Cup of Tea

Gua bukan penikmat kopi namun sering ke kedai kopi.

Biasanya, di sana gua akan memesan secangkir teh atau coklat hangat. Kopi masih menjadi musuh bagi perut gua. Minum secangkir akan menyebabkan lambung gua menjadi super ga nyaman. Sakit maag jadi penghalang gua menjadi penikmat kopi. Saat ini, biar kafein pada teh yang membantu gua terjaga jika sedang mengejar deadline kerjaan.

Gua bukan penikmat kopi walau pernah minum kopi di kedai kopi.

Salah satu kelemahan terbesar gua adalah gua ga enakan. Jarang bisa bilang ga. Pernah sekali ditawarin mau minum kopi baru racikan suatu kedai, akhirnya gua iyakan karena ga enak menolaknya. Pun gua minum dengan konsekuensi pusing setelahnya.

Gua bukan penikmat kopi tapi sering berbelanja di kedai kopi.

Apalagi kalo ada promo buy 1 get 1. Begh. Ga mau rugi. Terkadang sekadar mengutilisasi kartu kredit yang biaya tagihannya ga pernah lebih dari 6 digit. Mengaktulisasikan diri dengan memegang cangkir berlogo hijau atau duduk manis di kedai kopi paling baru. Menyesap hangat minuman apa aja yang mereka sajikan, selain kopi.

Gua bukan penikmat kopi meski sering nangkring ke kedai kopi.

Seringnya, gua hanya mencari tempat ngumpul bersama teman-teman yang kebanyakan dari mereka adalah penikmat kopi. Sekadar berbagi tawa dan bertukar cerita sambil sesekali menguatkan cita-cita. Bercangkir-cangkir kopi mereka memagari cangkir teh gua. Biasanya seperti itu. Ya apa mau dikata. Gua bukan penikmat kopi. Jadi jangan paksa gua untuk minum kopi.

Dan seperti halnya kopi, kita ga bisa memaksakan selera ke orang lain

Buku, musik, komedi, atau apapun itu. Mungkin bagi sebagian orang, The Beatles itu biasa aja. Tapi ada orang-orang di luar sana yang mati-matian mengumpulkan koleksinya. Mungkin bagi sebagian orang, Pandji bukanlah musisi yang handal. Namun ada ratusan orang yang rela bangun tengah malam demi beli tiket nonton konsernya. Selera. Semua soal selera.

Menurut gua, batasan kita hanyalah bertanya atau menganjurkan, namun ga bisa memaksakan. Memperdebatkan selera itu hal yang sia-sia. Mempertunjukkan perdebatan selera, itu lebih sia-sia.

Bukankah aneh jika gua yang ga suka minum kopi, lalu membuat komentar tentang kopi? Semakin aneh jika gua terbangun dari tidur, beranjak mandi, sengaja datang ke sebuah kedai kopi, memesan segelas kopi hitam, lalu membuat onar dengan bilang kopi mereka ga enak dan lebih baik mereka jualan lontong sayur aja?

Aneh.

Gua percaya bahwa mengalami membuat kita memahami. Gua yang belum pernah membuat kopi rasanya akan ga bijak jika mencerca habis tentang ramuan secangkir kopi. Apa rasanya jadi barista yang menyediakan kopi buat gua? Udah cape-cape ngeramu, jangankan uang tip, ucapan makasi aja kagak dapet. Pedih bet, pedih.

Dan jika mengalami membuat kita memahami, maka memahami itu mendewasakan. Jika memang gatal ingin mengkritik, maka –meski terdengar basi– kritiklah untuk membangun. Cara penyampaian menjadi penting, agar pesan yang tersirat tersuratkan dengan baik. Di situ kebijakan kita sebagai orang dewasa diuji.

Gua suka mengkritik. Sebagai seorang Virgo tulen, sifat perfeksionis udah menjalar dalam darah gua. Rasanya gemes kalo ada yang ga bener. Pengennya ngelurusin, pengennya ngerapihin, pengennya ngomentarin. Pengen. Dan pasti akan, namun hanya jika diminta.

Jika ga ditanya, lebih baik gua diam. Karena gua percaya, si pencipta karya pasti punya teman-teman baik yang akan mengkritisinya agar ia terus berkembang. Ya, minimal ada lah satu dua yang zodiaknya Virgo :P

Kalo pun ingin memberi kritik seorang teman, gua memilih untuk melakukannya secara personal. Kalo gua ga yakin dia tipe yang seperti apa ketika mendapat kritik, gua akan menyampaikan masukan lewat teman yang gua yakin bisa menyampaikan dengan lebih tepat. Mungkin ke pacarnya, sahabatnya, atau editornya.

Gua pernah baca suatu artikel. Pada umumnya, manusia dibagi menjadi 2 kelompok besar dalam konteks mendapat motivasi. Kelompok anjing dan kelompok kuda. Anjing akan termotivasi untuk berlari jika dilempar tulang atau bola. Mereka yang masuk kelompok ini adalah yang termotivasi jika diberi target, tujuan, atau pujian. Sementara kuda baru berlari ketika ditendang. Ini adalah mereka yang termotivasi saat diancam dengan hukuman ataupun ditebas kritik.

Kita ga pernah tau orang yang sedang ingin kita kritik itu anjing atau kuda. Kita ga pernah tau orang yang sedang ingin kita beri masukan itu akan seperti apa menyikapinya.

Daripada mengharapkan kebijakan mereka dalam menerima masukan, sebaiknya kita saja yang bijak dalam menyampaikannya.

cup of tea

Jika suatu saat gua disodorkan secangkir kopi, gua akan tetap minum untuk menghormati. Tersenyum untuk menghargai setiap usaha yang dicurahkan. Tetap mengucap terima kasih meski pada akhirnya harus membayar.

Lalu gua memilih untuk diam. Gua ga tau enak tidaknya suatu kopi, karena ya, gua ga suka kopi. Jadi lebih baik gua diam aja. Namun jika diminta untuk berkomentar, gua akan menjawab:

“Gua bukan penikmat kopi. Ada teh?”

“Don’t criticize what you can’t understand” –  Bob Dylan

Advertisements

Tagged: , , , , , , ,

8 thoughts on “Cup of Tea

  1. Stephanie April 9, 2013 at 16:18 Reply

    Post ini gue banget gue banget guee bangett.. *pake toa*

    Do all Virgokilers have same characteristics like this post?
    *melenceng dr topic* :p

  2. Kevin Anggara November 18, 2013 at 16:49 Reply

    Semua soal selera hahah..

    Gue penikmat kopi \o/

  3. abiwardani December 12, 2013 at 16:34 Reply

    Paling ngena di analogi ini

    “Pada umumnya, manusia dibagi menjadi 2 kelompok besar dalam konteks mendapat motivasi. Kelompok anjing dan kelompok kuda. Anjing akan termotivasi untuk berlari jika dilempar tulang atau bola. Mereka yang masuk kelompok ini adalah yang termotivasi jika diberi target, tujuan, atau pujian. Sementara kuda baru berlari ketika ditendang. Ini adalah mereka yang termotivasi saat diancam dengan hukuman ataupun ditebas kritik.”

    kayaknya gw termasuk kelompok dua yang harus ditebas dulu baru mulai menggila,, haha

    • Roy Saputra December 12, 2013 at 17:48 Reply

      Hahaha. Semoga postingannya bermanfaat ya :)

  4. -n- December 25, 2014 at 17:44 Reply

    Interesting. Thanks for sharing….

    *manggut2*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: