Sendal Jepit Hitam

Setiap kali traveling, gua pasti pake sendal jepit yang sama. Sendal jepit warna hitam yang gua beli sekitar tahun 2009. Ga cuma waktu traveling, sendal ini udah gua pake mirip lagu “Tak Gendong”-nya Alm. Mbah Surip. Ke mana-mana. Waktu main ke mall, saat kebanjiran, bahkan untuk pacaran. Ke mana-mana.

Sendalnya sendal jepit biasa. Bukan sendal ergonomi yang mahal-mahal gitu. Harganya cuma 40ribu rupiah. Sendal karet biasa namun rasanya nyaman banget di kaki. Mungkin karena udah butut, jadi alasnya udah ngikutin bentuk kaki gua. Ergonomi dengan sendirinya.

Bagi yang udah baca Trave(love)ing, mungkin masih inget dengan sendal jepit ini. Ada satu bagian di mana sendal jepit hitam butut jalan-jalan sama sepatu teplek warna merah muda di taman. Adegan ini bahkan pernah dibuatkan film pendek-nya sama Oldeboi (terima kasih!). Buat yang belum pernah baca novelnya, ini dia petikannya:

Dulu, kaki ini sering berjalan berdampingan dengan dia. Nonton, makan, atau sekedar jalan tanpa tujuan.

“Kita mau ke mana?” tanya gue waktu itu.
“Terserah. Yang penting sama kamu,” jawabnya sambil tersenyum manis.

Di hari itu, akhirnya kita hanya berjalan kaki. Hanya itu. Terdiam dan berjalan. Namun rasanya seperti sudah berbincang lama dan terpuaskan. Gue masih ingat dengan jelas. Hari itu, gua memakai sendal jepit butut warna hitam, sementara ia mengenakan sepatu teplek merah muda. Di bangku taman, kita beristirahat.

Sambil melekatkan kaki kanannya ke kaki kiri gue, ia bilang, “Sepatu sayang sendal.”

Sambil tersenyum, gue pun membalas, “Sendal sayang sepatu.”

Sekarang, kaki yang sama sedang berada ratusan kilometer jauhnya. Saat ini, kita terpisah, dan berbeda. Gue sibuk memperbaiki hati, sementara dia sedang menikmati cinta yang baru. Karena itu, kita harus terpisah.

Separasi, untuk reparasi pada hati.

Selain ke Singapura dan Kuala Lumpur dalam rangka move on itu, sendal jepit ini juga gua pake saat #JalanJalanKemiskinan edisi Belitung, #1DayInBangkok, serta outing kantor ke Kuala Lumpur (lagi). Yang terakhir, sendal itu gua pake waktu #PinoyTrip Desember kemarin. Di sebuah malam saat #PinoyTrip lah, ada sebuah cerita tentang si sendal jepit hitam.

Di malam kedua, saat gua lagi duduk santai di cafe, sendal jepit itu… putus.

Sendal yang kuat gua ajak manjat batu di pantai Belitung, sendal yang setia nemenin gua naik tangga kuil Batu Cave di Kuala Lumpur, sendal yang rela gua bawa lari-lari ngejar sleeping bus di Singapura, tau-tau aja putus waktu gua lagi duduk-duduk. Cuma lagi duduk-duduk. Bukan pas lagi manjat, main air, atau bahkan jalan kaki.

Dari situ gua engeh bahwa, terkadang kita tak kan pernah tau kapan sesuatu akan berakhir.

Ketika gua memutuskan untuk balik dari cafe, sendal itu akhirnya gua copot dan jinjing sampe ke hotel. Berjalan telanjang kaki sambil berpikir bahwa sendal ini masih akan gua betulin di Jakarta nanti. Sendal jepit hitam ini dibuang sayang. Terlalu banyak kenangan yang melekat. Terlalu banyak cerita yang tersirat.

Besok paginya, Tirta ngajakin gua untuk jalan lagi ke pantai buat foto-foto sebelum balik. Gua mengingatkan Tirta bahwa kita ga sedang prewed dan sendal gua putus sehingga agak susah untuk bermobilisasi. Tirta mengangguk dan memutuskan untuk pergi ke pantai sendiri, sementara gua akan menunggunya di lobby hotel dan meminta tolong untuk dibelikan sendal kalo ketemu satu.

Setelah beberapa jam menunggu, batang hidung Tirta kembali muncul. Ia datang sambil membawa sepasang sendal baru. Dari kantong plastiknya sih roman-romannya nih sendal bukan sendal 40 ribu-an. Sendal murah biasanya akan memakai kantong kresek item yang kadang membuat kita bingung; ini sendal apa ubi jalar beli di pasar?

Tanpa ba bi bu, gua langsung buka kotaknya dan melihat rupa si sendal baru ini.

Warnanya bukan hitam, tapi abu-abu. Bentukannya juga beda. Lebih butut dan ringkih. Karet merah yang melintang sepertinya lebih tipis dari yang sebelumnya. Membuatnya terlihat rawan putus. Bahannya pun klemer-klemer kayak abege-baru-putus-sama-pacar-karena-beda-iman-dan-ga-bisa-tegas. Gua jadi ragu sendal ini akan senyaman sendal yang lama. Sendal yang kuat gua ajak manjat batu, yang setia nemenin gua naik tangga, yang rela gua bawa lari.

Dengan keraguan yang meninggi di kepala, sendal abu-abu itu gua lempar ke lantai. Gua masukkan kaki ke atasnya. Sedetik setelahnya, kaki gua menggelinjang.

Nyaman dan pas banget!

Ternyata gua salah. Sendal yang ini jauh lebih nyaman dari sendal hitam butut gua yang sebelumnya. Ukurannya pun bisa pas padahal belinya boleh nitip, ga pake nyobain. Kayaknya Tirta cocok jadi bini gua.

“Berapa duit, Ta?” tanya gua setelah merasa puas dengan sendal pilihan Tirta.

“Hmm, berapa ya tadi?” Tirta mengernyitkan dahi.

“Dua puluh ribu?” tembak gua yang emang paling males ngeluarin uang banyak untuk biaya ga terduga kayak begini. Beli sendal jelas bukan bagian dari itinerary gua.

“Se…”

Waduh. Feeling gua mulai ga enak. Kemungkinan terusan dari kata ‘se-‘ adalah seratus ribu. Kalo beneran seratus ribu, ini akan jadi sendal jepit paling mahal yang pernah gua injek. Tadinya gua berharap Tirta ngebeliin gua sendal yang harganya maksimal, ya, 50ribu lah. Gua menyilangkan jari sambil berharap terusan jawaban Tirta adalah, “Se.. terah lu lah Roy mau bayar berapa.”

“Ser…”

Wanjir. Beneran seratus ribu nih.

“…ribu peso.”

“SERIBU PESO?!”

“Iya.”

“WANJIR! ITU DUA RATUS LIMA PULUH RIBU RUPIAH, TA! RAMPOK GUA AJA, TA! RAMPOK GUA!”

Gua merasa dizolimi, meski ga berkoar-koar ini konspirasi zionis, Yahudi, maupun Wahyudi. Tirta membela diri dengan beralasan hanya ada 1 toko sendal yang buka sepagi itu. Gua berkilah bahwa kayaknya kemarin gua sempat lihat ada daun pisang yang bisa dipungut di tengah jalan buat dijadikan alas kaki. Tirta mengingatkan bahwa dari jaman Wiro Sableng pun ga ada yang pake daun pisang sebagai alas kaki. Mereka pake sendal gunung. Gua pun bungkam. Daripada pake sendal gunung, gua memilih bayar 250ribu demi sepasang sendal jepit.

Setelah transaksi selesai, kami lalu kembali ke kamar hotel. Bukan untuk bercumbu, melainkan untuk berberes. Pagi itu, kami harus check out dan menuju bandara Kalibo untuk pergi ke tujuan berikutnya: Metro Manila. Setelah memasukkan baju bersih ke tumpukan yang paling atas, gua meresleting tas dan menggemboknya. Semua sudah masuk. Tas penuh sesak. Namun tersisa 1 benda yang tergletak di lantai kamar.

Sendal jepit hitam yang sudah putus.

Mau dibawa pulang juga ga bisa. Ga ada ruang tersisa di tas gua. Rencana untuk ngebenerin di Jakarta pun pupus.

Mungkin memang harus begini akhir cerita antara gua dan sendal jepit hitam. Sendal yang setia gua pakai ke mana-mana. Sendal yang nemenin gua ber-traveloveing. Sendal yang… pernah disayang oleh sepatu teplek merah muda.

Sendal hitam itu lalu gua ambil, masukkan ke dalam kantong plastik, dan mengikatnya kuat-kuat. Meremas bungkusan itu erat-erat sambil berjalan pelan ke pojok kamar. Menuju sebuah titik di mana semua hal yang ga perlu, pada akhirnya dibuang. Kotak sampah.

Gua menghembuskan napas panjang sebelum meletakkan bungkusan itu ke dalam tempat sampah. Melangkah keluar kamar, menutup pintu, dan menguncinya rapat-rapat. Kenangan bersama sendal hitam itu gua tinggal di sebuah kotak sampah pada kamar hotel nomor C14 di Boracay, Filipina.

“Kita mau ke mana?” tanya gua waktu itu.
“Terserah. Yang penting sama kamu.”

Tet tet!

Suara klakson mobil terdengar kencang di pelataran lobby hotel. Travel yang menjemput sepertinya udah menunggu gua dari tadi.

“Eh, kita mau ke mana?” tanya Tirta.

“Terserah. Yang penting sama ka… eh, ke bandara, Ta. Bandara.”

Sebelum naik ke dalam mobil, gua menunduk dan melihat sepasang sendal baru di sana. Tersenyum kecil sambil berpikir,

“Mungkin abu-abu akan jadi warna keberuntungan gua tahun ini.”

sendal abu-abu!

“The beautiful journey of today can only begin when we learn to let go of yesterday.”  ― Steve Maraboli

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

13 thoughts on “Sendal Jepit Hitam

  1. nyonyasepatu March 28, 2013 at 11:41 Reply

    Jari kakinya boleh tuh di kutex-in hehe

  2. omnduut March 28, 2013 at 13:42 Reply

    Ya ampun mahal banget :P eh btw, barusan ke gramed. Trave(love)ing udah gak ada. Stoknya 0. Semoga ntar cetak ulang ya.

    • Roy Saputra March 28, 2013 at 15:25 Reply

      hua? gramedia mana? udah cetak ulang kok, mungkin distribusinya ga merata. nanti diinfokan ke penerbitnya ya :D thank you.

  3. ridu March 31, 2013 at 19:53 Reply

    Wanjir mahal banget itu sendal 250ribu!! semoga langgeng ya dengan Tirta dan Sendalnya.

  4. ditta April 1, 2013 at 11:50 Reply

    wah mahal bgt 250rb!sendal jepit doang wkk

    semoga sendal jepit yg ini bisa disayang jg sama sepatu teplek lainnya ya atau mungkin highheels lainnya
    ditunggu cerita selanjutnyah~

    • Roy Saputra April 1, 2013 at 11:54 Reply

      iya nih, mahal banget :”)

      bulan ini akan ada 2 postingan sambungan dari cerita si sendal jepit hitam. tungguin ya ;)

      • ditta April 2, 2013 at 06:28 Reply

        wah masi ada 2 sambungan cerita lg tentang sendal jepit?wah si sendal jepit spesial bgt wk
        oke ditunggu bang!

  5. zepboy April 1, 2013 at 18:02 Reply

    Semoga langgeng ya bang sama bang Tirta. eh, maksudnya sama sendal abu-abunya.

  6. adiza dwiandrini April 9, 2013 at 21:19 Reply

    suka banget sama seri cerita sendal-sendalan lo, Roy :) ditunggu kelanjutannya yaa.
    ps: pas liat fotonya, Havaianas, pantesan mahal!

    • Roy Saputra April 10, 2013 at 08:11 Reply

      maacih, Diz :”)

      kerjaan laki lu tuh beliin gua sendal mahal-mahal :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: