Feel the Dolphin Island

Tanggal 9-11 Mei kemarin, gua diminta @rwsentosaID untuk mengajak seorang teman pembaca ikutan traveling dan seseruan di Resort World Sentosa, Singapura. Teman pembaca yang beruntung itu bernama Fahmy Muchtar, yang gua pilih berdasarkan kontes sederhana #RWSID #BarengRoy beberapa minggu sebelumnya.

Selain gua, ada 4 blogger lain yang juga mengajak teman pembacanya. Ada Ariev si Well Planned Traveler, ada Mbok Venus si Family-packed Traveler, ada duo Pergi Dulu si Travel Couple, dan terakhir, ada Adis, si Gembel Backpacker.

Kami terbagi menjadi 3 kelompok, di mana gua dipasangkan dengan Adis untuk mengajak teman pembaca kami masing-masing buat mengalami exciting moments di Universal Studio Singapore, Adventure Cove Waterpark, The Ocean Restaurant, dan Dolphin Island.

Di hari kedua dari trip menyenangkan itu; gua, Fahmy, Adis, dan Sarah mendapat kesempatan untuk berkunjung ke tempat yang sepertinya menjadi puncak dari itinerary grup kami selama di #RWSID: Dolphin Island. Waktu tau gua harus ke Dolphin Island, awalnya gua menolak. Itu karena kemampuan berenang gua yang baru selevel batu nisan.

“Aduh, Nggi, gua ga bisa berenang,” rengek gua ke Anggi, sang mastermind dari acara ini, “Mending gua disuruh manjat gunung. Atau melompati lingkaran api. Lalu berguling dan sikap lilin setelahnya. Tapi jangan yang berbau-bau kolam renang gitu.”

“Tenang aja, Roy. Ga bakal tenggelem kok. Cuma main-main air aja.”

“Gua mending main bola deh daripada main air. Atau main lobby. Lobby utama.”

“…”

Namun usaha gua sia-sia. Gua ga menanam pohon percuma, tapi usaha gua ternyata berbuah percuma. Pohon percuma, berbuah percuma. Hm, mungkin ada baiknya gua mulai menanam pohon dada.

Tapi untung Anggi bersikeras meyakinkan gua bahwa semua akan baik-baik aja. Karena saat memasuki area Dolphin Island, gua langsung disambut dengan lumba-lumba yang melompat dan mulut gua yang menganga.

“Wuooo,” gumam gua, kagum.

Rasanya gua belum pernah sedekat ini dengan lumba-lumba. Satu-satunya momen di mana gua sangat dekat dengan mamalia adalah saat berada di kendaraan umum, berdesak-desakan dengan mas-mas bau keringat. Seinget gua, mas-mas termasuk dalam golongan mamalia, meski puting susunya ga produktif.

Anyway, sampai mana tadi? Oh iya, lumba-lumba.

Hari itu, gua, Fahmy, Adis, dan Sarah dijadwalkan untuk mengikuti program Trainer for a Day, di mana kami bisa merasakan gimana sih jadi pelatih lumba-lumba itu. Sebelum makin jauh masuk ke dalam area Dolphin Island, kami diminta untuk mengganti pakaian dengan swinsuit khusus.

“This is for you,” kata salah satu petugas dengan ramah, sambil menyodorkan salah satu swimsuit.

Setelah mengucapkan terima kasih, gua langsung coba memasangkan swimsuit tersebut. Thanks to my belly, bajunya ga muat. Gua pun mengembalikannya ke petugas, “What size is it?”

“It’s L. What size do you usually use?”

“XL. X, like in X-Men. Because I’m a moody person so I’m mut-mutant.”

“…”

Setelah semuanya siap dengan swimsuit, kami langsung diperkenalkan dengan beberapa trainer yang menjadi pedamping kami hari itu. Sebelum memulai terlalu jauh, gua langsung bilang kalo gua ga bisa berenang. Sang trainer meyakinkan gua ga akan ada pengaruh apa-apa. Mereka bilang gua bisa tetap bisa mengikuti semua sesi meski gua ga bisa berenang. No worries.

Sesi pertama dari Trainer for a Day adalah mempelajari anatomi lumba-lumba. Kami masuk ke kolam dan sang trainer menjelaskan tentang organ tubuh dan kebiasaan lumba-lumba dengan lumba-lumba asli sebagai peraganya. Apa yang membuat seekor lumba-lumba senang, dari mana asal suara yang biasa mereka keluarkan, bagaimana membedakan kelamin pria dan perempuan lumba-lumba, serta masih banyak lagi hal-hal baru yang gua pelajari hari itu.

Selama penjelasan, kami dibebaskan untuk bertanya apapun. Harapan para trainer, kami bisa pulang dengan pengetahuan yang sama dengan mereka. Karena untuk menjadi pelatih, tahap pertama adalah kami harus mengerti siapa yang kami latih.

sesi anatomi tubuh

Sesi favorit gua adalah sesi kedua, ketika kami diberi kesempatan untuk belajar hand instructions. Kata sang trainer, lumba-lumba mampu mengenali bentuk instruksi tangan sampai ratusan jenis instruksi. Otak mereka mampu merekam setiap hand instructions, meski itu memerlukan latihan dan kesabaran super-ekstra. Lumba-lumba ga bisa dilatih dengan instruksi suara karena mereka berbicara di frekuensi yang berbeda dengan manusia.

Kami berempat diajarkan hand instructions yang berbeda-beda. Ada yang dapet hand instruction melambaikan tangan, berputar-putar, melompat, dan back flip. Yang perlu dijadikan catatan, setiap sukses melakukan sebuah instruksi, lumba-lumba harus diberi insentif positif. Entah itu berupa makanan, es batu, atau elusan di punggung.

Uniknya, pun jika mereka gagal menangkap apa maksud hand instruction kita, seorang trainer ga boleh memberikan insentif negatif. Sebagai seorang trainer, kami harus selalu memberi aura positif kepada lumba-lumba. Memberikan mereka semangat bahwa mereka bisa melakukan apa yang telah diajarkan. Sebuah pelajaran yang seharusnya bisa kita terapkan juga pada manusia.

dancing

Namun jadi seorang trainer bukan melulu soal berenang di kolam dan seseruan bareng lumba-lumba. Di sesi jelang makan siang, kami diajarkan bagaimana menyiapkan makanan untuk lumba-lumba. Menimbang, memilah, sampai menggosok lantai. Kita benar-benar bisa ngerasain jadi trainer sepenuhnya!

Yang gua kaget, ternyata setiap lumba-lumba punya program dietnya masing-masing. Mereka punya kotak makanannya dengan label nama dan diisi ikan dengan bobot yang berbeda-beda. Kami sebagai trainer harus pandai memilah-milah ikan yang masih baik. Ikan robek sedikit aja, harus dibuang ke ember kosong. Ga boleh dikasih ke lumba-lumba lagi karena ikan yang robek bisa terkontaminasi bakteri dan itu bisa bikin lumba-lumbanya sakit.

special diet

Sesi setelah makan siang banyak melibatkan kami berinteraksi dengan lumba-lumba di tengah kolam. Mulai dari intimate session, mempertajam hand instructions, berenang melintasi kolam didorong oleh lumba-lumba, dan mengeliling kolam di atas kano dengan lumba-lumba berenang di sekeliling kita.

Sekitar jam 4 sore, program Trainer for a Day kami akan segera selesai. Sebelum pulang, kami menutup sesi hari ini dengan hand instruction serempak oleh kami berempat. Setelah membaca gerakan tangan kami, empat lumba-lumba berenang dengan kilat secara bersamaan. Membelah air di kolam dengan gesit. Lalu melompat melingkar dengan cantiknya, juga secara bersamaan. Sekali, dua kali, tiga kali.

“WUOOO!” Sontak, kami berempat berdecak kagum dan bertepuk tangan.

Sebuah pemandangan yang ga bisa gua lupa. Sebuah pengalaman yang berbeda. Sebuah hari yang memorable.

group action

Namun sesungguhnya, susah untuk menuangkan betapa exciting-nya gua hari itu di Dolphin Island lewat cerita dan kata-kata. Karena seringnya, gua kesulitan menemukan kalimat yang tepat yang mampu menggambarkan gimana perasaan gua saat bisa berinteraksi sedekat itu dengan seekor lumba-lumba. Karena sesungguhnya, kalian harus merasakannya sendiri.

You have to feel it yourself.

Feel when the dolphins understand you. Feel how smart they really are. Feel how exciting the moment you spend with them. Feel the experience. Feel the difference.

Feel the Dolphin Island.

PS:

Semua foto pada postingan ini adalah milik Muhamad Adis (@takdos). Dilarang meminjam / menggunakan gambar-gambar ini tanpa ijin / mencantumkan sumbernya. Untuk informasi lebih lanjut tentang Dolphin Island bisa dilihat pada situs ini. Terima kasih.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

6 thoughts on “Feel the Dolphin Island

  1. kresnoadi June 4, 2014 at 16:57 Reply

    Ooo, jadi gak harus bisa berenang ya? padahal udah sedih aja pas pertama baca di blognya sarah. HAHAHA. KINI AKU JUGA BISA MAIN DI DOLPHIN ISLAND! Come to papa, lumba-lumba \:D/

  2. arievrahman June 4, 2014 at 17:52 Reply

    Huwoh, dulu gue kurang lama di sini \o/

  3. suriyatifang June 6, 2014 at 09:16 Reply

    Seru banget ya Mas Roy bisa sedekat itu sama dolphin :)
    Kalo orang umum, cuma boleh lihat aja ya Mas, ga boleh jadi trainer kah?
    Setuju banget deh, pelajaran yang seharusnya bisa kita terapkan juga pada manusia :D
    Tapi masih penasaran, kenapa jangan dikasi insentif negatif ya Mas? :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: