Her Closet: Pelajaran dalam Jalinan Benang

DISCLAIMER:

Postingan ini dibuat oleh sang pacar (@sarahpuspita) secara sukarela, tanpa adanya paksaan ataupun todongan senjata tajam. Ciyus. Untuk membaca tulisannya yang lain, bisa langsung main ke blognya di sini. Semua gambar dalam postingan ini adalah milik pribadi penulis. Terima kasih.

Lemari pakaian selalu menyimpan cerita pemiliknya. Pengalaman-pengalaman dapat tertenun lewat potongan-potongan kain dengan berbagai model dan bentuk, yang akhirnya, membuahkan pelajaran kehidupan yang berharga.

Akhir pekan lalu, saat membongkar lemari, saya menemukan beberapa potong pakaian, yang membuat saya tersadar akan beberapa hal. Melalui postingan kali ini, saya akan berbagi 5 di antaranya.

Sepotong Pasmina Penuh Kenangan

Pandangan saya tertuju pada sebuah pasmina yang tersembunyi di bagian bawah tumpukan baju. Pasmina itu berwarna oranye, merah, dan hijau yang coraknya berbentuk seperti buah kiwi.

“Aku beliin kamu ini. Soalnya mirip buah yang aku suka!”

pasmina

Kalimat itu melintas lagi. Kalimat yang diucapkan oleh seseorang yang pernah berarti, sepulangnya ia dari Bali. Setahun yang lalu, saya menyembunyikan pasmina ini supaya tidak terlihat dan mengundang banyak memori yang sudah saya usir pergi. Tapi hari ini, ia menampakan diri. Surprisingly, tidak ada rasa sakit dan sesak yang biasanya datang menyerang. Jadi saya ambil pasmina itu, kemudian saya pindahkan ke tumpukan teratas.

Terkadang, kita memang harus diam, bersabar di tempat kita berada untuk menunggu waktu yang tepat. Tak perlu terus mempertanyakan kenapa saya di ‘bawah’, kenapa saya jarang ‘dipilih’, dan sebagainya. Lakukan yang terbaik, bahkan pada hal-hal kecil yang dipercayakan padamu. Semua hanya masalah waktu, karena kehidupan adalah sebuah proses. Ketika waktu yang tepat telah tiba, dan kamu telah ‘siap’, ada saatnya kamu akan berpindah ke tempat yang terbaik.

Jeans Pendek yang Pernah Panjang

Saya mengambil sebuah bangku kecil dan naik ke atasnya, untuk mencapai bagian tertinggi dari lemari, tempat kumpulan jeans saya berada. Saat sedang sibuk mencari, tangan saya meraba benang yang menjuntai dari salah satu celana di tumpukan itu. Panik, saya menarik benang-benang itu keluar untuk melihat celana mana yang robek. Ah… ternyata ini.jeans

Itu adalah jeans yang saya modifikasi menjadi hot pants karena model asalnya sudah ketinggalan zaman. Saya sayang jeans ini. Potongannya pas dengan bentuk pinggang saya. Karena dibuang sayang, akhirnya saya memutuskan untuk merombaknya sedikit, dan voila! Dia jadi terpakai lagi.

Seperti jeans yang dipotong, terkadang, hidup harus mem-’bentuk ulang’ manusianya. Diubah dan dijadikan lebih baik, lewat gunting yang dalam kehidupan datang dengan nama ‘masalah’. Di-’modifikasi’ untuk menjadi lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih siap untuk menyesuaikan tantangan zaman dan kehidupan yang juga bertambah.

Hadiah Natal di Hari Kasih Sayang

dress

Mata saya tertumbuk pada deretan dress yang berjajar rapi di lemari bagian bawah. Tangan saya terulur dan mengambil sebuah terusan berwarna coklat muda, yang dihiasi aksen manik-manik di bagian dada dan naik hingga ke leher. Dress ini adalah hadiah Natal yang saya pakai ketika makan malam untuk merayakan hari kasih sayang. Bibir saya lantas membentuk sebuah senyum.

Pernahkah terpikir, bahwa kamu juga merupakan sebuah ‘hadiah’ dari Tuhan? Bagi orang-orang di sekitarmu. Bagi keluargamu. Bagi dia yang mencintaimu. Kamu, adalah sumber kebahagiaan bagi seseorang. Pencipta senyum, pemancing tawa, pembawa bahagia, dan pelukis warna indah hanya karena kamu hidup dan bernafas di dunia.

Dari dress ini saya belajar, bahwa setiap insan manusia berharga. Dan sama seperti saya, kamu juga sangat berharga.

Sepotong Harta Karun dari Gudang

rok

Rok ini milik Mama semasa beliau masih gadis. Umurnya lebih tua dari saya, tapi berhubung vintage sedang in, akhirnya saya memutuskan untuk memasukkan rok ini ke dalam lemari. Tentunya setelah ukurannya saya sesuaikan dengan ukuran pinggang saya.

Seperti rok usang dari gudang yang akhirnya pindah ke lemari baru, terkadang kita diharuskan untuk keluar dari comfort zone. Keluar dari kebiasaan atau tempat-tempat yang membuat kita terlalu nyaman. Sebaliknya, melangkah dengan berani, menuju tempat yang sama sekali baru. Menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, mengenal orang-orang yang baru, belajar hal-hal baru, mencoba pengalaman-pengalaman baru.

Karena hidup mengajarkan kita untuk terus bertumbuh, dan menjadi lebih kaya sebagai seorang manusia.

Kaos Obralan yang Kesempitan

Saya mengambil sebuah kaos berwarna kuning yang terlihat sangat pendek jika disesuaikan dengan tinggi badan saya saat ini. Warnanya kuning. Jika itu kurang memberi kesan mencolok, saya tambahkan deskripsi warnanya. Kuning ngejreng.

kaos kuning

Bukan hanya warna, sablonan merk di sekitar perutnya pun terlalu mencolok untuk tidak diperhatikan. Kaos ini adalah kaos pertama yang saya beli dengan uang jajan sendiri ketika SMA. Kaos hasil perburuan obral besar-besaran, yang kini sudah kesempitan.

Saya sudah tidak mengenakannya karena sudah sangat sempit. Hanya bisa meletakkan kaos itu di dalam sebuah kantong plastik untuk saya carikan pemilik baru.

Kaos ini mengingatkan saya satu hal. Bahwa ketika kenyamanan sudah tidak bisa lagi dirasakan, ada baiknya kita belajar mengikhlaskan.

Mungkin, sudah saatnya untuk mencari ‘pemilik’ yang baru. Meninggalkan yang lama, untuk mencari yang lebih sesuai. Yang lebih pas. Yang lebih cocok.

Bukan karena tidak setia. Tetapi dalam hidup, seperti kaos yang kesempitan, ada beberapa hal yang memang tidak dapat dipaksakan untuk tetap tinggal.

Cinta, (mungkin) termasuk di antaranya.

Saya menutup pintu lemari dan tersenyum. Tak pernah terpikir bahwa saya akan mendapatkan pelajaran dari kegiatan membongkar sebuah lemari pakaian. Pelajaran tentang menunggu, tentang memperbaiki diri, tentang betapa berharganya kita, tentang melangkah dengan berani, dan yang terakhir, tentang merelakan demi kebaikan.

Mungkin nanti, saya akan menemukan lebih banyak lagi lewat benda-benda yang tak terpikir akan menyimpan beragam analogi tentang kehidupan. Lemari ini mengajarkan bahwa selama kita tidak lelah mem-’bongkar’, selalu ada ilmu yang terselip untuk digali dan dipelajari.

Selama mau rendah hati, sesungguhnya manusia bisa belajar dari siapa dan apa saja. Bahkan dari lima benda kecil yang selama ini tersimpan rapi dalam rupa jalinan benang warna-warni.

Ya kan?

Advertisements

Tagged: , , , , ,

10 thoughts on “Her Closet: Pelajaran dalam Jalinan Benang

  1. romeogadungan May 14, 2013 at 12:38 Reply

    Bagus ini, gue kirain awalnya lemarinya Roy -_-‘. Paling suka kaos yang kesempitan. analoginya pas, jadi ngerasa uhukkk gitu.

  2. Ceritaeka May 14, 2013 at 15:54 Reply

    JIka kita berhenti sejenak maka sesungguhnya ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari mana saja, termasuk dari membongkar lemari pakaian!

  3. zoice jahara May 14, 2013 at 16:58 Reply

    makasih,,,banyak hal yg bisa sy ambil dari cerita diatas,,

    • Roy Saputra May 14, 2013 at 17:06 Reply

      sama-sama. terima kasih sudah berkunjung ke blog ini :D

  4. gusmang December 21, 2013 at 00:30 Reply

    Reblogged this on WAITING TO BE FOUND and commented:
    Kita perlu belajar dari sekitar kita, bahkan dari hal yang kita anggap nggak terlalu penting.

  5. gusmang December 21, 2013 at 00:34 Reply

    Aku reblog Bang.
    Well, hal yang kita kira nggak bisa memberikan pelajaran ternyata punya sesuatu yang membuat kita tersadar. Terkadang kita harus berhenti sejenak untuk merenungkannya.

    • Roy Saputra December 21, 2013 at 07:56 Reply

      indeed. terima kasih udah re-blog :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: