Review Big Hero 6

What makes a hero a hero?

Setiap kali nonton film superhero, gua selalu melemparkan pertanyaan yang sama ke kepala. Apa yang membuat seorang pahlawan itu pahlawan? Apa karena mutasi gennya, kemampuannya untuk terbang, atau baju super canggihnya?

Dan setelah beberapa film superhero, akhirnya gua menemukan jawaban gamblangnya di film yang gua tonton hari Rabu kemarin bareng si pacar: Big Hero 6.

big hero 6

Sebelum memulai reviewnya, gua ingin menginformasikan bahwa kalian ga perlu nonton Big Hero 1 sampai 5 dulu untuk ngerti Big Hero 6… guys? Mau ke mana, guys? Ini reviewnya baru mulai lho. Guys?

Anyway,

Big Hero 6 bercerita tentang kehidupan sepasang kakak adik yang tinggal di kota San Fransokyo, gabungan antara San Fransisco dan Tokyo. Diceritakan, mereka tinggal di masa yang udah sangat maju dan modern, di mana melihat robot gendut wara-wiri di tengah jalan bukan suatu yang asing lagi bagi orang-orang di jaman itu.

Sang kakak, Tadashi, adalah anak kuliahan yang lempeng dan baik. Sementara adiknya, Hiro, diceritakan sebagai abege jenius, namun skeptis dengan dunia akademis. Sampai suatu hari, berkat kunjungan ke laboratorium universitas tempat Tadashi kuliah, sang kakak berhasil meyakinkan Hiro bahwa kuliah ga semembosankan yang dia kira selama ini. Dan di sinilah ceritanya bergulir.

Karena satu dan lain hal (gua mencoba untuk ga spoiler), Hiro terjebak bersama Baymax, sebuah robot perawat ciptaan Tadashi yang berbentuk chubby, imut, dan hugable banget. Sementara yang jadi musuh utama mereka adalah seorang penjahat bertopeng yang mencuri mikrobot Hiro.

Awalnya, Hiro ga berharap Baymax bisa ngebantu dia melawan si penjahat bertopeng. Dengan fungsi utama sebagai robot perawat, Baymax diciptakan bukan untuk berkelahi. Tapi karena ga ada pilihan, mau ga mau Hiro meng-upgrade Baymax habis-habisan. Bikin kostum tempur, senjata maut, sampai skill bertarung pun diunggah ke sistem Baymax. Didukung oleh 4 teman Tadashi, Hiro dan Baymax bahu-membahu bertarung dengan si penjahat bertopeng.

Overall, Big Hero 6 adalah film keluarga yang seru nan manis. Film ini pas banget buat ditonton sekeluarga rame-rame. Cocok buat anak-anak karena figur 6 jagoan dengan kemampuan yang berbeda pasti jadi ingatan tersendiri buat mereka. Yang remaja juga bisa menikmati sambil ketawa-ketawa ngeliat sosok Baymax yang imut dan lugu. Sementara young adult bisa pulang dengan hati yang hangat karena ada nilai-nilai subtle yang tersebar di sepanjang film.

Yang jadi figur sentral di film ini tentu saja Baymax. Dengan tubuh tambun dan wajah tanpa ekspresi, Baymax itu robot yang ngegemesin banget. Ditambah lagi, komen-komen polosnya bisa membuat gua senyum-senyum geli sampe ngakak ga berhenti. Salah satu adegan yang bikin gua nyaris jatuh dari kursi akibat tawa adalah ketika Baymax sedang low bat. Kombinasi tingkah laku bodoh ditambah komen lugu bikin seisi ruang teater ngakak berjamaah.

Menurut gua, Baymax jadi seperti Minions di film Despicable Me 2. Dia mau ngapain aja, kita pasti ketawa. Bahkan adegan semenegangkan kejar-kejaran dengan penjahat di gudang tua, malah jadi lucu banget gara-gara kelakuan bodoh si Baymax.

Dengan cerdik, Disney berhasil membentuk satu karakter yang bisa dipastikan bakal menghasilkan income bukan hanya dari filmnya, tapi juga penjualan mainan atau merchandise. Itu karena figur Baymax berhasil bikin orang-orang (setidaknya pacar gua) berujar, “Mau ih punya Baymax. Gemes!”

Yang bikin film ini makin menarik adalah durasi antar kejadiannya singkat. Adegannya ga ada yang terbuang. Semua emang diperlukan untuk menyusun cerita. Membuat filmnya menjadi intens dan ga terasa kalo ternyata durasinya itu sepanjang 105 menit.

Adegan favorit gua sendiri adalah ketika Hiro menonton cuplikan video tentang Tadashi via perut Baymax. Meminjam istilah si pacar, this scene makes my tears get mixed up with laugh. This scene is so good, even when I’m typing it in this post, I still feel its emotion and vibe.

Satu-satunya kekurangan di film ini adalah ending-nya yang seharusnya ga dipanjangin lagi. Harusnya berhenti di titik tertentu (lagi, gua mencoba untuk ga spoiler) biar lebih manis dan semenyentuh ending film Monster Inc., misalnya. Namun karena ada adegan tambahan tentang jagoan-jagoan yang melindungi kota, gua jadi keluar bioskop dengan perasaan, “Duh, mestinya sampe situ aja tuh.”

Tapi setidaknya, malam itu gua keluar dari ruang teater dengan membawa jawaban atas pertanyaan gua tentang superhero selama ini. What makes a hero a hero? Dan Big Hero 6 menjawabnya dengan gamblang.

Untuk menjadi superhero, kita ga butuh mutasi gen dalam darah. Untuk menolong seseorang, kita ga perlu jubah sakti yang bisa terbang. Dan demi melindungi orang yang kita sayang, kita ga harus punya kekuatan super. Karena seperti halnya Baymax, skill petarung bisa dilatih, kostum canggih bisa dibuat, dan senjata maut bisa dibentuk.

Yang kita perlu, cuma keinginan kuat untuk membantu. Yang kita butuh, hanya hati yang baik.

baymax

Because with a good heart, you can be a hero. A big white chubby one.

Advertisements

Tagged: , , , ,

14 thoughts on “Review Big Hero 6

  1. kaprilyanto November 15, 2014 at 11:52 Reply

    Mau nonton ini :D

  2. Aziz Amin November 15, 2014 at 14:55 Reply

    Rasa sayangnya melebihi rasa sayang pacar, ya ?

    azizkerenbanget.blogspot.com

    • Roy Saputra November 17, 2014 at 08:29 Reply

      rasa sayang siapa nih maksudnya? :/

  3. gegekrisopras November 15, 2014 at 16:57 Reply

    Dan sebenarnya masih banyak orang baik with a good heart di dunia ini, sayangnya ga terekspos aja ^^

  4. buzzerbeezz November 15, 2014 at 20:38 Reply

    Besok ah mau nonton. Makasih review-nya mas :D

  5. dani November 17, 2014 at 12:23 Reply

    Gw belom nonton euy. Penasaran. Kemaren malah nonton interstellar duluan.

    • Roy Saputra November 17, 2014 at 16:06 Reply

      wah gua malah belom nonton Interstellar. bagus ga? katanya filmnya panjang banget. ngeri bosen euy :/

      • dani November 17, 2014 at 16:07 Reply

        Panjang banget emang. Hampir 3 jam tapi untungnya ga bosen. Ada momen-momen yang ‘yaelah kok gini sih’ tapi layak ditonton lah.

  6. putrauma November 23, 2014 at 12:56 Reply

    filmnya bagus banget nih, dan ada yg nulis reviewnya sepanjang ini ;)

  7. Deco December 30, 2014 at 16:10 Reply

    maksudnya endingnya yang diperpanjang yg mana bang? yang post-credit scene?

    • Roy Saputra December 30, 2014 at 16:14 Reply

      bukan. kalo menurut gua sih, endingnya selesai pas Hiro meluk Baymax aja. jangan ditambahin ke adegan di mana Hiro menjelaskan kalo mereka akan jadi superhero yang melindungi kota :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: