Pertanyaan Sederhana

Cerita kali ini bermula ketika gua teringat sebuah pertanyaan sederhana yang diajukan oleh seorang pengunjung di talkshow “Bankers Writers” beberapa bulan lalu.

“Apa peran orang tua dalam karier menulis Mas dan Mbak sekalian?”

Beberapa kali hadir pada talkshow atau sejenisnya, baru kali ini gua ditanya seperti ini. Biasanya hanya pertanyaan serupa yang ga jauh-jauh dari dapet-inspirasi-dari-mana dan gimana-bagi-waktu-antara-kerja-dan-nulis. Dua pertanyaan yang hampir aja membuat gua untuk membeli tape recorder, merekam jawaban, menari poco-poco, lalu memutarnya setiap kali ada yang bertanya hal yang itu-itu lagi.

Namun hari itu, sebuah pertanyaan segar berhasil mengusik otak gua. Dilempar oleh seorang ibu yang anaknya ingin menjadi penulis dan sedang mencari masukan sebanyak-banyaknya.

Untungnya, bukan gua yang mendapat giliran pertama untuk menjawab. Mungkin, jika diharuskan menjawab saat itu juga, gua akan berteriak, “ISTANA MAIMUN! ISTANA MAIMUN!”. Nina Ardianti, penulis novel Restart, dipersilahkan untuk menjawab duluan. Sambil mendengarkan jawaban Nina, otak gua berputar mencari jawaban apa yang pas bagi pertanyaan tadi.

Karena kalo diinget-inget, sebenernya orang tua gua ga pernah setuju-setuju banget sama kegemaran gua akan dunia tulis-menulis. Gua yang notabene lulusan fakultas teknik, dianggap hanya akan menghabiskan waktu percuma menggeluti dunia yang jauh berbeda dari gelar akademis tadi.

“Kamu fokus aja sama kerjaan kamu yang sekarang.”

Begitu alasan yang bolak-balik dilempar oleh bokap dan nyokap. Mereka ingin gua memanjat pohon karier setinggi-tingginya dan ga terdistraksi hal lain.

Namun saking tertariknya gua dengan dunia tulis menulis, gua pernah sempat resign dan memutuskan untuk menulis novel penuh waktu. Berhari-hari menulis di depan komputer, dengan celana pendek dan kaos butut. Sesekali malah tanpa baju. Mengangkat kaki ke atas meja sambil mencari inspirasi. Asisten rumah tangga yang kebetulan ke kamar untuk mengantarkan makanan, kaget, lalu berteriak, “Bu, Mas Roy akhirnya gila beneran, Bu! Mas Roy akhirnya gila beneran!”

Dua bulan kemudian, naskah itu rampung dan terbit dengan judul “The Maling of Kolor”. Iya, itu judul novel, dan iya, ternyata, gua udah gila beneran.

Namun karena tekanan lingkungan, gua memutuskan untuk mencari kerja lagi. Salah satu pekerjaan yang gua coba lamar adalah sebagai editor di penerbit yang tergolong baru. Tapi lagi-lagi, keinginan ini bentrok dengan harapan bokap dan nyokap waktu itu.

Maka kalo ditanya apa peran orang tua gua dalam dunia tulis menulis gua, dukungan bukanlah jawabannya.

Bakat? Bukan juga. Bokap dan nyokap jauh dari dunia kesenian. Momen terdekat bokap dan nyokap dengan hal-hal yang berbau seni adalah saat sesi karaoke rutin mereka setiap Minggu sore. Namun jangan bayangkan suara mereka seperti duet suami istri Muchsin Alatas dan Titiek Sandora. Mereka lebih mirip Tom dan Jeff Hardy. Suaranya Smackdown, argh!

Jadi sebenarnya, apa peran orang tua dalam karier penulisan gua ya?

Saat Nina sampai di penghujung jawabannya, tiba-tiba gua terbesit sebuah jawaban yang sepertinya bisa menjawab pertanyaan ibu tadi.

“Kalo Roy gimana nih?” tanya pembawa acara, “Apa peran orang tua Roy dalam mendukung profesi Roy sebagai penulis?”

Gua mengambil microphone dan mendekatkannya ke bibir. Dengan satu tarikan nafas, gua menjawab, “Orang tua saya suka bertanya.”

Pembawa acara terlihat mengerutkan alis, “Maksudnya?”

“Iya,” lanjut gua, “Mereka suka bertanya apa aja yang saya lakukan pada hari itu. Pertanyaannya sederhana. Namun pertanyaan mereka membuat saya ingin menjawab. Menjawab dengan bercerita.”

Kemudian gua mengingat-ingat momen waktu gua kecil. Setiap pulang sekolah, sambil membereskan pakaian dan menyiapkan makan siang, nyokap gua suka bertanya, “Tadi gimana di sekolah? Pelajaran apa yang seru? Ada PR ga hari ini? Kamu ga berantem kan di sekolah? Hayo, cerita sama Mama.”

Lalu berceritalah gua. Mendeskripsikan adegan yang ada di kepala menjadi kata-kata yang tersusun sesuai urutan waktu. Dari pagi ke siang lalu ke kejadian pulang sekolah. Ga lupa, gua juga menggambarkan tempat-tempat kejadian sebagai latar dari cerita. Menyebutkan nama beberapa teman beserta karakternya. Lalu menyusun semua komponen tadi menjadi sebuah cerita.

Adegan, deskripsi latar, dan karakter. Semua dibiasakan dan dilatih sambil makan siang dengan nasi mengepul dan sayur gurih buatan nyokap.

Lalu, gimana dengan bokap?

Mungkin bokap ga menurunkan bakat menulis, tapi seingat gua bokap adalah seorang pencerita yang ulung. Waktu gua masih kecil, setiap pulang kerja, beliau biasanya duduk di ruang tengah sambil ngobrol ngarol ngidul, ke sana kemari. Tante gua pernah berkata, “Papa-mu itu kalo cerita suka heboh. Cerita gimana cara goreng emping aja bisa 15 menit!”

Kombinasi dari nyokap yang suka bertanya dan bokap yang suka ngobrol, melahirkan gua yang kini jadi suka bercerita. Bercerita lewat tulisan.

talkshow Jambi Banking Expo

“Jadi itu peran orang tua saya,” tutup gua, menyudahi jawaban atas pertanyaan ibu tadi.

Beberapa menit setelahnya, sesi talkshow pun disudahi. Sesaat setelah berfoto-foto, gua berpamitan dengan panitia dan memutuskan untuk kembali ke hotel agar bisa beristirahat. Di sepanjang perjalanan pulang, di antara kilasan-kilasan gedung yang bermain di kaca jendela mobil, gua masih terbayang dengan satu pertanyaan tadi. Sebuah pertanyaan sederhana yang membekas dan ingin sekali gua bagikan lewat postingan kali ini.

Mungkin, orang tua gua ga membelikan buku secara rutin atau mengharuskan gua membaca buku setiap malam. Mungkin juga, orang tua gua bukan pujangga yang menurunkan bakat lewat darah, atau memperkerjakan seorang guru privat untuk mengajarkan gua merangkai kata.

Yang mereka bagi sederhana. Keinginan untuk bercerita.

Jadi, jika perjalanan gua sampai di titik ini, semua bermula di sana. Di sebuah siang, sepulang sekolah. Di antara senyum dan jawaban atas sebuah pertanyaan yang sangat sederhana.

“Tadi gimana di sekolah?”

“Big things often have small beginnings.” ― Prometheus.

Advertisements

Tagged: , , , , , , ,

16 thoughts on “Pertanyaan Sederhana

  1. Nad Paritrana June 27, 2014 at 14:03 Reply

    Keren Royyy..
    :)

    Mugi2 bisa jadi begitu juga ke anak-anak nanti yaa. :)

  2. suriyatifang June 27, 2014 at 14:51 Reply

    wow keren Mas Roy, berawal dari ingin bercerita ya :D

    • Roy Saputra June 27, 2014 at 17:24 Reply

      mulai dari yang kecil, asal konsisten bisa jadi besar :D

  3. HawaDemeter June 28, 2014 at 14:02 Reply

    100 deh buat Mas Roy , sukses terus ya !

  4. ankhe June 29, 2014 at 11:46 Reply

    keren ihh ending post ini…

  5. kresnoadi June 30, 2014 at 07:33 Reply

    Gue juga malah masih bingung nih. Apa ya peran mereka? gue aja yang sarap suka blogging. Selama ini nyokap malah ngira gue kalo di depan laptop kerjaannya cuman main. Hehehe. Jadi kepikiran nih apa jawabannya..

    • Roy Saputra June 30, 2014 at 14:14 Reply

      orang tua pasti mendukung. cuma kadang kita ga sadar karena bentuk dukungannya ga sesuai harapan :D

  6. Miss Galau June 30, 2014 at 13:16 Reply

    hmm ok juga.. hampir mirip lah sama gue.. gue lulusan sastra Inggris di th 2010. Bingung cari kerja apa dan malah jadi administrasi *sigh*
    Harapan bokap adalah kelak gue bisa jadi guru..
    Padahal impian gue.. cuma 1.
    Nulis seluruh petualangan gue agar bisa dibaca dan dijadikan inspirasi.

    Harapan ya hehehe….
    Kesempatan? *shrug*

  7. dessyanggita July 1, 2014 at 07:25 Reply

    Sederhana awalnya, tapi dampaknya luar biasa ya. Apa mungkin sekarang masih berlanjut ke, “tadi gimana di kantor?”, kah? :D

    • Roy Saputra July 1, 2014 at 08:18 Reply

      kadang-kadang, soalnya bokap nyokap bukan pekerja kantoran jadi agak bingung kalo gua cerita tentang dunia kantor.

      yang sering nanya gitu sekarang calon istri :D

  8. Gerry July 7, 2014 at 11:47 Reply

    pemikirannya cepet ya “ngelesnya”.
    hehehe

    ternyata sarjana teknik toh.

    • Roy Saputra July 7, 2014 at 11:50 Reply

      saya memang suka mengarang, terutama dalam keadaan tertekan :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: