Apa yang Gua Bawa Sepulang dari #GKJ9Feb

Ada banyak cara yang berbeda untuk menghabiskan malam pergantian tahun baru Imlek. Stalking timeline mantan, garuk-garuk tembok, minum racun serangga, atau combo ketiganya yang dilakukan secara sequential.

Meski berbeda juga, tapi gua menghabiskan malam Imlek kemarin tidak dengan keempat hal di atas. Tepat sehari sebelum Imlek, gua nonton sebuah stand up special:

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits.

#GKJ9Feb

gambar diambil dari ernestprakasa.com. terima kasih.

Gua mulai berkenalan dengan stand up Indonesia sejak akhir 2011. Mulai dari nonton open mic ke open mic, sampai special show ke special show. Koper, From Tiny to Funny, Merem Melek, Tanpa Batas adalah beberapa acara stand up yang sempat gua tonton selama periode 2011-2012.

Pertama kali gua liat Ernest tampil adalah saat nonton Koper, pertunjukkan komedi dengan benang merah sebuah koper yang bikin penasaran para penampilnya. Malam itu ada Sammy, Ryan, Miund, Soleh, dan lain-lain. Ernest terlihat menonjol berkat isu-isu seputar masyarakat beretnis Cina yang ia coba angkat. Ia membuka penampilannya dengan 1 bit yang sampai hari ini masih gua inget dengan jelas.

“Ada pepatah yang bilang ‘tuntutlah ilmu ke negeri Cina’. Jangan percaya. Lah wong orang Cina-nya aja kuliah di Binus!”

Mulai saat itu, Ernest jadi salah satu komika yang gua tandain. Sebisa mungkin gua menyempatkan diri untuk nonton dia perform. Salah satunya di Ernest Prakasa & The Oriental Bandits, atau yang biasa disebut juga dengan #GKJ9Feb.

Selalu menyenangkan menonton secara live special seperti ini. Selain karena alasan-alasan yang pernah Ernest bilang di sini, menonton pembuka dari sebuah special menjadi kenikmatan tersendiri buat gua. Pembuka biasanya seorang komika yang belum terlalu ter-highlight namun mempunyai potensi untuk menjadi hebat. Ambil contoh David Nurbiyanto yang menjadi pembuka show-nya Dwika Putra di Jakfringe. Gayanya yang belum pernah gua tonton dan materi-materi yang baru menjadi kesegaran tersendiri dari sebuah special show.

Orgasme yang sama kembali gua temukan ketika menonton Barry Williem. Ia berhasil mencuri perhatian dengan materinya yang spesifik, beda, dan yang jelas, Cina banget!

Materi Barry berkisar seputar kehidupannya sebagai Cina susah yang kuliah di salah satu kampus swasta, dan sedikit banyak membuka mata mereka yang selama ini menganggap orang beretnis Cina itu selalu hidup mewah dan enak. Barry membuka #GKJ9Feb dengan kocak parah.

Setelah berhasil dipanaskan oleh 4 pembuka, lampu GKJ dipadamkan. Multimedia memainkan video yang mengilustrasikan betapa banditnya penampil utama siang itu. Video selesai, tirai turun, lalu muncullah the Oriental Bandits yang disusul oleh sang bos.

Ernest Prakasa.

Tampil dengan balutan jas yang necis, Cina yang satu ini “menghabisi” para penonton dengan materi-materi yang dekat dengan kesehariannya. Misalnya tentang keluh kesahnya jika hari Imlek datang, tentang jenjang pendidikan anak-anak yang ga masuk akal, atau tentang wakil Gubernur yang mungkin aja berkantor di Mangga Dua.

Satu hal yang teramati dengan jelas adalah: Ernest berkomedi dengan jujur.

Itu karena materi yang diangkatnya sudah pasti dia kuasai betul. Sebagai seorang WNI beretnis Cina, ia paham betul tentang Imlek. Sebagai seorang bapak dari 1 orang anak, pendidikan udah pasti jadi concern-nya. Dan sebagai masyarakat yang tinggal Jakarta, ia bisa melihat dengan dekat seorang Ahok. Ernest ga membahas yang muluk-muluk. Ia bercerita tentang kesehariannya. Itu aja.

Selain topik yang dekat dengan kita, kelebihan Ernest lainnya adalah kemampuannya untuk men-deliver lelucon dengan effortless. Santai. Atau kata anak-anak jaman sekarang: woles. Ga perlu berekspresi atau act out gila-gilaan karena materinya sendiri udah lucu. Cukup dengan intonasi dan pemenggalan kata-kata, kita udah bisa diajak ketawa terpingkal-pingkal. Contohnya waktu dia cerita tentang Apin, temannya semasa SMA yang suka taruhan.

“Besok tuh pulang pagi, Nest. Guru-guru pada rapat.”

“Ah masa sih, Pin? Perasaan ga ada pengumuman.”

“Iih. Beneran deh.”

“Ga ah. Orang ga ada pengumumannya.”

“Ga percaya?”

Ia lalu menghentikan kalimatnya di situ. Orang-orang pun mulai ngikik-ngikik karena diberi kesempatan untuk menerka-nerka ujung dari cerita tadi. Itulah kerennya Ernest. Dia bisa menyampaikan sebuah lelucon bahkan saat lelucon itu sendiri belum selesai.

ernest prakasa

Selain membuat rahang pegel, nonton #GKJ9Feb juga membuat kepala mengangguk-ngangguk. Ernest menyelipkan “gizi” tersendiri dari setiap materi yang ia coba angkat.

Bahwa diskriminasi itu relatif. Bahwa diskriminasi itu ada di mana-mana. Bahwa cara untuk melawan diskriminasi adalah dengan, ya, tabah aja. Jangan terlalu mengumbar-ngumbar jika sedang merasa didiskriminasi. Karena jika ada kesempatan yang sama pun, belum tentu kita ga mendiskriminasi.

A great insight from a great guy.

Materi favorit gua adalah saat Ernest membahas Umi, babysitter yang bekerja untuknya. Betapa kepolosan Umi bisa jadi bit-bit yang luar biasa lucu dan ampuh banget menuai tawa dari seisi Gedung Kesenian Jakarta. Dari rambut yang kebakar, sampai kepiting di kamar mandi. Dan siapa coba yang ga ketawa ngakak saat Umi salah kaprah. Nama tokoh Toy Story, Sheriff Woody, ia sangka bernama… Syarifudin.

Gara-gara Syarifudin, GKJ goyang siang itu!

Salah satu highlight dari acara kemarin adalah momen karaoke dari penonton yang sempat alay pada jamannya. Meneriakkan sebuah jargon yang awalnya malu-malu tapi malah lantang diucapkan bersamaan. Ernest berhasil membawa penonton nostalgia rame-rame. It was super fun.

Yang patut disayangkan adalah mayoritas materi Ernest siang itu udah pernah gua dengar. Entah itu di Merem Melek, Little Man Big Problem, ataupun COWmedy Buddy Holycow di Sabang.

Sempat misuh-misuh sendiri, sampai akhirnya gua menyadari sesuatu.

Bahwa sepertinya, gua udah terlalu banyak nonton Ernest.

Bukan karena gua yang ga ke mana-mana, tapi Ernest-nya yang ada di mana-mana. Show atau gig-nya jadi yang paling sering muncul setahun terakhir, baik gua tonton secara langsung atau hanya mendengar pengumumannya.

Ga hanya mengadakan show atau gig, Ernest sepertinya jadi yang paling sibuk dengan merchandise HAHAHA_store dan memanfaatkan betul online shop di multiply. Bahkan, dia punya management sendiri. Merem Melek Management. Bisa gua bayangkan, jika undangan mengisi acara ga ada, bikin aja acara sendiri. Toh udah punya management. Karena kesempatan bukan hanya datang jika dicari. Terkadang kesempatan harus diciptakan.

Dari semua-semua di atas tadi, gua bisa menyimpulkan satu hal.

Ernest Prakasa ga nanggung-nanggung dalam berkarya.

Yang seru –seperti halnya Ernest menggambarkan Ahok– Ernest adalah Chinese next door. Dia ga kuliah macem-macem. Setau gua, dia juga ga tajir-tajir banget. Tapi dia bisa ke sini ke sana, bikin ini itu, begini begitu.

Ernest ga punya gen termutasi yang membuatnya jadi seperti sekarang. Dia ga digigit laba-laba, terus keluar jaring dari pantatnya. Dia ga punya kucing berkumis enam helai yang bersuara mirip Cakra Khan yang bisa ngabulin semua permintaannya. Dia hanya mengandalkan kegigihan, kerja keras, dan pandai melihat peluang. Ernest punya yang kita semua punya.

Pertanyaannya adalah, apakah kita mau mengeksploitasi kegigihan kita seperti Ernest?

Gua yakin kita semua bisa. Meski ini terdengar MLM banget, tapi jika Ernest bisa, kita semua juga bisa. Kita bisa jadi seperti seorang Ernest Prakasa. Mungkin bukan sebagai seorang komika, tapi sebagai seorang pemusik, penulis, atau penggiat karya-karya lainnya. Kita bisa jadi seperti Ernest jika kita ga nanggung-nanggung dalam berkarya.

Ternyata selain rahang yang pegel ketawa dan kepala yang mengangguk terisi, gua pulang dari #GKJ9Feb dengan membawa satu hal yang paling penting. Yaitu keyakinan bahwa kita semua bisa berkarya sebaik dan sehebat Ernest Prakasa.

And that’s what I call a great show.

Advertisements

Tagged: , , , ,

2 thoughts on “Apa yang Gua Bawa Sepulang dari #GKJ9Feb

  1. Dinoy February 13, 2013 at 11:28 Reply

    and i like the way you wrote the review, focus on the show. :)
    Jadi ngebayangin sendiri hebohnya GKJ saat itu, tanpa terinterupsi hal-hal lain, hehe :)

    • Roy Saputra February 13, 2013 at 11:31 Reply

      thankies, Din! tujuannya emang berbeda sama yang sebelumnya :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: