Ari Budiman dan Truk Manggis

Nama gue Ari Budiman.

#FilmLuntangLantung Ari Budiman

Iye, gue tau, nama gue pasaran banget. Bahkan waktu gue mau bikin akun Twitter aja sampai nggak dapet-dapet nama user. Nama user @aribudiman jelas sudah ada yang punya. Mencoba kreatif dengan @budimanari, ternyata sudah ada Ari Budiman lain yang sama kreatifnya kayak gue, cuma dia jauh lebih cekatan. Gue coba ID @ariiiiiii —yang gue sendiri lupa ada berapa i-nya— tetap saja sudah ada yang punya. Akhirnya gue menyerah main Twitter, mending main roller blade di dalem komplek.

Kalau lo Google nama gue, ada 632,736 hasil dengan bermacam-macam jenis Ari Budiman. Mulai dari Ari Budiman yang MC kawinan, juragan pakan ternak, sampai Ari Budiman yang kapster salon. Nggak heran kalau ada orang yang suka tiba-tiba negor gue dan bilang:

“Eh, Ri, gue denger-denger lo bisa jadi MC kawinan, ya? Gue mau pesen, dong.”

Pesen? Lo kate gue risoles?

“Ri, hebat bener lo! Umur masih muda udah jadi juragan pakan ternak!”

Bahkan gue nggak tau apa itu pakan ternak.

“Wah, Ri, ganteng-ganteng, ternyata kamu ngondek, ya?”

Ngehe.

Yang paling random adalah yang pernah gue dapatkan dari seorang teman cowok.

“Ri, gua punya dua kabar buat lo. Kabar buruk dan kabar baik.”

“Apa, tuh?”

“Kabar buruknya: kata orang-orang, lo itu gay, ya?”

“Hah? Terus apa kabar baiknya?”

“Lo manis juga, ya.”

Nasib.

Biar nama pasaran begini, gue bisa dibilang orang yang sangat supel. Waktu Friendster masih berjaya, temen gue sampai nggak bisa ditampung di satu user. Nama gue di Friendster sudah seperti anggota kerajaan: Ari Budiman FULL III. Ari Budiman the Third. Ratu Elizabeth saja baru kedua. Nggak gaul lo, Beth!

Gue memang bisa berteman sama siapa saja. Tengoklah dua makhluk sahabat gue ini.

Togar Simanjuntak. Batak gila yang satu ini ngaku-ngaku kalau dia adalah cucu dari C. Simanjuntak, penulis lagu nasional. Ia adalah tipikal orang bersuara keras, yang jika menyanyikan lagu Ratu, “Cukuplah saja kau berteman denganku!”, maka akan ditanggapi dengan, “Iya, Bang. Temenan aja kok, Bang. Ampun, Bang, ampun. Janji deh besok nggak nakal lagi….”

Gue kenal Togar sejak SMA. Selama tiga tahun, gue duduk di sebelah Togar dan sadar bahwa Togar itu nggak suka bekerja di bawah perintah orang. Togar ingin berwirausaha. Sekarang Togar dapat apa yang diimpikannya dulu. Dia sudah punya bengkel motor milik sendiri.

Sekarang, mari kita tinjau sahabat gue yang kedua: Suketi Kuncoro. Suketi keturunan Timur Tengah; bapak Jawa Timur dan ibu Jawa Tengah. Dengan logat Jawanya yang medok, Suketi terdengar sangat ndeso meski ia sebetulnya nggak ‘kedesaan’. Suketi yang cenderung kalem dan pemalu, menjadi penyeimbang Togar yang meledak-ledak.

Oiya, gue sendiri adalah seorang sarjana ekonomi dari sebuah universitas Jakarta. Dan saat ini, gue sedang melakukan sebuah kegiatan yang lebih susah dari menebak ending sinetron Tukang Bubur Naik Haji.

Iya.

Gue sedang mencari kerja.

***

Air conditioner bertiup kencang. Membuat tengkuk dan ujung-ujung jari gue kedinginan dan mulai kebas. Jam di dinding menunjukkan tepat pukul 2 siang. Seharusnya gue sudah pergi dari kursi ini dan mulai diwawancarai dari setengah jam yang lalu. Menunggu tak pernah terasa nyaman buat gue.

Saat ini, gue sedang duduk di sebuah ruang tunggu, sambil membaca buku pengetahuan anak, yang entah kenapa, terasa begitu menarik buat gua siang itu. Gua menanti-nantikan nama gue dipanggil oleh seorang ibu yang dari tadi bertugas memanggil nama-nama kandidat karyawan di perusahaan perkapalan ini, Indobahari.

Duduk lama di ruang tunggu selalu berhasil untuk membuat gue panik. Gue lebih suka datang, langsung wawancara, lalu segera pulang. Seperti yang gue bilang tadi. Menunggu tak pernah terasa nyaman.

“Mas Ari Budiman?” panggil si ibu, akhirnya.

“Ya, betul. Itu saya, Bu,” sahut gue.

Tangannya memberi kode untuk masuk, “Silahkan ikuti saya.”

Ibu itu membawa gue melewati meja resepsionis, kemudian masuk ke lorong yang panjang. Oh man, lorong panjang malah bikin gue semakin nggak nyaman. Dinding putih polos menjadi pemandangan yang berulang, membuat ujung lorong seolah nggak bisa digapai. Ilusi otak itu akhirnya berhenti saat gue tiba di depan sebuah ruangan dengan papan nama tercantum jelas di pintunya.

Kepala Personalia.

Tunggu, tunggu. Perasaan gue melamar untuk posisi staff, tapi kenapa yang wawancara sampai Kepala Personalia segala? Nggak sekalian Presiden Republik Indonesia?

Suara pintu yang terbuka pelan membuyarkan lamunan. Ibu yang tadi mengantar, mempersilahkan gue untuk masuk. Sebelum melangkah, gue menarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan rasa percaya diri yang sedang melancong entah ke mana.

Ok, here we go.

“Silahkan duduk,” sambut si Bapak Pewawancara yang sepertinya sudah menanti gue sedari tadi, “Nama kamu siapa?”

“Ari, Pak. Ari Budiman. Apa kabar, Pak?” Salah satu trik gue dalam wawancara adalah mencoba akrab dengan pewawancara.

“Kabar saya baik,” jawab si Bapak, “Nama kamu Ari Budiman? Hmm, sama kayak…”

“Tukang kapster salon, Pak? Hehe.” Kembali, gue mencoba akrab.

“… nama saya. Salon? Tukang kapster?” Si Bapak mengernyitkan dahi. Mata gue menerawang ke atas mejanya. Di sana terpampang jelas sebuah papan nama.

Ari Boediman Djaja
Kepala Personalia

Rasanya saat ini gue ingin menelpon hotline truk dan bilang, “Halo, Pak. Minta bantuan untuk mengirim truk manggis. Buat nabrak saya. Segera.”

“Eh… hm…, sama kayak nama MC kawinan juga lho, Pak. For your information aja.” Gue menelan ludah dan berharap si Bapak punya selera humor yang cukup bagus.

Si Bapak menatap gue dalam-dalam dan membuat perasaan grogi semakin melesat pesat. Grogi berlebih itu segera gue atasi dengan melemparkan pandangan ke sembarang arah. Dan sayangnya, jatuh pada sebuah piala di atas lemari.

Juara 1 Lomba Makan
RT 14 RW 02

Semoga bukan lomba makan orang. Amin.

Gue menelan ludah. Tampak si Bapak membolak-balikkan CV gue yang cuma dua lembar itu. Lembar pertama data diri, lembar kedua riwayat sekolah. Prestasi? Jangan harap.

“Kenapa kamu tertarik dengan posisi ini?” tanya si Bapak.

“Saya tertarik dengan bidangnya, Pak. Perkapalan. Posisi yang saya lamar pun posisi…,” Gue terdiam sejenak.

Waduh! Waktu itu gue daftar buat apa, ya? Mampus. Gue lupa!

Hening nggak nyaman menggantung di ruangan. Tanpa ingin membuat situasi semakin kikuk, gue nekad meneruskan, “Saya melamar…, untuk posisi entry level, Pak. Saya yakin saya bisa belajar dan beradaptasi dengan baik. Dan yang saya tau, benefit yang ditawarkan perusahaan ini menarik.”

“Hmmm,” Si Bapak terlihat sedang berpikir, “Apa yang kamu tau dari perkapalan?”

“Ngapung di laut?”

“Hmm!” Mata Si Bapak mendelik.

“Eh, oh, maksudnya industri perkapalan, ya, Pak?” Gua salah tingkah, “Perkapalan itu… industri yang besar dan luas, Pak.”

“Luas?”

“Iya. Luas. Seperti laut….”

Halo, Pak. Bagaimana pesanan truk manggis saya? Bisa dipercepat?

Si Bapak mengeryitkan dahi. Mungkin ia bingung, di mana anak buahnya menemukan kandidat kayak gue begini. e-Bay?

“Ini CV kamu hanya dua halaman? Tidak ada pembahasan mengenai prestasi?” tanya si Bapak.

“Ah masa?” Gue bokis, sok kaget, “Mungkin tukang fotokopinya salah jilid.”

“Jadi, selama kuliah, kamu ini termasuk mahasiswa yang aktif?” lanjut si Bapak, “Prestasinya apa saja kalau saya boleh tau?”

“Prestasi, ya, Pak?” Gue cengar-cengir, “Kebetulan saya juara.”

“Juara lomba? Lomba apa?”

“Puisi, Pak.”

Move your way! Move your way! A truck full of manggis need to pass!

Si Bapak mulai memijit pelipisnya pelan-pelan, yang bisa diterjemahkan menjadi kalimat ‘Enyahlah kau! Enyahlah kau!’

CV yang hanya dua lembar itu diletakkan dengan pelan di atas meja. Ia menuliskan sesuatu di pojok CV. Sebuah kata yang terdiri dari empat huruf dan dimulai dengan huruf F. Gue berharap itu adalah kata FASS. Lolos. Tapi, setelah melihat si Bapak bukan keturunan Arab, harapan pun pupus sudah. Sepertinya itu FAIL. Gagal.

Ketika proses wawancara akan selesai, si Bapak sedikit basa-basi. Mungkin untuk menghibur gue yang sedang nestapa di lembah kehancuran.

“Saya harap kamu nantinya bisa bekerja dengan baik. Kamu bisa menyokong perusahaan di tempat kamu bekerja nanti.”

“Siap, Pak. Saya siap menyokong… seperti alas toilet.”

…truk manggis, mana truk manggis?

PS: Tulisan di atas cerita pembuka dari novel Lontang-lantung yang pernah diangkat menjadi film layar lebar dengan judul yang sama pada tahun 2014 lalu.

Advertisements

Tagged: , , ,

11 thoughts on “Ari Budiman dan Truk Manggis

  1. ganganjanuar May 20, 2015 at 14:41 Reply

    komen pertama di blog ini setelah kemarin ngubek-ngubek postingan lamanya. Satu kata. Asikbanget :D

  2. A Suhaely May 21, 2015 at 15:11 Reply

    masih gak ngerti maksud dr truck manggis itu apa? knp gak truck sampah. hahaha.
    mampir2 dong kakak.

    • Roy Saputra June 2, 2015 at 07:39 Reply

      entahlah, hanya random ranting aja waktu nulis bagian ini :))

  3. -n- May 22, 2015 at 15:01 Reply

    Alas toilet…..
    Hmmmm…..

  4. Kresnoadi May 23, 2015 at 18:57 Reply

    <- punya bukunya dong. Dan, lagi pas-pasnya buat baca buku itu lagi nih. :))

  5. Jevontar May 24, 2015 at 08:53 Reply

    Mantap gilaaa asik banget blognya parah!
    http://jevontar.co.vu

  6. dimensi June 27, 2015 at 01:14 Reply

    jadi sedih saya baca nya. Tatpi asik bgt kok dibacanya hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: