Pesona Kota Nara

Kyoto, 14 November 2013

Ini adalah hari keenam gua berkelana di Jepang. Setelah perjalanan kemarin sedikit terusik oleh curah hujan yang lumayan tinggi, hari ini sepertinya akan jadi hari yang baik untuk melanjutkan jalan-jalan keliling kota. Hari ini cuaca cerah ceria.

Kemarin, hujan bolak-balik turun mengguyur Kyoto. Cuaca yang tadinya sejuk, berubah menjadi dingin oleh guyuran hujan yang tergolong deras. Membuat suhu udara menyentuh angka 8 derajat celcius.

Tapi pagi itu langit sedang bersahabat. Awan putih berbondong-bondong menepi, seperti memberi jalan pada sinar matahari untuk menghangatkan kota. Di antara pendaran sinar mentari pagi, gua, Siti, dan Tirta sedang berdiskusi sambil melihat itinerary yang udah dirancang sebelumnya. Di secarik kertas itu terpampang agenda tertanggal 14 November: melanjutkan berkeliling kota Kyoto.

Kemarin kami sudah ke Arashiyama dan Kinkakuji, 2 objek wisata yang berada di barat dan utara kota Kyoto. Untuk melengkapi puzzle itu, harusnya hari ini kami mengujungi sisi timur dan selatan kota. Masih ada Ginkakuji dan Fushimi Inari yang bisa kami kunjungi.

Namun, lagi-lagi, manusia boleh berencana, akhirnya Tirta juga yang menentukan.

“Ke Nara yuk!”

Entah kesambet setan mana, sekonyong-konyong Tirta mengajukan nama Nara sebagai destinasi kami berikutnya. Alih-alih menghabiskan objek di Kyoto, Tirta mengajak gua dan Siti untuk berpindah kota.

Gua menimbang-nimbang ajakan Tirta sambil melipat itinerary. Biasanya, gua ga suka agenda yang melenceng jauh dari apa yang udah direncanakan sebelumnya. Gua ga suka kejutan. Namun karena hari ini cuaca sedang bagus, gua pun mengiyakan ide itu.

“Ayo deh!”

Asiknya, mengubah itinerary ga berpengaruh banyak ke waktu dan pengeluaran kami. Nara hanya berjarak kurang dari 1 jam naik kereta dari Kyoto. Dan karena pake JR Pass, maka kami ga perlu merogoh kocek lagi untuk membeli tiket kereta ke Nara.

Perjalanan ke Nara menjadi menarik karena kami bertiga sama sekali ga tau objek wisata apa yang bagus di Nara. Jangan-jangan di sana cuma ada apartemen Agung Podomoro atau Mall Klender. Mau ngegugling sekarang juga udah telat, karena ga ada wifi yang tersedia dan pantat kami udah terlanjur duduk di dalam kereta. Empat puluh menit penuh kepasrahan berikutnya, kami sampai di kota Nara.

Untungnya, kebingungan kami ga bertahan lama. Masih di area stasiun, dekat pintu keluar, ada tourism center dengan penjaga seorang ibu yang bisa berbahasa Inggris. Dia bilang cara terbaik menikmati kota Nara adalah dengan berjalan kaki dari stasiun ke arah landmark termasyur kota Nara: kuil Todaiji. Lalu jika udah selesai bersenang-senang di Todaiji, berjalan balik ke stasiun dengan rute yang berbeda untuk mampir ke kuil-kuil lainnya. Katanya, berjalan di Nara akan terasa menyenangkan karena di sepanjang jalan, kami akan bertemu dengan ada rusa-rusa jinak yang bisa diajak berfoto.

Berjalan kaki sepertinya bukan ide yang baik. Lima hari sebelumnya, kami selalu mengandalkan kaki dan alhasil, betis kami hampir pecah. Ide berjalan kaki ini menarik, jika dan hanya jika, si ibu penjaga mau beliin tori cheesecracker dan ngegendong gua sampe Todaiji.

Setelah mengucap terima kasih, kami pun keluar dari area stasiun. Ketika kaki menginjak anak tangga terakhir, tiba-tiba gua ingin pake kaos kutang putih dan bernyanyi bak Glenn Fredly. Karena kota Nara telah membuat gua terpesona, pada pandangan pertama.

Nara

Kotanya sunyi, ga seramai Tokyo atau Kyoto. Pun terlihat sederhana dan ramah karena sejauh mata memandang, bangunannya ga ada yang lebih tinggi dari 5-6 lantai. Di jalan, hanya sedikit mobil yang lalu lalang mengasah aspal dan mengisi langit dengan asap berpolusi. Membuat kota Nara begitu bersih dan menyambut pendatangnya dengan hangat.

Gua pun menarik nafas dalam-dalam, coba memenuhi paru-paru dengan udara sebersih ini. Karena jika pulang ke kota kelahiran, hal kayak begini terasa banget mewahnya.

Untuk menghemat tenaga, kami memutuskan untuk naik bus. Setelah tanya sana-sini dengan sedikit berbahasa Tarzan, kami udah tau mesti naik bus nomor berapa dan turun di mana agar bisa sampai di kuil Todaiji.

Todaiji adalah salah satu kuil Jepang yang paling terkenal dan bersejarah. Dibangun pada tahun 752 sebagai pusat dari seluruh kuil Budha yang ada di Jepang. Saking besar kuilnya, ibukota Jepang sampai harus dipindahkan dari Nara ke Nagaoka pada tahun 784 untuk melepaskan pengaruh kuil pada pemerintah Jepang.

Sepuluh menit berlalu, sampailah kami di area kuil Todaiji. Kuilnya sendiri ga persis berada di pinggir jalan. Kami masih harus berjalan kaki beberapa menit untuk sampai di kuil utamanya. Bener kata ibu penjaga yang tadi, di sepanjang perjalanan masuk ke area utama aja, ada banyak rusa yang dilepas bebas. Rusanya baik-baik banget. Ga ada tuh rusa yang ngerokok, tatoan, dan pake jaket kulit gitu. Semuanya jinak.

Setelah berjalan beberapa menit, sepertinya gua telah sampai di tempat yang tepat, karena mulai tampak gerombolan turis yang melancong dan siswa-siswa yang sepertinya sedang berdarmawisata.

Namun perjalanan belum selesai sampai di situ. Masuk ke area kuil utama Todaiji ternyata cukup sulit dan berkelok-kelok. Tapi perjalanan berliku itu berbuah sempurna. Karena ketika sampai di depan kuil utama, gua kembali ingin memakai kutang putih dan berduet dengan Audy.

Lagi-lagi, gua terpesona, pada pandangan pertama.

Todaiji

Megah adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kuil Todaiji. Dibangun lebih dari seribu tahun yang lalu, dan sampai hari ini masih berdiri dengan kokoh. Sempat dipugar pada tahun 1692, namun tetap tampak seperti belum lama dibangun. Kuilnya sangat terawat, itu terbukti dari warna tembok yang prima dan susunan genteng yang rapih. Sama sekali ga terlihat seperti kuil yang udah berusia ribuan tahun.

Di bagian dalam, di area utama kuil Todaiji yang bernama Daibutsuden, ada patung Budha yang terbuat dari perunggu setinggi 15 meter. Membuat auranya bukan hanya megah, tapi juga sakral dan agung. Spot ini jadi titik foto paling laris di antara sudut-sudut Daibutsuden lainnya.

Saat sedang mengagumi patung Budha, mata gua tertumbuk pada titian anak tangga setinggi belasan meter yang ada di sebelah kiri patung. Tangga itu bisa mengarah ke sebuah lubang yang ada di langit-langit. Sebuah area yang sepertinya lantai 2 dari Daibutsuden.

“Di atas ada apaan ya, Ta?” tanya gua ke Tirta, penasaran.

“Tempat tinggal orang-orang yang belajar agama di sini kali, Roy,” jawab Tirta, sotoy.

“Tinggi banget ya, Ta,” lanjut gua, “Lu kebayang ga sih, kalo mereka lagi ngumpul di atas terus mereka laper? Pas denger ada tukang nasi goreng lewat, mereka bakal buru-buru turun buat manggil. Tapi karena saking tinggi dan buru-buru, mereka kesandung, terus mati.”

“Nasi goreng-nya, nasi goreng!”

“Bang, tungguuu! Aaak! AAAK!” Gubrak, gubrak, gubrak. Bletak. Mati.

“Yaelah, Roy…”

“Ga kebayang ya?”

“…mereka nyetok popmie lah di atas.”

“…”

Daibutsuden

Matahari semakin tinggi. Jam digital pada layar smartphone udah menunjukkan pukul 11 siang. Ini udah saatnya buat kami mencari makan siang lalu balik ke Kyoto. Gua, Tirta, dan Siti berjalan kembali ke pinggir jalan, mencari bus untuk kembali ke stasiun. Di antara kilasan bangunan yang bermain di jendela bus, gua tersenyum menapak tilas perjalanan pagi ini.

Nara kota yang sederhana, namun berhasil membuat gua terpesona, setidaknya 2 kali hari ini. Kebersihan, kehangatan, dan kemegahannya, menjadikan Nara salah satu destinasi favorit yang pasti gua rindukan. Sebuah kota yang memaksa gua untuk bersenandung kecil di dalam hati.

“Terpesona, ku pada pandangan pertama. Dan tak kuasa, menahan rinduku…”

Gua pasti kembali ke sini. Dan kali nanti, bersama istri.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

9 thoughts on “Pesona Kota Nara

  1. Aziz Amin September 5, 2014 at 13:02 Reply

    “Gua pasti kembali ke sini. Dan kali nanti, bersama istri.” Istri di sini, pasti maksudnya Kak Sarah ? :D :V iyakan-iyakan ?!

    azizkerenbanget.blogspot.com

  2. presyl September 5, 2014 at 13:46 Reply

    asiiik, melenceng gitu asik banget roy. haha. klo gue sih udah males melenceng dari itinerary *gondok karena capek2 bikin trus dilanggar*

    klo balik lagi, coba main ke yokohama roy, atau ke tateyama, ntar gue tunggu ceritanya. hahaha

    • Roy Saputra September 5, 2014 at 19:50 Reply

      gua juga ga kepengen sebenernya, Pres. tapi cuaca bagus bikin mood bagus juga XD

  3. indrijuwono June 25, 2015 at 10:42 Reply

    waa, aku jatuh cinta juga sama kota ini. ini kota favoritku! *terus bilang favorit juga ke kota-kota yang lain saking pada cantik2nya*

  4. Reny March 31, 2016 at 14:57 Reply

    Dari stasiun naik bis no berapa & turun dimana mas mohon infonya trm ksh

    • Roy Saputra March 31, 2016 at 15:39 Reply

      nomor busnya lupa-lupa inget. bisa tanya langsung di tourism center di dalam stasiunnya. mereka bisa bahasa inggris kok :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: