Perihal Pilpres

kata sarah

Akhir-akhir ini, timeline twitter gue didominasi oleh dua hal. Yang pertama, ekstrak kulit manggis, dan yang kedua, pilpres dan quick / real count. Untuk yang kedua, ada tiga jenis manusia, yaitu, yang peduli, yang apatis, dan yang nyinyir.

Yang peduli, biasanya paling getol nge-tweet dengan hashtag #KawalKPU, nyebarin berita seputar penghitungan surat suara, sampe informasi mengenai aplikasi atau website yang memungkinkan untuk berpartisipasi dan ambil bagian. Yang apatis, sibuk nge-tweet quotes, humble brag, atau memberitakan kabar gembira tentang ekstrak kulit manggis. Yang nyinyir… tentu aja nyinyirin yang peduli, yang apatis, bahkan yang bahas esktrak kulit manggis. Orang lain berpartisipasi dalam demokrasi salah, cuek bebek juga salah. Udah gitu, bikin pusing, mau di-block nanti drama, nggak di-block juga ganggu. Serba salah.

Anyway, kembali lagi ke Pilpres.

Gue sendiri ikut menghitung hari menuju turunnya THR pengumuman resmi dari KPU. Karena sejumlah lembaga yang mengadakan quick count nggak berakhir dengan satu kesimpulan, lepas dari kredibilitas dan keberpihakannya. Yang biasanya percaya kalo quick count udah pasti bener, akhirnya terpaksa menunda kesimpulan karena kedua calon presiden kita sama-sama mendeklarasikan kemenangan. Pusing.

Tadinya gue pikir, keriaan pilpres di Twitter akan berakhir di tanggal 9 Juli 2014. Tapi sepertinya gue salah. It wasn’t over yet.

Tapi yang bikin gue seneng adalah, gue menyaksikan banyaknya masyarakat yang bersemangat untuk ikut ambil bagian dalam pemilihan umum ini. Lintas lapisan, suku, bahkan agama.

Partisipasi itu udah sangat nampak dari saat kampanye, hari H nyoblos, sampe inisiatif melakukan pengawalan terhadap surat suara untuk mendeteksi kecurangan yang mungkin timbul. Nggak sekedar cuap-cuap, they also give what they can give. Entah itu berupa uang, tenaga, edukasi, waktu, ide, dan sebagainya, lepas dari siapa capres pilihan mereka.

Antusiasme ini, tentu saja membuat sebuncah rasa bangga terbersit. Siapa bilang anak muda Indonesia nggak peduli nasib negri? Siapa bilang anak muda Indonesia nggak berpartisipasi dalam demokrasi? Di pilpres ini, banyak yang telah membuktikan kalo tuduhan tersebut nggak bener. Kami peduli, dan hal itu diwujudkan dalam banyak tindakan nyata dan konkrit. Gimana nggak bangga, coba?

Tapi sepertinya sisi mata uang, begitu pula dengan pemilu. Di tengah hingar binger pilpres tahun ini, banyak juga hal-hal yang bikin gue sedih.

Saat kampanye, pilpres kali ini nampaknya membuat masyarakat Indonesia terpecah menjadi dua bagian, berdasarkan kandidat mana yang mereka dukung. Bukan satu atau dua kali gue denger ada hubungan pertemanan yang kandas gara-gara beda capres, atau berantem karena salah satu pihak tersinggung saat pilihannya diremehkan.

Gue ngerti sekali, berbeda pendapat, apalagi dengan orang yang akrab pastilah nggak gampang. Gue sendiri, kalo ngobrol sama orang yang bersebrangan (capres pilihan) sama gue, tetep aja suka terbersit “ihh…” dalam hati, walaupun di luar bibir tetep senyum. Susah memang, untuk tulus bilang “okay, let’s agree to disagree.”, karena sejak dulu, kita terbiasa untuk sama. Nggak percaya? Coba tengok deh fungsi dari seragam sekolah. Seragam sekolah dibuat supaya kesenjangan dan perbedaan ekonomi nggak terlihat mencolok. Dengan kata lain, supaya semua murid sama rata.

Akibatnya, kita terbiasa untuk menjadi sama. Perbedaan sering dianggap berkonotasi negatif. Padahal, hal tersebut nggak selamanya buruk. Berbeda itu hal yang lumrah dan wajar, karena manusia memang diciptakan unik. Artinya, nggak sama satu dengan yang lain. Keep it on our mind, perbedaan itu bukan alat pemecah belah. Tapi alat latihan setiap hari untuk menghargai dan mengapresiasi pendapat orang lain. Kalo belom bisa sampe agree to disagree, setidaknya, jangan sampe perbedaan pendapat dibiarkan menimbulkan konflik.

Hal lain yang bikin gue resah adalah desas-desus kerusuhan.

Selesai nyoblos, karena kedua capres sama-sama mengaku menang, masa penantian menuju pengumuman resmi KPU berubah menjadi neraka. Seluruh rakyat Indonesia digantungin tanpa kepastian — the worst kind of waiting game could ever be. Kondisi ini diperparah oleh isu-isu kerusuhan yang makin bikin tegang. Rasanya nggak ada seminggu yang terlewat tanpa dapet broadcast message atau link berita yang mengingatkan untuk waspada dan berhati-hati.

Kekhawatiran masyarakat terbukti dari melonjaknya harga tiket pesawat di sekitar tanggal 22 Juli 2014. Dan ini beneran bikin gue snewen.

Pemilihan presiden adalah pesta demokrasi. Pesta yang seharusnya kita rayakan bersama-sama. Kalo sampe kerusuhan terjadi dan Indonesia kehilangan kedamaiannya, maka kemenangan dari salah satu capres tersebut –in my honest opinion– ya nggak ada artinya. Kenapa gitu? Karena kita semua –masyarakat Indonesia– kalah.

Jadi please, mari pelihara kedamaian dan ketenangan negeri ini. Jangan tersulut untuk menimbulkan keributan atau konflik ya teman-teman. Kita masih sama-sama bangsa Indonesia, meskipun pilihan capresnya beda. Kita masih sama-sama bangsa Indonesia, lepas dari siapapun yang memimpin nanti. Kita masih bangsa Indonesia, bangsa yang dikenal berbudaya dan ramah. Bukan yang rawan konflik dan kerusuhan.

Kita masih satu Indonesia.

bendera-indonesia

Sambil menanti tanggal 22 Juli besok, yuk sama-sama menggalang awareness untuk menghormati apapun hasil yang diumumkan oleh KPU nanti. Karena sejatinya, itulah kemenangan terbesar kita sebagai negara demokrasi.

Salam #PemiluDamai!

PS: Tulisan ini dibuat oleh Sarah Puspita untuk segmen “Kata Sarah” pada blog saputraroy.com. Untuk membaca tulisannya yang lain dapat berkunjung ke sarahpuspita.com.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

5 thoughts on “Perihal Pilpres

  1. cumilebay.com July 22, 2014 at 21:38 Reply

    Akhirnya tgl 22 juli juga, alhamdulillah malam ini ujan semoga pengumuman yg disertai ujan ini menjadi otak tetep dingin siapapun yg menang dan siapapun yg kalah.

    Yang alhamdulillah lagi selama kampanye sampai pengumuman, gw tetep diam ngak ikutan komen, nyinyir mendukung salah satu pilpres di socmed. Biarlah semua nya kusimpan dalam hati #eeap

  2. aqied July 22, 2014 at 23:21 Reply

    alhamdulillah sudah tanggal 22, berarti 23 semakin dekat
    *tanggal gajian

  3. ipeh heidy July 27, 2014 at 17:10 Reply

    kalo kata gue alasan harga tiket pesawat tgl 22 melonjak itu krna udh masuk musim mudik bang roy ehehehehheeh X)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: