#Tweetalk dengan @NBCUnsri (Extended Version)

Pada tanggal 15 Januari 2013 lalu, di tengah hujan deras mengguyur Jakarta, gua sempet ditanya-tanya oleh akun twitter @NBCUnsri. Di antara suara petir yang menggelegar, mereka mengirim gua DM. Katanya mau ngajak ngobrol soal dunia tulis-menulis. Akibat hujan yang lebat dan gemuruh yang menakutkan, hampir saja gua membacanya “ngajak ngobrol soal dunia lain”. Karena jika iya, gua akan segera melambai-lambaikan tangan ke kamera.

Sesi ngobrol-ngobrol itu mereka namakan #Tweetalk.

Informasi yang gua baca dari blog mereka, Nulis Buku Club Unsri (Universitas Sriwijaya) adalah komunitas menulis dalam area kampus pertama di Sumatera Selatan. Nulis Buku Club atau Klub Nulis Buku merupakan sebuah klub non formal di mana para penulis maupun calon penulis berkumpul untuk sharing berbagai hal dalam dunia literasi. Klub Nulis Buku di sini dapat berupa komunitas per daerah (NBC Daerah/kota) atau komunitas per kampus (NBC Kampus), contohnya Nulis Buku Club Unsri ini. NBC Unsri  dibentuk di bawah naungan nulisbuku.com, sebuah perusahaan jasa layanan penerbitan untuk membantu mewujudkan impian semua orang menerbitkan buku secara GRATIS dan mudah. 

Nah, hasil #Tweetalk bulan lalu gua post di sini, siapa tau ada yang tertarik dan bisa pake entah-apa-yang-gua-share-di-sini. Ingatkan gue untuk lebih baik membahas pergolakan harga telor ayam kampung lain kali. Mungkin lebih berguna bagi nusa dan bangsa.

Anyway,

#Tweetalk ditambahkan sesuai kebutuhan karena pada twit ada keterbatasan karakter. Istilah kerennya, extended version. Gambar diambil dari sini. Terima kasih.

menulis

Nah kali ini kita berkesempatan #Tweetalk bareng Roy Saputra. Selamat malam, Kak!

AAAAK! EMAK, AKOH MASUK TIPI! MALAAAM!

Tanya jawabnya kita mulai ya. Ceritain dong bagaimana perjalanan menulisnya?

Ehem.

Suka nulis sebetulnya udah dari SD. Di saat teman-teman lain mungkin bisa suntuk, gua paling girang kalo ulangan bahasa Indonesia berbentuk mengarang bebas. Bisa nulis kisah asmara remaja SMP atau tentang legenda naga naik sepeda. Naga kok bisa naik sepeda? Ya namanya juga legenda. Dan semoga ga ada petinggi Indosiar yang sedang membaca postingan ini atau kita akan segera menyaksikan sinteron terbaru dengan plot naga naik sepeda.

Waktu SMA, sempet bikin cerita bersambung dengan judul ‘Josh’ yang terinspirasi dari Lupus. Cerita tentang 5 sekawan anak SMA yang punya band dan sering manggung dari festival ke festival. Kisahnya seputar tentang persahabatan, cinta, hobi, harga cabe keriting, dan kehidupan anak SMA pada umumnya. Eh lho? Emang SMA kalian ga bahas harga cabe keriting? Ah, ingatkan gua untuk membahas hal ini di blog bersamaan dengan pergolakan harga telor ayam kampung lain kali.

‘Josh’ ini sempat digandrungi sama temen-temen SMA seangkatan sampai akhirnya berhenti di jilid 3 karena gua lagi mau konsentrasi belajar untuk ujian. Kayak mau putusin-pacar-tapi-bingung-apa-alasannya ga sih?

Anyway,

Untuk bikin buku, gua mulai nyusun naskah buat dicoba ke penerbit dari tahun 2005. Ceritanya tentang persahabatan 5 orang yang jalan-jalan ke Bali. Berangkat masing-masing tapi akhirnya ketemu juga di Bali dengan konflik-konflik antara mereka berlima… yang gua baru inget, ke mana ya itu naskah?

Naskah yang itu ditolak 3-4 kali (baik oleh penerbit yang sama ataupun penerbit lain) sampai akhirnya nyerah dan ga ngirim lagi. Mungkin karena ide dan eksekusinya yang ga oke, jadi lebih baik gua peti es kan dulu. Sampai di tahun 2007 gua kepikiran satu ide yang nyeleneh. Tentang maling kolor demi mau melet pacar orang. Akhir 2007 coba masukin dan walah, The Maling of Kolor rilis di tahun 2008.

Wah! Keren dong udah suka nulis dari SD. Nah, biasanya dapat ide menulis dari mana?

Ide bisa datang dari mana aja.

Buat gua, ide biasanya datang justru dari hal-hal yang dekat dengan keseharian. Di buku #RasaCinta, ide tulisan datang dari makanan dan minuman. Tentang soto kudus yang hatinya terpisah atau Slurpee yang banyak piilihan rasa. Ide bisa datang dari hal yang kita lihat sehari-hari.

Ide bisa juga datang dari pengalaman pribadi yang dibumbui dengan pemikiran “gimana kalo”. Seperti salah satu cerpen di #RasaCinta yang berjudul ‘Dua Tangkup Cinta’. Bercerita tentang seorang pemuda yang nguping perkelahian sepasang cowok cewek. Kejadian itu gua alamin beneran. Dan setelah melihat mereka berantem, gua jadi mikir, “Gimana kalo ternyata salah satu dari mereka itu kenal sama gua yang daritadi sok sok nguping pembicaraan?”

Bukankah itu akan jadi cerita yang menarik?

Roy Saputra kan dikenal sebagai penulis komedi. Kenapa pilih genre ini?

Pada intinya, gua menulis apa yang ingin gua baca.

Gua percaya bahwa menulis itu adalah proses tulis-baca-tulis-baca yang terus berulang. Akan sangat menyebalkan jika kita menulis apa yang ga ingin kita baca dan harus kita tulis kembali.

Selain itu gua lahir dari keluarga yang bisa dibilang menghibur, jika ga diingin dicap lucu. Papa yang suka ngelenong ditambah Mama yang chubby dan witty, membuat tawa dan senyum itu udah jadi keseharian. Seru deh pokoknya kalo sama mereka.

Lalu tumbuh menjadi remaja ditemani lagu-lagu parodi P Project dan film-film Warkop DKI. Mulai menggila di masa SMA bersama tayangan komedi di TPI, entah itu Ngelaba atau Chatting. Akhirnya mendewasa bersama novel-novel komedi lokal yang mulai ramai di pasaran.

Komedi ada di sepanjang hidup gua. Jadi ya mungkin memang udah jalannya bagi gua menulis komedi.

Via @bimorafandha: yang paling penting dalam menulis komedi itu apa?

Menurut gua, yang paling penting dalam menulis komedi itu elemen kejutan. Buatlah lelucon yang ga terduga kemunculannya. Buat lelucon yang bikin orang ketawa dan bilang “kok kepikiran sih?” setelahnya.

Secara umum, lelucon itu terdiri dari 2 bagian; set up dan punchlines. Menurut pendapat pribadi gua, lelucon yang baik itu dari set up-nya sudah kaya dan menarik, lalu punchlines-nya mengejutkan.

Dalam menulis cerita komedi, gua biasanya meminimalisir penggunaan lelucon sekali tampil. Seperti: ingusnya melintir-lintir, mukanya kayak melon busuk, dll. Boleh, namun sebaiknya gua minimalisir. Gua coba fokus pada komedi situasi. Bangun kondisi yang kondusif agar ke depannya mudah untuk memanen punchlines.

Kembali, ini semua menurut pendapat pribadi gua.

Via: @a_febriyansyah: Kalo untuk pemula, gimana biar bisa mulai menulis genre komedi?

Baik untuk pemula ataupun bukan, menurut gua sih kuncinya sama aja: perbanyak latihan, perbanyak referensi.

Sampai sekarang pun gua masih terus latihan dengan melihat sesuatu dari persepsi yang menghibur dan menuliskannya di blog. Dan percayalah, itu semua ga jadi dalam sehari. Bersabarlah dalam menulis, karena seperti yang gua bilang sebelumnya, menulis itu sebetulnya proses tulis-baca-tulis-baca yang terus berulang.

Hanya mempunyai 1 referensi bisa mengakibatkan kita untuk cenderung meniru gaya dan caranya berkomedi. Kaya akan referensi akan membantu kita dalam menemukan atau memadumadankan gaya berkomedi yang cocok. Sehingga jika ada orang yang baca tulisan kita tanpa membaca penulisnya pun, ia bisa bilang, “Ini tulisannya lu banget nih, Bro!”

Dan percayalah, menulis komedi itu ga mudah. Jangan menyerah jika gagal pada kesempatan pertama.

Sejauh ini, sudah menerbitkan berapa buku?

Puji Tuhan sudah rilis 7 buku. 3 buku sendiri, 4 buku keroyokan.

Yang buku sendiri itu ada The Maling of Kolor (Bukune, 2008), Doroymon (Bukune, 2009), dan Luntang Lantung (Bukune, 2011). Yang buku keroyokan ada Oh Lala Ting Ting (Mediapress, 2011), Trave(love)ing (Gradien, 2012), Kasih Tau Gak Yaa? (Kurniaesa, 2012), dan Rasa Cinta (Bukune, 2012).

Via: @moerniemoet: Apa tips nulis bareng-bareng biar ga bentrok ide mulu terus hasilnya bagus seperti di #RasaCinta?

Menurut gua sih kuncinya ada 2. Tema yang jelas dan adanya koordinator.

Tema yang jelas akan memberikan pagar dan aturan main yang ga abu-abu kepada para penulisnya. Dengan begitu, diharapkan ada persamaan persepsi dalam menulis ceritanya. Contoh: tema cinta dan kuliner (Rasa Cinta), lalu ada tema hari dalam seminggu (Menujuh), atau tema cinta dan tempat-tempat persinggahan (Singgah).

Koordinator bertugas untuk menjaga komunikasi di antara tim. Cerita-cerita yang sudah masuk dikumpulkan ke satu-dua orang koordinator untuk kemudian diinformasikan kepada tim yang lain. Cerita yang masuk itu mengambil tema apa sehingga penulis lain dapat menghindari tema yang sama.

Wah! Rupanya udah satu jam lebih #Tweetalk. Pertanyaan terakhir nih, menurut Roy Saputra, menulis itu apa?

Bagi gua, menulis itu liburan. Dengan menulis, gua bisa ke tempat-tempat baru atau tempat lama dengan persepsi yang baru. Menulis itu seperti tiket kabur dari dunia nyata gua yang sangat otak kiri.

Menulis itu menyenangkan.

Terima kasih ya sudah mau sharing bareng kita. Sukses terus buat karya-karyanya. Semoga tahun ini makin produktif!

AAAAK! Sama-sama! Terima kasih @NBCUnsri!

Advertisements

Tagged: , , , ,

6 thoughts on “#Tweetalk dengan @NBCUnsri (Extended Version)

  1. Admin NBCUnsri yang kece badai February 4, 2013 at 11:52 Reply

    Aaaak! Terima kasih udah ngajak kita buat numpang eksis di blog ini, Kak. :’)

    • Roy Saputra February 4, 2013 at 13:42 Reply

      aaaak! sama-sama! terima kasih kembali!

  2. arievrahman February 5, 2013 at 08:41 Reply

    Kak, Oh Lala Ting Ting kayaknya keren banget ya, kemarin saya cari di toko buku India katanya sold out :O

    • Roy Saputra February 5, 2013 at 08:44 Reply

      masa, dek? :O

      coba ke Boyolali. di sana best seller, samping-sampingan sama Generasi 3G dan panci presto.

  3. Maya February 6, 2013 at 13:07 Reply

    Jadi kapan jadwal wawancara dengan CNN?

    • Roy Saputra February 6, 2013 at 13:17 Reply

      gua wawancaranya sama cartoon network >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: