Cuplikan Lontang-Lantung

Wawancara akhir adalah tahap di mana yang memisahkan gue dengan pekerjaan adalah seorang petinggi di perusahaan tersebut. Seperti hari ini, gue akan diwawancarai oleh salah satu petinggi dari sebuah perusahaan minyak yang bernama Glory Oil.

Ruangan Bapak petinggi ini sangat sederhana. Merujuk pada gaji besar yang biasanya sebuah perusahaan minyak tawarkan, ruangan itu jauh dari bayangan gue yang keren dan mewah. Awalnya gue sempet curiga, jangan-jangan ini perusahaan butut. Tapi, lagi-lagi, atas nama positive thinking, gue menebak bahwa mereka adalah perusahaan yang rendah hati, tidak sombong, dan pandai menabung.

”Dari hasil tes sebelumnya, kamu mendapat nilai yang cukup baik,” Bapak petinggi itu memulai sesi wawancara, ”Jadi saya kira kita cepat saja, ya, hari ini. Apa yang ingin kamu tanyakan mengenai kami?”

Wah, sepertinya hari ini akan jadi hari baik buat gue. Namun demi tetap terlihat pintar dan keren, gue sok bertanya apa saja.

”Pusat pengeboran minyaknya di lepas pantai mana, Pak?” tanya gue mantap.

”Pengeboran minyak? Lepas pantai?”

”Iya, sebuah perusahaan minyak multinasional seperti Glory Oil tentu perlu pengeboran sebagai pusat produksinya, kan?” tanya gue mengofirmasi.

”Begini,” Si Bapak merebahkan badannya ke senderan kursi, ”Ada 3 hal yang perlu saya koreksi dari pernyataan tadi. Satu, kami bukan perusahaan multinasional. Dua, kami tidak bergerak di bidang minyak yang seperti itu. Tiga, kami tidak memproduksi minyak.”

Gue merapatkan alis dan mengerutkan dahi, ”Jadi ini perusahaan apa, Pak?”

”Distributor oli lokal.”

”Lho? Kok namanya Glory Oil? Seperti nama perusahaan multinasional?”

”Iya, dulu namanya Toko Oli Jaya….”

Shock. ”Tok… toko… toko Oli Jaya?”

”Iya. Demi menghadapi yang namanya era globalisasi, kami terjemahkan saja namanya setahun yang lalu. Dari toko Oli Jaya menjadi Glory Oil. Pas, kan?”

”Pak,” muka gue setengah bengong, ”Oli itu bahasa Inggrisnya bukan oil, Pak.”

”Ya, kan, minyak-minyak juga,” jawab si Bapak santai.

Gue lemes, nggak tau mesti ngomong apa lagi. Masih shock setelah tau bahwa gue bukan akan bekerja di perusahaan minyak seperti yang gue harapkan sebelumnya. Gue hanya akan bekerja di sebuah toko dan menjajakan barang dagangan!

Giordano-nya, Kakaaak.

Si Bapak membetulkan posisi duduknya dan melanjutkan, ”Tapi sekarang, kami bukan toko lagi. Sudah naik tingkat. Sekarang kami distributor tunggal sebuah merk oli lokal yang bagus. Namanya Oli Greng.”

Oli Greng-nya, Kakaaak.

Oh, God, bahkan nama olinya saja nggak keren. Ini oli apa obat penunjang vitalitas?

”Waktu itu kamu melamar untuk posisi account executive, kan, ya?” tanya si Bapak sambil mengambil formulir lamaran gue.

Gue mengangguk, masih dengan setengah nggak percaya. Posisi yang gue lamar memang account executive, tapi gue sendiri nggak tau apa itu account executive. Yang jelas, posisi itu terdengar sangat keren. Jabatan-jabatan berbahasa Inggris pasti keren… sampai gue tersadar bahwa office boy pun dalam bahasa Inggris.

”Ada yang ingin kamu tanyakan mengenai posisi ini?” tanya si Bapak.

Gue mengambil waktu dengan baik untuk mengumpulkan kembali jiwa gue yang masih setengah kaget, ”Sebetulnya saya belum tau apa itu account executive. Bisa tolong dijelaskan, Pak?”

”Jadi gini,” Si Bapak mengetuk-ngetuk jarinya di meja, ”Intinya, kamu itu ujung tombak perusahaan. Kamu yang akan menentukan, apakah perusahaan kita dapat berjalan atau tidak.”

Berjalan atau tidak? Gue curiga, nih. Jangan-jangan gue jadi satpam yang megang kunci kantor, ye?

”Jadi, apa itu, Pak?” tanya gue, masih penasaran campur sedikit deg-degan. Harap-harap cemas.

”Untuk detailnya, biar nanti supervisor kamu yang menjelaskan. Nanti setelah ini, kamu akan ketemu sama bagian HRD untuk offering letter, ya.”

Offering letter?” gue mengulang untuk memastikan gue nggak salah mendengar, ”Jadi…, jadi saya diterima, Pak?”

”Ya, dari kita, sih, oke. Ada pertanyaan lagi?”

Pintu surga terbuka lebar-lebar dan burung merpati berterbangan keluar. Gue diterima kerja!

oli greng

Cerita di atas adalah cuplikan dari novel komedi terbaru gua yang berjudul Lontang-lantung. Bercerita tentang Ari Budiman, seorang sarjana baru lulus yang sedang giat mencari kerja. Petualangan Ari berjuang mencari kerja itu ditemani oleh dua sohibnya yang ajaib-ajaib: Togar dan Suketi. Ternyata selama petualangannya ini, bukan hanya pekerjaan yang Ari dapatkan, tapi juga jati diri dan arti hidup nyaman.

Jika ditanya, “Roy, dari semua buku yang udah lu pernah tulis, mana sih yang jadi favorit?”, maka Lontang-lantung adalah salah satu dari dua buku yang akan terlontar sebagai jawaban gua. Plot dan komedi Lontang-lantung adalah yang paling matang dan tersusun dengan rapih. Para pembaca pertama novel ini juga berpendapat hal yang sama: “komedinya pas, padat, dan ga dibuat-buat.”

Sebetulnya buku ini udah pernah rilis di tahun 2011 awal dan di akhir tahun 2013 ini, penerbit Bukune memutuskan untuk menerbitkan ulang. Bagi yang udah pernah baca buku pertamanya, jangan ragu untuk membeli lagi edisi terbarunya ini. Selain cover, ada beberapa hal yang diperbarui di Lontang-Lantung edisi terkini. Kisah cinta antara Ari dengan Bella dipoles dengan emosi dan permainan kata yang lebih ciamik. Pergerakan mood sang tokoh utama juga terpetakan dengan lebih baik. Pemilihan diksi dan variasi kalimat di edisi baru ini jauh lebih kaya dibanding edisi pertama yang terbaca lebih straight forward.

Overall, Lontang-lantung edisi baru ini lebih baik secara teknis dibanding edisi yang lama.

Meski banyak perubahan di sana-sini, semangat yang ingin gua tularkan lewat buku ini tetap sama. Lewat pengalaman-pengalaman buruk menjurus bodoh yang dialami tokoh utama, gua ingin berbagi dengan rendah hati tentang sepotong pesan yang kadang kita lupa.

Bersyukur.

Di buku ini, akan ada keluhan-keluhan yang mungkin sering kita pikirkan atau terbaca di linimasa. Di buku ini, akan ada cerita-cerita sial yang mungkin aja pernah kita alamin saat baru lulus kuliah. Di buku ini, akan ada lelucon-lelucon khas kaum pekerja yang pusing akan kerjaan. Dan di buku ini, bisa aja tergambar curhatan hati yang membuat kita berkomentar, “Ini gue banget nih!”

Karena kata @pervertauditor, “Lontang-lantung is funny, because it’s real”

Akhir kata, selamat berburu Lontang-lantung dan selamat membaca ^^

Advertisements

Tagged: , , , ,

8 thoughts on “Cuplikan Lontang-Lantung

  1. dodo October 7, 2013 at 12:10 Reply

    wooo… ga sabar nunggu temen yang pengen bawain buku ini.. hehe…
    sukses ko roy!!

    • Roy Saputra October 7, 2013 at 13:37 Reply

      asik! semoga suka ya, Do. thank you! :D

  2. Kevin Anggara October 7, 2013 at 20:54 Reply

    Gue udah order dong, tinggal nunggu nyampe dan langsung baca :))

  3. Erwin October 8, 2013 at 00:35 Reply

    Ini buku komedi yang seru dan inspiratif, apalagi si teman orang batak itu. Asli bikin ketawa. hehe

    • Roy Saputra October 8, 2013 at 08:52 Reply

      wuih! thank you ya!

      rekomendasiin ke temennya juga ya! :D

  4. Kevin Fatli October 9, 2013 at 18:00 Reply

    wah.. dari cuplikannya keren nih. wajib dibaca :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: