D: Eh, kok balik lagi sih? Katanya mau nonton?

M: Belum mulai filmnya.

R: Kopernya ketinggalan kali.

G: Eaaa!

R: Sejauh ini, gimana tanggapan pembaca terhadap buku kalian?

G: Memantau dari keyword Trave(love)ing di Twitter dan menyimak Goodreads sih alhamdulilah responnya baik.

D: Bagus. Jauh dari harapan semula malah. Selain Roy, kami bertiga adalah penulis baru. Artinya kami ga dikenal dan kaget rasanya ketika tau buku kami menjadi best seller di beberapa Gramedia dan toko buku online. Itu artinya orang membeli karena isinya, bukan karena kami sebagai penulisnya.

R: Nah, Roy kan satu-satunya yang udah pernah nulis sebelumnya ya di buku ini. Peran Roy sendiri ke kalian gimana?

G: Roy itu kepala sukunya Trave(love)ing! (‘-‘)9

D: Roy itu seperti om-om yang mengayomi para simpanannya.

R: Anjis. Bahahak!

G: Jadi lu mau Den jadi simpenannya Roy? Hahaha!

D: Roy itu banyak bantu dan ngarahin kami cara menulis yang baik dan benar, walau terkadang sedikit bawel.

R: Bagi sedikit tips dong buat temen-temen yang juga mau mulai nulis novel perdananya!

D: Jangan ragu. Nulis novel ga harus terkenal dulu kok. Yang penting kemauan.

G: Intinya sih komitmen. Jaga komitmen agar tetap reguler menulis itu yang berat. Buka mata dan telinga lebar-lebar untuk menerima dan mengolah semua kritik dan saran.

R: Dengan adanya rencana Trave(love)ing2, apa harapan dari penulis jilid pertamanya ke jilid kedua nanti?

G: Harapannya sih tentu aja Trave(love)ing2 bakal dapet di hati pembaca.

D: Harapan gue pribadi, semangat berbagi kisah cinta berbalut perjalanan yang bisa diambil hikmahnya itu tetap terjaga. Karena semangat awal buku ini bukan sekedar novel tapi berbagi semangat move on. Seperti yang Roy bilang: pergi sebagai traveler, pulang sebagai story teller.

G: Selain itu, mudah-mudahan Trave(love)ing2 ini bisa menjadi pemicu untuk membantu teman-teman di luar sana untuk move on.

D: Eh, emang Trave(love)ing2 tentang move on lagi? Kayaknya ga deh. Jatuh cinta umum setau gue.

G: Nah, baru mau nanya. Tentang apa sih, Roy?

R: Lahacia >.<

G: -_______-

R: Sebagai penutup, ada pesan-pesan khusus mungkin yang mau disampaikan ke teman-teman semua yang lagi baca wawancaur ini?

G: Kadang hati harus patah agar kita bisa melangkah. Melangkah meninggalkan luka. Melangkah meninggalkan masa lalu. Namun percaya aja, kalo Tuhan akan menunjukkan kita ke hati yang baru.

D: Kalo udah baca Trave(love)ing, wajib beli dan baca Trave(love)ing2. Kalo belum beli, ya beli dulu Trave(love)ing jilid pertama baru yang kedua.

R: Wah, ternyata wawancaur-nya ga caur-caur banget. Malah bagus ini! Semoga semakin sukses dengan Trave(love)ing-nya… karena seperempat dari royalti masuk ke saya juga itu. Bahahak! Makasi ya semuanya!

M: Filmnya udah selesai nih. Tadi gimana pertanyaannya? Halo? Halo? Guys?

Advertisements

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: