Gara-Gara Magang

Sebagian besar anak kuliahan pasti pernah magang. Lewat magang, seorang mahasiswa diharapkan bisa sedikit banyak mencicipi dunia kerja sehingga ga kaget saat menceburkan diri sepenuhnya. Jika menganalogikan dunia kerja sebagai ujian akhir, maka magang itu semacam kisi-kisi lah.

Nah, di bawah ini gua akan bercerita pengalaman gua saat magang dulu. Cerita ini terjadi di tahun 2006, saat gua masih polos dan begitu naif. Cerita yang sama tertuang dalam Kaleidoskop saputraroy.com tahun 2013 yang bisa kalian download di sini. Kaleidoskop saputraroy.com 2013 adalah kumpulan postingan saputraroy.com terbaik versi pembaca yang dibagi menjadi beberapa kategori. Cerita “Gara-gara Magang” sendiri adalah postingan bonus pada kaleidoskop tersebut, yang versi jadul dan panjangnya pernah gua tuangkan pada buku kedua gua yang berjudul Doroymon.

Semoga kalian suka. Inilah; “Gara-gara Magang”.

internship

Liburan tahun ketiga kuliah gua isi dengan Kerja Praktek (KP), salah satu mata kuliah wajib yang mengharuskan gua untuk kerja minimal selama satu bulan di sebuah perusahaan. KP itu sejenis Kuliah Kerja Nyata atau magang gitu deh. Karena pilihan yang ada, akhirnya gua memutuskan untuk KP di Bapeda, alias Badan Perencanaan Daerah DKI Jakarta.

Gua KP bareng Dikun dan Sakai. Dikun adalah badut angkatan yang sangat lucu. Lucu dalam artian kayak Komeng, bukan lucu dalam artian kayak Nabila JKT48. Sementara Sakai adalah seorang teman yang kurus, gondrong, dekil, dan hitam. Eh, tunggu, tadi itu gua mendeskripsikan lutung. Ralat. Sakai itu kurus, gondrong, dekil, hitam, dan ga berbuntut. Nah itu, baru Sakai. Yang sangat mencolok dari Sakai adalah tampangnya seperti pelaku kriminal. Pelaku kriminal yang durjana, tepatnya. Ia ke mana-mana selalu naik motor. Dengan muka seperti itu, Sakai lebih terlihat seperti orang yang baru aja mendapatkan motor itu dengan cara menusuk pemilik aslinya di tengah jalan.

Salah satu tugas utama kami selama KP adalah luntang-lantung keliling Jakarta, mendatangi semua Bapeko/kab (Badan Perencanaan Kotamadya/ Kabupaten). Salah satunya adalah Bapekab Kepulauan Seribu. Dengan semangat 45, gua mencari di buku alamat dinas pemerintahan. Dengan jelas, di buku itu tertulis:

BAPEKAB KEPULAUAN SERIBU – Pramuka No. 9.

Ah, gua tau nih. Jalan Pramuka kan? Deket jalan Matraman kan? Gampang lah ini. Gua, Dikun, dan Sakai langsung bergegas turun dari ruangan kami di Bapeda dan menuju parkiran motor.

Perjalanan akan kami lakukan bertiga dengan naik dua sepeda motor. Ga kok, gua ga berdiri di antara dua motor, berakrobat sambil nyundul-nyundul bola api dan ada anjing laut tepok tangan di sekeliling gua. Gua duduk manis, dibonceng di salah satu motor. Gua duduk di belakang Dikun, sementara Sakai naik motor sendirian. Motor mereka diparkir di area Monas.

“Parkir di sini ga usah bayar, Roy,” kata Dikun yang sangat kontras dengan papan tarif parkir yang terpampang dengan gagah di depan Monas.

“Eh? Ga usah bayar?” kata gua dengan tampang kurang yakin.

“Kalo tukang parkirnya minta duit, lo senyum aja. Kalo ga, lo pura-pura ga liat aja.”

“Ga sekalian pura-pura mati, Kun?”

“Duh, udah deh. Tenang aja. Yang penting senyum, Roy. Senyum.”

Gua naik ke boncengan dengan memasang senyum yang dipaksakan. Motor Dikun mulai berjalan, mendekati pintu keluar, mendekati tukang parkir. Gua dag dig dug. Takut, kalo-kalo tukang parkirnya ternyata berasal dari komunitas yang memiliki tenaga berlebih untuk memukul kepala orang.

Sepuluh meter dari pintu keluar. Udara seakan menipis.
Lima meter. Jantung berdegup kencang.
Satu meter. Oh, please give me some fresh air!
Lima puluh centimeter. Eng ing eng.

“Dek, mana duit parkirnya?” Tukang parkir yang berkumis setebal kamus itu menagih ke arah gua.

“Sekarang, Roy! Senyum!” Dikun teriak memberi instruksi.

Gua yang kaget langsung memasang senyum paling basi yang pernah ada. Dikun lalu ngegas motornya pelan-pelan.

“Buruan dikit napa, Kun?”

“DEK! DEK! DUITNYA MANAA?!” Kumisnya jungkat-jungkit di atas bibir.

Gua menengok ke belakang. Terlihat tukang parkir dengan ga perlunya sedang menggenggam batu bata.

“Kun, Kun, buruan. Itu tukang parkirnya lagi megang objek tumpul yang diyakini dapat memberi efek tidak sehat pada bagian tubuh tertentu. Buruan!” Gua tegang.

“WOY, DEK! JANGAN KABUR!”

“Tenang, Roy. Tenang. Yang penting senyum. Inget. Senyum.”

“Senyam-senyum, senyam-senyum… gua kenyot lo! Buruan!” teriak gua, keki.

Menyadari duduk di belakang bisa menjadi sasaran empuk lempar lembing, membuat gua waswas selalu. Tapi ga lama, Sakai yang keluar belakangan beritikad baik. Dia ngebayarin duit parkir gua dan Dikun.

Fyuh.

Selepas dari adegan menantang nyawa tadi, kami pun konvoi menuju jalan Pramuka. Untuk mempersingkat pencarian, begitu sampai di jalan Pramuka, gua langsung bertanya ke mas-mas yang lagi asik nongkrong dengan gaya yang provokatif. Ngangkang.

“Mas, numpang tanya. Bapekab Kepulauan Seribu di mana yah? Jalan Pramuka nomor sembilan?”

“Oo, Bapekab,” muka si Mas sangat meyakinkan, “Dari sini, nanti turun ke underpass, trus naek, trus muter.”

Gua sedang mendekatkan kepala ke arahnya, mencoba sefokus mungkin, ketika tiba-tiba si Mas melanjutkan, “NAAAAH!”

Anjrit! Bikin kaget!

“Di situ tuh!” jawab si Mas itu yakin.

Karena dia menjawab dengan yakin, maka gua pun yakin dengan jawabannya. Setelah mengucapkan terima kasih, kami bertiga meneruskan perjalanan dengan mengacu pada penjelasannya. Dan gua pun sukses… NYASAR.

“Turun underpass, naek, muter. Turun underpass, naek, muter. Perasaan tadi gitu.” Gua mengulang-ulang petunjuk yang si Mas tadi berikan.

“Iya. Ini kita juga udah turun, naek, muter.” Dikun menambahkan.

“Iya sih. Tapi ini kok ketemunya… TUKANG ES CENDOL YA?” Gua garuk-garuk jidat. Ada yang salah. Ini jelas, ada yang salah.

“Perasaan tadi dia yakin banget deh jawabnya,” gua menambahkan.

“Ah, lo nya aja kali, lagi haus, makanya kepikirannya tukang es cendol,” kata Sakai.

Pencarian dilanjutkan kembali setelah gua membatalkan pesanan es cendol yang berakibat mendapat ancaman ditimpuk mangkok bergambar ayam-ayaman. Biar ga salah lagi, kali ini gua nanya ke tukang ojek, “Bang, numpang tanya. Bapekap Kepulauan Seribu di mana ya?”

“Oo. Kantor gitu ya, Dek? Kalo perkantoran mah ada di ujung jalan sono.”

“Di sana?”

“Bukan. DI SONOOO.”

Berbekal petunjuk itu, kami pun ke ujung jalan sebelah sono. Iya, iya, di sonooo. Di sono, kami memang menemukan banyak kantor, tapi ga ada kantor Bapekab Kepulauan Seribu. Lagi-lagi, kami pusing. Dua kali nanya, dua kali kesasar. Udah ah, mending sekarang cari sendiri aja deh.

Ga lama berselang, kami ketemu sebuah gedung dengan nomor 12. Persis di sebelahnya ada ruko nomor 11. Terus rumah nomor 10. Wah, ini pasti nih, sebelahnya pasti nomor 9. Mata gua melirik ke samping dan menemukan menemukan bangunan dengan papan bertuliskan “no. 9” di temboknya.

Tapi bangunan yang bernomor sembilan itu terlalu naas untuk disebut bangunan. Rumah tua yang banyak rerumputan di depannya itu terlalu angker buat para oknum pegawai negri untuk tidur, bahkan di saat jam kerja sekali pun. Jadi kami bertiga berkesimpulan bahwa rumah tua itu pasti bukan Bapekab yang kami cari.

“Mending kita ke Bapeko Jakarta Utara dulu. Kayaknya deket dari sini.” Sakai si Gondrong sumbang saran.

“Ya udah deh, ke sana dulu aja,” jawab gua seraya membatalkan tiga pesanan es cendol. Gua merasa mesen es cendol di saat nyasar adalah kombinasi yang cukup menarik.

Singkat cerita, gua, Dikun dan Sakai udah berhasil ke Bapeko Jakut. Di sana, gua nanya tentang di mana keberadaan Bapekab Kepulauan Seribu sebenarnya. Menurut penerawangan Kepala Bapeko Jak-Ut, ternyata Bapekab itu adanya di daerah Sunter.

“Tapi, Pak, menurut buku alamat dinas-dinas itu, alamatnya di jalan Pramuka. Jadi yang di buku itu salah ya, Pak?” tanya Dikun.

“Oh, buku ini yah?” Tangannya mengayun-ayunkan buku dinas itu, “Hm, ini kayaknya udah lama ga diperbarui. Hahahaha.”

Gua ngangguk-ngangguk sambil berusaha melempar baut ke dalam mulut si Bapak Kepala yang lagi ketawa lebar. Selepas berpamitan, kami bertiga pun bergegas menuju Bapekab. Setengah jam berikutnya, kami udah sampai di sekitar Sunter. Celingak-celinguk, bertanya arah sana-sini, mencari gedung Bapekab itu.

Kali ini, kami sukses menemukan gedung yang dimaksud. Setelah sempet sujud syukur, kami langsung masuk ke dalam. Lalu kami bertemu beberapa petugas Bapekab dan ngobrol akrab. Akrabnya sampe bisa cubit-cubitan dan tukeran nomor hape. Tapi gua melarang dan lebih baik menggunakan fasilitas Chat’N’Date jika ingin berkenalan.

“Sebenarnya kantor yang di sini hanya perwakilan saja. Nanti kalau mau lebih jelas, ikut saja,” jelas si Bapak Bapekab.

“Ikut ke mana, Pak?” tanya gua penasaran.

“Pulo.”

Waktu si Bapak bilang Pulo, gua kepikirannya Pulo Gadung. Si Dikun kepikiran Pulo Gebang. Sementara si Sakai kepikiran mau pulang.

“Pulo mana, Pak? Pulo Gadung?”

“Bukan, bukan. Pulau. Pulau Pramuka.”

“OOOOOO. PULAUUUUU.” Kami bertiga kompak manggut-manggut.

Terbukalah tabir misteri selama ini. Ternyata kantor Bapekab Kepulauan Seribu bukan berada di JALAN Pramuka, tapi di PULAU Pramuka.

Eaaa.

Advertisements

Tagged: , , , ,

25 thoughts on “Gara-Gara Magang

  1. D.H. Kresnoadi (@kresnoadidh) May 23, 2014 at 20:38 Reply

    Eaaaa. Ternyata oh ternyata..
    Selalu ada kejadian aneh ya kalo ngumpul sama orang2 yang rusuh dan sepemikiran. Seru. Hahaha :))

  2. Anindya May 23, 2014 at 21:18 Reply

    sebenernya udah ketebak sih endingnya bakal kayak gimana. tapi, lo selalu bisa buat cerita yang bikin orang penasaran sehingga mau baca sampai selesai :D

    • Roy Saputra May 23, 2014 at 21:48 Reply

      ahey! :D

    • Gerry June 2, 2014 at 14:36 Reply

      Iya udah ketebak endingnya, secara gw lbh pinter klo bapekab itu di kepulauan seribu. hahaha
      tapi alurnya yg bikin ttp mau baca and gak mau pencet X dipojok kanan.
      FYI, rumah gw di pulogebang loh.
      alhamdulillah ada yg tau yahhh :D

      • Roy Saputra June 2, 2014 at 15:07 Reply

        gua juga ada rumah di pulo gebang soalnya X))

        thank you, Ger! :D

        • Gerry June 2, 2014 at 15:08 Reply

          Ahhhh, seriusss.
          dimana dimana, boleh maen minta traktiran?
          :))

          • Roy Saputra June 2, 2014 at 15:13 Reply

            rumahnya dikontrakin sekarang. gua lupa-lupa inget blok sama nomornya X))

            • Gerry June 2, 2014 at 15:51 Reply

              owhhh gtu, banyak ya rumahnya.
              komplek pulogebang permai, pulogebang indah, kirana, royal residance, or taman pulogebang rumahnya?

              • Roy Saputra June 2, 2014 at 16:24 Reply

                taman pulogebang yang sebelahnya taman modern :D

                • Gerry June 3, 2014 at 08:56 Reply

                  ohhh, tau tau.
                  ternyata gak jauh yah :D

  3. aromamora May 25, 2014 at 12:29 Reply

    hehehehe ketawa mulu sepanjang baca postingan ini :))

  4. Darmaskeleton May 26, 2014 at 07:38 Reply

    Pecaaah , postingan lo emng slalu memberi efek samping yang membuat perut ngakak dan mulut terkocok ,eh kebalik yak . Good job brother

  5. vachzar May 27, 2014 at 11:14 Reply

    bahaha, gue pernah baca di buku lo sih roy. guobloss bener x)))

  6. Nad Paritrana May 28, 2014 at 10:40 Reply

    HWadeuh… gw dah curiga dari awaaaall..
    gak taunye beneran pulo pramukaaaa… hihihi..

    Btw.. kesana dong terusnya roy?

    • Roy Saputra May 28, 2014 at 10:41 Reply

      Kagak :))

      Soalnya udah dapet datanya pas di Sunter itu, jadi ga ke pulau lagi :))

  7. khoirul.muslikin June 7, 2014 at 00:07 Reply

    Sakai adalah seorang teman yang kurus, gondrong, dekil, dan hitam. Eh, tunggu, tadi itu gua mendeskripsikan lutung. Ralat. Sakai itu kurus, gondrong, dekil, hitam, dan ga berbuntut. Nah itu, baru Sakai. <– Ini gue ngakak.

    • Roy Saputra June 7, 2014 at 08:55 Reply

      dulu, yang membedakan emang cuma itu :)))

  8. mona June 11, 2014 at 23:14 Reply

    Kalo yg daerah kramat raya sebelah kampus sebrangnya pasar kenari yg tempat jual2 perkakas elektronik itu bukan bapekab kepulauan seribu ya? Kayanya kalo lewat daerah situ suka liat plang di depan gedung (yg sebelahnya kampus) ada tulisan “…… kepulauan seribu” gitu

  9. Lita December 28, 2016 at 08:21 Reply

    Haii…mau nanya, kan saya juga rencananya mau KP di bappeda Jakarta, Nah step step nya gimana ya? Minta tolong dijelasin ya :)

    • Roy Saputra December 29, 2016 at 20:36 Reply

      hi lita, kebetulan saya waktu itu dapat channel dari dosen saya, bukan melamar sendiri. maaf ga bisa banyak membantu :(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: