Mentertawakan Indonesia

Tanggal 10 Oktober ini diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa sedunia. Tepat malam sebelumnya, gua dan pacar ikut berpartisipasi dalam merayakan hari itu dengan menonton stand up comedy special Mentertawakan Indonesia.

Acara ini diselenggarakan oleh Aethra Learning Center, sebuah biro pembelajaran berbasis psikologi yang berkomitmen untuk menyeimbangkan antara kecerdasan akademik intelektual dengan kecerdasan sosioemosional. Lengkapnya tentang Aethra bisa dibaca di web resminya ini.

Tepat jam tujuh malam gua dan pacar tiba di Taman Ismail Marzuki. Dengan setengah berlari, kami langsung masuk ke dalam Graha Bhakti Budaya, tempat Mentertawakan Indonesia diadakan. Sayangnya, ketergesaan gua berbuah percuma.

Di tiket tertulis gate akan dibuka pukul tujuh. Namun ternyata pukul tujuh lewat lima belas, penonton baru dipersilahkan masuk dan duduk di kursinya masing-masing. Ketika udah duduk pun, acara ga langsung dimulai. Di depan, hanya ada dua layar memutar beberapa iklan yang sama berulang-ulang, seperti ingin mencuci otak penonton. Jika besok ada ujian dengan pertanyaan “bagaimanakah jingle iklan anu?” maka tanpa diragukan lagi, gua bisa menjawab dengan baik. Belum lagi, lampu panggung menyorot ke tempat gua duduk. Ibarat iklan jaman dulu, ini silau, men. Gua seperti sedang berada di ruang interogasi dan mata gua disinari lampu ruangan secara langsung oleh polisi. Entah gua salah apa, padahal tiket yang gua beli berlabel Very Important Person. Ah, mungkin karena itu gua mendapat sorotan lampu semalaman.

Mentertawakan Indonesia dibuka oleh Ryan Adriandhy. Penampilan Ryan malam itu gua simpulkan sebagai penampilan yang “Ryan banget”. Keunggulan Ryan dalam melahirkan bit dari pengamatannya terhadap hal-hal kecil udah pernah gua saksikan di Koper, From Tiny to Funny dan Little Man Big Problem. Dan malam itu, Ryan kembali berhasil men-juggling perut penonton dengan bit-bit seperti itu. Bit-bit yang “Ryan banget”.

Bit Ryan favorit gua adalah tentang situasi saat kita berkunjung di rumah teman atau kerabat. Basa-basi berlebih seperti di bawah ini sangat sering terjadi saat sedang makan di rumah teman tersebut.

“Ayo, nambah, nambah. Ga usah malu-malu.”

“Ga deh, gue udah kenyang. Makasih.”

“Ayo, nambah, nambah. Ga usah malu-malu.”

“Ga deh, gue udah kenyang. Makasih.”

Padahal menurut Ryan, kalo kita ga mau nambah bisa jadi bukan karena malu. Tapi bisa aja karena KENYANG. Saat kata kenyang ditekankan ditambah ekspresi wajah yang kocak, Graha Bhakti Budaya pun digoyang tawa. Ga selesai sampai di situ. Ryan melanjutkan.

“Ayo, nambah, nambah. Ga usah malu-malu. Ga usah sopan-sopan amat lah.”

“Ga deh, gue udah kenyang, Anjing.”

As requested. Ga sopan.

Bit signifikansi peran alat musik kastanyet dalam sebuah orkestra, alasan di balik Ariel mengganti nama band-nya, serta bagaimana kita bisa mempercayakan korek api pada seseorang yang belum kita kenal di smoking room, menjadikan Ryan sebagai pembuka acara yang sangat sukses. Oh sebentar, biar gua ralat pernyataan tadi. Semua bit yang “Ryan banget” tadi menjadikannya sebagai pembuka acara yang sangat-sangat-sangat sukses.

Selesai dibuat cape tertawa oleh Ryan, lampu panggung kembali padam. Lalu muncullah performer kedua malam itu: Ernest Prakasa.

Ernest adalah komika yang paling sering gua tonton. Bukan karena gua penggemar beratnya, tapi emang Ernest-nya aja yang ada di mana-mana. Gara-gara keseringan nonton Ernest, gua jadi tau sebagian besar bit-bit Ernest. Tapi malam itu, gua terpuaskan. Itu karena semua bit Ernest di Mentertawakan Indonesia belom pernah gua denger sebelumnya. Fresh dan lebih berani!

Dengan jaket dan sepatu coklat, Ernest membuka penampilannya dengan sebuah berita duka cita. Penonton pun terdiam dan coba menyimak berita duka cita apa yang akan ia sampaikan.

“Gue baru baca tadi, kalo ternyata… Anisa keluar dari Cherry Belle.”

Kampret.

Sepanjang penampilannya, Ernest menguji panjangnya tawa penonton dengan bit-bit yang kampret. Tentang kritik mantan-mantan gubernur ibukota, pengalaman makan di restoran mahal di Bali, dan kisahnya menelusuri forum pendidikan seks di dunia maya. Cara berceritanya yang santai membuat kita seperti sedang bercengkrama dengan seorang teman. Namun kali ini, teman bicara kita adalah seorang yang sangat kocak dan kampret banget.

Ada satu pesan yang sangat gua suka dari Ernest. Dia bilang hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagia. Namun sialnya, hal itu berlaku vice versa. Timbal balik. Kita juga harus bisa menghormati keputusan bahagia orang lain. Salah satunya keputusan untuk memakai legging macan tutul. Ketika Ernest menyelesaikan kalimatnya, Graha Bhakti Budaya udah pecah lagi oleh tawa.

Menurut catatan gua, penampilan Ernest malam itu menuai LPM (laugh per minute) paling tinggi dibanding komika yang lain. Sebuah malam yang berhasil membuat gua memastikan diri untuk membeli tiket tour stand up-nya yang diberi tajuk Ilucinati nanti. Sebuah malam yang sukses untuk Ernest.

Setelah penampilan Ernest yang sangat kampret dan istirahat selama 15 menit, lampu sorot Mentertawakan Indonesia beralih ke komika ketiga: Sam D. Putra.

Jika beberapa komika sangat ditunggu cerita atau pengalamannya, maka menurut gua, Sammy adalah komika yang sangat ditunggu opininya. Karena pendapat-pendapatnya tentang isu yang hangat di dunia disampaikan bukan hanya dengan lucu, tapi juga dengan cerdas dan menggugah nalar.

Malam itu, lewat penampilan Sammy, gua menemukan kenikmatan baru dalam menonton stand up comedy. Yaitu momen di mana semua penonton hening dan membiarkan Sammy melempar opininya kata demi kata. Saat itu, kita bisa benar-benar menyerap keresahan apa yang ingin disampaikan oleh Sammy. Momen itu kadang ga berakhir dengan tawa, tapi hampir di setiap momen itu, penonton pasti bertepuk tangan dengan kencang untuk opini Sammy.

Salah satu bit Sammy favorit gua malam itu adalah tentang khotbah pendeta dalam bahasa Inggris yang harus diterjemahkan oleh Sammy. Sebenarnya bit ini udah pernah gua dengar saat Sammy open mic di Es Teler, dua tahun lalu. Tapi saat ia melemparkan bit ini di Mentertawakan Indonesia semalam, gua nyaris terjungkal dari kursi. Mungkin bit ini seperti nostalgia buat gua yang waktu di Es Teler itu untuk pertama kalinya menonton Sammy dan bilang dalam hati, “Ini orang kocak banget nih.”

Menonton Sammy bukan hanya menghasilkan tawa yang banyak. Tapi bit-bit seperti sistem pendidikan, kasus-kasus korupsi, dan status pribumi-non pribumi, membuat gua kenyang. Begitu banyak keresahan dan pemikiran yang masuk ke kepala dan layak untuk dibungkus pulang.

Malam itu, Sammy telah mengembalikan arti kata stand up pada stand up comedy.

Mentertawakan Indonesia ditutup oleh Pandji Pragiwaksono. Komika, MC, dan rapper ini membuka penampilannya dengan berbaring di atas panggung. Dari itu aja penonton udah berhasil diajak tersenyum dan terkekeh-kekeh melihat tingkahnya yang tengil.

Dengan mengenakan jas warna putih, Pandji membuka penampilannya dengan bit yang sangat dekat: keluarga. Tentang anak, istri, dan orang tuanya. Keluarga jadi poros materi Pandji malam itu. Kelakuan anaknya yang absurd berhasil menuai tawa dari setiap baris kursi penonton. Cerita anaknya berenang di hotel dan kenakalannya saat kelas agama membuka penampilan Pandji yang segar dan sangat menghibur.

Mimik dan story telling jadi ujung tombak kekuatan Pandji malam itu. Ekspresinya yang coba mengikuti gerak wajah anak yang sedang pipis di kolam renang berhasil mengocok perut dan membuat rahang pegal. Untungnya, ada layar yang mampu menangkap mimik Pandji dan melemparkannya ke penonton dalam ukuran besar. Berkat layar tersebut, kegigihan Pandji meliuk-liukkan wajahnya jadi berbuah tawa yang ranum.

Selain mimik dan story telling, Pandji menunjukkan keahliannya yang lain: riffing. Untuk mudahnya, riffing adalah teknik mengolok-ngolok penonton. Yang jadi korban malam itu adalah Rikat, seorang pemuda yang duduk tepat di garis pandangan Pandji dan sialnya, memiliki rambut yang sangat mencolok. Di menit-menit awal, riffing Pandji sangat menghibur. Kecepatannya menemukan bit-bit untuk menguji kesabaran Rikat patut diacungi jempol. Sayangnya, durasi riffing ini terlalu panjang, membuat gua sempat berpikir, “Kasian si Rikat.”

Tapi overall, penampilan Pandji malam itu sangat menghibur.

mentertawakan indonesia

Tepat pukul setengah sebelas, keempat komika yang tadi tampil kembali naik ke atas panggung. Tepuk tangan riuh penonton mengantar mereka membungkukkan badan untuk memberi hormat. Mentertawakan Indonesia pun usai dan semua penonton bergegas pulang.

Di saat perjalanan mencari taksi, gua jadi teringat sebuah penjelasan tentang kenapa nama acara ini mentertawakan, bukan menertawakan. Seperti halnya menyehatkan yang berarti membuat sehat, mentertawakan di sini berarti membuat tertawa. Mentertawakan Indonesia. Membuat Indonesia tertawa. Membuat Indonesia bahagia.

Karena lewat bit Ryan, gua paham bahwa kebahagiaan bisa bermula dari sesuatu yang kecil. Dari penampilan Ernest, gua teringat bahwa hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagia. Lewat opini Sammy, gua tersadar bahwa di tengah himpitan berbagai keresahan di Indonesia, kita masih bisa hidup bahagia. Dan lewat cerita-cerita Pandji, gua semakin yakin bahwa keluarga adalah sumber kebahagiaan.

Karena memang sesungguhnya bahagia itu sederhana. Sesederhana datang ke Mentertawakan Indonesia di sebuah Rabu malam.

Bravo.

Advertisements

Tagged: , , , , , , ,

5 thoughts on “Mentertawakan Indonesia

  1. Kevin Anggara October 11, 2013 at 23:36 Reply

    Bahagia itu sederhana. :’)

  2. Aethra Learning Center October 12, 2013 at 13:43 Reply

    Thanks a lot buat reviewnya. :)

    • Roy Saputra October 16, 2013 at 08:59 Reply

      sama-sama. terima kasih telah menyatukan Ryan, Ernest, Sammy, dan Pandji dalam satu panggung :)

  3. Kevin Fatli October 15, 2013 at 10:44 Reply

    Pekerjaan yang sangat mulia, membuat orang tertawa :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: