Tentang Sang Kuriang

Mungkin ga banyak yang tau kalo Jakarta punya satu tempat pertunjukkan yang ga kalah sama Esplenade, Singapura. Nama tempat itu Teater Jakarta. Gedung yang memiliki eksterior megah dan modern ini berlokasi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Pertama kali ke sana adalah ketika gua nonton Onrop! Musikal tahun 2010 lalu. Gua juga kaget waktu itu. Ternyata Jakarta punya gedung pertunjukkan sekeren ini. Tempatnya bersih, kursinya lega dan empuk, AC-nya dingin, dan yang paling penting, akustiknya bagus.

Teater Jakarta!

Keren kan?

Kedua gambar di atas diambil dari onropmusikal.com. Terima kasih.

Megah kan?

Nah, Sabtu kemarin (02/02), gua berkesempatan lagi untuk nonton di Teater Jakarta. Kali ini, gua nonton drama musikal Sang Kuriang yang digagas oleh paduan suara Universitas Katolik Parahyangan.

Paduan suara Unpar udah terbukti kualitasnya. Paduan suara yang terbentuk tahun 1962 ini udah banyak meraih prestasi nasional maupun internasional. Pertama kali mendapat pengakuan dunia itu ketika menang di The Nederlands International Koor Festival di tahun 1995. Keren kan?

Setelah banyak meraih penghargaan lainnya, paduan suara Unpar jadi sering diundang untuk mengisi konser di Asia maupun Eropa, kayak The 6th International Taipei Choral Festival (Taipei, 2005), The 7th World Symposium of Choral Musik (Kyoto, 2005), sampai di XX Festival Corale Internazionale ‘La Fabrica del Canto’ (Legano, 2011). Super keren kan?

Makanya begitu gua baca mereka akan mengadakan drama musikal, gua langsung mengajak seseorang untuk ke sana. Pertunjukkan digelar sebanyak 5 kali selama 3 hari. Terdiri dari 5 kelas; VVIP (1juta IDR), VIP (500ribu IDR), kelas 1 (300ribu IDR), kelas 2 (150ribu IDR), dan kelas 3 (100ribu IDR). Kita awalnya pengen nonton pertunjukkan hari Sabtu jam 16:00 WIB. Tapi tiket kelas 2 yang jam segitu udah sold out. Alhasil, kita memilih untuk nonton yang jam 20:00 WIB.

Drama musikal Sang Kuriang adalah adaptasi dari legenda Sangkuriang. Tentang seorang anak yang nakal sehingga diusir dari rumah. Lalu setelah dewasa, si anak tanpa sengaja bertemu sang ibu yang awet muda. Si ibu pun awalnya jatuh cinta sampai ia tau bahwa pria itu adalah anaknya sendiri. Emang dasarnya cewek, mau nolak aja mesti muter-muter. Akhirnya si ibu ngasih tantangan. Kalo si pria ingin menikahinya, ia harus bikin waduk dan perahu dalam semalam. Si ibu panik karena si pria nyaris berhasil berkat bantuan para siluman. Akhirnya si ibu ngakalin sehingga si pria gagal buat perahu. Karena kesal pernikahannya gagal, si pria menendang perahu sampai terguling dan terbalik. Setelah menahun, perahu tersebut membesar dan akhirnya menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkubanperahu.

Menurut gua, tantangan sebuah drama adaptasi seperti ini adalah bagaimana membuat penontonnya ga bosan karena udah tau ceritanya. Ternyata drama musikal Sang Kuriang memang menyajikan beberapa perbedaan dari cerita legendanya.

Gua akan coba menceritakan kembali jalannya drama musikal Sang Kuriang. Jika jalan cerita mulai terdengar ngaco, percayalah itu otak gua aja yang lagi ga waras. Drama musikal ini berjalan serius, tanpa dukungan Farhat Abbas, Agung Sedayu Group, Wanda Hamidah, ataupun hal-hal inkontekstual lainnya.

Yuk ah.

komplotan siluman

Cerita dibuka dengan adegan Dayang Sumbi menunggu anaknya -Sang Kuriang- yang ga kunjung pulang dari berburu. Sang Kuriang -yang digambarkan angkuh, congkak, dan tidak gemar menabung- akhirnya pulang bersama budaknya yang bernama si Tumang. Terjadi debat-debat di antara keduanya, sampai sebuah pertanyaan muncul dengan kasualnya:

“Ibu, siapa ayahku?”

Entah didorong oleh hormon apa, Dayang Sumbi akhirnya menjawab dengan jujur. Harusnya dia bisa aja mengalihkan percakapan dengan topik “Jakarta panas ya?” atau “udah nonton Ahok di Youtube?”. Namun, seperti halnya acara radio AMKM, Anda Meminta Kami Memutar; maka Sang Kuring Bertanya Dayang Sumbi Menjawab.

Ternyata, ayah Sang Kuriang adalah Farhat Abbas.

“Udah, Mas. Udah.” Terdengar isak Nia Daniaty nun jauh di sana.

Bukan deng.

Ternyata, ayah Sang Kuriang adalah si Tumang.

Ga terima punya ayah seorang budak yang jelek dan tuna wicara, Sang Kuriang naik pitam. Tadinya ia mau naik Honda Scoopy, tapi karena mesti indent, akhirnya ia memutuskan untuk naik pitam. Meski sempet denial-denial layaknya abege patah hati, akhirnya Sang Kuriang memutuskan untuk pergi ke hutan untuk berburu. Lagi galau terus berpergian? Ah, mestinya dia gua ajak juga buat nulis Trave(love)ing 2.

Anyway,

Sebagai budak yang baik, si Tumang pun ngikut ke hutan.

Sampai di tengah hutan, saking kesalnya, Sang Kuriang ngebunuh si Tumang. Lalu muncullah para siluman yang memuja Sang Kuriang karena tega membunuh bapaknya sendiri. Kepala siluman berjanji akan menjadi abdi bagi Sang Kuriang. Jika perlu bantuan siluman, Sang Kuriang tinggal telpon hotline 1-800-SILUMAN.

Ga deng.

Pokoknya siluman siap ngebantu Sang Kuriang jika sedang kesusahan. Shoulder to cry on gitu deh.

Setelah ngebunuh, Sang Kuriang memutuskan untuk kembali ke rumah. Di sini prahara dimulai. Ternyata selama ini, Sang Kuriang naksir sama emaknya sendiri. Dan karena bapaknya udah ga ada, dia mau nikahin emaknya sendiri. Gile.

Hipster Sang Kuriang. Become brondong before it was cool.

Cerita kemudian bergulir seperti legenda Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta Sang Kuriang untuk membangunkan baginya sebuah waduk dan perahu. Tanpa ba bi bu, Sang Kuriang menyanggupi. Ia sempat berpikir untuk meminta bantuan kontraktor Agung Sedayu Group ngebangun waduk. Namun karena Senin harga naik, ia memilih untuk meminta bantuan para siluman aja.

Dayang Sumbi kaget karena Sang Kuriang hampir berhasil membangun waduk dan perahu dalam semalam. Ia mencari akal bagaimana mengagalkan rencana anaknya itu. Sempat terpikir untuk mengirimkan Wanda Hamidah saat subuh buat menawarkan jadi anggota DPR, Dayang Sumbi akhirnya memilih sebuah rencana lain.

Ia membakar hutan.

Api yang menyala-nyala terlihat seperti fajar menyingsing. Para siluman berlarian. Takut. Karena konon katanya, jika terkena matahari maka badan siluman akan penuh gliter. Eh, itu mah Twilight ya?

Para siluman kabur meski perahu belum selesai. Dayang Sumbi sukses. Sang Kuriang kesal, dan seperti yang dikatakan legenda, ia menendang perahu sampai terguling dan terbalik.

Di tengah kekacauan yang terjadi -di antaranya siluman pria yang minta uang overtime serta siluman wanita sedang ngurus voucher taksi- Sang Kuriang masih kekeuh minta nikah sama Dayang Sumbi. Sang ibu akhirnya merampas kujang (sejenis senjata tajam) dari pinggang Sang Kuriang. Dayang Sumbi mengancam akan menikam dirinya sendiri jika Sang Kuriang maju barang selangkah.

Sang Kuriang maju.

Dayang Sumbi menghujam perutnya dengan kujang.

Sang Kuriang menyesal lalu ikut bunuh diri.

take a bow

Terlepas dari endingnya yang sangat Romeo-Juliet, drama musikal berdurasi 1.5 jam ini sungguh pertunjukkan yang sangat menghibur. Performa Sita Nursanti yang memerankan Dayang Sumbi sangatlah prima. Apalagi Sita terus memainkan Dayang Sumbi untuk 5 pertunjukkan. Biasanya, jika 1 hari ada 2 pertunjukkan, maka akan ada 2 orang yang bermain bergantian untuk 1 tokoh utama. Contohnya tokoh Sang Kuriang yang diperankan oleh 2 orang: Farman Purnama dan Gabriel Harvianto. Stamina dan pengalaman membuat Sita jadi highlight tersendiri malam itu.

Penampilan Farman Purnama pun juara. Karena ini drama musikal, yang setiap dialognya berupa lagu, maka lafal sangatlah penting agar penonton tetap bisa mengikuti jalannya cerita. Dengan suara yang bulat dan laki banget, Farman sukses mengantarkan cerita dengan baik. Ia pun megang banget untuk memainkan peran cowo brondong yang angkuh, congkak, dan tidak gemar menabung.

Yang patut diacungi jempol lagi adalah penataan cahaya. Set latar yang sederhana dan cenderung statis membuat penataan cahaya sangatlah penting. Dan menurut gua, sang penata cahaya (Iskandar K. Loedin) berhasil. Efek bayangan dari sinaran lampu menjadikan set panggung yang itu-itu-aja menjadi terlihat berbeda di setiap adegannya.

Untuk kualitas musiknya sendiri ga perlu diragukan lagi. Kombinasi paduan suara Unpar yang kaliber dunia dengan aransemen Dian HP, membuat musik-musik yang ditampilkan terdengar megah dan bisa memainkan emosi. Apalagi didukung kualitas akustik dari Teater Jakarta yang wah ini. Jadinya super cihuy deh.

Overall, Sang Kuriang was a great show!

Gua akan menantikan kunjungan-kunjungan berikutnya ke Teater Jakarta, baik untuk nonton drama musikal atau pertunjukan lainnya. Terlebih, drama musikal seperti ini jarang ditayangkan ulang di televisi ataupun dijual dalam bentuk DVD.

Sensasi menonton pertunjukan di Teater Jakarta sungguh menyenangkan.

sang kuriang

Apalagi jika nontonnya sama dia.

Uhuk.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

8 thoughts on “Tentang Sang Kuriang

  1. mbot February 8, 2013 at 11:31 Reply

    cieh, Sarah siapa niiih….

    • Roy Saputra February 8, 2013 at 11:37 Reply

      dari postingan segitu panjang, yang dikomenin malah ujungnya doang :)))

      ada deh :P

  2. Dinoy February 8, 2013 at 12:26 Reply

    Lagi enak2 baca, di beberapa kalimat sering diselipi joke yang sayangnya nggak perlu dan nggak lucu, jadi males baca sampe kelar. hehe^^

    • Roy Saputra February 8, 2013 at 12:31 Reply

      perbedaan selera bukan hal untuk dipermasalahkan ataupun diperdebatkan. terima kasih atas kunjungannya ^^

  3. Mia February 11, 2013 at 17:34 Reply

    Mungkin maksudnya akustik ya, bukan akuatik ;)

    • Roy Saputra February 11, 2013 at 17:37 Reply

      ah iya! terima kasih untuk revisinya ya! :D

  4. stevinesterlita March 21, 2013 at 17:03 Reply

    Aku sukak caramu bercerita, aku sukaakkkk
    >,< ngebayangin saputraroy ini pasti cina cina imutttt yaTuhan aku sukaakkk *histeris* *lalunaikhisteria*
    Sukses nulisnyaa ☺ Gbu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: