Curcong Part II

Pernah baca postingan ini? Jika udah pernah, maka anggap aja postingan ini sebagai kelanjutan kisah si Pocong dan Kunti yang mulai kehilangan job di dunia entertainment Indonesia. Jika belum pernah baca postingan yang tadi, baca dulu dong ah.

kuburan

Alkisah, hiduplah sebungkus Pocong. Semasa jayanya, dia adalah seorang pemain film papan atas. Hampir setiap film horor Indonesia pasti menggunakan jasanya sebagai bintang utama. Bermacam rumah produksi dan belasan sutradara berebut untuk kerja sama dengannya. Mereka sampai harus antri jika ingin memasang namanya di credit title film. Aktingnya yang begitu meyakinkan dianggap dapat membius penonton pada masanya.

Tapi, itu dulu.

Kini Pocong udah jarang keliatan di layar lebar. Belakangan dia mengisi hari-harinya hanya dengan nge-gym dan masih berharap suatu hari nanti, tawaran main film akan datang lagi. Rambut ia potong dengan model hipster ala anak Brightspot. Kain kafan pun dia beli yang model slim fit. Biar ngebentuk badan, begitu katanya.

Di masa sulit ini, Pocong berbagi kontrakan dengan Kuntilanak. Dulu, dia dan Kunti –begitu panggilan mesranya– berbagi kamar apartemen. Namun karena ga kunjung dapet kerja, apartemen itu terpaksa dijual ke Fenny Rose di hari Senin. Sebagian uang hasil penjualan digunakan untuk ngontrak rumah di Bekasi, sementara sisanya dipakai untuk usaha percetakan. Kebetulan Pocong seorang lulusan Design Komunikasi Visual sebelum ia menemukan passion di bidang seni peran.

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga, Pocong gagal dengan usahanya dan uangnya ludas tertelan inflasi. Kini yang Pocong punya hanya Kunti.

Meski sama-sama terpuruk kariernya, Kunti menanggapi hal itu dengan lebih santai. Kini Kunti jualan capucino cingcau di Bekasi. Jualannya ternyata cukup digemari. Saking ramainya, Kunti punya visi untuk memasyarakatkan capucino cingcau dan meng-capucino cingcau-kan masyarakat. Entah apa artinya, namun jargon itu terdengar cukup ambisius di telinga Kunti.

Usulan pindah ke Bekasi pun datang dari Kunti. Ide ini sempat ditolak oleh Pocong. Karena menurutnya, Bekasi itu jauh banget. Kalo Pocong naik ojek ke Bekasi, tukang ojeknya sampai harus pamitan dulu ke istri dan anaknya. Namun karena tuntutan ekonomi, mau ga mau, Pocong harus mengikuti usulan Kunti dan Bekasi kini jadi domisili mereka.

Di suatu sore yang naas, di teras kontrakannya di Bekasi, Pocong curhat sama Kunti. Tadinya mau curcol alias curhat colongan. Tapi karena topiknya seru, si Pocong akhirnya memilih untuk curpandik, alias curhat panjangan dikit.

“Kun,” panggil Pocong, “Kok tawaran main film ga dateng-dateng ya?”

“Perasaan dulu lu pernah curhat kayak gini deh,” kata Kunti seraya membuka laptop dan mengetik keyword curhatan pocong di tab search Google.

“Yang lalu biarlah berlalu, Kun,” potong Pocong, “Si Gurita aja ampe bisa bikin film Rumah Gurita. Padahal terakhir gua ngeliat dia di Sushi Tei, dia masih jadi lauk.”

“Mungkin mereka bosen kali ama lu, Cong,” jawab Kunti sambil menutup layar laptopnya, “Dulu kan film lu sering banget tuh. Dari yang horor beneran, horor komedi, sampe horor setengah bokep. Genre yang belum dicoba cuma tinggal horor syariah aja kayaknya.”

“Iya juga sih ya. Genre horor romantis dulu hampir jadi tuh. Gua masih inget tuh script-nya. Ceritanya gua sama Sundel Bolong jalan-jalan ke Paris. Mesra banget deh. Ciuman, gandengan tangan…”

“Cong.”

“Ya, Kun?”

“Gini ya. Pegangan tangan? TANGAN LO KAN KEBUNGKUS KAFAN, SETAN.”

“Nah makanya gagal jadi film, Kun. Kayaknya gandengan tangan di Paris itu secara sinematik kurang berasa ya?”

“Intinya sih,” ujar Kunti sambil memijat dahinya yang mulai berdenyut, “Film lu dulu tuh udah banyak banget. Malah ada yang sampe trilogi. Masa lu lagi-lu lagi?”

“Ah, anak jaman sekarang disuguhin Raditya Dika lagi-Raditya Dika lagi aja ga bosen-bosen. Masa mereka bosen sih ngeliat gua.”

“Eh, kalo ga lo coba bikin kayak si Raditya Dika aja tuh. Bikin webseries di Youtube dulu. Kalo udah banyak yang nonton, baru dah lo bikin film. Kayak Malam Minggu Miko. Ntar gue bantuin, Cong.”

“Nah, bisa tuh kayaknya! Gua langsung kepikiran nih webseries yang bakal beda dan baru banget! Yang orisinil abis!”

Kunti terdengar antusias, “Apa, Cong? Apa?”

“Malam Jumat Miko.”

“…”

“Ceritanya kayak Malam Minggu Miko cuma banyak adegan makan oroknya aja. Gimana?”

“Iya, Cong. Orisinil abis,” kata Kunti, sarkas.

Kunti memotong sebentar perbincangan ini dan menggonta-ganti televisi, mencari acara yang bermutu di saluran televisi lokal. Tiba-tiba Kunti dapat ide cemerlang.

“Mau nyoba sinetron ga, Cong?” tanya Kunti.

“Sinetron?”

Sepanjang hidupnya, ga pernah terbayangkan kalo Pocong harus main sinetron. Pocong sangat anti dengan sinetron. Menurutnya, sinetron di Indonesia di era sekarang udah sedikit sekali yang bermutu. Sinetron Indonesia terakhir yang bisa membuat Pocong menangis adalah sinetron dengan naga-naga. Sebagai lulusan Design Komunikasi Visual, Pocong menangis saat menonton sinetron itu sambil berujar dalam hati, “Kok ya naganya jelek amat sih?”

“Iya, sinetron,” lanjut Kunti, “Lu coba ikut casting Ganteng-Ganteng Srigala aja.”

“Ganteng-Ganteng Srigala? Sinetron macam apa itu? Judulnya aja udah aneh begitu. Jalan ceritanya…”

“Striping, Cong.”

“…pasti bagus sekali. Wah boleh lah gua coba, Kun. Ada kenalan orang dalem ga?”

“Ye, katanya judulnya aneh?”

“Ga apa-apalah Ganteng-Ganteng Srigala. Daripada Jelek-Jelek Miskin.”

Kunti menggaruk-garuk jidatnya, “Nanti gue coba telpon si Asiong deh. Kayaknya dia lagi ngurusin casting beberapa sinetron deh.”

“Iya, tolongin ya, Kun. Jadi naga yang terbang-terbang di belakang juga ga apa-apa deh.”

Tiba-tiba, di tengah percakapan yang membutuhkan intelejensia tinggi itu, Kunti kepikiran sebuah sinetron lain. Sebuah sinetron yang ga kalah happening-nya sama Ganteng-Ganteng Srigala.

“Gimana kalo lu ikutan casting sinetron CHSI juga, Cong?”

“CHSI? Itu semacam Crime Scene Investigation gitu kah?”

“Bukaaan,” balas Kunti, “CHSI tuh Catatan…”

“…Hutang Sang Iblis?” potong Pocong.

“Bukaaan!” jawab Kunti setengah teriak, “Catatan Hati Seorang…”

“…Ibunda Dorce?”

“BUKAAAN!” denyut di dahi Kunti makin mengencang, “Catatan Hati Seorang Istri. Sinetron yang lagi happening banget deh, Cong. Itu lho yang ada Mas Bram, Hana, sama Hello Kitty.”

“Wah, cocok lah. Kalo ada Hello Kitty, gua bisa lah kebagian peran pasangannya Hello Kitty.”

“Siapa, Cong?”

“Hellowin.”

“…”

“Kun? Marah ya?”

“…”

“Kun?”

“…”

Kunti memutuskan untuk rebahan di lantai dan pura-pura mati demi menghindari curhatan Pocong lebih lanjut. Perbincangan yang menggugah IQ itu pun akhirnya harus berhenti.

Beberapa bulan setelah obrolan itu, kabar terakhir mengatakan Pocong sempat ikutan casting beberapa sinetron berkat bantuan Asiong. Pocong gagal saat casting Ganteng-Ganteng Srigala, namun ia menemukan bahwa masih ada sinetron dengan judul berbau binatang lainnya, yang anehnya, juga ber-rating tinggi. Tapi lagi-lagi ia gagal di casting Manusia Harimau. Keluar dari ruangan casting terakhir, ia berharap masih ada sinetron berbau binatang lainnya yang membuka lowongan untuk dirinya. Entah itu Cinta Bocah Anoa, atau Unyu-Unyu Babi Rusa.

Namun sampai saat itu tiba, Pocong akan sering curhat ke Kunti dan berharap suatu hari nanti, curhatannya bisa dijadikan postingan oleh seorang blogger yang kurang kerjaan.

Amin.

Advertisements

Tagged: , , ,

10 thoughts on “Curcong Part II

  1. Sandal pedot October 6, 2014 at 12:01 Reply

    Keren bang, ceritanya ngeledek perfileman sama sinetron-sinetron di Indonesia yang nggak bermutu ya? Hahaha…lucu bang, banyak kata-kata absurd :D

  2. Aziz Amin October 6, 2014 at 13:34 Reply

    “Kunti memutuskan untuk rebahan di lantai dan pura-pura mat” Bukannya, Kuntilanak udah Mati, ya bang ? :V :D

    azizkerenbanget.blogspot.com

  3. cupah October 6, 2014 at 16:02 Reply

    KENAPA DI BEKASI? WHY? *anak Bekasi muncul*
    Emang sih banyak yg jual Capcin ( ._.)

  4. ontakeriput October 8, 2014 at 14:44 Reply

    Teganya… gue lagi ngerjain skripsi, abis baca ini ngakak-ngakak jadi males ngerjain lagi

    • Roy Saputra October 9, 2014 at 08:40 Reply

      tanggung sendiri akibatnya (‘-‘)9

  5. Miss Galau October 10, 2014 at 18:17 Reply

    ya elah Bekasi lagi wkwkwkwkwkwkwk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: