Mimpi & Perjuangan

Semua orang pasti punya mimpi. Ada yang pengen pergi ke Maladewa, ada yang pengen jadi politikus, ada yang pengen jadi artis, atau ada yang pengen jadi politikus lalu ke Maladewa bareng artis. Wait. That was someone’s dream and I think it was already accomplished.

Gua sendiri punya banyak mimpi. Rasanya rugi kalo punya mimpi cuma satu selama hidup. Lah wong mimpi itu gratis, kenapa ga sekalian banyak aja? Ya ga?

Salah satu mimpi terbesar gua setelah punya penghasilan tetap adalah membeli tempat tinggal sendiri. Benar-benar dari uang sendiri, tanpa bantuan dari mana pun, termasuk orang tua. Menurut gua, punya tempat tinggal sendiri itu ultimate achievement dalam membeli barang, dan juga, sebuah bentuk kemandirian penuh. Punya tempat tinggal sendiri, tinggal sendiri. Masak, masak sendiri, nyuci, nyuci sendiri.

Tapi mari tinggalkan lirik dangdut, dan lanjutkan postingan ini. Pertanyaan yang sering muncul berikutnya adalah: “Kenapa beli? Kenapa ga sewa aja?”

Gua memutuskan untuk membeli karena menurut gua, kalo sebenernya kita mampu, sewa itu sebuah langkah yang sangat disayangkan. Setiap bulannya kita mengeluarkan uang untuk membayar sewa, yang kadang jumlahnya hampir sama untuk kita nyicil beli rumah.

Pemikiran ini ternyata dimiliki mayoritas penduduk Indonesia. Dari grafik yang gua temukan di internet, kebanyakan masyarakat di Indonesia lebih memilih untuk membeli rumah ketimbang sewa. Mungkin ya karena itu tadi. Kalo sebenernya kita mampu membeli, sewa rumah terkesan seperti “membuang” uang.

beli vs sewa

Gambar dipinjam dari Lamudi.

Hal pertama yang gua lakukan untuk mewujudkan mimpi ini adalah cari-cari info tentang rumah. Berapa kisaran harga per meter di setiap daerahnya, apa plus minus tempat tinggal vertikal seperti apartemen, dan parameter apa aja yang bisa membuat nilai suatu rumah terus meningkat. Karena dalam mengejar mimpi, informasi lengkap tentang mimpi kita adalah langkah awal yang ga boleh diabaikan.

Setelah tau apa yang harus dikejar, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menuju ke sana. Untuk pertanyaan yang ini gua langsung tau jawabannya: kredit di bank.

Dengan harga rumah yang ratusan juta, rasanya gua belum mampu untuk membeli secara tunai. Kecuali kalo rumah seharga seperangkat alat sholat, maka bisa dibayar tunai. Lah ini kan kagak. Sepertinya, jalan satu-satunya untuk gua membeli rumah saat ini adalah dengan menyicil lewat bank.

Toh menyicil rumah ga ada ruginya karena nilai yang kita bayarkan setiap bulannya naik seiring waktu. Jadi nyicil untuk membeli rumah itu untung. Cash flow bulanan ga terganggu, dan rumah yang kita beli nilainya naik terus.

Menurut gua, kalo udah merasa cukup mampu, membeli rumah itu harus jadi prioritas. Itu karena kenaikan harga properti semakin menggila dari tahun ke tahun, bahkan bulan ke bulan. Kenaikannya bukan lagi merambat, tapi melompat. Fenny Rose ga bohong. Harga properti memang selalu naik, meski ga selalu di hari Senin.

Contohnya apartemen yang akhirnya gua beli pertengahan tahun 2012 lalu. Saat gua beli, bentuknya masih rata dengan tanah, belum ada bangunan sama sekali. Sekarang udah hampir jadi dan harganya melonjak nyaris 2 kali lipat dari saat gua beli. Kalo dulu gua ga nekad memutuskan untuk beli, mungkin sekarang gua ga akan pernah mampu beli karena kenaikan harganya gila-gilaan banget. Makanya, usul gua sih, beli rumah itu harus disegerakan bila udah merasa mampu. Daripada zinah… eh, beda konteks ya?

Anyway,

Mimpi ini juga lah yang membuat gua memutuskan untuk bekerja di industri jasa keuangan. Bekerja di bidang yang sebenernya agak beda dari keilmuan gua sebagai seorang lulusan Teknik Industri. Ada hal-hal yang harus gua tempuh demi mencapai mimpi. Mungkin ini salah satunya. Mengorbankan keilmuan demi bisa menginjak titian anak tangga menuju cita-cita. Selama halal dan ga mengusik hati nurani, setiap jalan pasti akan gua tempuh.

Gua memutuskan untuk kerja di industri jasa keuangan karena di tempat kerja gua sekarang, ada privilege terkait pembelian rumah. Salah satu benefit yang ditawarkan perusahaan di tempat gua kerja adalah penghilangan beberapa biaya dan bunga per bulannya yang bisa kurang setengah bahkan lebih dari bunga di pasaran. Lumayan banget kan?

Demi bisa membeli rumah juga lah yang akhirnya mendorong gua untuk menjaga banget pengeluaran gua. Makanya, ga jarang gua terlihat pelit, perhitungan, atau kurang gaya. Menahan diri untuk jalan-jalan jauh atau membeli gadget keluaran terbaru. Berhati-hati dalam mengeluarkan uang yang terkait gaya hidup. Karena gua percaya, hidup itu murah, tapi gaya hidup yang bikin mahal.

Hampir setiap hari gua bawa makanan rumah ke kantor. Ke tempat kerja udah kayak mau ke akherat. Bawa bekal. Tujuannya, ya, di atas tadi. Ngirit demi bisa bayar cicilan apartemen dan hal-hal lain yang menurut gua lebih penting dari sekedar makan enak di mall. Karena gua tau resources gua terbatas, jadi gua harus bisa membatasi diri.

Ya begitulah.

Jika itu jalan yang harus gua tempuh, so be it. Karena gua yakin, ga ada mimpi yang murah dan mudah. Karena dalam memperjuangkan mimpi, selalu ada harga yang harus dibayar.

Karena dalam mengejar mimpi, memang perlu perjuangan.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

23 thoughts on “Mimpi & Perjuangan

  1. presyl April 9, 2014 at 12:25 Reply

    aakk sama banget bawa bekel dari rumah ke kantor! ga buat ngirit sih, cuma males ke luar siang-siang panas boo :))

    asiik, udah beli tempat tinggal, tanda-tanda minta ditempatin bareng istri.
    tp NJOP jakarta naik banget tahun ini, harga tanah makin mahal :(( *melipir nyari tanah di pinggiran jakarta*

    • Roy Saputra April 10, 2014 at 08:18 Reply

      nah itu dia. emang harus disegerakan, Pres! :D

  2. Siro Gane April 9, 2014 at 12:28 Reply

    Wuihh keren, perjuangan akhirnya membuahkan hasil walau hrus menahan diri beberapa waktu :D

    • Roy Saputra April 10, 2014 at 08:19 Reply

      betul. mimpi emang harus diperjuangkan meski pelan-pelan :D

  3. Darmaskeleton April 9, 2014 at 13:00 Reply

    Rumah ada , punya penghasilah tetap , umur udah cukuplah buat jadi kepala rumah tangga . So , kapan wedding partynya ?,

  4. D.H. Kresnoadi (@enggakeribo) April 9, 2014 at 16:29 Reply

    Oooh, jadi ternyata Roy sekolahnya Teknik Industri toh. :p
    Hmm, iya, sih, kalo apartemen emang biasanya gitu. Jadi beli dulu sebelum dibangun, setelah dibangun, dijual lagi dengan harga tinggi. Fasenya lagi sama kayak Abang gue nih, ngirit kerja. Bawa bekel. Ngumpulin duit buat masa depan. Semoga cepet kebeli Roy \:D/

  5. Gerry April 10, 2014 at 10:40 Reply

    paragraf pembuka selalu terngiang sampe paragraf terakhir gw baca dan pengen banget bilang “ABURIZAL BAKRIE” :))))

  6. maembie April 11, 2014 at 01:09 Reply

    Harga makin naik, nilai tukar rupiah semakin melemah.

    Hmm.. yang penting berani ngambil resiko.

  7. kevinchoc April 13, 2014 at 00:41 Reply

    Niat buat nabung bangkit kembali.

    <- Tiap hari ke sekolah bawa bekal hahaha. Biar ngirit.

    • Roy Saputra April 14, 2014 at 08:33 Reply

      bersenang-senanglah seolah tak ada hari esok, berhati-hatilah seolah masih hidup 1000 tahun lagi. keep balance! hahaha.

  8. khoirul.muslikin April 18, 2014 at 23:23 Reply

    Dulu iya, suka bawa bekel ke kantor. Enak, ngirit. Sekarang enggak lagi, karena dapet cathering. :))

    • Roy Saputra April 21, 2014 at 08:18 Reply

      ketring juga enak. ga pusing juga hari ini mau makan apa. udah siap semuanya :)))

  9. erwin April 22, 2014 at 08:56 Reply

    << Bawa bekel terus dari jamannya sekolah, ngapain gengsi kalau akhirnya bisa dapat apa yg kita mau :)

  10. Ferry September 14, 2014 at 16:00 Reply

    Mantabh bang, *lg ngumpulin DP* btw knp gak milih landed house ? :)

    • Roy Saputra September 14, 2014 at 22:07 Reply

      nyarinya lokasi. dan dengan lokasi segitu dan dana yang ada, ga cukup untuk beli landed house. jadi sementara apartemen dulu :D

  11. Ryandi Rachman January 4, 2016 at 21:31 Reply

    Gue baru baca nih, tulisan lu yang ini bang roy :))
    jadi gini bang, umur gue kan udah 23 nih ya skarang, gue udah planning banget bisa punya rumah sekitar umur 25-26 lah nanti. ((padahal lulus kuliah aje belom))
    skripsi bikin otak gue berpikir “Udah nikah aja, pusing kan?” nah syarat nikah kudu punya rumah dulu dalam kamus hidup gue.

    pengen punya rumah dijakarta, karena sumber uang adanya di jakarta. apa kita harus rela-relain yah ngambil KPR demi property yang sangat menuntut kemampuan dari segi finansial?

    impian gue sih, punya rumah mah.. semoga aja ketemu jalan rezekinya :)

    • Roy Saputra January 5, 2016 at 08:11 Reply

      kundil! apa kabar lu? kalo properti sih usul gua emang mending ambil KPR. karena ga akan ganggu cashflow lu dan ga akan rugi karena nilai kenaikan rumah pada akhirnya bisa di atas pokok + bunga yang udah lu bayarin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: