#JalanJalanKemiskinan: Foto Laskar Plangi!

“Eh, ini mau gimana nih fotonya?”

Sakai si fotografer melontarkan pertanyaan di atas saat SD Gantong lagi sepi-sepinya. SD yang katanya asal mula cerita Laskar Pelangi ini hanya dikunjungi oleh 5 orang Jakarta yang sering nangkring di Plaza Semanggi. Jadi, sebut saja kami Laskar Plangi.

Kami berkunjung ke sana sekitar November 2011, masih dalam rangka jalan-jalan kemiskinan. Setelah puas bermain di Belitung Barat pada 2 hari pertama, kami memutuskan untuk membelah pulau dan mengunjungi Belitung Timur. Kebetulan di sana ada SD Gantong, jadi sekalian mampir.

Sekolah ini udah tua banget. Atapnya terbuat dari tumpukan-tumpukan seng. Jadi, kalo libido matahari lagi tinggi, suhu di dalam ruangan terasa lebih panas dari panasnya ngeliat mantan-baru-putus-eh-tapi kok-langsung-jadian-lagi. Mungkin itu sebabnya dinding yang terbuat dari bilah-bilah kayu disusun agak renggang. Biar ada angin sepoi-sepoi yang bisa menyejukkan badan, ya minimal ketek adem lah.

Kalo lu udah nonton film Laskar Pelangi, bentuk sekolahnya yang asli kurang lebih mirip kayak yang di sana. Usang, rapuh, dan sepertinya kalo malem rada horor juga. Di luar, ada 2 batang kayu besar yang digunakan untuk menopang sekolah. Biar apa? Simply, biar ga roboh. Iya, sekolahnya serapuh itu.

Sebagai catatan, film Laskar Pelangi membangun ulang SD Gantong di tempat lain untuk keperluan syuting. Waktu kami ke sana, SD Gantong yang asli sedang proses perbaikan. Tampak cat putih yang masih baru, tertempel di kayu yang sudah lapuk. Kayak nenek-nenek yang di-make up. Tak tertolong. Tetap terlihat tua dan rapuh.

Di bagian belakang dari area sekolah, ada jamban yang terbuat dari susunan batu bata. Yang mencengangkan adalah lobang untuk wadah feses hanya selebar 5 cm aja. Dikiranya pantat kita mesin fax kali ya, fesesnya cuman selebar kertas. Tapi bagi mereka yang suka tantangan, jamban itu bisa menjadi ajang pembuktian diri. Mau nyoba?

Gua ga kebayang gimana jadinya kalo gua murid SD ini waktu itu. Gimana gua bisa belajar dengan apik (cailah, apik cuy) kalo sarananya sama sekali ga kondusif? Udara panas banget, gimana bisa mikir jernih? Khawatir sekolah bisa roboh, gimana mau belajar dengan tenang? Dinding bolong-bolong, gimana mau konsentrasi? Mau pup aja penuh tantangan, gimana bisa nimba ilmu? Gimana coba?

“Jadi, mau kayak gimana nih fotonya?” tanya Sakai sekali lagi sambil kipas-kipas, kepanasan.

Kami lalu duduk-duduk di beberapa meja sambil mencoba mikir gimana foto yang bagus. Seorang duduk di meja guru dan seorang lagi berdiri memegang sapu. Lalu entah kesambet setan mana, kami mulai bercanda dan tertawa. Lelucon lelucon bodoh tentang feses selebar kertas dan pantat mesin fax terlontar begitu saja.

Belum lagi lelucon lelucon lokal. Karena salah satu dari kami sempat ga lulus pelajaran Aljabar sampai 4 kali, dia diminta untuk mengajarkan apa itu Aljabar. Atau bagaimana tetap memotivasi diri agar ga mudah menyerah saat mengulang mata kuliah berkali-kali. Tawa pecah siang itu, terpanen banyak dari mulut kami berlima. Sesaat perasaan gerah karena angin yang ga kunjung lewat pun teredakan. Keluhan-keluhan yang tadi mencuat pun teralihkan.

Kepala gua yang tadi penuh pertanyaan, pelan-pelan mendapat jawaban.

“Foto kayak gini aja yuk,” ajak seorang teman sambil memberikan komando di mana kami harus berdiri dan bagaimana posenya. Setelah semuanya siap, hitung mundur pun dimulai.

3

2

1

JEPRET!

Laskar Plangi

Asal sama-sama sahabat, belajar di mana pun akan terasa sama menyenangkannya.

(c) Satya Andika

Advertisements

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: