Cinta Mula-Mula

Awal Februari kemarin, gua dan si pacar berpacaran tepat 1 tahun. Untuk merayakannya, kita sengaja mengingat dan mengulang pertemuan pertama kita, setahun yang lalu.

Iseng banget ya?

Ya, emang gitu lah kita. Pasangan kurang kerjaan yang iseng melakukan hal-hal yang pernah kita lakukan pada saat pertama ketemu setahun yang lalu. Nonton di mall yang sama, makan menu yang sama, dan bahkan, pake baju yang sama!

Dengan sweater hijau dan jeans warna hitam, gua meluncur ke Plaza Senayan, menemui si “pacar” yang setahun lalu masih gua sebut “gebetan”. Beberapa menit lalu, si pacar mengirim pesan bahwa dia udah sampai. Sebagai catatan, ngirim pesannya lewat messenger, bukan diiket di kaki merpati apalagi bendera semapur.

Setahun lalu, gua bertemu si “gebetan” di Gandaria City dan menonton Chinese Zodiak. Karena Chinese Zodiak ga ada sekuel-nya dan gua dapet tiket Comic 8 gratisan di XXI Plaza Senayan, maka tujuan pun diubah. Mureee.

Setelah melewati jalanan Jakarta yang agak lowong, akhirnya gua sampai di Plaza Senayan. Buru-buru markir mobil karena tau si pacar udah nunggu dari tadi. Mobil terparkir rapih, gua berlari menuju titik yang telah disepakati. Di sana, si pacar duduk menanti dengan jeans biru, kaos putih, dan cardigan pink. Persis yang dikenakannya setahun yang lalu, saat pertama bertemu.

“Happy anniversary!” kata gua sambil memberikan setangkai mawar putih kesukaannya. Dia mengucapkan hal yang sama sambil memeluk gua dengan erat. Sebelum disoraki dan ditimpuk batu jumrah oleh para jomblo yang nestapa, kita menyudahi sesi pelukan itu dan menuju bioskop. Dua tiket gratisan udah menanti di sana.

Rencananya, abis nonton, kita berdua mau pergi ke Cikini, makan sate Sambas, dan berakhir dengan mengantarkan si pacar pulang ke rumah. Persis yang kita lakukan setahun yang lalu. Tapi apa daya, selesai nonton, badan gua kurang fit. Itu karena malam sebelumnya, gua dan pacar bepergian sampai larut. Padahal ga diaduk, tapi sampe larut. Lah, emang garem?

Anywaaay,

Akibat menahan kantuk kemarin malam, badan gua jadi agak drop. Biasalah, saat usia mendekati kepala 3, untuk mengantuk, gua ga butuh alasan tertentu. I just love to be sleepy.

Rencana pun bergeser. Kita akhirnya pergi ke Gandaria City, mall yang sebenarnya jadi destinasi saat kita pertama kali ketemu dulu.

Ternyata kita juga ga bisa lama-lama di Gandaria City, karena lagi-lagi, gua menunjukkan tanda-tanda yang hampir mirip dengan gejala kurang darah: lemah, letih, lesu dan lunglai. Setelah makan di Nanny’s Pavilion dan membeli beberapa jajanan di Roppan, kita pun memutuskan untuk pulang.

Di sepanjang perjalanan pulang, kita berdua terdiam. Mungkin sama-sama lelah, mungkin sama-sama terserang rasa kantuk. Atau mungkin, sama-sama mencerna apa yang terjadi setahun belakangan ini di hidup masing-masing. Mengingat kembali apa yang telah dialami dua hati yang bertemu hanya karena sebuah kebetulan.

Setahun yang lalu, di mobil yang sama, dua orang yang sama, masih asing, namun duduk bersebelahan ngobrol ga tentu arah mengisi waktu. Dulu kita bukan orang yang rutin bertegur sapa dan bercerita tentang naik turun di harinya. Namun setahun berselang, dua orang yang sama, di mobil yang sama, kini seperti terkait dan ga bisa lepas satu sama lain.

Kita saling ketergantungan.

Di saat lampu lalu lintas menyala merah, gua menginjak pedal rem dan menengok ke kursi sebelah kiri. Memperhatikan sosok yang sedang melemparkan pandangan ke balik jendela. Sosok yang saat ini mengisi hampir 24 jam dalam keseharian gua. Sosok yang telah menjadi prioritas. Sosok yang sekarang menoleh balik. Dan ketika senyumnya merekah, kilatan-kilatan kenangan berdua tiba-tiba melintas di kepala.

Kenangan manis memenuhi masa-masa awal. Masa bulan madu, begitu katanya. Janji-janji bak calon legislatif sering terucap tanpa ekspektasi apa-apa di belakang. Ibarat bayi, ini lagi lucu-lucunya. Ini lagi unyu-unyunya.

Dan seperti halnya setiap pasangan, kita masuk ke tahap berikutnya: beradu argumen, melempar tunjuk, dan bertukar keluhan. Masa-masa pait dan ga enak. Masa di mana pendapat masing-masing selalu benar, dan yang lainnya, pasti salah.

Yes, of course, we had some fights. Mulai dari yang kecil, sampai yang besar dan berhari-hari. Kalo lagi begitu, rasanya seperti berjalan di atas tali. Setiap gerakan bisa berakibat fatal dan berdiam diri juga ga akan menyelesaikan masalah. Kerasnya dua kepala Virgo semakin memperkeruh. Ga ada yang merasa salah, ga ada yang mau mengalah.

Ribet.

Selang lima belas menit, mobil masuk area parkir. Gua dan dia turun tanpa banyak bertukar kata-kata. Mungkin masing-masing masih mencerna, apa yang memicu kita bisa bertahan selama setahun terakhir meski kita sering berantem. Mungkin sedang memikirkan, apa yang membuat kita saling ketergantungan di tengah hubungan yang amplitudonya seperti ini.

Tapi berkat hari ini, gua menemukan jawabannya.

Hari ini, gua mengingat-ingat tentang pertemuan pertama dulu. Hari di mana jantung berdegup kencang karena melihat parasnya pertama kali. Hari di mana gua merasa waktu berlalu begitu cepat. Hari di mana hati gua menetapkan pilihan dan ga mau lagi menengok ke belakang. Hari di mana gua merasakan cinta, yang mula-mula.

Mungkin itu yang ga boleh gua lupa ketika kondisi hubungan kita sedang ga sehat. Mungkin ini yang mesti gua ingat ketika debat-debat panjang ga bisa terhindarkan.

Mengingat bahwa memilih adalah sebuah keputusan. Dan kita harus konsisten dan konsekuen dengan setiap keputusan yang kita ambil.

Mencintai itu bukan sebuah ajang lari jarak pendek. Melainkan sebuah maraton yang butuh konsistensi dengan terus mengingat apa yang pada awalnya membuat kita berlari. Apa yang pada mulanya membuat kita memutuskan untuk jatuh cinta.

Karena jatuh cinta butuh komitmen.

holding hands

Beberapa detik berselang, langkah kita berhenti tepat di depan rumah. Masih tanpa kata-kata, hanya saling melempar pandang. Dua senyum terukir lalu kami bertukar peluk. Lama dan hangat. Hanya karena waktu, akhirnya pelukan itu terlepas.

Malam semakin tinggi, gua harus pulang. Sebelum melangkah keluar, gua mengecup keningnya dan bilang,

“Anniversary tahun depan gini lagi yuk?”

“Falling in love is easy, but staying in love is a challenge.” ― Anonymous

Advertisements

Tagged: , , , , , , , ,

22 thoughts on “Cinta Mula-Mula

  1. sarahandhercloset March 27, 2014 at 11:21 Reply

    aaaah :”)

  2. Deti Mashitah March 27, 2014 at 11:34 Reply

    sweet :)

  3. Matthiday March 27, 2014 at 15:54 Reply

    Gile. Orang yang lagi terbang mengingat masa indah-indahnya pasti bisa bertutur kata dengan sangat apik. Anyway, happy anniversary, bang! :D

  4. dessyanggita March 27, 2014 at 16:22 Reply

    waaaah… diamnya aja bisa dibikin cerita kayak gini :)
    semoga langgeng dan bisa ke jenjang selanjutnya yah :’)

  5. Kimi March 27, 2014 at 16:59 Reply

    Roy, “kami” bukan “kita”. :P

    Btw, happy anniversary. Semoga langgeng ya dan selalu adem ayem bahagia. Salam buat pacar. :)

    • Roy Saputra March 28, 2014 at 13:15 Reply

      nah, justru itu, Kim. pake kita biar bisa mengganti posisi “kami”, dengan lu dan pasangan. karena gua yakin banyak pasangan mengalami hal serupa ;)

  6. kevinchoc March 27, 2014 at 22:57 Reply

    Semoga langgeng, ditunggu nikahannya hahaha :D

  7. maembie March 28, 2014 at 08:42 Reply

    “Memilih adalah keputusan.”

    Aku sih setuju sama kamu. ;;)

    • Roy Saputra March 28, 2014 at 11:25 Reply

      …tapi ga tau deh gimana kalo Mas Dhani.

      • maembie March 28, 2014 at 18:05 Reply

        Menurut aku sih ya, dia itu cocok buat kamu. Saya suka gaya kamu malam ini.

  8. Godeliva Olivia March 28, 2014 at 09:19 Reply

    Aku sukaaakkk!!!! Hahahahah
    Semoga ini pelabuhan hati terakhir ya Roy, tinggal berangkatin kapal aja menuju samudra pernikahan :3 *siap-siap nangkep buket bunga*

    Oiya, remember you wrote a comment in one of my blogpost, saying that my man is lucky for having me? Well, I like Sarah just by reading her blog so… You are so lucky having her in your life, dude.

    :D

  9. Ditter March 31, 2014 at 07:45 Reply

    Aiiiiih…. emang enak ya kalau punya pacar :’)

  10. Nad Paritrana April 1, 2014 at 09:45 Reply

    Senangggg….
    Agree with you roy.. Cinta butuh komitmen..
    Saat cinta bermetamorfosa, komitmen yang berbicara… :)

    Semoga Allah mudahkan kalian ke jenjang berikutnya ya.. #ihiy..

  11. Darmaskeleton April 9, 2014 at 19:37 Reply

    No comment dah kalo masalah cinta , gua do’ain moga cepet nikah .inget usia kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: