Kurang Lengkap

Beberapa bulan belakangan ini, di linimasa gua lagi ada banyak kuis yang berhadiah traveling gratisan. Dari kuis nge-blog, fotografi, bahkan modal ngetwit 140 karakter bisa membuat kita meraih hadiah jalan-jalan ke luar negeri atau kota secara cuma-cuma.

Ada beberapa kuis yang mengharuskan si pemenang pergi sendiri, dan ada juga yang berhadiah 2 tiket untuk 1 pemenang. Satu-dua kali gua berpartisipasi juga, namun sejak 2014, gua memilih untuk ga ikutan lagi kuis yang berhadiah traveling gratisan sendirian. Jika ditanya apa alasannya, maka gua akan menjawab dengan cerita seperti ini.

Akhir tahun 2013 lalu, gua ada rejeki lebih untuk bisa traveling ke Jepang, bareng Tirta dan Siti. Sebelum berangkat, gua udah nanya dulu sama Gelaph yang pernah ke Korea di bulan yang sama. Gua beranggapan bahwa Korea sama Jepang mirip-mirip lah ya. Jadi referensi Gelaph masih valid dan relevan.

“Di sana dingin ga, Laph?” tanya gua.

“Hmmm… Mayan lah. Delapan belas derajat. Sejuk-sejuk doang palingan,” jawab Gelaph dengan santainya.

Berbekal informasi itulah, gua packing keperluan perjalanan gua selama 7 malam di Jepang. Gua hanya membawa beberapa kaos, 2 celana jeans, 1 buah jaket yang ga begitu tebal, tanpa syal ataupun sarung tangan.

Singkat cerita, gua pun berangkat ke Jepang di awal bulan November. Ga lama setelah pesawat mendarat, pintu terbuka, tangga tersedia, dan penumpang berbaris di isle untuk segera turun. Ketika kaki gua menginjak platform tangga pertama, Tirta manggil gua.

“Roy, kemaren si Gelaph bilangnya apa soal suhu?”

“Delapan belas derajat, Ta. Sejuk-sejuk doang.”

“Coba deh tuh lu sentuh pegangan tangganya.”

Tanpa mikir panjang, gua pegang pinggiran tangga yang terbuat dari besi. Anjir. DINGIN!

“Mamam tuh sejuk!” tawa Tirta.

Ujung-ujung jari gua langsung kebas sedikit. Buru-buru gua memasukkan tangan ke dalam kantong jaket untuk mencari kehangatan. Gua menghembus-hembuskan napas, coba membuat asap karbondioksida di udara. Sejuk-sejuk doang? Dengkulmu!

Tapi gua masih yakin bisa mengatasi cuaca dingin ini hanya bermodal jaket yang gua bawa. Begitu pun dengan Tirta. Sebagai traveler kere, kami jelas ga menganggarkan untuk beli sarung tangan selama di Jepang. Biarkan kobaran semangat yang menghangatkan kami dari dalam (cailah). Kami harus survive!

Namun apa daya, kami akhirnya tumbang juga. Makin hari, tangan makin kebas dan lengket bener sama kantong jaket. Di malam ketiga, di kota Hiroshima, gua dan Tirta memutuskan untuk merogoh kocek demi bisa membeli sarung tangan. Untungnya waktu itu gua nginep di daerah Honduri, pusat kota Hiroshima, jadi gampang kalo mau beli-beli sesuatu, termasuk belanja pakaian hangat.

Sialnya, setelah jalan beberapa jam, gua dan Tirta belum nemuin sarung tangan dengan harga terjangkau. Di saat gua mulai berpikir untuk melilit tangan dengan celana dalam, tiba-tiba Tirta menunjuk ke sebuah toko yang sepertinya menyediakan barang-barang dengan harga murah.

“Ini bagus nih, Roy,” usul Tirta, menunjuk ke sebuah sarung tangan.

“Duh, 2,000 yen, Ta. Dua ratus ribu rupiah lebih. Sayang ah. Setelah dari Jepang, bakal jarang banget dipakenya. Mau gua pake ke mana lagi coba? Sukabumi?”

“Yang ini 1,000 yen nih, Roy. Paling murah kayaknya,” kata Tirta sambil menyodorkan gua sepasang sarung tangan.

“Lumayan nih. Tapi ini bau apaan ya?” tanya gua sambil mengendus sarung tangan tadi, “Kayak bau oli samping gini. Sarung tangan orang bengkel nih!”

“Yaelah, Roy. Namanya juga murah. Kalo yang enak, tuh yang 2,000 yen. Bau rendang!”

Gua mengalah, “Ya udah deh. Beli yang ini aja deh. Lu beli yang ini juga?”

“Menurut ngana?”

“Ada warna apa aja, Ta?”

Tirta menunjuk keranjang tempat ia menemukan sarung tangan tadi, “Cuma 2 kayaknya. Item sama abu-abu.”

“Gua abu-abu ya. Item kayak anak geng motor banget. Gua kan anak IPA. Ga cocok.”

“Yah, gue juga pengen yang abu-abu,” protes Tirta, “Masa kembaran gini?”

“Ga apa-apalah, sekali-sekali kembaran. Biar kayak boyband.”

Namun dengan tubuh gempal dan umur yang ga masuk dalam kalangan remaja, kami sama sekali ga mirip boyband. Lebih mirip Ghostbuster. Atau tukang sedot tinja.

Yang penting, sekarang tangan gua hangat. Berkat sepasang sarung tangan seharga 1,000 yen, gua bisa merasakan kembali ujung-ujung jari gua di sisa perjalanan mengelilingi Jepang. Kini tangan gua bisa keluar dari kantong jaket dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Namun di Kyoto, saat jempol gua robek tercukur, sarung tangan gua hilang sebelah. Yang sebelah kiri jatuh entah di mana. Tangan kiri gua kembali ke hari-hari awal selama di Jepang. Ujung-ujung jarinya kebas dan lengket sama kantong jaket lagi.

Sarung tangan yang harusnya sepasang, ketika hilang sebelah jadi ga berfungsi dengan optimal. Masih bisa dipake sih, tapi kurang lengkap. Hanya bisa menghangatkan sebelah tangan, sementara yang satunya kebas kedinginan.

sarung tangan

Seperti halnya sarung tangan yang hilang sebelah, seperti itulah gua tanpa si pacar. Setiap perjalanan yang gua lakukan sendirian, seperti ga berfungsi dengan optimal.

Pengalaman yang seru jadi terasa hambar, karena gua ga bisa menceritakannya dengan segera. Pemandangan yang bagus terasa biasa aja, karena ga ada sepasang mata yang menemani untuk menikmati. Perjalanan yang menarik bisa terasa bosan, karena gua ga bisa membaginya ke orang pertama yang ada di kepala. Si pacar.

That’s the thing.

Whenever something spectacular happens to me, the first thing I want to do is tell her about it. And, if I can’t tell her about something wonderful that happened to me, it sort of stops being wonderful.

Sebagus apapun, perjalanan gua jadi biasa aja kalo perginya sendirian. Gua ga ingin egois dan berkelana seorang diri, karena gua tau gua selalu punya pilihan untuk mengajak si pacar ikutan. Biaya bukanlah alasan, justru seharusnya, dijadikan motivasi agar kita bisa bekerja semakin giat, berusaha semakin kuat.

Karena pada akhirnya, gua hanya ingin melihat dunia berdua dengan dia, yang udah gua janjikan untuk bahagiakan hidupnya.

Jadi, jika ditanya kenapa gua memilih untuk ga ikutan kuis yang berhadiah traveling gratisan sendirian, sambil tersenyum gua akan menjawab, “Bisa sih, tapi kurang lengkap.”

“Never go on trips with anyone you do not love.” ― Ernest Hemingway

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , ,

24 thoughts on “Kurang Lengkap

  1. sarah puspita July 25, 2014 at 11:19 Reply

    She’s the luckiest girl alive, isn’t she? :)

  2. suriyatifang July 25, 2014 at 12:37 Reply

    Wah berarti kalo mau ke negara yang banyak musim, harus cek dulu ya musimnya, jgn hanya nanya ke orang ya mas :D
    Bener, kalo ngetrip sendiri emang kurang seru sih hahaha

    • Roy Saputra July 25, 2014 at 15:21 Reply

      Iya, sebaiknya cek langsung ke situs situs terpercaya (‘-‘)9

  3. joeyz14 July 25, 2014 at 15:03 Reply

    caelahhh romantisss beneerrrr ini. Cocoklah buat prolog novel metropop :)

  4. Kresnoadi July 25, 2014 at 21:09 Reply

    Anjir kenapa baca ginian gue. Jadi pengen garuk-garuk tanah. Kurang ajarr! :))

  5. Aziz Amin July 26, 2014 at 08:46 Reply

    Emang bener bang.

    Terkadang sendirian bukanlah dimana kita tidak dengan siapa-siapa. Melainkan, tidak ada yang kita kenal di sana.

    azizkerenbanget.blogspot.com

  6. Rizqy Pratama July 26, 2014 at 18:31 Reply

    gue yang ngerasa jomblo jadi ter-motivasi buat punya pacar nih ! :3
    Keren deh !

  7. ipeh heidy July 27, 2014 at 17:02 Reply

    setiap orang terkadang emang butuh waktu untuk dirinya sendiri, butuh waktu utk sendiri,
    tapi gak ada 1 orng pun yg mau hidup sendirian selamanya,,,,
    kalo kata titi dj
    wanita mana yg sanggup hidup sendiri didunia ini
    X)

  8. Messa July 27, 2014 at 20:43 Reply

    hahahh, beruntung sekali yang jadi pacar kamu Roy :D

  9. Khairunnisa Siregar July 29, 2014 at 10:41 Reply

    How lucky she is. Semoga kak Roy sama Sarah langgeng terus :D

  10. arievrahman August 5, 2014 at 09:36 Reply

    Thank God, I love … myself.

  11. Cc: Pacar……..orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: