Review Man of Steel

Gua bukan penggemar Superman.

Namun untuk mengikuti tabiat kaum di mana gua bernaung, yaitu kaum kelas menengah ngehe, maka gua memutuskan untuk nonton Man of Steel sesegera mungkin setelah rilis di Indonesia. Atas nama itu, gua dan pacar memutuskan untuk nonton kemarin malam di Planet Hollywood. Dan postingan hari ini adalah reviewnya.

man of steel

Gambar dipinjam dari sini. Terima kasih.

Dibanding Superman, gua lebih suka tokoh Batman. Setidaknya, Batman itu manusia biasa yang punya kelemahan dibanding Superman yang alien super-jago. Kebal peluru, bisa terbang, lari cepet, badan kuat, mata bisa tembus pandang dan keluar sinar laser, serta kupingnya bisa denger omongan orang dari jauh. Jangan-jangan kalo Superman main Twitter, dia bisa tau kalo kita twit nomention soal dia!

Tapi lewat film Man of Steel, penonton diajak untuk mengetahui perjuangan hebat di balik kekuatan super itu.

Film dibuka dengan adegan yang grande. Konflik di planet Krypton yang berawal ketika Jor-El, sang ilmuwan, percaya bahwa planet Krypton sebentar lagi akan hancur dan penduduknya harus segera dievakuasi.

Para pemimpin bangsa Krypton ga sependapat dengan Jor-El dan memilih untuk tinggal diam. Saat lagi asik berdebat, muncullah sang penjahat utama: Jendral Zod. Jendral Zod mendukung Jor-El agar penduduk Krypton harus dievakuasi. Namun bedanya, jika Jor-El ingin penduduk Krypton beradaptasi dengan planet barunya, Jendral Zod ingin mengakuisisi planet baru tersebut.

Cekcok tersebut berujung pada sebuah pertarungan epik antara belasan kapal perang, ratusan tentara, dan seekor naga. Di tengah kemelut itu, Jor-El berhasil meloloskan diri dan pulang ke rumah. Bukan untuk update status Facebook, melainkan untuk menyelamatkan anaknya (Kal-El, tanpa Dul) dengan menerbangkannya ke bumi. Menjadikan Kal-El seorang pelancong di sebuah dunia yang baru. Inilah yang menjadi latar belakang konflik di film Man of Steel.

Sebagai catatan, semua adegan di atas dilakukan dalam bahasa Inggris. Padahal kan mereka alien gitu ya. Gua curiga di planet Krypton ada EF buat kursus bahasa Inggris. Ya minimal LIA lah.

Anywaaay,

 

Jika kalian mengharapkan film superhero yang full action, sebaiknya kalian menurunkan ekspektasi sedikit. Karena film yang berdurasi total 143 menit ini membutuhkan kesabaran, setidaknya di 1.5 jam pertama.

Seperti yang gua bilang di awal, film Man of Steel mengajak penonton untuk tau perjuangan hebat di balik kekuatan seorang Superman. 60% lebih dari total durasi, Clark Kent lebih banyak bertarung melawan diri sendiri, belajar mengendalikan kekuatan super, dan berjuang memperoleh kepercayaan kaum manusia.

Meski berbau drama banget, cerita pencarian jati diri Clark secara mengejutkan ga terlalu membosankan. Dibuat dengan alur maju-mundur, antara cerita-cerita sewaktu kecil dengan perjalanan menemukan jawaban yang terjadi di masa kini. Akting dari Kevin Costner dan Diane Lane yang sangat baik sebagai ayah dan ibu Clark Kent, menambah kuat bagian yang minim kelahi ini.

Namun jangan khawatir, wahai para penikmat film aksi. Selepas 1.5 jam, film ini jadi full action movie!

Rentetan adegan penuh aksi dibuka oleh pertarungan Kal-El melawan dua ajudan Jendral Zod. Pukulan, bantingan, dan ledakan yang simultan memaksa mata penonton ga boleh lengah sedikitpun. Sungguh chaos dan laki banget.

Pemilihan Henry Cavill sebagai Clark Kent juga menambah elemen ke-laki-banget-an tadi. Rahang kotak, pipi tirus, dan rambut ga berjambul, menjadikan muka Clark Kent di Man of Steel itu terlihat keras dan cadas. Berbeda dengan citra Superman yang gua tau selama ini: perlente.

Pun dengan aksinya. Lebih brutal dan anarkis. Lempar seenaknya sana-sini demi menghatam musuh itu beda banget sama tabiat Superman yang selama ini gua taunya lebih main aman, santun, dan tawakal. Biasanya dia bakal usahakan collateral damage yang paling minimum. Lah ini musuhnya dilempar ke gerbong kereta aja gitu lho. Ga kasian apa sama yang udah beli tiket commuter line Jakarta – Bogor? Padahal siapa tau mereka mau pergi dari Bogor kita menuju ke Cilegon. Dari Bogor kita menuju ke Cilegon…

Sodara-sodara, serunya aksi kelahi di Man of Steel ga terlepas dari pemilihan karakter penjahat utamanya. Jendral Zod dan para ajudannya adalah lawan yang sangat sepadan, membuat Superman seringkali kewalahan. Biasanya, musuh Superman itu sebuah robot, rudal, atau bencana alam. Pengok sana, jebol sini, maka selesai sudah.

Tapi kali ini lawannya berbentuk manusia yang seukuran dan sama supernya. Berantemnya pun pake tangan. Tonjok sana, banting sini, tendang sana, pukul sini. Manual banget berantemnya. Namun justru itu yang bikin fighting scenes-nya seru dan heroik banget.

Salah satu adegan favorit gua adalah pertarungan terakhir antara Superman dengan Jendral Zod. Momen ketika Jendral Zod dilempar udara, lalu Superman menyusul dan memukulnya sebanyak 2 kali menbuat gua nyaris bangkit dari kursi untuk ikutan mukul!

A super-epic fighting scenes.

Semua ke-epic-an itu berkat arahan sang sutradara, Zach Snyder, yang juga pernah menyutradarai film cadas lainnya seperti 300 dan Watchmen. Terlepas dari beberapa pengambilan gambar yang terasa seperti National Geography di bagian awal, gambar-gambar dari menit ke 90 seterusnya itu keren banget. Memberikan sensasi yang sangat dekat dan beberapa kali breathtaking.

Jadi, kalo ditanya film Man of Steel itu bagus atau tidak, gua akan menjawab seperti ini.

Gua selalu menilai sebuah film superhero itu patut ditonton jika saat keluar dari bioskop, gua langsung kepengen jadi superhero tersebut. Itu tandanya film tadi telah berhasil membangkitkan kenangan dan membawa gua ke masa kecil yang selalu bercita-cita jadi superhero.

Malam itu, gua keluar studio dengan tangan yang terbentang ke depan seolah ingin terbang.

Yup. It was a good movie.

PS: Selesai film langsung keluar aja, soalnya ga ada adegan penutup setelah credit title kayak film-film keluaran Marvel. Jangan nunggu kayak gua :|

Advertisements

Tagged: , , , ,

17 thoughts on “Review Man of Steel

  1. buzzerbeezz June 14, 2013 at 11:22 Reply

    Kenapa ini aku sambil baca review ini malah bayangin Jeremy Teti nyanyi ya? :-o

  2. Novie June 14, 2013 at 14:07 Reply

    ” semua adegan di atas dilakukan dalam bahasa Inggris. Padahal kan mereka alien gitu ya. Gua curiga di planet Krypton ada EF buat kursus bahasa Inggris. Ya minimal LIA lah.”

    Yang ini yang paling bikin gw ngakak….

  3. nyonyasepatu June 15, 2013 at 00:21 Reply

    Layak tonton yaaa?

  4. ludy June 20, 2013 at 12:11 Reply

    durasi credit nya berapa mas ??

  5. Diana Bochiel June 21, 2013 at 19:24 Reply

    saras 008 better than superman. *cinta produk lokal

    tapi gw udah nonton.. -__-

    superhero ribet dengan kain merah yg melambai2, ribet matiin Zod.
    bekep aja pake kaen merahnya itu. kelar -__-

  6. anastasiadisini June 21, 2013 at 21:08 Reply

    ya ampun kasiannya nungguin sampe credit title habis :[ aku malah pas nonton iron man ngga nunggu ampe credit title habis :| thank you reviewnya mas :D

  7. mbot June 24, 2013 at 23:04 Reply

    Sebagai warga kelas menengah ngehe, Anda seharusnya menyebut2 soal Kevin Costner. Ini pelanggaran! Blasphemy!

    *nuding pake USB stick ala Krypton

  8. pak dhe June 27, 2013 at 07:51 Reply

    Oh boy, it really a “damn good” movie,

    Setingnya seperti transformer, ironman, ada campur tangan pihak militer, which is good untuk menambah kesan natural.

    Dan Nolan&Friend benar benar jenius menulis naskahnya, pakem cerita superman diobrak abrik, yang gw suka, cara masukin lois lane ke kehidupan percintaan si superman, so natural & jadi masuk akal, kenapa harus lois lane terjawab sudah, bukan kebetulan, ngga kaya mary jane yang mendua hati, suka sama peter parker, plus suka sama spiderman, tanpa tahu kalau mereka berdua adalah orang yang sama.

    Dari sisi pencarian jatidiri sebelas-duapuluh (mirip tapi beda jauh) sama si peter parker atau si simba (lion king), “the world is not ready”

    Kostum juga begitu, melenceng dari pakem, (bukan karena CD nya sudah dipakai di dalam), tapi lebih ke asal usulnya

    Memang ini cara yang paling gampang untuk menjelaskan kenapa ngga sobek setelah berantem kaya dragon ball gitu

    Dan ya, lana lang cuman kebagian jatah dikit di film, first love nya superman ngga banyak diangkat.

    Banyak yang aneh lah, tapi itulah Nolan, sang pelanggar pakem, I’m loving it

  9. dodo July 20, 2013 at 13:30 Reply

    Sial jadi pengen nonton…. belum nyampe di sini nih bajakannya… hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: