Permainan dari Bulu Angsa

DISCLAIMER: Postingan di bawah ini ditulis oleh teman pembaca saputraroy.com; Luisa Aristy secara sukarela, tanpa todongan senjata tajam, setajam silet. Untuk membaca tulisannya yang lain, bisa main ke luizacha.blogspot.com atau follow @LuizaCha. Terima kasih.

Tulisan ini sengaja dinaikkan tepat di tanggal 17 Agustus sebagai bentuk peringatan ulang tahun Republik Indonesia. Merdeka!

Semasa sekolah dulu, pelajaran apa yang paling ditunggu-tunggu? Kalo gue sih pelajaran olahraga. Kenapa? Yah, selain alasan klasik –seperti melatih tubuh– pelajaran olahraga banyak manfaatnya loh. Olahraga pelajaran paling menyenangkan. Tidak menguras otak. Bisa cuci mata liatin kakak kelas yang kece-kece. Haha!

Ngobrolin olahraga, tiba-tiba gue langsung keinget akan olahraga bulutangkis yang booming di tahun 90-an. Perasaan bangga masih ada sampai sekarang. Ya karena Indonesia sempat ditakuti seantero dunia. Legenda bulutangkis dunia juga berasal dari negeri ini coy! Contohnya, Bu Susi Susanti dan suami.

susi susanti

Gambar dipinjam dari sini. Terima kasih.

Nah, berkat ketenaran si ibu lah yang membuat olahraga bulutangkis jadi olahraga yang paling nge-tren saat itu. Waktu ekskul, lapangan bulutangkis jadi arena paling rame setelah lapangan basket. Pengambilan nilai akhir, tanding bulutangkis. Class meeting tahunan, tanding bulutangkis. Tujuh belasan di RT, bulutangkis juga! Bahkan, gue ingin punya adik perempuan supaya bisa punya lawan tanding main bulutangkis!

Sayangnya, jika dibandingkan euforia bulutangkis di jaman gue kecil dengan yang sekarang itu beda banget. Mungkin karena bulutangkis yang sudah tidak setenar dulu. Meski tetap bertabur bintang, kemilau bulutangkis kian tergerus waktu.

Gue merasa bersyukur masih bisa ngerasain masa trend dari bulutangkis itu sendiri. Kecintaan gue akan olahraga ini masih melekat hingga sekarang. Saat diajak olahraga, pastinya gue pilih bulutangkis daripada yang lain. Kenapa ya?

Mungkin disebabkan oleh beberapa nilai dari olahraga ini yang gue ambil kebaikkannya. Beberapa nilai ini gue ambil menurut gue loh. Bisa diambil. Bisa diresapi. Bisa juga direnungkan. Lho?

Nggak perlu lama-lama, here we go.

Pertama, olahraga bulutangkis, melatih seluruh tubuh.

Lari dari ujung kiri-kanan lapangan. Depan net, hingga belakang garis. Kejar bola (atau biasa disebut ‘kok’). Lompat sana-sini. Sudah pasti melatih seluruh tubuh kan! Fisik banget nih! Jadi jangan heran kalau yang main bulutangkis tangannya berotot dan kekar.

Teknik permainan yang beragam juga sukses membuat kita melatih otak. Memikirkan cara menjatuhkan bola dengan cara paling oke. Mengatur strategi demi mendapat nilai. Melatih kerjasama juga, jika mainnya berdua dalam satu tim.

Nah, terbukti, kan. Dari fisik sampai otak semua dipakai dalam permainan ini. Mantep nggak, tuh!

Okeh, nilai berikutnya ialah, bulutangkis menjalin keakraban sesama pemain.

Bukan hanya keakraban sesama pemain dalam satu tim. Keakraban dengan tim lawan juga bisa. Untuk poin yang ini sudah ada beberapa contoh dari para pemain bulutangkis sekaliber Taufik Hidayat, Lin Dan dan teman-teman seangkatannya. Di dalam lapangan boleh saja kita musuh, diluar beda lagi ceritanya.

Lain lagi ceritanya kalau lawan main kita adalah orang yang kita taksir. Biasanya sih kakak kelas. Ketemunya seminggu sekali pas acara ekskul sekolah. Awalnya lihat dari jauh. Lihat Doi belum punya lawan main, pura-pura tanya soal lapangan yang kosong. Terus ajakin tanding persahabatan.

Judulnya sih persahabatan. Begitu masuk ke lapangan, nggak ada tuh kata-kata persahabatan. Malah kayak musuh bebuyutan. Permainannya hebat! Paling tidak, sepulang dari ekskul kaki gue bengkak semua dan harus direndam air hangat. Fiuh..

Kesal? Tentu tidak! Senang malahan. Apalagi setelahnya bisa akrab dengan si Kakak. Hehe..

Yang terakhir, bulutangkis itu olahraga yang merakyat!

Opini ini benar-benar asli dari gue sendiri. Merakyat. Jangan dipikir merakyat itu menandakan seluruh warga negara Indonesia bisa beli raket. Bisa nampang dan bermain sesuka hati. Salah!

Jika kamu tinggal diperumahan sederhana, pasti pernah lihat. Anak-anak kecil main dengan raket papan. Sebuah raket yang lebih mirip raket bola pingpong. Biasa terbuat dari papan, dimodif dengan bekas gagang sapu/kayu untuk pegangan. Dipergunakan untuk bermain bulutangkis. Mainnya bukan dilapangan yang keren. Di depan rumah. Di jalan perumahan malah.

Yah, pemandangan ini memang sudah lama. Lamaaa banget nggak kelihatan. Kalau diingat-ingat, mungkin jaman gue masih pakai seragam putih merah. Jaman SD bro!

Yang menarik bukan raket atau lapangannya. Melainkan bagaimana cara orang-orang menyukai permainan ini. Kebersamaan yang terjalin antar pemain. Keceriaan yang tercipta saat anak-anak tertawa. Bahkan lebih bernilai dari apapun.

Sekarang baru berasa. Jaman sudah berubah. Permainannya pun juga berubah. Anak-anak disekitar rumah gue sudah tidak ada lagi yang main dengan raket papan tadi. Kenapa? Lagi-lagi teknologi.

Sekarang tuh, main bulutangkisnya begini nih..

 bulutangkis digital

Bukan menyalahkan teknologi. Hanya miris saja saat melihat anak-anak sekarang yang lebih senang hal-hal yang digital. Ah, berasa tua gue. Hahaha.

Kesimpulannya, bulutangkis yang pernah melegenda dinegeri ini jangan sampai hanya sebatas cerita. Ada baiknya olahraga tersebut dikembangkan lagi. Siapa tahu bisa kembali merajai dunia perbulutangkisan. Semua balik lagi kepada pemerintah serta masyarakatnya.

Gue sih masih lebih senang main bulutangkis ya. Itung-itung olahraga. Itung-itung kurusin badan juga gitu. Hehehe. Olahraga itu penting! Buat kesehatan. Buat masa depan. Semoga nilai-nilai baik yang gue tangkep dari olahraga ini bisa bermanfaat buat lo semua penggemar olahraga bulutangkis.

Salam olahraga!

Advertisements

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: