Bukan Mimpi

Agustus 2010

“Enaknya dinamain siapa ya?”

Saat itu tengah malam. Gua sedang mengetik halaman pertama dari sebuah naskah yang diminta oleh penerbit. Mereka minta dibuatkan sebuah cerita komedi dengan latar dunia kerja. Sebuah kisah tentang sarjana baru, yang luntang-lantung cari kerja.

Gua mengetuk-ngetukkan jari telunjuk dan tengah di atas meja kamar. Otak diputar demi bisa menemukan sebuah nama untuk si tokoh utama. Biasanya gua akan memilih nama yang biasa banget untuk tokoh utama dalam cerita-cerita gua. Gua pernah pake nama Andre, Dimas, Yanto. Nama yang mungkin aja ditemukan di kehidupan sehari-hari. Nama yang standar. Nama yang bisa aja “lu” atau “gue” banget.

Kali ini, tantangan mencari nama menjadi dua kali lipat sulitnya. Gua bukan hanya perlu nama yang biasa, tapi juga nama yang pasaran. Karena nama pasaran itu lah yang nantinya akan jadi trigger dari plot utamanya. Sebuah nama yang bisa jadi ada di mana-mana. MC kawinan, juragan pakan ternak, kapster salon, atau mahasiswa yang baru lulus dan susah cari kerja.

“Budi? Heri? Gunawan? Rudi, Agus, Ari, Budi… ah, gua tau. Ari Budiman!”

Gua kebayangnya si Ari Budiman ini orangnya harus jago ngomong, suka ngeles, dan pandai bergaul. Dia bisa cas-cis-cus terus bingung belakangan. Egonya gede, ga mau kalah sama temennya. Easy going tapi banyak maunya. Tapi wajah dan perawakannya haruslah seperti orang pada umumnya. Ah, kayak gini aja deh…

#FilmLuntangLantung Ari Budiman

“Nama temennya siapa ya?”

Ceritanya, Ari punya 2 teman baik. Satu yang selalu ia banding-bandingkan, sementara satu lagi yang bisa menjawab segala keresahan dalam hidupnya. Karena ini untuk novel bergenre komedi, kayaknya sih bakal lebih gampang kalo gua bikin 2 sahabatnya ini punya dialek khas daerah tertentu.

“Bikin orang Batak kayaknya seru nih. Yang gede, yang sangar, yang gahar, yang… bloon.”

Maka jadilah Togar Simanjuntak, sahabat Ari Budiman, orang Batak yang ngaku-ngaku kalo dia ini cucu C. Simanjuntak. Awalnya gua ingin memberi nama Bangun. Tapi sepertinya nama Togar lebih membumi dan asik untuk dipanggil-panggil. Penggalan kata “Gar” terbaca lebih mantap daripada “Ngun”. Maka si orang Batak ini pun bernama Togar dan bermarga Simanjuntak. Badannya gempal, rambutnya lebat, kalo ngomong harus kencang dan meledak-ledak.

“Nah, temennya yang satu lagi mesti kalem nih.”

Untuk mengimbangi Togar yang meledak-ledak, maka sahabat Ari yang kedua harus kalem, lembut, dan tenang. Pasnya sih orang Jawa. Kalo ngomong medok dikit, badannya kecil, pake kacamata, dan rada kuper.

“Namanya siapa ya?”

Jika biasanya gua kasih nama yang biasa banget untuk tokoh utama, namun gua suka bereksperimen untuk nama tokoh pendukung. Contohnya di novel komedi pertama gua, ada satu tokoh perempuan yang bernama Mujaroh. Nama unisex yang jika dipenggal, akan jadi sebuah kegiatan menyembah dunia spiritual. Muja roh.

Begitu pun di cerita kali ini. Gua ingin bermain-main sedikit dengan nama sahabat Ari Budiman. Jari telunjuk dan tengah kembali gua ketuk-ketukkan di atas meja kamar. Berharap otak masih mau bekerja sama meski malam makin tinggi. Saat udah hampir dini hari dan suasana sedikit horor, tiba-tiba gua teringat dengan film Malam Satu Syuro yang diperankan Suzana. Di film itu, Suzana berperan sebagai…

“Suketi!”

Lalu gua memadupadankan nama Suketi dengan Kuncoro biar ngebantu mendeskripsikan kalo dia ini laki-laki tulen. Maka jadilah Suketi Kuncoro, orang Jawa yang kalem dan rada kuper.

Togar Simanjuntak dan Suketi Kuncoro. Mungkin, wujud 2 sahabat itu kayak gini kali ya…

#FilmLuntangLantung Togar Simanjuntak dan Suketi Kuncoro

“Udah deh. Malam ini ngetiknya segini dulu.”

Laptop pun gua tutup. Lampu gua padamkan dan selimut gua tarik. Deskripsi tiga tokoh sentral cerita yang belum berjudul ini udah gua rampungkan. Sekarang saatnya untuk tidur dan berharap bisa memimpikan ketiga tokoh ini hidup dan bermain-main di alam bawah sadar gua.

“OLI GREEENG-NYA, KAKAAAK!”

Lampu kembali menyala. Para penonton bertepuk tangan dan satu per satu meninggalkan ruangan diiringi credit title dan soundtrack Luntang-lantung yang bermain dari speaker-speaker yang menggantung. Barisan penonton yang terdiri dari pendukung film dan wartawan asik ngobrol dan bertukar pendapat di sepanjang perjalanannya keluar dari ruang teater.

Gua beranjak dari kursi, dan sebelum melangkah keluar, mencubit lengan kuat-kuat. Sekadar memastikan bahwa hari ini bukan Agustus 2010. Sekadar meyakinkan kalo gua ga masih tertidur setelah selesai membuat deskripsi tokoh pada novel. Sekadar mengonfirmasi, bahwa ini bukanlah mimpi.

Sekarang tanggal 30 April 2014, tiga setengah tahun dari malam di mana gua “melahirkan” dan mereka-reka seperti apa wujud Ari Budiman, Togar Simanjuntak, dan Suketi Kuncoro. Saat press release film Luntang-lantung hari ini, gua menyaksikan buah fantasi gua hidup dan jadi inspirasi lewat tawa dan cerita.

Sekarang tiga sahabat itu bukan hanya hidup di imajinasi gua dan ditebak-tebak oleh teman pembaca lewat novel Luntang-lantung. Tapi Ari, Togar dan Suketi kini hidup dan bergerak di layar lebar. Berinteraksi dengan penonton melalui cerita yang disampaikan lewat media film.

This is not a dream. This is real.

Togar Simanjuntak hidup. Berbadan besar, gahar, dan meledak-ledak. Suketi Kuncoro hidup. Kalem, berkacamata, dan rada kuper. Ari Budiman hidup. Jago ngomong, suka ngeles, dan pandai bergaul.

Mereka bertiga hidup. Mimpi gua hidup.

Untuk itu, gua ingin berterima kasih. Untuk produser, sutradara, para pemain, penulis skenario, dan semua pendukung film ini. Namun yang paling utama, gua ingin berterima kasih kepada kalian yang nantinya akan menonton film Luntang-lantung di layar lebar.

Karena setiap rupiah yang kalian keluarkan untuk membeli tiket film Luntang-lantung, akan jadi pompaan darah bagi tokoh-tokoh di imajinasi gua untuk tetap hidup. Karena setiap tiket film Luntang-lantung yang kalian beli nanti, adalah denyut nadi bagi mimpi gua agar tetap bertahan dan bisa berubah menjadi harapan.

Karena suatu hari nanti, akan ada masanya di mana gua punya anak. Lalu ketika sedang bermain dengan teman-temannya, anak gua akan menunjuk poster yang gua dokumentasikan di ruang tamu. Kemudian dengan lantang, anak gua akan berkata, “Ini mimpi Papa saya dan dia berhasil mewujudkannya. Itu artinya, suatu hari nanti, saya juga bisa mewujudkan mimpi saya.”

Terima kasih karena kalian telah mewujudkan mimpi gua. Dan yang paling penting, terima kasih telah menciptakan harapan bagi anak-anak gua.

Terima kasih.

#FilmLuntangLantung tayang di bioskop 8 Mei 2014, serentak di 75 layar seluruh Indonesia. Yuk, nonton, yuk.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

38 thoughts on “Bukan Mimpi

  1. kaprilyanto May 8, 2014 at 11:44 Reply

    wah, keren2…
    mau juga deh seperti mas roy..

  2. irmasamelta May 8, 2014 at 11:52 Reply

    posting ini berhasil membuat mata saya meneteskan air mata
    kalau selama ini saya jadi “silent reader” bang Roy, postingan ini juga yang mampu akhirnya membuat saya menyapa bang roy,

    selamat ya bang Roy…mimpi itu hidup..

    Aku pasti nonton film ini :)

    • Roy Saputra May 8, 2014 at 11:59 Reply

      terima kasih udah membaca blog gua selama ini. #FilmLuntangLantung ada, salah satunya, karena pembaca blog ini.

      thank you :”

  3. Teppy May 8, 2014 at 11:55 Reply

    Congratulations, Roy! :D Sukses yaaa! :D

  4. irmasamelta May 8, 2014 at 11:58 Reply

    tulisan ini mampu membuat air mata saya menetes

    kalau selama ini saya hanya sebagai :”silent reader” tulisan ini juga yang membuat saya akhirnya memberanikan saya menyapa bang Roy

    selamat ya bang Roy…terimakasih untuk kalimat “mimpi itu hidup”
    saya pasti menonton film ini :)

  5. dyazafryan May 8, 2014 at 12:01 Reply

    sukses bang Roy!!!!… keep spirit :D

  6. Muhadkly Acho May 8, 2014 at 12:11 Reply

    Senang bisa jadi bagian dari Luntang-Lantung, sebuah kehormatan bisa perankan Suketi Kuncoro. Sukses, Roy!

    • Roy Saputra May 8, 2014 at 12:17 Reply

      sukses juga buat lu, Cho! semoga filmnya sukses!

  7. joeyz14 May 8, 2014 at 13:11 Reply

    Selamat! Semoga filmnya bertahan lama dibioskop ya, dan hebat banget…salut. jadi semangat ngelanjutin projek menulis gw… *uhuk*
    Sekali lagi, SELAMAT!!!

    • Roy Saputra May 8, 2014 at 13:19 Reply

      ayo semangat menulisnya! :D

      terima kasih! :D

  8. kevinchoc May 8, 2014 at 13:31 Reply

    Selamat bang Roy! :D

  9. presyl May 8, 2014 at 14:15 Reply

    huwaaa.. ga sabar buat nonton >.<
    selamat ya roy, ga sabar juga ketika ngeliat nama lo di layar, trus pamer, "eh itu yang buat temen gue looh"

    • Roy Saputra May 8, 2014 at 14:16 Reply

      hahaha, ayo nonton yang rame!

      btw, company gua ga jadi nyumbang busway! XD

      • presyl May 8, 2014 at 16:07 Reply

        Udahlah roy, sumbang yg lain aja. Cari hibahan yg bikin kontroversi lagi :))

  10. Ika May 8, 2014 at 16:01 Reply

    Thanks buat berbagi cerita di balik layar. Mudah-mudah bisa beli bukunya kalo lagi pulang ke Indonesia.

  11. M Ihwanul Ngarifin May 8, 2014 at 22:41 Reply

    selamat bang,,postingan ini semakin membangkitkan asa gue buat mewujudkan mimpi-mimpi gue.

  12. maembie May 9, 2014 at 02:24 Reply

    Selamat bang Roy.

    Gak di novel #Lunlan aja yang tokohnya berjuang demi mimpinya, tapi penulisnya juga sudah membuktikan itu. *Terharu

  13. acentris May 9, 2014 at 08:17 Reply

    Terharu bacanya. Congrats mas! You’ll always be my inspiration lah. :’))

  14. Travelling Addict May 9, 2014 at 08:58 Reply

    Congratz ya bro.. Buat pelemnya..

    Regards,
    http://travellingaddict.blogspot.com

  15. kresnoadi May 11, 2014 at 00:16 Reply

    Perjuangan pasti ada hasilnya. Sukses Roy! sorry telat hehe. \:D/

  16. Nad Paritrana May 12, 2014 at 11:03 Reply

    Congrats ya Roy…
    Ikutan Seneng deh, biar belum sempet nonton :(..

    Doakan saya bisa cepet nonton..hehehe..

    • Roy Saputra May 12, 2014 at 11:20 Reply

      terima kasih kembali, ayo cepat ditonton! :D

  17. khoirul.muslikin May 14, 2014 at 23:25 Reply

    *tepuk tangan*

  18. nandito silaen June 7, 2014 at 17:22 Reply

    Mantaps bro :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: