#YukNgangkotYuk

DISCLAIMER: Gambar diambil dari tempo.co, merdeka.com, mobile.seruu.com, dan dari sini. Semua ditemukan via mesin pencarian Google. Terima kasih.

Di tahun 2012 kemarin, gua sempat membuat gerakan kecil-kecilan di Twitter dengan hashtag #YukNgangkotYuk. Gerakannya sederhana yaitu mengajak entah siapa yang membaca twit-twit gua untuk lebih sering menggunakan angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi. Tujuannya hanya satu:

Mengurangi debit kendaraan yang bermain di jalanan Jakarta.

macet

Sepengetahuan gua yang minim ini (di mana sebagian isi otak adalah lirik lagu jaman dulu), penyebab macetnya Jakarta itu:

Jumlah kendaraan lebih banyak dari jumlah ruas jalan
(Jumlah kendaraan > Jumlah ruas jalan)

Hal di atas terjadi terutama pada jam pergi dan pulang ngantor. Jika gua bawa kendaraan pribadi ke kantor, itu artinya gua hanya akan menambah masalah.

Terus gimana biar gua ga menambah sisi kiri (jumlah kendaraan)? Naik kendaraan umum adalah salah satu jawabannya.

Selama kantor gua masih bisa ditempuh dengan angkutan umum maksimal 4 kali ganti, maka gua akan tetap memilih untuk naik angkutan umum. Untuk menuju kantor yang sekarang, gua bisa pakai 2 rute angkot. Setiap rutenya mengharuskan gua untuk ganti angkot minimal 2 kali.

Ribet sih, tapi I think I can live with that.

Gua paham kondisi perangkotan di Jakarta masih belum memadai. Jauh dari rasa nyaman dan rawan kejahatan pula. Tapi bukan berarti itu bisa dijadikan pembenaran bagi kita untuk bawa kendaraan pribadi sendirian dan ngetwit ‘kenapa macet sih?’ setelahnya. Itu seperti Joker ngeluh kenapa Gotham City banyak rampok.

Iya, angkot ga nyaman. Iya, angkot ga aman. Terus mau nunggu kapan? Nunggu sampai ada MRT atau monorel yang aman, nyaman, dan sejahtera? Selama 10 tahun kepemimpinan si Suti sama si Kumis aja ga kejadian-kejadian. Sampai sekarang pun masih belum jelas juga. Jadi di dalam ketidakjelasan itu, apa kita masih mau nunggu dan bermacet-macetan di antaranya?

Gua sih ga mau. Maka itu gua ngangkot.

Kebayang ga sih berapa ruang jalanan yang bisa dihemat jika kita naik angkot? Satu metromini kapasitas 20 orang bisa menggantikan 7 mobil pribadi yang terisi 3 orang. Asumsikan 1 satu metromini membutuhkan ruang 35 meter persegi, sementara 1 mobil akan memakan 15 meter persegi. Maka dengan naik metromini, kita bisa menghemat ruang 70 meter persegi!

Terus ke mana 70 meter persegi itu? Bisa buat 2 metromini yang menghemat total 140 meter persegi. 140 meter itu bisa untuk 4 metromini yang menghemat 280 meter persegi. Dan begitu seterusnya, seterusnya, seterusnya. Penghematan ruang jadi beranak pinak. Ibarat MLM, downline-nya udah dapet downline lagi.

Nah, kebayang ga berapa ruang jalanan yang bisa dihemat ketika 1 bus besar kapasitas 70 orang bisa menggantikan 35 sampai 70 sepeda motor?

motornya bejubel

Kembali ke rumus ala gua tentang kenapa Jakarta macet:

Jumlah kendaraan > Jumlah ruas jalan

Nah, sebagai imbas dari ga bertambahnya jumlah kendaraan dan penghematan ruas jalan, maka sisi kanan (jumlah ruas jalan) ga perlu ditambah secara radikal. Ga perlu lagi ada jalan layang non-tol (awas typo), atau ruas-ruas jalan tol baru.

Menurut gua, penambahan ruas jalan bisa memicu orang untuk berpikir, “Wah, sekarang jalanannya udah ga gitu macet ya. Besok bawa mobil ah.” Dan akhirnya sisi sebelah kiri (jumlah kendaraan) akan bertambah lagi, akhirnya bangun ruas jalan lagi, lalu mobil nambah lagi, kemudian nambah ruas jalan lagi, dan begitu terus hingga Farhat Abbas waras.

Bukankah lebih cihuy jika uang yang dipakai untuk bangun pilar-pilar jembatan layang dan tol itu dipakai untuk membeli bus-bus kapasitas besar? Berapa pengendara mobil dan motor yang bisa diangkut? Berapa ruas jalanan yang bisa dipangkas? Berapa waktu perjalanan yang bisa dihemat?

Bukankah itu impian kita semua?

lowong!

Kalo soal aman dan nyaman, itu bisa diakalin lho. Kita hanya perlu untuk melihat kebiasaan jalanan dan angkutan umum langganan. Dulu, waktu masih ngantor di Thamrin, gua biasa naik bus non-AC no P 14 (Tanah Abang – Tj Priok) atau P 507 (Tanah Abang – Pulo Gadung) (please CMIIW). Kalo gua naik jam setengah 7, kedua bus itu kayak lagi ada bagi-bagi emas batangan gratis. Rame bener! Tapi kalo gua nunggu 30 menit lagi aja, kondisi busnya akan jauh lebih lowong.

Nyaman tapi ga aman?

Coba patas AC. Isinya kebanyakan orang kantoran semua dan bisa banget dapet duduk. Kecil kemungkinan kita kecopetan secara ga sadar. Kejahatan yang mungkin terjadi adalah bus itu dibajak dan ada bom yang akan meledak jika kecepatan di bawah 50 km/jam. Tapi tenang. Kan ada Keanu Reeves.

Sejak ngantor di Senayan, gua langganan naik patas AC Bianglala no 44 (Ciledug – Senen) atau 76 (Ciputat – Senen). Hanya dengan 5.000, gua bisa duduk santai sambil main gadget dengan tenang.

Atau coba Transjakarta. Saat ini udah ada 11 koridor yang melintangi Jakarta dari barat ke timur, utara ke selatan. Awal 2013 ini akan dibuka lagi koridor terbaru dengan rute Pluit – Kelapa Gading. Belum lagi ditambah 2 koridor yang masih dalam rencana: Manggarai – Depok dan Ciledug – Blok M. Daerah-daerah strategis di Jakarta akan terjamah oleh Transjakarta.

Cihuy!

transjakarta

Mari jadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Memang masih banyak solusi-solusi lain yang mampu mengurai macet. Seperti menaikkan tarif parkir, pajak kendaraan, dan lain sebagainya. Tapi kebanyakan dari solusi itu adanya di tangan pemerintah, bukan di tangan kita.

Salah satu solusi yang pilihannya ada di tangan kita, yang bisa kita eksekusi dengan segera adalah sebisa mungkin naik angkutan umum.

Begitu juga dengan masalah-masalah lain. Kita bisa mulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri. Misalnya dengan ga buang sampah sembarangan, ga pake plastik jika hanya belanja sedikit di minimarket, pakai bensin non-subsidi, atau hal-hal kecil lainnya.

Mungkin ada yang nanya, “Tapi kan percuma kalo cuma kita doang sendiri yang begitu?”

Percayalah teman, jika ada 100 orang yang berpikiran kayak gitu, ga bakal ada perubahan di kota ini. Sampai Edi Tansil ditemukan juga ga bakal terjadi kebaikan.

Tapi jika ada 100 orang yang berpikiran untuk bergerak mulai dari hal kecil dan dari diri sendiri, maka akan ada 100 penumpang angkot yang siap mengurangi spasi jalanan setiap paginya. Akan ada 100 calon limbah plastik sulit terurai yang terkikis dari penghematan kantong minimarket. Akan ada 100 sampah terbuang pada tempatnya yang mengurangi kemungkinan terjadinya got mampet dan banjir.

Akan ada 100 kebaikan-kebaikan kecil yang tercipta setiap harinya.

Lalu, gimana jika bukan hanya 100? Tapi ada 1.000, 10.000, 100.000 atau bahkan sejuta orang yang berpikiran untuk memulai hal kecil dari diri sendiri? Bukankah itu menarik?

So, please, re-think about it.

Ingatlah teman, saat kita berpeluh di dalam kendaraan umum dan melihat jalanan lancar di balik jendela, tersenyumlah. Itu sebagian karena kita.

Yuk, ngangkot, yuk?

“If you think you are too small to make a difference, try sleeping with a mosquito.” ― Dalai Lama XIV

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

18 thoughts on “#YukNgangkotYuk

  1. Erma January 23, 2013 at 14:11 Reply

    Roy, itu gambar orang pake helm banyak, ga mungkin sambil naik motor semua kayaknya. Dempet-dempetan gitu. Apa lagi kompak demo pakai helm? *rewel*

    Oh, dan ajakan ngangkot yuk nya, gue rasa isu selain aman dan nyaman, juga perlu dipertimbangkan waktu tempuh dan biaya. Coba deh bandingin angkot vs mobil pribadi vs taksi vs motor pribadi (atau dibonceng). Soalnya gue yang tinggal di Bintaro dan kerja di Kemayoran udah langsung ilfeel buat berangkat ke kantor kalau full ngangkot (yang dikombinasikan dengan transjakarta bahkan). Kalau ngangkot + tj, bisa 2 – 2.5 jam baru sampai kantor itu juga dengan keadaan berdiri macet desak-desakan di halte tj, kalau diantar motor cuma 1 – 1.5 jam ya resikonya kehujanan, bahkan kalau naik commuterline masih 2 jam *lhakokcurcol*. Duduk nyaman di dalam angkutan umum hanya bisa terjadi kalau gue pulang di atas jam ‘normal’. Artinya, lebih sedikit lagi dong waktu di rumah *ruwet*.

  2. Reza January 24, 2013 at 07:19 Reply

    blum roy..lebih banyak ruginya kalo ngangkot. cape harus vigilant sepanjang jalan, blom lagi macetnya, sesaknya, mental stamina udah keburu abis di jalan. kalo bawa kendaraan sendiri paling engga letihnya cuma macet, jadi masi nyisa kesabaran buat dipake di kantor kali kali aja disemprot si bos pagi pagi

    • Roy Saputra January 25, 2013 at 10:24 Reply

      macet itu bukan sebab lho, Za. tapi akibat. but your points are well noted.

  3. AdrianaDian January 25, 2013 at 00:14 Reply

    Bang roooyyy! ikutan komunitas nebengers aja. Mereka mempertemukan orang yang mau #caritebengan #beritebengan dan #sharetaksi. Mereka ngebuat aktifitas nebeng jadi nggak kaku dan lebih fun, soalnya mereka janjian lebih dulu di twitter. follow @nebengers ya bang! ;) dan rasain indahnya berbagi lewat twit-twitnya nebengers. :))

    • Roy Saputra January 25, 2013 at 10:24 Reply

      kalo istilah temen gua itu MESTABENG. Semesta Menebeng! =))

  4. nune January 25, 2013 at 10:22 Reply

    Suka ama isu yang dimunculkan ini.. Jangan berkecil hati kalo msh banyak orang yg lebih mikirin kepentingan sendiri daripada banyak orang.. Sampai kapan pun orang2 macam begitu akan selalu menemukan alasan untuk mencari pembenaran.. Dan kita gak bs nyalahin pola pikir mereka.

    So, tetep jd inspirator bwt yg peduli ya Bang Roy.. Semangat!
    btw, I share yahh.. :)

    • Roy Saputra January 25, 2013 at 10:23 Reply

      terima kasih. monggo kalo mau di-share! :D

  5. close2mrtj January 25, 2013 at 11:26 Reply

    sebenernya idenya bagus banget nih. dan bener banget. cuma, ya kalo yg mikir kaya gini sedikit ya ga jalan juga. masalahnya, banyak yg udah nyaman duluan kalo bawa kendaraan pribadi. apalagi kalo masalah ongkos. gw ga tau sih kalo yg bawa mobil, tapi kalo yg bawa motor dibandingkan dengan naik angkot biayanya lebih murah. soalnya beli bensin hanya sekali, bisa dipake sampe beberapa hari. misalnya kaya temen gw nih, dia naik motor dari rumahnya di Ciputat dengan kantor di Tebet. kalo perhari naik angkot bisa 16ribu. kalo naik motor hanya 10-15ribu untuk 2 hari.
    nah, yg udah kebiasaan gini yg mungkin udah nyaman sendiri nih. btw, CMIIW yaa…
    tapi ya, gw setuju sih sama ide ngangkot ini. gw juga soalnya ngangkot. :D

    • Roy Saputra January 25, 2013 at 11:29 Reply

      idenya sih mulai dari diri sendiri, jangan nunggu gimana orang lain.

      hidup ngangkot! :D

  6. Gita February 4, 2013 at 17:23 Reply

    Klo keamanan ditingkatkan, bisa bikin cewek demen naik angkot. :P

  7. Stephanie April 9, 2013 at 16:58 Reply

    Naek angkot (terutama kopaja) emang enak.
    Ga punya rem, cm punya gas.. Hehehe..

    Tp sory to say, akhir2 ini g dah ga tahan ama kemacetan di Jkt (walau uda naek kopaja tanpa rem sekalipun).. Lbh enak naek ojek sih, cpt sampe, walau hrs berpanas2 riang gembira..
    Dan juga, motor lbh menghemat ruang, apalg kalo 1motor bs 5org sekaligus.. Huahaha *horanggilaa*

    Tp naek ojek bkn dompet cekak gimana dongg.. *kembaligalau*

    • Roy Saputra April 9, 2013 at 19:49 Reply

      gapapa. nanti kalo angkotnya udah kembali bagus, balik ngangkot lagi ya! :D

  8. rizkifitrilia July 9, 2013 at 11:00 Reply

    Sebenernya sih memang enak naik angkot daripada bawa kendaraan pribadi. tapi sayang prilaku dari supir2 angkot (terutama M26 krn g naiknya itu klo dari Bekasi – Jakarta) bikin ga tahan. terakhir g naik angkot M26 itu malah dapet supir yg ‘rada2’, tanpa sebab dia malah ngajak ribut temenny sesama supir dan para penumpanglah yang menjadi sengsara akibat c supir marah2… ngebut2an di jalan Kalimalang yg kecil and ramai…
    hal seperti itu yg buat jadi illfeel buat naek angkot… belon tarif yg diminta sesuka hatinya… tapi itu d angkot M26 y… klo yg lain g ga tau… *curcoldeh :))

    • Roy Saputra July 9, 2013 at 12:30 Reply

      emang nyebelin sih prilaku supir yang kayak gitu. namun semoga ga mengecilkan niat untuk tujuan yang lebih besar: bebas macet :D

  9. dodo July 23, 2013 at 15:20 Reply

    Semoga semangat nya menyebar…
    think globally, act locally….

  10. Gerry November 26, 2013 at 12:36 Reply

    Setujuuu, hidup ngangkot.
    tp ttp naek motor, selama pulogebang – harmoni msh ditempuh 2,5 jam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: