Review: Mesakke Bangsaku Jakarta

Malam itu, gua datang ke Mesakke Bangsaku bukan sebagai fans Pandji.

Kebetulan, si pacar adalah penggemar berat Pandji, dan sebagai pacar yang baik gua pun menemaninya untuk nonton stand up special bertajuk Mesakke Bangsaku itu. Gua bukan ga suka sama Pandji, tapi jika ditanya apa gua rela mengeluarkan uang 400 ribu untuk menonton Pandji, dengan cepat gua akan menjawab tidak. Karena dari penampilannya di konser Glenn Fredly, Stand Up Fest, atau Mentertawakan Indonesia, bagi gua, Pandji hanya di tahap menghibur. Belom ada penampilannya yang bisa meyakinkan gua untuk bergadang dan menyisihkan uang ratusan ribu demi tiket show-nya.

Satu-satunya special Pandji yang pernah gua tonton sebelumnya adalah Bhineka Tunggal Tawa lewat DVD. Stand up special show pertama di Indonesia itu gua tonton sekitar satu tahun setengah dari acara sesungguhnya berlangsung. Lagi-lagi pendapat gua sama. Pandji hanya sampai di tahap menghibur. Satu-satunya alasan gua ga menyesal meminjam DVD itu adalah penampilan para opener-nya yang lebih cocok untuk masuk ke dalam kategori lucu.

Singkatnya, Pandji is not my cup of tea.

Jadi, datanglah gua malam itu ke Teater Jakarta, TIM, dengan tanpa ekspektasi dan tiket kelas Silver seharga seratus ribu di tangan. Hadir ke sebuah stand up special show yang menjadi final dari tur dengan nama yang sama. Dan seperti yang Pandji janjikan di postingan H-1 Mesakke Bangsaku Jakarta, acaranya mulai tepat pukul 8 malam.

Mesakke berarti “kasihan” dalam bahasa Jawa. Dan malam itu, Mesakke Bangsaku dibuka oleh komika dengan muka yang paling messake se-Indonesia; Arief Didu. Musik lenong Betawi dan riuh tepuk tangan penonton mengiringi langkah Arief Didu masuk ke panggung Teater Jakarta yang megah. Sumpah, dia kocak banget. Bit-bitnya terdengar tulus dan jujur. Meski intonasinya terdengar seperti orang marah-marah, tapi sebetulnya ia sedang mengundang penonton untuk mentertawakan dirinya. Self depreciation.

Bit Arief Didu favorit gua adalah cerita ketika ia jadi figuran di film Make Money. Betapa sedikit kemunculannya di layar lebar dan tanggapan istrinya tentang proses syuting membuat gua ketawa ngakak. Bener kata Carol Burnett, comedy is tragedy plus time. Dan Arief Didu berhasil menceritakan ulang tragedinya untuk menjadi komedi yang sangat lucu. Sangat-sangat lucu.

Selesai dibuat empuk oleh Arief Didu selama kurang lebih 20 menit, masuklah tuan rumah Mesakke Bangsaku; Pandji Pragiwaksono.

Dengan jas dan kemeja warna gelap, Pandji membuka malam itu dengan sedikit berisiko: menggoblok-gobloki penonton karena ga datang di dua pertunjukan special dia sebelumnya. Berisiko, karena bagi yang malam itu datang pertama kali, bisa aja mereka memasang pagar tawa mereka, defensif karena dibilang goblok. Persona arogannya tampak jelas di beberapa menit awal, membuat gua penasaran seberapa “pintar” si tuan rumah. Namun semua itu terjawab ga lama kemudian. Di bit pertamanya, dengan cerdik, Pandji merangkai bit-bit yang sepertinya lepas ke dalam satu benang merah: minortas di Indonesia.

Bit tentang masyarakat difabel, pengusaha, keturunan Tionghoa, gay, dan perempuan dijabarkan bukan hanya dengan lucu, tapi juga informatif. Ada hal-hal baru yang selalu bisa gua dapatkan setiap Pandji mengelaborasi pandangannya. Perpindahan dari satu bit ke bit lainnya juga halus banget. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh performer dengan materi yang matang dan latihan yang giat.

Ga cuma lewat kata-kata, kemampuan act out Pandji juga sangat baik. Jarak pandang dari balkon paling atas ga jadi masalah karena ada layar besar yang sanggup menangkap setiap kelucuan yang coba ia dapat dari gerakan serta mimik wajahnya. Sesekali, Pandji wara-wiri di atas panggung, membuat panggung yang besar jadi ga terasa sia-sia. Malam itu jadi pembuktian, Pandji ialah seorang performer yang cerdik memainkan luas panggung.

pandji mesakke bangsaku

Di kuartal kedua, Pandji mengangkat topik yang menurut gua paling menarik malam itu: pendidikan. Dengan jelas, Pandji menjabarkan pengamatan serta pendapatnya tentang sistem pendidikan Indonesia. Tentang sulitnya menjadi beda karena akan dicap salah, bodoh, atau aneh. Tentang penyeragaman terhadap bakat yang kadang membuat anak-anak menjadi tertekan. Semua itu dijabarkan dengan analogi yang lucu, dan membuat penonton bukan hanya tertawa, tapi juga bergumam dan mengangguk setuju.

Bagian favorit gua dari Mesakke Bangsaku ketika memasuki kuartal terakhir. Pembahasan tentang keharusan kita untuk membedakan opini dan fakta dielaborasi dengan menarik. Media massa yang seharusnya menyajikan fakta, kini malah asik beropini demi kepentingan pihak tertentu. Di tengah derasnya arus informasi, kita jadi seperti malas mencari fakta, cenderung kenyang disuapi opini. Pandji mengajak para penontonnya untuk harus lebih cerdik dan kritis.

“Selain itu, kita juga harus bisa membedakan bodoh, sama guoblok! Iya, iya, guoblok yang B-nya delapan, K-nya enam belas.”

Nah, ini adalah bit favorit gua, dan sepertinya, jadi bit favorit semua penonton. Cerita tentang keisengan Pandji mencari beberapa berita pencurian mesin ATM yang gagal. Cerita paling epic adalah pencurian gagal yang terjadi di Bogor. Sang pencuri udah berhasil mencungkil mesin ATM dari bank, lalu udah berhasil membawanya kabur, dan hebatnya lagi, udah berhasil membawa mesin ATM-nya selamat sampai di rumah. Tapi sang pencuri malah membanting barang-barang di rumahnya sampai tetangga bangun dan melaporkannya ke polisi. Ternyata sang pencuri sedang kesel banget sampai harus membanting-banting barang.

“Dia kesel karena yang dia curi… ternyata ATM non-tunai!”

Sontak seisi Teater Jakarta gaduh oleh tawa dan tepuk tangan penonton. Gua sendiri ketawa ngakak sampai mukul-mukul pegangan kursi. Bener-bener guoblok dengan delapan B dan enam belas K.

Namun sesungguhnya sangat sulit untuk mereview penampilan Pandji malam itu lewat kata-kata. Karena ketika ditulis ulang plek-plekan, kadang bitnya ga selucu sebagaimana yang gua rasakan ketika ada di Teater Jakarta malam itu. You have to be there.

Tapi biarlah gua menutup review kali ini dengan kalimat seperti ini. Malam itu gua datang bukan sebagai fans Pandji, namun pulang dengan catatan kecil ini di kepala, “Kali berikutnya, nonton di kelas Gold ah.”

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , ,

22 thoughts on “Review: Mesakke Bangsaku Jakarta

  1. Adiitoo December 23, 2013 at 12:20 Reply

    Setidaknya, dengan elo menaruh kutipan “Dia kesel karena yang ia curi… ternyata ATM non-tunai!”cukup membuat gw terbahak-bahak. :lol:

    Gw juga awalnya berpikir seperti itu, Pandji hanya seorang penghibur. Belum kepikiran untuk membeli tiket dan menonton pertunjukannya secara khusus. Mungkin sesekali gw perlu menontonnya langsung (acaranya yang tak perlu merogoh kocek terlalu dalam), agar gw bisa mengkhususkan si Pandji ini.

    • Roy Saputra December 23, 2013 at 13:02 Reply

      *tos*

      selalu ada yang pertama untuk segala hal. hahaha. selamat mencoba! :D

  2. Kevin Anggara December 23, 2013 at 14:05 Reply

    Gue belum pernah nonton stand up comedy show langsung. Next, ajak-ajak gue, ya hahaha.

    • Roy Saputra December 23, 2013 at 15:52 Reply

      mesti dicoba, Vin. bisa jadi lahan belajar berkomedi juga :D

    • dodo December 23, 2013 at 16:35 Reply

      Vin… Tgl 25 januari nonton penutupan tur nya ernest d jakarta yuk…

      • Roy Saputra December 23, 2013 at 17:15 Reply

        gua juga nonton, yang jam 16:00. ketemuan yuk di sana! :D

        • Kevin Anggara December 23, 2013 at 23:48 Reply

          Wah, kalo bareng ayuk.. :D

          • Roy Saputra December 24, 2013 at 09:00 Reply

            gua udah beli. lu nyusul aja. nanti ketemu di sana, Vin. ayo!

  3. buzzerbeezz December 23, 2013 at 16:44 Reply

    Waktu itu show Mesakke Bangsaku di Banda Aceh juga pecah banget. Jauh lebih matang emang si Pandji di sini dibanding di show-show sebelumnya.

  4. Kevin Fatli December 23, 2013 at 20:30 Reply

    Belum ada yang deket nih, mau nonton live shownya. Efek tinggal di pedalaman (re:Pekanbaru)

    • maembie December 25, 2013 at 01:01 Reply

      Yang di Pekanbaru jangan berkecil hati.
      nikmatin aja comic lokalnya.
      saya juga orang Pekanbaru

      • Roy Saputra December 25, 2013 at 07:24 Reply

        ayo di-promote juga komika lokal yang kece-kece! siapa tau bisa go nasional! :D

        • maembie December 25, 2013 at 08:31 Reply

          Amin amin. Ada sih beberapa yang kece, cuman belum masuk media aja. :D

  5. niwadesu December 23, 2013 at 22:17 Reply

    reviewnya baguuuss.. :D
    hehe iya menyenangkan banget ya nonton mesakke bangsaku ini.. ngakak, makjleb, sampe terharu dalam satu show :’)

  6. Dwi Kresnoadii December 23, 2013 at 22:44 Reply

    Gue yang gold. :))
    Dan, sepertinya (kebanyakan gitu deh, Roy) lucu secara verbal itu lebih mudah ketimbang dalam bentuk tulisan. Makanya ngga terasa lucu pas ditulis ulang. CMIIW.

    • Roy Saputra December 24, 2013 at 09:03 Reply

      masing-masing ada tingkat kesulitannya masing-masing lah ;)

  7. Ibeth March 22, 2014 at 22:01 Reply

    Kak, kalau mau tau info comica show liat dmna ya? Pngen ntn live :)

    • Roy Saputra March 24, 2014 at 11:55 Reply

      follow akun twitter komunitas stand up di kota lu, atau follow akun twitter dari komika favorit lu aja. mereka suka share jadwal stand up show kok :D

  8. Ahmad Mufid August 17, 2014 at 14:23 Reply

    Bang, kamu sering nyetendap juga nggak? *nanya serius*

    • Roy Saputra August 17, 2014 at 19:09 Reply

      belom pernah nyoba. belom ada nyali :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: