Lontang-lantung: Cerita di Balik Cerita

“Gimana, Roy? Tertarik ga?”

“Idenya menarik. Tapi kalo konsepnya kayak begitu, gua ga tertarik.”

Bukan, gua bukan sedang ditawarin MLM. Dialog di atas terjadi saat pertemuan pertama antara gua dengan penerbit pada sebuah malam bulan Ramadhan tahun 2010. Malam itu, bukan hanya gua, tapi penerbit juga mengadakan meeting –sekalian buka bersama– dengan dua penulis lainnya. Dan dari penulis yang hadir, rasanya hanya gua yang dengan tegas menolak ide yang disuguhkan.

Penerbit menawarkan gua untuk menulis cerita-cerita lucu seorang mahasiswa yang sedang giat mencari kerja. Wawancara yang caur, tips menyusun CV yang gokil, dan kelucuan-kelucuan lain seputar dunia kerja. Cerita-cerita terputus tanpa benang merah itu nantinya akan disusun dengan rapih menjadi sebuah buku. Tanpa pikir panjang, gua langsung menolak.

Itu karena gua ga ingin seseorang mengeluarkan uang hanya untuk membaca buku yang ketika selesai dibaca, membuat orang tersebut berpikir, “Udah? Gini doang?”. Gua ingin ketika seseorang selesai membaca karya gua, ada amplitudo emosi yang dirasakan, meski itu hanya sedikit.

Diskusi terjadi. Argumen ini itu tertuang di atas meja kedai kopi yang bulat. Opini begini begitu bertukar dua arah. Setelah beberapa menit pembicaraan, akhirnya penerbit pun setuju dengan konsep yang gua ajukan.

Gua ingin menulis novel yang utuh, berbenang merah, dan membawa pesan.

Tapi novel ini tetap dibalut dengan tema permintaan mereka. Mahasiswa yang baru lulus dan sibuk mencari kerja. Penerbit sepakat dan akan menunggu kiriman outline dari gua dalam beberapa hari ke depan. Gua menyanggupi dan kami berpamitan ga lama setelahnya.

Setibanya di rumah, gua langsung membuka laptop dan berusaha menuangkan beberapa kemungkinan ide yang sempat terpikir di kepala. Ratusan huruf terketik, namun ratusan backspace juga terpencet setelahnya. Membuat layar Microsoft Word pada layar kembali putih. Polos. Blank.

“Asu. Tau gitu gua pake konsep mereka aja.”

Kekeringan ide ini bukan hanya karena tumpulnya otak yang lama ga dipake menulis. Kesibukan kantor gua lagi gila-gilanya waktu itu. Kerjaan numpuk kayak cucian anak kost, sedangkan deadline mepet kayak antrian motor di lampu merah. Sibuk banget. Ga jarang, gua pulang jam 1-2 pagi hari dari kantor. Gua sampe sempat berpikir, “Ini lembur apa siaran liga Champions? Kok sampe dini hari gini?”

Jargon seperti ‘pantang pulang sebelum lampu kantor padam’ udah ga asing di telinga. Nemenin satpam shift malam udah seperti hobi baru buat gua. Kerjaan gua saat itu lagi sibuk-sibuknya. Ide untuk menulis lagi kering-keringnya. Bahkan blog gua aja vacum di tahun itu. Gua ga posting apa-apa selama 1 tahun penuh.

Namun janji udah kadung dibuat. Gua melanjutkan menulis ide dan outline sambil sesekali mengeluh tentang tiga profesi yang harus gua jalani. Satu, sebagai bankir. Dua, sebagai penulis. Tiga, sebagai orang ganteng yang kurang diridhoi. Tuh kan, kurang diridhoi.

But right then, an idea fell into my head.

Seharusnya gua ga mengeluh ketika sedang sibuk. Karena secape-capenya orang sibuk, lebih cape orang nganggur yang nyari kerja. Sepatutnya gua ga mengumpat atas beberapa profesi yang gua geluti. Karena sepusing-pusingnya orang kerja beberapa profesi, lebih pusing orang yang tanpa profesi. Sepatutnya gua bisa lebih menikmati. Seharusnya, gua bisa lebih mensyukuri.

Lalu gua tertawa mengingat kejadian-kejadian lucu yang pernah gua alamin yang mungkin bisa dimasukkan ke dalam cerita ini. Cerita diwawancara sama bapak songong dan pemikiran ingin menusuknya dengan keris Mpu Gandring, harus gua masukkan ke dalam buku ini. Pun dengan cerita saat gua mengikuti psikotes bersama ratusan orang. Betapa ribet dan kisruhnya kisah nyata gua dalam mencari kerja harus gua masukkan di sini. Karena semua kisah itu berhasil mengantar gua sampai di titik ini.

Rangkaian kisah-kisah bodoh yang gua alami tadi layak diceritakan. Bukan hanya untuk ditertawakan, tapi juga untuk dipetik pelajarannya. Bahwa selalu ada pelangi setelah hujan. Jadi seberapa pun derasnya hujan yang turun hari ini, harus bisa dinikmati. Harus selalu disyukuri.

Ide ini pun dengan luwes gua tuang lewat keyboard. Mengalir deras karena semangatnya sangat ingin gua bagikan ke teman-teman pembaca. Lewat tengah malam, gua memutuskan untuk merampungkan yang ada dulu. Beberapa adegan penting masih belum bisa dirumuskan. Gua memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan besok-besok.

Percaya deh, menyusun outline sebuah novel itu ga bisa sebentar. Menulis memang menggunakan otak kanan, namun menyiapkannya banyak melibatkan otak kiri. Hubungan sebab akibat, logika plot, dan tempo cerita menjadi bagian penting yang harus diperhatikan. Meski nantinya bergenre komedi, beberapa adegan penting harus dibuat semasuk akal mungkin. Pun kalo ada kebetulan, harus bisa diperhalus. Baik lewat karakter atau mengulang kejadian tersebut di adegan-adegan sebelumnya. Semuanya harus logis.

Karena logika cerita adalah hutang penulis kepada pembaca.

Setelah semua rapih, gua mengirimkan outline ini kepada penerbit. Ga butuh waktu lama, penerbit pun mengiyakan dan gua pun mulai menulis kisah ini.

Kisah si Ari Budiman.

Kisah seorang sarjana baru lulus yang dengan gigih berjuang meraih mimpi. Kisah yang tebal dengan balutan ego laki-laki. Kisah yang ga menye-menye tentang cinta yang kadang basi. Kisah seorang pria yang berani melepas apa yang ada sekarang demi mendapatkan mimpi yang bukan miliknya. Kisah yang kemudian diberi judul Luntang-lantung, naik cetak, terbit, mendapat apresiasi, dan sempat nankring di beberapa rak best seller. And the rest is history.

Lonlan

Akhir kata, selamat menikmati Lontang-lantung, sebuah kemasan ulang dari Luntang-Lantung. Selamat bertualang bersama Ari Budiman dalam mengarungi kejamnya ibukota. Selamat ikut cemas menunggu panggilan kerja. Selamat terbawa khawatir diwawancara petinggi kantoran. Dan selamat menyesap semangat yang dibawa buku ini: bersyukur.

Selamat membaca dan selamat berlontang-lantung :)

“Some people grumble that roses have thorns; I am grateful that thorns have roses.”  ― Alphonse Karr

Advertisements

Tagged: , , , ,

26 thoughts on “Lontang-lantung: Cerita di Balik Cerita

  1. vachzar October 29, 2013 at 11:35 Reply

    oh itu alasannya roy sampe vakum ngeblog setahun.
    jujur aja, waktu Luntang-lantung terbit gw agak skeptis, karena lo udah jarang ngeblog dan saat itu gw rasa buku2 yg terbit rata2 kayak kejar setorannya penerbit aja :))). jadi gw ga beli luntang-lantung, tapi dari beberapa post lo yg bahas lontang lantung, kayanya gw bakal beli Lontang Lantung :D

  2. Kevin Anggara October 29, 2013 at 12:28 Reply

    Gue udah baca Lontang-lantung, dan setelah baca juga nggak cuman ketawa, tapi dapet pelajaran dari cerita tersebut. Keren, bang Roy jadi penulis kesukaan gue nih :D

  3. dodo October 29, 2013 at 12:33 Reply

    Walopun ada beberapa bagian yang gw ga sreg, gw tetep suka buku Lontang Lantung ini secara keseluruhan… Saking sukanya gw sampe bikin review walo ga ada yang suruh.. hehehe…. Gw tunggu pilemnya Lontang Lantung… Sukses yah…
    Btw, boleh tahu ga kenapa judulnya diganti? Apa bedanya pake O dan U?

    • Roy Saputra October 29, 2013 at 14:33 Reply

      *gugling reviewnya*

      Kata penerbitnya, luntang itu ga baku. Yang sesuai KBBI itu lontang :D

  4. edotz gaul sedunia October 29, 2013 at 13:29 Reply

    Baru tau kalo ternyata cerita di lontang lantung ada yg berdasarkan pengalaman pribadi… Hehe

    Bukunya gaul bang, di gramed Semarang aja udah sold out, cepet banget…

  5. Nad Paritrana October 29, 2013 at 16:52 Reply

    Udah baca dong.. :) ..

    Khas elu bengettt..

    • Roy Saputra October 30, 2013 at 08:33 Reply

      Dari 1 – 10, dapet nilai berapa? :D

  6. Nad Paritrana October 30, 2013 at 09:12 Reply

    Gw kasi 8 deh roy .. abis sukses buat gw disangka gila ketawa sendirian di angkot.. :)

  7. dyazafryan November 1, 2013 at 09:28 Reply

    “Karena logika cerita adalah hutang penulis kepada pembaca.”
    duh.. itu yang selalu teringat-ingat dikepala saat nulis. :D

  8. Dwi Kresnoadii November 1, 2013 at 23:39 Reply

    Udah beli bukunya, udah baca bukunya, dan tidak menyesal mengeluarkan uang untuk membelinya. :p
    Selamat membuat filmnya!

    • Roy Saputra November 2, 2013 at 08:12 Reply

      thank you, Dwi!

      dari 1-10 dapet nilai berapa? :D

  9. dyna November 21, 2013 at 21:49 Reply

    kakkk royyyyyy… salut! nuf said. :)

  10. Agus Adi Wibowo November 30, 2013 at 15:12 Reply

    boleh nih bang nukunya, jadi pengen beli :D
    Btw sama2 kopite nih YNWA :)

  11. Lisa Rahma Yani (@twit_ichaichak) February 13, 2014 at 08:19 Reply

    oli Greng nya kakaaakk….
    hahhhhaa…….
    Novelnya Lucu bingit bang roy. di tunggu film nyah…

    • Roy Saputra February 13, 2014 at 08:40 Reply

      ahey! thanks ya udah suka! :D

      nanti ajak temen-temennya yang rame pas nonton! :D

  12. yoko April 12, 2014 at 10:05 Reply

    Kerennnnn…. sibuk ttp nulis. Dan hasilnya bsgus

  13. Jatuh Cinta | Fallen Leaves March 28, 2015 at 15:30 Reply

    […] pertama yang gue baca adalah Behind The Scene dari novel barunya dia yang berjudul “Lontang-Lantung“. Begitu selesai baca gue nagih buat baca postingan lainnya. Hari itu juga, gue merasakan […]

  14. muhammad fiqra April 29, 2015 at 22:28 Reply

    Sekarang lagi mencari-cari karya om Roy, nih. Susah bener dapatnya.

    Ini nih penulis yang benar, selalu ingin memberikan yang terbaik buat pembacanya. Keep on writing, om! Jangan lama-lama berhenti nerbitin buku, yah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: