Wawancaur: The Novelist

Belakangan ini, linimasa ramai membicarakan satu novel Indonesia yang mengangkat genre keluarga ini: Sabtu Bersama Bapak.

Novel ini bercerita tentang sepasang adik-kakak yang riweuh menghadapi tantangan hidup dengan bantuan video dari almarhum bapaknya. Ada 2 cerita besar dalam buku ini, yaitu tentang Cakra yang giat mencari pasangan hidup, dan tentang Satya yang sibuk menyusun kembali rumah tangganya.

Gua pribadi lebih suka cerita Cakra karena lebih “novel” dan ada dinamikanya, daripada kisah Satya yang berupa potongan-potongan cerita sehingga lebih mirip buku psikologi populer tentang parenting dan rumah tangga. Meski ga sekomedi Jomblo atau Gege Mengejar Cinta, sang penulis tetap bisa menghibur, namun kali ini dengan cara yang berbeda dan lebih dewasa.

Overall, Sabtu Bersama Bapak adalah novel tentang keluarga yang hangat dan mampu menyentuh hati pembacanya.

Apa sih yang membuat penulis ingin menulis novel dengan tema keluarga? Lalu gimana keluh kesahnya menjadi penulis selama 10 tahun ini? Temukan jawabannya di wawancaur gua bersama sang novelis: Adhitya Mulya. Yep, that Adhitya Mulya.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Adhit benar-benar dilakukan via email. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar merupakan cover dari novel Sabtu Bersama Bapak. Terima kasih.

sabtu-bersama-bapak

Halo Dhit. Kenapa lu ngangkat tema keluarga di novel Sabtu Bersama Bapak? Tema yang kayaknya ga banyak diangkat untuk jadi tema novel di Indonesia.

Penulis akan selalu bercerita sesuatu yang:
(a) Mereka paham benar tentang topik yang akan diangkat, baik dari riset mau pun pengalaman.
(b) Dekat di hati atau kehidupan mereka.
(c) Sesuatu yang mereka sedang gelisahkan.

Setelah 10 tahun menulis, gue menjadi seorang bapak. Itu yang menjadi keseharian gue sekarang. Jadi, gue angkat tema keluarga karena memang sebuah fase yang gue sedang jalani saat ini.

I see. Apa alasan lu menulis novel ini, Dhit?

Gue memutuskan untuk bercerita tentang suami-istri, orang tua-anak, karena gue banyak gak setuju dengan pakem-pakem yang ada di masyarakat sekarang. Empat contoh kasus utama adalah:

(1) Anak sulung harus selalu mengalah.
(2) Definisi siap lahir batin sebelum menikah.
(3) Banyaknya pasangan suami istri yang saling menyembunyikan gaji.
(4) Anak yang gak mau sekolah kalo gak pake mobil.

Gue sering mendapati 4 hal ini dan lumayan mengganggu gue. Jadi, intinya sih, cerita dalam buku ini adalah my offering to society untuk memandang beberapa hal dari kacamata yang berbeda.

Ada cerita menarik selama menulis novel ini?

Tadinya gue berniat mengemas buku ini dalam bentuk non-fiksi. Draft-nya sudah jadi dan sudah selesai diedit.

Tapi gue kemudian sadar bahwa gue tidak punya kualifikasi atau kredensial sebagai expert dalam parenting atau love. Gak punya gelar psikologi atau profesi psikolog. Jadi lah gue kerjakan ulang buku ini dalam bentuk fiksi.

Ada apa antara lu dengan nama Garnida? Waktu di Gege lu juga pake nama ini dan sekarang nama yang sama.

Gue ingin memberikan benang merah kepada tokoh-tokoh gue dari buku pertama sampai terakhir. Itu aja sih.

Apa anak-anak / orang tua lu udah baca novel ini? Apa pendapat mereka?

Anak-anak belum baca. Orang tua gue lupa naro di mana kopi novel yang gue kasih. Hahaha. Setelah 5 novel, mereka gak terlalu heboh lagi dengan novel gue, which is fine.

Lu kerja kantoran, penulis, dan on top of that, bapak dari 2 anak. Gimana cara lu membagi waktu?

I am bapak first, employee second, and lastly a writer. Bagi waktunya ya jelas makan badan. Saat gue nulis, itu gue kurang tidur. Kasusnya selalu seperti itu.

Ini tahun ke 10 lu menulis. Pernah merasa jenuh? Gimana cara lu menyemangati diri untuk terus menulis?

Gue hanya menulis jiika ada kegelisahan saja. Ketika gue menulis tanpa kegelisahan, hasilnya gak bagus.

Menurut lu, apa tantangan terbesar menjadi seorang penulis buku?

Tantangan terbesar penulis, bagi gue adalah, jika sudah tidak ada lagi yang kita gelisahkan.

Ide-ide novel lu sederhana tapi selalu bisa ngena ke banyak orang. How do you that?

Kegelisahan gue itu banyak. tapi yang gue putuskan untuk gue tulis hanya kegelisahan yang gue tahu benar akan dialami banyak orang.

Contoh:
– Semua orang pernah jadi jomblo. ya udah jadilah novel Jomblo.
– Semua orang itu, kalo gak pernah mengejar cinta, ya memilih cinta. Jadilah Gege Mengejar Cinta.
– Semua orang pernah naksir tapi gak berani bilang. Jadilah Travelers’ Tale.
– Semua orang pernah jadi anak. Dan 99% akan jadi orang tua. Jadilah Sabtu Bersama Bapak.

Novel Jomblo is a masterpiece. Banyak pembaca -salah satunya gua- akan sangat senang kalo ada sekuel dari cerita itu. Kenapa lu memutuskan untuk ga membuat lanjutan dari Jomblo?

Karena cukup banyak orang juga yang gak ingin jomblo ada sekuelnya. Ending novel Jomblo pahit manis dan itu adalah rasa terbaik untuk sebuah buku. Dan gue termasuk yang setuju seperti itu.

Nulis novel best seller udah, nulis skrip film juga. How far do you wanna go in this writing industry?

Kalo gue, gue akan terus bercerita selama gue memiliki kegelisahan. Either kegelisahan pada diri sendiri seperti novel Jomblo, atau kegelisahan untuk mengubah persepsi orang banyak seperti yang gue lakukan dalam Sabtu bersama bapak.

Formatnya apa, itu gak terlalu masalah bagi gue. Skrip, novel, lukisan di dinding, apa pun.

Ada kata-kata penutup untuk teman-teman yang sedang membaca wawancaur ini dan ingin menjadi penulis?

Pesan gue untuk teman-teman yang ingin menjadi penulis adalah banyak-banyak lakukan 3 hal di bawah ini:

a. Baca ulang draft, 4-5 kali jika perlu.
b. Berulang kali tanya pada diri sendiri, apakah cerita ini layak untuk diceritakan? Pesan apa yang ingin disampaikan?
c. If you’re in it for the money, then expect dissapointment karena dari setiap 200 penulis, mungkin hanya 1-2 yang dapat hidup hanya dari menulis.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

17 thoughts on “Wawancaur: The Novelist

  1. Gerry July 17, 2014 at 15:04 Reply

    gak caur cenderung serius, nunggu versus nya bang roy.

  2. dodo July 17, 2014 at 20:46 Reply

    wah ini wawancaur paling ga caur keknya….

  3. Kresnoadi July 17, 2014 at 21:24 Reply

    Hahaha. Semua bilang gak caur. Padahal emang. Harus diserap nih ilmunya :))

  4. Intan Rasyid July 18, 2014 at 09:55 Reply

    yang ini serius banget pertanyaan dan jawabannya :)

  5. Aziz Amin July 19, 2014 at 12:07 Reply

    Penulis idola gue, mewawancarai penulis idola gue :)

  6. arievrahman July 22, 2014 at 08:34 Reply

    Buku yang bikin gue ngefan lagi sama Adhit :D

  7. Siro Gane July 22, 2014 at 14:33 Reply

    Waah thanks buat narasumber atas ilmunya yak :3

  8. febridwicahya August 2, 2014 at 21:52 Reply

    Baru baca ini aku bang Roy, dulu aku baca blurbsnya aja udah tertarik banget. rencana besok minggu tanggal 3 ini bakal gue colong itu buku di gramed :3 kereeeeeen :D

    • Roy Saputra August 3, 2014 at 16:43 Reply

      ayo dibeli! emang bagus kok :D

      • febridwicahya August 3, 2014 at 20:01 Reply

        Yeaaaaah. Hari ini udah sukses kebeli Bang itu bukunya :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: