Pulang

Kecintaan gua terhadap Liverpool bermula di tahun 1996. Dan itu semua gara-gara seorang penyerang bernama Robbie Fowler.

robbie fowler

Di hari Minggu sore itu, gua sedang nonton Lensa Olahraga dengan Monica Desideria yang masih singset sebagai pembawa acaranya. Pilihan acara remaja seusia gua di Minggu sore waktu itu adalah Lensa Olahraga atau Baywatch. Karena bokap lagi duduk di sebelah, maka sore itu gua harus nonton Lensa Olahraga. Harus.

Di tahun 1996, gua sama sekali belum mengerti tentang sepakbola. Di usia gua waktu itu, yang gua paham hanyalah Pamela Lee Anderson mempunyai ukuran di atas rata-rata. Tapi gara-gara tayangan Lensa Olahraga sore itu, gua jadi paham satu hal lagi. Ternyata nonton sepakbola itu menyenangkan.

Melihat cowo-cowo oper-operan bola menjadi menarik buat gua yang selama ini lebih suka nonton cewe-cewe kelelep di pantai. Ditambah lagi, sore itu Lensa Olahraga lagi membahas 1 pemain yang lagi naik daun: Robbie Fowler. Kemampuannya memasukkan bola ke gawang musuh dan selebrasi-selebrasinya yang unik, berhasil membuat gua memutuskan untuk jadi pendukungnya. Sebut saja, ini nge-fans pada pandangan pertama.

Karena Fowler bermain di Liverpool, maka otomatis gua menggemari Liverpool. Tanpa pikir panjang dan tanpa berterima kasih ke Monica Desideria, sejak saat itu gua menasbihkan diri menjadi Liverpudlian, sebutan untuk penggemar klub sepakbola Liverpool.

Fowler dikenal sebagai penyerang dengan kemampuan finishing-nya yang jempolan. Peluang sekecil apapun bisa ia konversikan menjadi gol. Kaki kirinya bagai meriam yang mampu melepaskan rudal terukur. Tendangannya keras dan presisi. Dan ga jarang juga, ia berhasil melesakkan gol lewat sundulan kepalanya. Bagi gua, Robbie Fowler striker yang lengkap dan jago banget.

Kemampuannya di atas lapangan terbukti dari beberapa rekor yang ia pegang. Ia melesakkan hat-trick (tiga gol dalam satu pertandingan) ke gawang Southampton saat ia baru memainkan pertandingan liga profesional kelimanya. Rekor lain yang ia torehkan terjadi saat melawan Arsenal di tahun 1995. Waktu itu, ia mencetak hat-trick hanya dalam waktu 4 menit 33 detik, tercepat sepanjang sejarah liga Inggris! Bahkan di usianya yang ke-19, ia pernah mencetak lima gol dalam 1 pertandingan! Gimana, jago abis kan?

Gua pun menelusuri lebih jauh tentang jagoan gua itu. Ternyata, Fowler juga lahir dan besar di kota Liverpool. Ia bahkan udah masuk akademi Liverpool sejak berusia 9 tahun. Liverpool adalah rumah baginya.

Namun karena pertumbuhan usia dan sering dibekap cidera, ia kalah pamor oleh duet Michael Owen dan Emily Heskey. Memasuki musim 2000, ia lebih sering duduk di bangku cadangan dan akhirnya dijual ke Leeds United pada tahun 2001 dengan nilai transfer 12 juta pound. Ia seperti “terusir” dari rumahnya sendiri.

Gua sedih banget waktu itu. Pengen rasanya gua ke Inggris dan traktir Owen makan nasi padang biar sakit perut. Atau ngajak Heskey main gaple biar dia lupa latihan. Semua gua rencanakan biar Fowler dapet kesempatan main lagi. Gua ga rela Fowler tergeser. Ga rela banget.

Kepindahannya ga terelakkan. Mungkin karena ia butuh jam bermain, ia perlu eksistensi, maka ia memutuskan untuk berpetualang jauh dari kota asalnya. Mencari nikmat yang gagal ia dapatkan di rumah. Merantau ke tempat-tempat baru untuk mencari kesempatan. Namun seperti halnya perantau, pada akhirnya ia akan pulang.

Lima tahun sejak kepergiannya, Robbie Fowler akhirnya pulang. Manajer Liverpool saat itu, Rafa Benitez, membeli Fowler dari Manchester City secara gratis.

Waktu membaca berita kepulangan Fowler, gua senang bukan main. Sebagai penggemar nomor wahid, bahagia rasanya melihat pemain idola dan klub jagoan bersatu kembali. Bahkan Fowler sendiri berkata pulang ke Liverpool seperti anak kecil yang bangun di hari Natal setiap paginya. It was like a dream come true.

Penampilan perdana kembalinya Fowler ke Liverpool adalah pertandingan Liverpool melawan Birmingham City pada Februari 2006. Untuk menyambut kepulangannya, di salah satu sudut stadion terpampang spanduk bertuliskan: “god number eleven, welcome back to heaven”. He is that special to us. He is our god.

Saat ia masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti, para penonton langsung melakukan standing ovation. Padahal dia belom ngapa-ngapain, cuma nginjek kaki ke atas rumput aja sama benerin tali celana. Tapi baru begitu aja, penonton udah seneng banget. We were so happy to see him back.

Pendukung Liverpool senang, Robbie Fowler telah pulang. Dan di nuansa Lebaran ini, banyak dari kita yang menjelma menjadi seorang Robbie Fowler.

Saat ini, sebagian kita mungkin sedang pergi merantau. Mencari kesempatan yang ga bisa didapat di kampung halaman. Memperjuangkan hidup di kota-kota lain. Mencicipi nikmat, jauh dari tempat kita berasal. Namun percayalah, nun jauh di rumah, ada pendukung yang selalu menanti kepulangan kita: orang tua kita.

Mereka seperti fans yang selalu berteriak memberi semangat dari pinggir lapangan. Bak penggemar yang tersenyum bangga saat penyerang idolanya mencetak gol ke gawang lawan. Seperti pendukung Liverpool yang selalu menantikan pemain kesayangannya pulang ke rumah.

Jika pendukung sepakbola saja begitu senang saat melihat Robbie Fowler kembali ke Liverpool, apalagi perasaan orang tua yang melihat anak kesayangannya pulang?

Jadi, tunggu apa lagi?

Pulanglah. Pendukung nomor satumu telah menantimu di rumah.

PS: Segenap dewan pengurus saputraroy.com mengucapkan: Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin :)

Advertisements

Tagged: , , , ,

8 thoughts on “Pulang

  1. dodo August 8, 2013 at 18:58 Reply

    Hahahaha…. keren…
    Jadi kangen rumah nih… hiks hiks..
    Selamat lebaran juga…
    Semoga The Reds (Milan maksudnya) kembali berjaya…

  2. presyl August 9, 2013 at 10:08 Reply

    hahay.. si roy selalu punya cara buat nyangkut-nyangkutin cerita lain ke pokok bahasan yg dituju *halah bahasanya*

    btw, gw jg penggemar liverpool lho awalnya, thn 1998 (atau 99?) nonton liverpool vs mu yg skornya 4-0 dan saat itu langsung nge-fans sama owen. tp berhubung bokap demennya MU jd setiap nonton gw selalu dicekokin sama MU. haha, jd beralih deh

  3. Ankhe August 12, 2013 at 14:47 Reply

    awalnya ga touchy karna bukan penggemar liga inggris, liverpool ataupun fowler, tapi ending nya mengharukan banget,, rumah dan ortu emang segala-galanya

  4. Nad Paritrana July 16, 2014 at 16:56 Reply

    Elu family man sekali roy.. :)
    Seneng baca tulisan lawas ini.. #tsah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: