Napak Tilas di Pasar Baru

Sekitar sebulan yang lalu, gua nganterin nyokap ke Pasar Baru. Nyokap adalah seorang penjahit dan paling sering ke Pasar Baru untuk beli kain, kancing, dan keperluan menjahit lainnya. Ke Pasar Baru bulan kemarin menjadi kunjungan pertama gua setelah beberapa bulan ga ke sana.

Waktu kecil, gua sering banget ke Pasar Baru untuk nemenin nyokap belanja keperluannya. Selain emang suka jalan-jalan, gua doyan makan ayam kentaki, dan gerai ayam kentaki paling deket dari rumah ya di Pasar Baru ini. Letaknya di lantai 4. Naik lift yang di bagian kanan dari metro Pasar Baru, sampai di lantai 4 lalu belok kanan, terus ke kiri. Dari situ akan mulai tercium aroma ayam yang tergoreng dengan tepung khas kentaki.

Sampai sekarang gua masih inget lokasi dan betapa bersemangatnya gua tiap kali diajak nyokap ke Pasar Baru.

Namun seiring waktu berjalan, kentaki ada di mana-mana. Gua mulai jarang nemenin nyokap ke Pasar Baru karena gua bisa mendapatkan apa yang gua mau hampir di mana-mana. Nyokap lebih sering ke Pasar Baru sendiri. Kalo pun gua ikut biasanya untuk membeli peralatan sekolah di toko Lee Ie Seng. Toko ini lengkap, serba ada, dan tergolong murah. Dijual oleh engkoh-engkoh cina yang ga pernah bilang “tanya aja toko sebelah” karena di sebelahnya, ga ada toko sejenis. Lee Ie Seng ini berjaya, pada masanya.

Toko Lee Ie Seng

Kunjungan sebulan yang lalu seperti napak tilas buat gua. Toko Lee Ie Seng (yang berdiri sejak 1878) udah tutup meski papan namanya masih ada di sana. Di depannya malah digelar lapak kaki lima penjual poster, sendal, dan kacamata cengdem; seceng adem. Dengan semakin mudahnya menemukan Gramedia dan Gunung Agung, Lee Ie Seng pun tutup. Ia kalah tertelan masa.

Banyak hal telah berubah di Pasar Baru. Dulu jalanan ramai oleh pengunjung yang berjalan kaki. Sekarang malah ramai oleh lapak-lapak kaki lima yang menjorok dan menyisakan ruang sempit untuk pejalan kaki.

Sepertinya hal itu sengaja dilakukan karena pengunjung Pasar Baru sendiri udah mulai sepi. Kalah oleh mall-mall ber-AC yang menawarkan titik perbelanjaan dan hiburan yang lebih lengkap. Lapak-lapak kaki lima diharapkan dapat menarik pengunjung kelas menengah ke bawah. Sementara dulu, berbelanja di Pasar Baru adalah sebuah kemewahan tersendiri. Pasar Baru berubah mengikuti tabiat manusia masa kini.

Kanopi Pasar Baru

Sekarang, sepanjang jalan Pasar Baru tertutup oleh kanopi. Dulu, kanopi hanya terletak di depan Galeria (yang sekarang Matahari). Jadi kalo hujan turun, orang akan berbondong-bondong berteduh di depan toko atau berlari cepat ke arah Galeria. Sekarang jadi lebih nyaman, mengikuti perkembangan masa.

Pasar Baru telah banyak berubah. Jaman telah banyak berubah.

Tangis Anak Kecil

Gua dan nyokap juga telah banyak berubah.

Dulu, gua seperti anak kecil pada foto di atas. Menangis minta pulang, menggenggam kaos nyokap kencang-kencang karena takut terpisah lalu hilang, atau merengek minta dibelikan ayam kentaki untuk makan nanti malam.

Sekarang, gua udah bisa berjalan sendiri, udah pede ga bakal terpisah lalu hilang, udah bisa beli ayam kentaki sendiri. Gua udah ga perlu menggenggam erat kaos nyokap.

Namun sekarang, nyokap yang memegang kencang lengan gua ketika kakinya mulai letih berjalan.

Uban di rambutnya ga bisa menutupi bahwa umur nyokap udah kepala lima. Guratan-guratan halus udah mulai tampak di keningnya. Nyokap menua seperti halnya Pasar Baru meninggalkan masa keemasannya. Genggaman tangannya ke lengan gua semakin mengencang ketika hari tepat tengah hari. Perut kami berdua berbunyi.

“Laper nih, Ma.”

“Mau makan apa, Roy?”

“Terserah Mama deh.”

“Kentaki gimana?”

“Tapi kan jauh. Mama ga cape? Kakinya ga sakit?”

“Ga apa-apa. Yuk.”

Meski jaman telah banyak berubah, ada satu yang tetap selamanya. Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.

Selamat hari ibu, Ma.

Advertisements

Tagged: , ,

9 thoughts on “Napak Tilas di Pasar Baru

  1. maretha December 22, 2012 at 14:28 Reply

    Tiap ke Pasar Baru mampir toko Shalimar buat beli manisan india.. hehehe..

    • Roy Saputra December 22, 2012 at 19:25 Reply

      Woaa, sebelah mana tuh toko Shalimar? :O

      • maretha December 22, 2012 at 21:27 Reply

        Wah, penguasa Pasar Baru kok gak tau? :p
        Di sebelah Bakmi Gang Kelinci. Selling anything bout Indian.

  2. Nad Paritrana November 29, 2013 at 12:00 Reply

    Hahaha.. pasar baru ya roy.. dulu selain kentaki ada hamtidamti :)..
    Sebagai ex anak SMP 5 dan SMA 1, cencu saja sya ngeh spot2 yang tadi disebutkan..
    Gw curiga kita tetanggaan.. hihihi..

  3. Nad Paritrana December 2, 2013 at 14:26 Reply

    Hahaha.. bukan maeeenn dunia sempiiit..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: