Could They be Right?

Kecintaan gua akan stand up comedy Indonesia membawa gua dan pacar ke sebuah stand up comedy show di Tryst, Kemang hari Minggu kemarin (21 April 2013). Nama acaranya “We Could Be Right“. Nama pengisi acaranya adalah trio We Are Not Alright: Kukuh Adi, Pangeran Siahaan, dan Adriano Qalbi.

wecouldberight

Gambar diambil dari wearenotalright.wordpress.com. Terima kasih

“We Could Be Right” adalah acara kedua (tadinya gua ingin bilang sekuel, tapi nanti terasa seperti film silat) dari We Are Not Alright setelah sukses dengan acara pertamanya sekitar 6 bulan yang lalu. Mendengar betapa rame dan gaduhnya acara yang pertama, maka gua ga mau melewatkan kesempatan ketika trio ini kembali menggelar acara di Tryst, Kemang.

Setelah ngaret 40 menit, acara akhirnya dibuka juga oleh Adriano. Ia memberikan sedikit disclaimer bahwa akan ada banyak jokes di acara ini yang memerlukan keterbukaan dalam berpikir. Adriano ga bokis (cailah, bokis). Itu semua langsung terbukti dari penampilan performer pertama malam itu: Kukuh Adi.

Bit-bit tentang politik, agama, dan ketuhanan yang Kukuh lemparkan kadang menebas pagar toleran seseorang. Bagaimana ia menggambarkan akhirat serta dialog yang mungkin terjadi antara dia dan Tuhan bisa aja membuat seseorang jengah dan bertanya, “Ini acara apaan sih?”

Bit favorit gua adalah ketika Kukuh membahas kehidupan orang kantoran. Tindak tanduk karyawan baru di hari pertama kerja, kegiatan yang bisa dilakukan kalo bosen banget di meja kerja, serta gimana kantor serasa mesin waktu yang bisa membuat 5 hari kerja serasa berbulan-bulan sementara akhir pekan terlewat dalam hitungan detik. Gua ngakak dan dalam hati bilang, “Ngehe. Ini gua banget nih.”

Yang gua sangat suka dari Kukuh adalah ekspresi wajahnya. Hampir di setiap bitnya dia akan mengilustrasikan kira-kira seperti apa kejadian yang dia jelaskan sebelumnya. Dan ekspresi mukanya itu lho… bikin ngikik-ngikik gimana gitu. Lempeng sih, tapi ya, ngehe.

Kukuh membuka malam itu dengan apik. Lalu muncullah performer kedua: Pangeran Siahaan.

Gua tau Pangeran dari artikel sepakbolanya yang sarkas, kocak, namun sangat informatif. Keliatan banget kalo Pangeran adalah orang yang suka baca dan kecerdasannya di atas rata-rata. Tapi siapa sangka ternyata dia kuliah di sebuah kampus yang terkenal akan… ya, akan apapun selain prestasi ilmiahnya. Mahasiswanya pake narkoba lah, mahasiswinya hamil di luar nikah lah, ya apapun lah selain prestasi ilmiahnya.

Pangeran coba mendekatkan kita dengan latar belakangnya dan itu sukses menjaga momentum yang udah dibangun oleh Kukuh di awal. Mayoritas bit-bit Pangeran juga memerlukan ke-woles-an tingkat tinggi. Mungkin dari sekian bit Pangeran malam itu, yang paling aman hanyalah tentang betapa ilmiahnya tetralogi novel Twilight. Sebenarnya dia juga membahas buku-buku Raditya Dika, tapi sepertinya penggemar Twilight bisa lebih logis dalam membaca artikel ini.

Terlepas dari artikulasi yang cenderung cepat sehingga beberapa kali kurang jelas terdengar, Pangeran berhasil mengendalikan alur acara untuk mengopernya ke performer terakhir: Adriano Qalbi.

Dengan sebotol bir dan selembar contekan, Adriano berhasil membabat penonton dengan bit-bit yang kocak tapi sebenarnya logis. Seringnya Adriano hanya memaparkan beberapa fakta hidup tanpa dibumbuin macem-macem lagi. Udah, gitu aja juga udah lucu. Lucu banget malah.

Bit favorit gua adalah ketika ia ngebahas tentang pacaran. Maaan, I think he’s really fucked up with his love life. Sumpah, kocak parah! Ia menjelaskan tentang perbedaan logika cowo cewe yang membuat sebuah kondisi yang sama ga bisa diaplikasikan bolak-balik. Itu karena cowo lebih peduli dengan what happened, sementara cewe itu how it happened. Contohnya waktu dia cerita,

Cewe: ‘Yang, kamu inget kan temen kantor aku yang namanya Robert? Dia tadi mau nyium aku, tapi aku tolak soalnya aku kan pacar kamu.’

Otak cowo akan bekerja dengan konsep, ‘Temen kantor. Mau nyium. Ga jadi. Karena masih sayang.’

Cowo: ‘Oh. Oke.’ Done. Selesai. Cowo ga akan mempermasalahkan. Tapi coba kalo dibalik.

Cowo: ‘Yang, kamu inget kan temen kantor aku yang namanya Reta? Dia tadi mau nyium aku, tapi aku tolak soalnya aku kan pacar kamu.’

Cewe: ‘Tunggu, tunggu! Gimana, gimana? Reta siapa? Kok kamu ga pernah cerita? Coba ceritain mulai dari kamu kenalan sama Reta sampe mau ciuman di kantor tadi!’

Seisi Tryst ngakak parah, manggut-manggut, sambil nyeletuk dalam hati (terutama yang cowo-cowo), “Bener banget tuh!”. Adriano menyimpulkan bahwa ga heran cowo sering selingkuh karena ketika ada cewe telanjang dan mau nyium dia, ya mending diembat aja terus dijadiin rahasia ga sih? Karena kalo ditolak, kan ga bisa diceritain juga ke pacar. Dan di detik Adriano menyelesaikan kalimatnya, Tryst pun pecah oleh tawa dan tepuk tangan.

Selain soal hubungan cowo cewe, Adriano juga melemparkan opininya tentang kondisi sosial budaya di Indonesia. Masih banyak keadaan-keadaan yang menyimpulkan bahwa kita tinggal di sebuah negara yang kacau banget. Kayak budget buat ngiklan selama 30 detik di tivi itu jauh lebih mahal daripada biaya bangun 1 sekolah, acara-acara tivi yang kurang mendidik, atau tentang gimana kita masih egois dalam memprioritaskan suatu masalah.

Last night, Adriano was complaining with style.

let it be - we are not alright

“We Could Be Right” ditutup dengan Kukuh, Pangeran, dan Adriano mendendangkan sebuah tembang lawas milik The Beatles: Let It Be. Setelah dicekokin opini-opini mereka tentang betapa masih banyak pe er yang harus diberesin, menyanyikan lagu ini seperti tamparan keras bagi kita semua. Membiarkan kita pulang dengan sebuah pertanyaan menganga lebar di kepala:

Do we want to let it be?

Malam itu, mereka bertiga telah melemparkan berbagai macam pendapat dan keluhan yang memprovokasi para penonton. Sangat subjektif, tapi kita semua seperti terhipnotis mendengarkan bit demi bitnya dengan taat. Bisa aja kita ga sependapat, tapi setidaknya ada satu hal yang kita sepakati bersama malam itu. We agreed that we are not alright.

And hey, they could be right.

Advertisements

Tagged: , , , , ,

2 thoughts on “Could They be Right?

  1. Sartika April 24, 2013 at 15:46 Reply

    Kocak banget yang bagian bahas cewe dan cowo itu hahaha..nice post…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: