#JalanJapan: Foto Fuji!

Hari kedua di Tokyo, Jepang.

Setelah mengalami nikmatnya boker di jamban canggih, hari ini gua bakal menunaikan salah satu agenda wajib di itinerary gua: berfoto dengan latar gunung Fuji.

Makanya, kita memutuskan untuk ga berkunjung ke gunungnya, tapi hanya ke danau Kawaguchiko; danau yang terletak ga jauh dari gunung Fuji dan lokasi yang pas untuk berfoto dengan latar gunung Fuji.

Selama di Jepang, rencananya kita akan menggunakan kereta sebagai transportasi utama. Dari Jakarta, kita udah beli JR Pass yang memungkinkan kita untuk menggunakan segala jenis kendaraan yang berada di bawah naungan perusahaan JR. Kita beli JR Pass di Jakarta masih dalam bentuk kwitansi. Untuk mendapatkan tiket aslinya, kwitansi tersebut harus ditukarkan di loket-loket yang tersebar di titik-titik transportasi Tokyo, seperti bandara dan stasiun.

Sialnya, loket penukaran JR Pass yang ada di bandara Haneda baru buka jam 11 siang. Daripada waktu terbuang nungguin loket buka, akhirnya kita berinisiatif beli tiket kereta untuk menuju stasiun Shinagawa, loket JR Pass terdekat dari bandara Haneda. Dengan semangat 45 mau foto dengan latar Fuji, berangkatlah kita ke stasiun Shinagawa.

Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi saat pantat duduk dengan manis di atas kereta menuju Shinagawa. Hanya butuh beberapa menit sampai akhirnya kita sampai di stasiun tujuan. Dan pagi itu, gua mengalami apa yang gua cari ketika traveling. Culture shock.

Stasiun Shinagawa rame banget! Riuh oleh orang-orang dengan langkah kilat dan tatapan mata yang kosong. Bahu ketemu bahu. Tangan bergesekan. Padat, penuh. Tapi uniknya, ga ada satupun suara orang ngobrol, atau bahkan, bergumam. Satu-satunya suara yang muncul hanya derap langkah kaki-kaki yang berjalan cepat.

Orang Jepang itu gesit banget dalam bermobilisasi. Kecepatan yang membuat gua sempat berpikir, jangan-jangan orang Jepang terlahir dengan rasa kebelet boker yang permanen. Dan seperti yang gua bilang di atas, tatapan mata mereka kayak menerawang jauh, seakan hanya melihat titik tujuan tanpa memperdulikan benda-benda yang lalu lalang di depannya. Mereka fokus, dan cepat. Sangat cepat.

ramai

Gua, Tirta, dan Siti akhirnya sampai di depan loket penukaran JR Pass sekitar jam 9 kurang 15 menit. Ternyata loket penukaran masih tertutup oleh rolling door. Tulisan yang dicoret di rolling door bilang kalo loket ini baru buka jam 9 pagi.

Sambil nunggu loket di buka, gua ambil satu peta jalur kereta yang disediakan di sepanjang stasiun. Gua sempet nge-browse di hyperdia.com dan jadi tau kalo mau ke danau Kawaguchiko itu kita mesti ke stasiun Shinjuku dulu, terus naik jalur Chuo dengan kereta jenis Rapid Service, lalu turun di stasiun Otsuki. Dari Otsuki, kita naik Fujikyu Railway untuk sampai ke stasiun Kawaguchiko.

“Jadi tugas kita itu nyari stasiun Kawaguchiko,” jelas gua sambil membuka peta jalur kereta. Asiknya, peta JR bagian timur ini menggunakan bahasa Inggris, jadi friendly buat turis. Tapi sialnya, karena banyaknya jalur kereta yang ada di Tokyo, agak pusing juga pas pertama kali baca. Rusuh banget jalur keretanya!

Nih, liat aja gambar di bawah ini:

TokyoJRMap

Klik gambar untuk memperbesar.

Ribet kan?

“Tukerin JR Pass dulu deh. Udah jam sembilan kurang dikit kok belum buka-buka ya?” Tirta bolak-balik melihat jam di tangannya. Tapi pertanyaan Tirta terjawab ga lama setelahnya. Dan bagi gua, loket JR Pass ini lagi-lagi memberikan apa yang gua cari dalam perjalanan. Culture shock.

Pukul 8:59, seorang petugas berseragam hijau keluar dari pintu utama stasiun menuju loket JR Pass. Ia lalu menekan tombol yang ada di kanan bawah. Rolling door naik dengan pelan saat petugas tadi terus-menerus memperhatikan jam tangannya. Tepat pukul 9:00, rolling door terbuka penuh dan udah ada seorang petugas yang duduk di dalam. Jam sembilan pas! Ga lewat barang semenit! Dan ini bukan cuma jam sembilan udah dibuka, tapi tepat jam 9 mereka udah siap untuk melayani. Very very very punctual.

Kebayang ga sih kalo lu orang Jepang dan mau janjian sama temen?

“Cuy, ntar kita ketemu ya di tempat biasa. Jam 9:57 ya!”

“Wah, gua ga bisa. Mau beli kuaci dulu di warung. Gimana kalo jam 9:59?”

Sadis ga tuh?

Setelah menukarkan kwitansi dengan tiket JR Pass dan mendapat penjelasan cara penggunaannya, kami pun berangkat menuju stasiun Kawaguchiko. Untuk mempercepat pencarian, Siti bertanya ke salah seorang petugas, “Where is Kawaguchiko station?”

“Here, here!” tunjuknya pada sebuah nama stasiun di jalur Keihin-Tohoku, sebelah utara pusat kota.

Seinget gua, gunung Fuji berada di sebelah kiri bawah pusat kota. Kok ini di utara ya? Dan kok nama jalurnya beda ya sama yang dijelasin situs hyperdia? Tapi karena nama stasiunnya bener, gua percaya aja sama arahan petugas stasiun. Bergegaslah kita bertiga ke jalur yang dimaksud petugas tadi. Dan perjalanan menuju danau Kawaguchiko pun dimulai.

menuju kawaguchiko

Sepanjang perjalanan, mata gua fokus ke pemandangan di balik jendela. Kalo emang bener kereta ini ke danau Kawaguchiko, harusnya dari jauh udah keliatan gunung Fuji-nya. Tapi kok ini sama sekali ga keliatan gunung? Yang ada malah gedung-gedung tinggi, ga kayak di pinggiran kota. Kalo di Jakarta mah gampang. Kita tau kita udah deket daerah wisata gunung kalo udah banyak tukang gemblong.

“Ta, Ti,” panggil gua ke Tirta dan Siti, bak anak kembar, “Ini kayaknya nyasar deh. Kok gunungnya ga keliatan sih?”

“Kehalang gedung itu kali tuh,” tunjuk Tirta, “Ntar juga keliatan kali pas nyampe di stasiun Kawaguchiko-nya.”

Lima menit kemudian, sampailah kita di stasiun Kawaguchiko. Nama stasiunnya sih bener: Kawaguchiko. Namun jangankan gunung, bukit belakang sekolah Nobita aja ga keliatan. Ini pasti salah. Ini pasti nyasar.

“Ini pasti salah. Ini pasti nyasar,” kata gua, yang membuat kalimat di atas menjadi redundant, “Mending ikutin petunjuk hyperdia aja deh. Cari stasiun Otsuki terus lanjut pake Fujikyu Railway. Gimana?”

“Tapi stasiun Otsuki di mana tuh?” Mata Tirta menjelajah ke sepenjuru peta. Kepala kita bertiga mendekat ke arah peta. Seakan-akan kita adalah para jendral yang akan memutuskan negara mana yang akan di-bom.

“Tuh, tuh!” tunjuk Siti ke titik biru di paling kiri.

“NAH IYA! INI DIA OTSUKI!” jerit gua bak menang lotre, “YUK, KE SANA!”

Gara-gara salah jalur, rute kita jadi memutar. Yang tadinya bisa lurus ke arah timur dari Shinjuku ke Otsuki, maka ini jadi melingkar ke utara baru ke timur. Alhasil, kami harus meneruskan perjalanan dengan jalur Keihin Tohoku dan turun di stasiun Omiya.

Di stasiun Omiya ini, gua menemukan lagi perbedaan budaya yang gua cari. Saking cepatnya mobilisasi dan buru-burunya orang Jepang, di stasiun Omiya ada warung ramen, tapi tanpa meja! Jadi yang mesen, dikasih mangkok lewat celah jendela kecil, lalu harus makan sambil berdiri! Ini stasiun apa kondangan?!

Serunya lagi, Omiya adalah stasiun transit dari 4 jalur dan berbentuk lorong-lorong dengan langit-langit atap yang rendah. Jadi kalo kita teriak, akan ada sedikit gaung yang menyusul membuat gaduh. Nah, kebayang dong apa jadinya jika kaki-kaki penumpang dari 4 jalur kereta yang berderap cepat di-combo dengan gaung di lorong-lorong? Inilah yang gua alamin ketika mampir ke Omiya.

Pas gua turun dari kereta jalur Keihin Tohoku, suasana stasiun Omiya masih sepi. Tapi begitu kereta dari 2 jalur yang beda juga menurunkan penumpang, terdengarlah derap langkah yang seperti memburu dari belakang.

Druk, druk, druk!

Akibat gaung, suara derap dari puluhan orang jadi terdengar ratusan pasukan yang marah dan buru-buru. Karena cepatnya langkah mereka, suara-suara derap itu menyusul dan terasa semakin mendekat. Mengiringi detak jantung gua yang semakin deg-degan karena berasa lagi dikejar-kejar!

DRUK, DRUK, DRUK, DRUK, DRUK, DRUK!

Saat kaki-kaki itu hanya berjarak 4-5 langkah di belakang, gua menarik napas dan melakukan tindakan paling heroik dan berani:

Tutup kuping terus jongkok di pojokan. Ngeri, bro.

Puluhan orang berjalan berbondong-bondong dan terburu-buru, meski itu hari Minggu pagi. Jika di rumah kita sedang santai nonton Doraemon, mungkin mereka malah sibuk… mau nyiptain Doraemon. Sungguh perbedaan budaya yang kental dan sangat gua nikmati.

Anyway,

Sekitar satu jam kemudian, kami pun sampai di stasiun Otsuki. Sempet makan siang ramen enak banget (dan pake duduk), sebelum melanjutkan perjalanan dengan Fujikyu Railway. Untuk menggunakan kereta jenis ini, kita ga bisa menggunakan JR Pass dan harus membayar lagi. Total biaya pulang pergi untuk naik Fujikyu yang ekspres (ga berhenti di semua stasiun) itu sekitar 2,800 yen.

Butuh kurang lebih 30 menit perjalanan, sebelum akhirnya kami sampai di stasiun tujuan. Stasiun yang kita cari sedari pagi. Kawaguchiko. Kesan pertama: dingin banget, bro!

Cuaca mendung ditambah angin kencang membuat jumper yang gua bawa rasa-rasanya ga cukup untuk menahan dingin. Setiap kali ngerasain angin dingin begini, gua selalu teringat ucapan seorang teman bernama Gelaph beberapa waktu sebelum kami berangkat.

“Jepang dingin ga sih pas bulan November, Laph?”

“Kagak. Palingan sejuk-sejuk doang.”

Sejuk-sejuk dengkulmu.

stasiun Kawaguchi

Meski udah sampai, perjalanan untuk memfoto gunung Fuji belum usai. Persoalan kita ga berhenti sampai di sini. Pertanyaan berikutnya yang muncul di kepala adalah: ini gimana cara ke danaunya?

Tapi ga ada masalah yang ga kelar selama ada peta. Dari peta yang terpampang di depan stasiun, terlihat kalo ada jalan pintas lewat gang-gang perumahan untuk bisa sampai ke danau. Nekad, kita pun mengambil jalur itu. Rasa percaya diri pun bertambah tinggi saat beberapa turis yang jalan mendahului kita. Jadi kalo ternyata nyasar, gua bisa dengan kasual menoyor kepala si turis dan bilang, “Lo sih…”

Untuk menuju danau dari arah stasiun, menurut peta, kita hanya perlu berjalan lurus. Sepuluh menit kemudian, ada gapura yang menyambut dan membenarkan bahwa kita sedang berjalan ke arah danau Kawaguchiko. Hanya butuh berjalan kaki lima menit lagi untuk sampai ke danau yang kita cari-cari selama ini. Danau Kawaguchiko.

foto danau

Saat mata bertemu danau biru yang membentang luas, gua hanya bisa menahan napas, mengagumi keindahan panorama yang tampak bak lukisan. Bukit hijau dengan pohon mapel berwarna merah dan oranye menjadi latar yang sangat kontras dengan birunya danau Kawaguchiko. Pemandangan ini seakan mengusik mata untuk mengucap terima kasih ke betis dan kaki yang telah jauh-jauh menuntunnya ke sini.

Kita lalu menyusuri pinggir danau. Andai bawa pasangan, tempat ini pas banget untuk berjalan bergandengan dan berbincang tentang hal-hal manis. Gula pasir, permen, atau pemanis buatan. Hal-hal manis. Sialnya, saat gua menengok, di sebelah gua hanya ada Tirta. Gua memilih untuk mengaitkan tangan sendiri dan berdoa. Semoga suatu hari, bisa kembali ke sini bersama istri.

pinggir danau

Suasana danau Kawaguchiko tenang sekali. Hanya ada tawa-tawa kecil dari para wisatawan yang nekad makan es krim di cuaca sedingin ini. Juga suara-suara penjaja atraksi yang berusaha meyakinkan turis yang lalu lalang. Salah satu atraksi yang dijual berhasil menarik perhatian Tirta.

“Mau naik Ropeway ga?” tawar Tirta.

Gua berpikir sebentar, “Ayo deh!”

ropeway

Dengan membayar 700 yen, kita akan diantar kereta gantung untuk naik-turun ke atas gunung. Sedikit mahal, tapi ternyata ide Tirta itu berbuah manis. Dari atas bukit, kita bisa berfoto dengan latar gunung Fuji dengan puas. Namun sayangnya, hari udah sore dan kabut udah sigap menutup gunung Fuji. Membuat figur salju abadi pada puncak yang masyur itu ga bisa diliat kasat mata.

“Ta, Ta. Fotoin gua dong.” Smarphone gua berpindah tangan ke tangan Tirta. Dengan pose yang sederhana, gua membelakangi gunung Fuji dan ingin mengabadikan momen ini bukan hanya lewat kata-kata. Mencoba mencoret satu agenda wajib di itinerary gua kali ini.

Klik.

foto fuiji

Foto dengan latar gunung Fuji di Jepang? Checked!

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , ,

27 thoughts on “#JalanJapan: Foto Fuji!

  1. dodo December 6, 2013 at 11:23 Reply

    Mantab!!!
    Sayang yah puncak Fuji-san nya ketutup awan… Emang bagus nya siang2 yah poto gunung… Gw juga post ttg gunung Fuji ini d blog gw… Karena sore, ketutupan jg puncaknya….

    Perjalanan nya asik… Temen jalan nya jg asik2 keknya… Nunggu cerita selanjutnya….

    • Roy Saputra December 6, 2013 at 11:37 Reply

      iya, kata orang sana juga bagusan pagi. kalo sore, kabut udah turun. apalagi pas gua ke sana lagi mendung. dobel deh.

      menuju tkp!

  2. vachzar December 6, 2013 at 11:33 Reply

    tapi sayang mendung jadi kurang jelas gunung fujinya. trademark gunung fuji kan biasanya ada toping saljunya :D

    • Roy Saputra December 6, 2013 at 11:38 Reply

      ho oh. bener banget. soalnya pake nyasar sih nih. targetnya nyampe sana jam 11 padahal :))

  3. Kevin Anggara December 6, 2013 at 11:42 Reply

    Wogh, rute stasiunnya jauh lebih rumit daripada MRT di Singapore dan rute jalur Transjakarta. :o

    • Roy Saputra December 6, 2013 at 12:19 Reply

      rumit banget! :))

    • Gerry December 6, 2013 at 13:56 Reply

      bener bgt ya, gw bacanya sambil ngeliatin tuh peta.
      MRT di singapura aja gw udah bingung, apalagi ke TKP bisa2 besoknya baru nyampe.
      hahaha

      • Roy Saputra December 7, 2013 at 00:58 Reply

        Iya. Mesti bener-bener dipelajarin bahkan dari sebelum berangkat kayaknya :S

  4. presyl December 6, 2013 at 13:45 Reply

    roy, itu yg lo beneran jongkok buat hindarin orang2 itu beneran?
    dan itu minggu pagi?
    ga kebayang pas nanti nyampe senin pagi ke stasiun, kayaknya bakal kelindes sama kaki orang-orang klo ga sigap :|

    • Roy Saputra December 7, 2013 at 00:56 Reply

      Gua hampir jongkok. Yang jelas gua mojok dan tutup kuping. Emang hectic banget X))

  5. presyl December 6, 2013 at 13:46 Reply

    btw, itu peta jalur keretanya T_T

  6. Deti Mashitah December 6, 2013 at 14:16 Reply

    Peta mrt di Tokyo emang rumit banget :((
    Waktu itu gw n temen sampe Tokyo jam 7 pagi, mata langsung melek lebar2 liat jalurnya yang udah kaya benang kusut. Kalo Jepang lagi kayanya mesti kudu wajib bawa kaca pembesar :D

    • Roy Saputra December 7, 2013 at 00:57 Reply

      Bener banget X))

      • dian saraswati December 7, 2013 at 09:06 Reply

        Det baru mau kasi info ke kamuuu soal artikel ini.. ternyata ud komen duluan :D

  7. maembie December 6, 2013 at 15:52 Reply

    awesome..

    Mungkin diantara pengomentar, gue aja yang gak ngerti apa yang kalian omongin.
    dari awal nih cerita, gue cuman bisa berdecak kagum doang.

    soalnya gue gak ngerti semua itu.
    Yang gue tau cuman, orang jepang terburu – buru dan sangat menepati janji.

    beda banget sama budaya indonesia.

    bacaan bagus. entah kapan bisa kesana.

    • Roy Saputra December 7, 2013 at 00:59 Reply

      Ayo nabung (‘-‘)9

      • maembie December 7, 2013 at 01:01 Reply

        Nunggu posting tentang budget bg. biar bisa mengira – ngira. :D

  8. Novriana December 6, 2013 at 17:55 Reply

    Seru banget baca ceritanya! Terutama bagian culture shock.

    Ih, dapet pemandangan daun warna warni ya kayaknya? Daku sungguh meng-iri sama yang ini!

    Btw yang janjian jam 9:59 itu amat sangat mungkin terjadi loh, apalagi kereta di jepun jadwalnya tepat waktu banget, telat dikit aja ada pengumuman, jadi bisa aja ntar ada sms telat dua menit dari jam janjian misalnya :D

    • Roy Saputra December 7, 2013 at 00:58 Reply

      Iya jadwal keretanya reliable banget. Salut abis sama pengaturannya.

  9. Dwi Kresnoadii December 7, 2013 at 10:47 Reply

    Wah sayang berkabut yak. Padahal keren banget itu. Dan, ternyata emang bener ya kalo orang jepang itu disiplin banget.
    Btw, 700 yen kalo di rupiahin berapa ya roy?

    • Roy Saputra December 7, 2013 at 10:49 Reply

      1 yen waktu gua ke sana itu 114 rupiah. Sekitar 70-80ribu.

  10. ankhe December 7, 2013 at 19:44 Reply

    duhh kebayang bagusnya gunung fuji, maple merah..wuaaaa ga sabar pengn kesono :D

  11. Pipit December 22, 2013 at 17:59 Reply

    akhirnya sampe di sini juga #abis “ngekos” di blognya Tirta# :) seru banget pengalamannya.. Kl gk ada pantangan makanan kecuali batu (LoL) emg kans utk ngirit ada. Tp kl hrs butaniku coret spt Tirta hrs kerja lbh krn yg namanya ramen bs dibilang kaldunya pasti buta/pork kecuali jelas2 mrk bilang ramen khusus ayam ato vegies (dan itu benda laaanggkaaa di Jpg hiks!)
    sekali thx sharing.. & salam kenal :)

  12. Pipit December 22, 2013 at 18:01 Reply

    aduh maaf Roy… tadi abis baca cara ngirit di Jpg, lsg baca ini tp blm sempet ninggal komen kudu masak utk dinner..! maaf ya komen di atas agak OOT dg artikelnya! :(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: