Bali Jelang Nyepi

Sumpah, gua ga bermaksud se-hipster orang Jakarta yang traveling ke Borobudur saat Waisak.

Tapi bulan Maret kemarin, saat umat Hindu merayakan Nyepi, gua dan teman-teman semasa kuliah memutuskan untuk traveling ke Bali. Bukan maksud hati untuk diniatkan, tapi itu semua karena kecelakaan saat memesan tiket pesawat. Bermula ketika salah seorang teman, Audi, menghebohkan grup Whatsapp dengan sebuah berita mengejutkan.

“WEY! GARUDA LAGI PROMO TUH! KAPAN LAGI KITA BISA NAIK GARUDA?”

Sebagai pemerhati Indosiar, gua sempat membayangkan bahwa kami akan seperti Kakang Kamandanu dan Mantili. Naik di atas punggung burung garuda sambil memakai baju keemasan, berambut gondrong, bawa-bawa keris, kalo ngomong pasti di-dubbing, dan puncaknya, mesti pake sendal gunung.

Ternyata yang dimaksud adalah maskapai Garuda Indonesia. Langsung aja gua batalkan niat untuk menelpon tempat penyewaan kostum dan toko sendal Carvil.

Setelah berdiskusi ke sana ke mari tentang destinasi, akhirnya kami semua sepakat untuk memilih Bali. Padahal gua lebih mendukung agar kami ke Bangkok, Thailand. Namun apa daya, gua kalah suara. Atas asas musyawarah mufakat, kami memutuskan untuk traveling ke Bali.

Setelah destinasi, pertanyaan berikutnya adalah: mau berangkat kapan?

Karena kami semua adalah pekerja kantoran, diputuskan untuk mencari yang ada hari libur nasionalnya. Tujuannya agar bisa menghemat cuti barang 1-2 hari. Setelah melihat kalender dan mencocokkan dengan jadwal promosi maskapai, akhirnya kami sepakat untuk berangkat di hari Sabtu, 9 Maret 2013 dan pulang hari Rabu, 13 Maret 2013 (5 hari). Ada 1 hari raya yang jatuh di hari Selasa (12 Maret), jadi kami hanya perlu cuti 2 hari aja.

Kami akhirnya dapet tiket Jakarta – Bali PP dengan harga 700ribu! Menurut gua, itu termasuk lumayan karena terakhir gua ke Bali dengan Garuda (yang dibayarin kantor) itu kena 1.6 juta PP. Ini lebih murah sampai setengahnya lebih. Mayan.

Saking semangatnya, tiket dipesan hari itu juga sebelum kehabisan. Dengan gesit, Audi berhasil mem-book dengan tanggal yang kami inginkan. Yes!

Yang kami ga tau, tanggal 12 Maret itu ternyata… hari raya Nyepi. Eaaa.

Tiket udah kadung dipesan, kami tetap berangkat ke Bali. Gua sendiri berangkat sehari lebih di awal karena kebetulan ada urusan kantor juga di Bali. Teman lainnya tetap berangkat tanggal 9 Maret. Dan begitu sampai bandara, mereka disambut oleh spanduk dengan ukuran besar. Sekadar memastikan bahwa tanggal 12 MEMANG hari raya Nyepi.

spanduk

Confirmed

Begitu mendarat, mereka langsung meluncur ke pantai yang paling sohor, pantai Kuta Bali. Hati-hati ketika hanya menyebutkan nama pantai Kuta, karena nyatanya, ada juga pantai Kuta di Lombok. Kuta Bali jadi tujuan pertama karena letaknya yang ga jauh dari bandara I Gusti Ngurah Rai. Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis mancanegara dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal tahun 1970-an.

Hanya menghabiskan waktu beberapa menit di sana, mereka melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot. Kurang lebih berjarak 20 kilometer dari Denpasar, Tanah Lot adalah pura yang tegap berdiri di atas sebuah batu di tengah laut yang kini menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi oleh wisatawan lokal ataupun mancanegara.

Berdasarkan reportase yang gua baca dari obrolan grup Whatsapp, perjalanan mereka menuju Tanah Lot tersendat karena ada arak-arakan. Dari warga lokal yang kebetulan jadi guide gua di acara kantor, katanya jelang Nyepi, warga setempat berbondong-bondong melakukan ritual cuci pura. Semua memakai baju warna putih dan sebagian membawa umbul-umbul dan payung. Sebuah pemandangan yang hanya didapat jelang hari raya.

Sesampainya di Tanah Lot, mereka mengabadikan momen ini. Tentunya tetap menjaga jarak dan memberi ruang untuk para warga yang sedang melakukan ritual cuci pura.

tanah lot

“Si Adek keteknya gondrong juga ya…”

Ga hanya di tanggal 9, ritual cuci pura ini sepertinya terus berlangsung setidaknya sampai 1 hari sebelum Nyepi. Tanggal 10, saat gua udah bergabung dengan teman-teman yang lain, kami bertemu lagi dengan arak-arakan yang sama saat sedang menuju ke Ubud. Kali ini bukan hanya motor, tapi juga rombongan pemain musik dan truk yang membawa ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh adalah patung yang sepertinya terbuat dari bubur kertas dan ditopang oleh rangka yang dibuat dari bambu. Untuk memudahkan visualisasi, ogoh-ogoh ini mirip ondel-ondel di Jakarta. Biasanya, ogoh-ogoh akan berbentuk siluman, setan, atau makhluk gaib lainnya. Ada satu ogoh-ogoh unik yang gua liat di deket pelabuhan Padang Bai. Bentuknya Anas Urbaningrum, Bro!

jalan ramai

Si Bapak sadar kamera

Ketika siang ramai oleh parade dan arak-arakan, namun malam menjadi sepi jelang Nyepi. Tempat yang biasa padat oleh wisatawan jadi terasa lebih lapang. Contohnya yang gua liat saat mampir ke jalan Legian malam minggu. Biasanya, berjalan kaki saat weekend di Legian bisa sampai bersenggol-senggolan bahu saking ramainya. Namun kali ini, sepi bener!

legian sepi

Lowong

Yang menarik, di balik sepinya jalan Legian, ada keramaian yang tercipta dari riuhnya latihan tari di beberapa pura di jalan Legian. Suara-suara yang biasa ramai oleh obrolan dalam bahasa asing dan tawar-menawar barang penjual pembeli, berganti menjadi dentingan alat musik gamelan yang mengiringi pemuda-pemudi ini meliukkan badannya. Lagi, sebuah pemandangan yang hanya bisa dinikmati jelang hari raya.

latihan nari di legian

Ahey!

Saat Nyepi, kita sama sekali tidak diperbolehkan untuk keluar rumah atau hotel. Tidak boleh menyalakan listrik dan api besar. Daripada garing, kami yang ga merayakan hari raya Nyepi memutuskan untuk melintas laut. Menuju Gili Trawangan!

Untuk sampai ke Gili Trawangan, kami menggunakan jasa travel yang menjemput di hotel, mengantar ke pelabuhan Padang Bai, dan menyebrangkan kami ke Gili dengan speed boat. Untuk jasa travel bolak balik itu (Bali – Gili Trawangan dan Gili Trawangan – Bali), kami harus merogoh kocek sebanyak 500 ribu. Bagi yang berminat, bisa menghubungi nomor 085 333 49 65 34 (tapi gua lupa namanya siapa). Kalo dikasih harga lebih mahal, tawar aja, Bro!

Ternyata, ide untuk menyebrang ke Gili Trawangan 1 hari sebelum Nyepi bukan hanya tercetus di kepala kami berlima. Setelah menempuh perjalanan darat selama 1 jam lebih, kami akhirnya sampai di Padang Bai dan melihat ini.

penyebrangan

“Excuse me, please!” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Awas air panas!”

Rame banget. Antriannya menaga, jika mengular masih dirasa kurang panjang. Baik wisatawan lokal, interlokal, faks, atau internet (dikata wartel?) tumpah ruah di Padang Bai. Kurang jelasnya informasi kapal mana yang ke mana, berangkat kapan, dan bagaimana naik membuat situasi antrian sempat kisruh. Ditambah lagi matahari kayak abis berobat ke On Clinic. Terik dan panasnya membuat sebagian besar calon penumpang udah ga sabar mau naik ke dalam speed boat.

nyebrang ke gili

Perhatikan barang bawaan Anda dan hati-hati melangkah

Setelah 2 jam perjalanan membelah selat Lombok, kami akhirnya sampai juga di pelabuhan di Gili Trawangan. Pemandangan yang pertama terlihat adalah cidomo (sejenis delman) yang asik wara-wiri di jalan berpasir selebar 1 buah mobil. Untungnya, kendaraan bermotor sama sekali dilarang di sini. Udara bersih jadi energi yang pas buat berkeliling Gili Trawangan dengan berjalan kaki. Sehat sekaligus irit.

Anyway,

Itu tadi beberapa hal yang kami lihat di Bali jelang Nyepi. Arak-arakan warga berbaju putih, ritual cuci pura, ogoh-ogoh, Legian yang lowong, penari yang berlatih, sampai pelabuhan Padang Bai yang super ramai.

Nah, sekarang ijinkan kami untuk menikmati indahnya Gili Trawangan.

gili trawangan

Bukan bermaksud hipster, kami hanya para pelancong kere yang tanpa sengaja ke Bali jelang Nyepi

PS:

Semua gambar dalam postingan ini adalah milik Naya Pandya dan diambil menggunakan kamera saku Canon IXUS 115 HS. Dilarang meminjam / menggunakan gambar-gambar ini tanpa ijin / mencantumkan sumbernya. Terima kasih.

Advertisements

Tagged: , , , , , , ,

5 thoughts on “Bali Jelang Nyepi

  1. Diana Bochiel June 21, 2013 at 19:41 Reply

    ini ga ada yang comment. ya udah deh gw yang coment. hahahaha

    itu di padang bai rame bener ngumpul jadi satu gitu kek ompol -__-
    ketek bule bau ga bang?

  2. Gerry October 9, 2013 at 16:08 Reply

    ini kasusnya sama bgt dengan gw, karna tergiur dengan tiket promo merpati tapi kok sama ya 700rb pp (aku menyesal tidak memilih garuda)
    tapi menyenangkan waktu berkunjung ke bedugul sepanjang perjalanan sampai ke tkp disajikan budaya dan adat yg kental karna perayaan menjelang nyepi yg namanya hmmmm kuningan/galungan.
    tp karna kita berempat (sebut aja *mawar,melati,ayam,tikus) lbh kere dari kalian kita ber4 lebih memilih full di hotel saat nyepi, dengan bermodal roti gandum dan mie instan yg dimakan “kremes”..

    • Roy Saputra October 10, 2013 at 08:13 Reply

      hahahahahahah. kayaknya seruan cerita lu nih daripada gua.

      salam kenal! :D

  3. Char Lie December 9, 2013 at 07:49 Reply

    Spertinya kita sama2 merasakan nyepi dibali ditanggal yg sma ko ga ktmu ya bro.. gw dibali dr tgl 7-13 maret.. kpn bs traveling bareng.. nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: