Seperti Pemain Jagoan

Yang namanya suka sepakbola, pasti punya klub dan pemain jagoan.

Biasanya, orang akan ngejagoin mereka yang bisa nyetak banyak gol atau jago menggocek bola. Gua juga begitu. Di Liverpool, gua suka Robbie Fowler, striker yang ga hanya mencetak banyak gol, tapi juga mencetak banyak rekor. Saking ngefans-nya sama Fowler, gua nyaris traveling ke Bangkok demi bisa dapetin tanda tangan Fowler yang kebetulan lagi jadi pelatih di klub lokal Thailand. Iya, gua se-ngefans itu.

Ketika Robbie Fowler udah pensiun dan banyak pendukung Liverpool mengidolakan Steven Gerrard, gua menemukan sosok idola baru pada seorang pemain belakang.

Kurang lebih 16 tahun pemain belakang ini mendedikasikan dirinya sebagai pemain Liverpool, melakoni 737 partai dan mencetak 5 gol di sepanjang kariernya. Di tengah persaingan pemain-pemain baru yang terus berdatangan, dia ga pernah kehilangan tempat dan malah diplot sebagai wakil kapten.

Di akhir musim 2013 kemarin, pemain belakang ini memutuskan untuk pensiun sebagai pemain sepakbola profesional. Begitu banyak yang memuji kontribusinya sebagai pemain Liverpool, baik itu dari rekan setim, mantan pelatih, ataupun media. Berita mengenai pensiunnya bahkan lebih banyak ketimbang Michael Owen, pemain Inggris lainnya yang berposisi sebagai striker dan pernah dijuluki The Phenomenon!

Gua ngefans banget sama pemain belakang ini. Tapi awalnya, gua benci banget sama dia.

Cara mainnya kasar, lamban, ga bisa baca permainan, dan badannya pun ga gede-gede banget untuk ukuran pemain belakang. Ditambah lagi, dia sering bikin blunder. Bukan, dia bukan sarjana teknik yang rakit mesin buat ngehalusin buah atau sayur. Itu bikin blender. Blunder adalah kesalahan mendasar yang bisa membuat jalur permainan berubah total.

Blunder terburuknya adalah ketika melakukan own goal saat melawan rival besar, Manchester United, di musim 1999/2000. Ga cuma sekali, tapi dia bikin own goal sebanyak dua kali! Dua kali! Ternyata ga cuma isi Sarimi dan minum Yakult, tapi bikin gol bunuh diri pun bisa sampe dua!

Sejak saat itu, dia pun ga pernah diposisikan lagi sebagai center back. Houllier, pelatih Liverpool musim itu, melemparnya ke posisi bek kiri. Pas main sebagai bek kiri pun dia ga jago-jago amat. Larinya ga kenceng, umpannya jelak, dan sama sekali ga bisa ngebantu serangan. Sering kali dia jadi titik lemah yang jadi incaran musuh untuk diserang. Bener-bener cupu.

Rekan 1 tim-nya, Jamie Redknapp, pun pernah bilang bahwa di musim pertamanya naik ke tim senior, pemain belakang ini sering menjadi bulan-bulanan. Ketika sesi satu lawan satu, semua ingin memilihnya sebagai pasangan latihan. Itu karena dia begitu mudah dilewati.

Tapi dia ga patah arang.

Setiap habis latihan, ia selalu pulang paling belakang, berlari kecil untuk melatih staminanya. Ia latihan beban lebih banyak dari yang lain untuk memperbesar badannya. Di saat rekan yang lain udah istirahat, dia malah duduk di depan tivi, nonton pertandingan sepakbola untuk meningkatkan kemampuannya membaca permainan.

Hasilnya?

Di musim kedua, ga ada lagi yang mau berpasangan sama dia. Badannya mulai gede dan sulit untuk dilewati. Kemampuannya membaca pertandingan meningkat pesat. Pemain yang lain mulai menghormati kehadirannya sebagai pemain belakang.

Tapi dia ga berhenti di situ. Tahun demi tahun, ia terus belajar dan berlatih lebih keras dari yang lain. Pujian dari pelatih dan rekan setim ga membuatnya cepat puas dan mengendurkan semangat. Pemain belakang ini ga menyerah. Itu yang gua suka darinya.

Saat dia di-bully sama temen-temen setimnya, bisa aja dia pulang, lalu sambil mandi di bawah pancuran, dia menangis bak Yati Octavia di film Rhoma Irama. Atau ia bisa aja mampir ke tukang DVD, rental film Titanic, dan bernyanyi My Heart Will Go On dengan lantang sambil berurai air mata.

Tapi dia ga begitu. Dia tetap tenang sambil mempelajari apa yang kurang darinya, apa yang mesti ditambal dan diperbaiki dari tekniknya bermain bola.

Jika akhirnya ia menjadi legenda, itu semua karena dirinya sendiri. Bukan karena bakatnya, bukan karena pelatihnya, apalagi karena jumlah follower Twitter-nya. Tapi semua itu karena jam pulang yang ia undur agar bisa latihan lebih lama, karena jam tidur yang ia korbankan agar bisa nonton pertandingan lebih banyak, dan karena jam latihan yang ia perbanyak agar bisa menjadi lebih baik.

Semua karena kerja kerasnya.

Kalo sampe sekarang kita masih merasa ada di bawah, mungkin karena kita berpegang pada bakat tanpa berjuang untuk mengasahnya. Kalo sampe saat ini kita masih merasa di situ-situ aja, mungkin karena lebih banyak keluhan yang keluar dari mulut, daripada keringat yang keluar dari dahi. Kalo sampe detik ini kita masih belum mampu naik ke level berikutnya, mungkin karena kita terlalu mengandalkan belas kasihan orang lain. Mengemis-ngemis peluang dan kesempatan. Padahal seringnya, kesempatan itu ada karena dicipta.

Kalo sampe hari ini kita masih merasa jadi bulan-bulanan kehidupan, mungkin ini saatnya buat kita untuk duduk tenang dan bertanya ke diri sendiri.

“Apa gue udah berlatih lebih lama?”
“Apa gue udah berlari lebih jauh?”
“Apa gue udah belajar lebih banyak?”

Jika jawabannya belum, inilah saat yang tepat untuk belajar seperti pemain jagoan gua.

goodbye Carra

Jadilah seperti Jamie Carragher.

“Hard work beats talent when talent fails to work hard.” ― Kevin Durant

Advertisements

Tagged: , , ,

7 thoughts on “Seperti Pemain Jagoan

  1. Me_gaa August 29, 2013 at 15:17 Reply

    inspiratip banget kak tulisan ini :’)

  2. dodo August 30, 2013 at 04:57 Reply

    Gw jadi bingung.. ini lagi ngebahas Robby Fowler, Steven Gerrard ato Jamie Carragher sih?
    Terakhirnya malah quote Kevin Durant… Hehehe…

    Tapi tulisan semangat nya keren euy… Viva Milan…

    • Roy Saputra August 30, 2013 at 11:49 Reply

      tentang Carragher dong. kan bahas pemain belakang.

  3. fannywa September 3, 2013 at 15:30 Reply

    Salam kenal Mas.. Saya sih setia aja sama Manu :D

    • Roy Saputra September 3, 2013 at 21:24 Reply

      *cuekin*

      boong deng. salam kenal! :D

  4. Gerry November 27, 2013 at 16:12 Reply

    #Arsenal
    and Arsenal menang lawan Liverpool bbrp minggu kmrn. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: